Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Not a member yet
301 research outputs found
Sort by
Land Use Change Pattern and the Balance of Food Production in Karawang District: Pola Perubahan Penggunaan Lahan dan Neraca Pangan di Kabupaten Karawang
Kabupaten Karawang merupakan salah satu wilayah lumbung padi di Jawa Barat. Dinamika perubahan penggunaan lahan dan tutupan lahan di wilayah ini relatif tinggi karena kedekatannya dengan ibukota negara, menyebabkan adanya dinamika wilayah dalam kemampuan memproduksi beras. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola perubahan penggunaan lahan dan tutupan lahan selama periode 2000-2013 dan hubungannya dengan neraca pangan dan produksi beras. Perubahan penggunaan lahan dan tutupan lahan diidentifikasi menggunakan citra Landsat TM tahun liputan 2000, 2003, 2007, 2010 dan 2013. Produksi dan produktivitas padi dianalisis dari data statistik Kabupaten Karawang tahun 2001-2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada periode antara tahun 2000 dan 2013, luas lahan sawah turun dari 116,268 ha menjadi 103,866 ha. Perubahan penggunaan lahan dan tutupan lahan terbesar adalah dari sawah menjadi pemukiman. Pemukiman yang terdiri dari lahan terbangun untuk tempat tinggal dan tempat bekerja meningkat dari 11,759 ha pada tahun 2000 menjadi 30,155 ha pada tahun 2013. Penggunaan lahan yang paling dominan berubah adalah lahan sawah dan pertanian lahan kering. Penurunan luas lahan sawah di Kabupaten Karawang selama 2000 - 2013 rata-rata 0.93% tahun. Penurunan luas lahan sawah ini telah mengakibatkan penurunan kontribusi untuk menyumbang beras keluar wilayah, sebesar 5% dalam kurun 13 tahun terakhir.
Kata kunci: Neraca pangan, penggunaan lahan sawah, pola perubahan penggunaan lahan Karawang Regency is one of the rice production centers in West Java. However, the dynamics of land use and land cover changes in the region are estimated to be high because of its proximity to the nation’s capital. These dynamics have led to changes in rice production. This research was conducted to study the patterns of land use and land cover change over the period of 2000-2013 and its relation to the balance of food production. Changes in land use and land cover were identified by the use of Landsat TM imagery of 2000, 2003, 2007, 2010 and 2013. The production and productivity of rice were obtained from the statistical data of Karawang Regency, 2001-2014. The results showed that in the period between 2000 and 2013, paddy fields identified from imagery were decreased from 116,268 ha in 2000 to become 103,866 ha in 2013. The most extensive changes in land use and land cover were the changes from the rice to the settlements. The most dominant area of the increased settlement comes from the paddy fields and dryland agriculture. The average decrease of paddy fields during 2000-2013 was 0.93% per year. This has resulted in a decrease in the contributions of Karawang to export rice for surrounding regions by 5% during the last 13 years.
Keywords: Balance of food production, paddy fields, the pattern of land-use chang
Best Management Practice to Reduce Flow Discharge and Sediment Yield in Ciujung Watershed Using SWAT Model: Best Management Practice untuk Menurunkan Debit Aliran dan Hasil Sedimen DAS Ciujung Menggunakan Model SWAT
Banjir yang terjadi hampir setiap tahun di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciujung menyebabkan DAS ini menjadi sorotan berbagai pihak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kinerja model SWAT untuk memprediksi debit aliran dan hasil sedimen DAS Ciujung, serta mensimulasikan parameter hidrologi untuk menurunkan debit aliran dan hasil sedimen DAS Ciujung. Dalam menjalankan model SWAT terdapat beberapa tahapan kegiatan yang dilakukan yaitu: (1) deliniasi batas DAS Ciujung, (2) pembentukan HRU, (3) pendefinisian HRU, (4) input data iklim, (5) membangun input data, (6) menjalankan model SWAT, (7) kalibrasi dan validasi model, dan (8) simulasi parameter hidrologi. Model SWAT cukup baik untuk mensimulasikan debit aliran DAS Ciujung. Hal ini dapat dilihat dari hasil kalibrasi model SWAT untuk memprediksi debit aliran yang menunjukkan nilai R2 dan NSE masing-masing sebesar 0.83 dan 0.65 (baik) serta hasil validasi model masing-masing 0.78 dan 0.63 (memuaskan). Hasil sebaliknya diperlihatkan dalam memprediksi hasil sedimen DAS Ciujung dengan nilai R2 dan NSE yang dihasilkan masing-masing sebesar 0.55 dan -193.62 (tidak memuaskan). Skenario pengelolaan lahan yang diterapkan diantaranya adalah fungsi kawasan hutan, rehabilitasi lahan kritis, teknik KTA metode vegetatif dan sipil teknis, serta skenario gabungan. Berdasarkan kemampuannya dalam menurunkan aliran permukaan, hasil sedimen, dan hasil air (water yield) serta meningkatkan aliran dasar dan aliran lateral, penerapan tindakan pengelolaan lahan gabungan merupakan pengelolaan lahan yang harus dilakukan.
Kata kunci: Skenario pengelolaan lahan, debit aliran sungai, parameter hidrologi, hasil sedimen, model SWATCiujung Watershed is the biggest and considered one of the major watersheds in Banten Province related to floods that take place almost every year in the area. The study aimed to review the SWAT (Soil and Water Assessment Tool) Model performance in predicting flow discharge and sediment yield to determine the best management practice to reduce those parameters in Ciujung Watershed. There were some steps in running SWAT model, including: (1) delineate watershed; (2) create Hydrology Response Unit (HRU); (3) HRU definition; (4) climate data input; (5) write SWAT input files; (6) run SWAT model; (7) calibration and validation; and (8) hydrological parameters simulation. The study showed that the model had a good performance in predicting flow discharge with R2 and NSE values in the calibration process of 0.83 and 0.65 respectively. Meanwhile, the model resulted in not a satisfying performance in predicting sediment yield with R2 value of 0.55 and NSE value of -193.62. The validation process in predicting flow discharge produced R2 and NSE values of 0.78 and 0.63 respectively. Land management practices used in this study are reforestation, land degradation rehabilitation, soil and water conservation practice with vegetative and mechanical methods, and all land management practice implementation. The last scenario is the best management practice that can be implemented in Ciujung watershed to maintain watershed conditions. The scenario produced the best river regime coefficient by 65 (moderate), reduced direct runoff and sediment yield by 46% and 95% respectively, and increased lateral and return flow by 32% and 80% respectively.
Keywords: Best management practice, flow discharge, hydrological parameters, sediment yield, SWAT mode
Earthquake Risk Analysis in Cilacap, Central Java Province: Analisis Risiko Gempabumi di Cilacap Provinsi Jawa Tengah
Gempabumi merupakan kejadian yang datangnya secara tiba-tiba. Hingga kini kejadian gempa bumi tersebut masih belum dapat diprediksi kedatangannya. Wilayah yang berdekatan dengan jalur subduksi pada umumnya merupakan wilayah yang rawan terhadap bencana gempabumi, seperti Kabupaten Cilacap yang berada di pesisir selatan Pulau Jawa. Gempabumi Tasikmalaya yang terjadi tanggal 2 September 2009, dengan magnitudo M 7.3 terbukti telah berdampak besar terhadap wilayah Kabupaten Cilacap. Hal ini yang membuat perlunya penelitian risiko gempabumi di wilayah Cilacap. Studi bahaya gempabumi dan kerentanan akan sangat mendukung untuk penilaian risiko maupun program mitigasi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis dan pemetaan bahaya, kerentanan, dan risiko gempabumi di kota Cilacap. Metode untuk analisis bahaya gempabumi menggunakan nilai percepatan tanah maksimum di permukaan (PGAM) dari hasil metode probabilistik. Untuk kerentanan gempabumi ditentukan berdasarkan jenis penggunaan lahan. Adapun untuk perhitungan risiko bencana gempabumi digunakan persamaan R = H × V. Berdasarkan hasil analisis bahaya, didapatkan bahwa seluruh Kota Cilacap tergolong ke dalam kelas bahaya sedang dengan nilai PGAM bervariasi dari 0.405 – 0.494 gal. Berdasarkan hasil analisis kerentanan, diperoleh bahwa kerentanan tinggi terdapat di penggunaan lahan permukiman yang meliputi Desa-desa Tambakreja, Sidanegara, Donan, Tritih Kulon bagian selatan, Cilacap, Mertasinga, dan Kamulyan. Adapun hasil analisis risiko menunjukkan bahwa kelas risiko tinggi di daerah penelitian meliputi area seluas 3,237.40 ha yang terdapat di Desa-desa Lomanis, Tambakreja, Tritih Kulon, Sidanegara, Donan, Mertasinga, dan Cilacap, sehingga di desa-desa tersebut perlu mendapat perhatian dan prioritas untuk program mitigasi bencana ke depan.
Kata kunci: Kota Cilacap, risiko gempabumi, percepatan tanah maksimum di permukaan, metode probabilistikAn earthquake is an event that occurs suddenly and still unpredictable until now. The area surrounding the subduction zone is normally susceptible to earthquake disasters, such as Cilacap Regency located on the southern coast of Java Island. Tasikmalaya’s earthquake, occurred on 2 September 2009 with a magnitude of M 7.3, for instance, it has had a great impact on Cilacap Regency. Accordingly, the study on earthquakes risk for Cilacap Regency will be indispensable. The study of earthquake hazards and vulnerability will support risk assessment and mitigation. This research aims to analyze and map the earthquake hazard zone, vulnerability, and risk of Cilacap areas. The method for analyzing earthquake hazard used the value of peak ground acceleration at surface (PGAM) derived from probabilistic methods, while the value of vulnerability was determined based on the type of land use (by scoring), as for the risk calculation used an equation of R = H × V. The results indicated that the entire of Cilacap City was classified into moderate hazard class under the PGAM value varies from 0.405 g to 0.494 g. While the land use of settlement possessed a high class of vulnerability that covered the villages of Tambakreja, Sidanegara, Donan, the southern part of Tritih Kulon, Cilacap, Mertasinga, and Kamulyan. As for risk analysis showed that the highest class of risk covers an area of 3,237.40 ha covering the villages of Lomanis, Tambakreja, Tritih Kulon, Sidanegara, Donan, Mertasinga, and Cilacap. Consequently, these villages need attention and priority in future disaster mitigation programs.
Keywords: Cilacap, earthquake risk, peak ground acceleration at the surface, probabilistic metho
Modeling Land-Use Change in Humbang Hasundutan District Using Clue-S
Pertumbuhan suatu wilayah merubah pola penggunaan lahan tidak hanya di kawasan perkotaan (urban) akan tetapi juga terjadi pada wilayah dengan karakteristik perdesaan (rural) seperti Kabupaten Humbang Hasundutan. Sebagai salah satu kabupaten yang baru berkembang sejak terbentuk tahun 2003, perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Humbang Hasundutan mengindikasikan terjadinya dampak negatif terhadap lingkungan seperti munculnya lahan terdegradasi akibat deforestasi dan isu kerentanan lingkungan di beberapa kecamatan yaitu erosi dan bahaya longsor. Model CLUE-S (the Conversion of Land Use and its Effects at Small region extents) adalah suatu pemodelan spasial untuk mensimulasikan perubahan penggunaan lahan berdasarkan kuantifikasi hubungan secara empirik berbagai faktor pendorong untuk memprediksi perubahan penggunaan lahan di masa yang akan datang. Hasil analisis perubahan penggunaan lahan menunjukkan bahwa di Kabupaten Humbang Hasundutan terjadi deforestasi seluas 5,362 hektar selama periode tahun 2003-2013. Proyeksi perubahan penggunaan lahan berdasarkan laju perubahan alami menunjukkan luas penggunaan lahan hutan pada akhir tahun 2033 hanya tersisa sebesar 27.5% dari luas wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan. Kondisi ini menjadi tidak sesuai dengan proporsi luas hutan yang dialokasikan menurut pola ruang dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yaitu sebesar 30% dari luas wilayah. Pemodelan menggunakan skenario kawasan terbatas dan alokasi rehabilitasi lahan hutan dapat mempertahankan hutan lebih dari 30% dan berkontribusi mengembalikan penutupan vegetasi hutan pada lahan terdegradasi sebesar 47.87%.
Kata kunci: CLUE-S, lahan terdegradasi, hutan, perubahan penggunaan lahanThe growth of a region has changed land-use pattern, not only in urban areas but also rural areas such as Humbang Hasundutan regency, North Sumatra Province. As one district that newly developed since its establishment in 2003, land-use change has affected the environment such as the emergence of degraded land due to deforestation and other environmental vulnerability issues in some sub districts. CLUE-S (the Conversion of Land Use and its Effects at Small region extents) model with a combination of dynamic systems and quantification of empirical relationships between land-use and its driving factors was chosen to predict land-use change that improves an understanding of land allocation planning. The aims of this study were to analyze land-use change in Humbang Hasundutan district and predict the changes in year 2033. The results showed Humbang Hasundutan district has 5,362 hectares of forest cover loss in period of years 2003 to 2013. Land use change simulation by using scenario with restricted area policy and forest land rehabilitation can maintain forest cover over 30 % and contribute to augment forest vegetation on degraded lands by 47.87 % in year 2033.
Keywords: CLUE-S, degraded land, forest cover, land-use chang
Abundance and Diversity of Microarthropods on Microhabitat of Oil Palm
Acari dan Collembola merupakan mikroarthropoda yang hidup di tanah dan lapisan serasah. Dalam ekosistem mikroarthropoda berperan aktif dalam proses dekomposisi yaitu dalam fragmentasi bahan organik sehingga dapat mempercepat penghancuran bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kelimpahan dan keanekaragaman mikroarthropoda pada berbagai mikrohabitat kelapa sawit. Penelitian ini terdiri dari 3 tahap yaitu pengambilan sampel, ekstraksi dan identifikasi fauna tanah. Plot pengambilan sampel diambil dengan jarak 50 x 50 m yang terdiri dari 5 titik, setiap titik terdiri dari 11 mikrohabitat. Sampel diambil pada beberapa mikrohabitat kelapa sawit yaitu tanah dengan jarak 0 m; 1 m; 3m dari tanaman kelapa sawit, gawangan kompos, pelepah pada ketinggian 30 cm; 90 cm; 150 cm, epifit pada ketinggian 30 cm; 90 cm; 150 cm dan tonggak. Sampel diambil pada bulan Januari 2014. Ekstraksi mikroarthropoda menggunakan Kempson Extractor, sedangkan identifikasi dilakukan sampai tingkat subordo untuk Acari dan famili untuk Collembola. Kelimpahan dan keanekaragaman mikroarthropoda dihitung menggunakan rumus kelimpahan menurut Meyer dan indeks keanekaragaman Shanonn (Shannon’s diversity index). Untuk mengetahui perbedaan kelimpahan dan keanekaragaman mikroarthropoda di berbagai mikrohabitat digunakan analisis sidik ragam satu arah (one-way ANOVA) dan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan mikroarthropoda tertinggi ditemukan pada pelepah dan epifit. Kelimpahan Acari tertinggi ditemukan pada mikrohabitat epifit dengan ketinggian 30 cm yaitu 4,408 individu m-2, sedangkan kelimpahan Collembola tertinggi ditemukan pada mikrohabitat pelepah dengan ketinggian 150 cm yaitu 6,173 individu m-2. Kondisi mikroklimat pada mikrohabitat pelepah dan epifit lebih sesuai untuk kehidupan mikroarthropoda dibandingkan dengan mikrohabitat yang diteliti. Keanekaragaman mikroarthropoda pada mikrohabitat kelapa sawit tergolong rendah berdasarkan indeks keanekaragaman Shannon.
Kata kunci: Kelimpahan, keanekaragaman, mikroarthropoda, mikrohabitat, kelapa sawitAcari and Collembola are microarthropods that live in soil and litter layer. In soil ecosystems, microarthropods have a role in organic matter decomposition through their ability to breakdown litter that accelerate the degradation of organic matter. This research aims to study the abundance and diversity of microarthopods at various microhabitats of oil palm. The research consisted of three stages: sampling, extraction and identification of soil fauna. Sampling plot has a dimension of 50 x 50 m which was consisted of 5 points, each point consist of 11 microhabitats. Samples were taken at several microhabitat of oil palm namely soil with distance 0 m; 1m; 3 m from oil palm stand, compost accumulations between the oil palm trees, litter accumulation on the branch at height 30 cm; 90 cm; 150 cm, epiphytes at height 30 cm; 90 cm; 150 cm and branch stub. Samples were taken in January 2014. Extraction of microarthropods was conducted using Kempson Extractor, while identification of microarthropods was done to the subordo level for Acari and the famili level for Collembola. The abundance and diversity of microarthropods were calculated using the formula abundance according to Meyer and Shannon\u27s diversity index. To know differences of abundance and diversity of microarthropods at various microhabitats were used one way ANOVA and Duncan analysis. The results showed that the higest abundance of Acari found at litter accumulation on the branch and epiphyte. The higest abundance of Acari found at microhabitat of epiphyte with height 30 cm was 4,408 m-2, while the higest abundance of Collembola found at microhabitat of epiphyte with height 30 cm was 6,173 m-2. The diversity of microarthropods at microhabitats of oil palm is based on index Shannon’s diversity.
Keywords: Abundance, diversity, microarthropods, microhabitat, oil pal
Correlation Between Characteristics of Rubber (Hevea Brassiliansis L) Agroecology with the Yield in Lampung
Produktivitas karet ditentukan oleh kondisi agroekologi dimana komoditas tersebut dikembangkan. Provinsi Lampung merupakan salah satu penghasil komoditi tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara karakteristik agroekologi dengan hasil karet di Provinsi Lampung. Kajian di tiga lokasi, yaitu Kabupaten Tulang Bawang, Lampung Tengah dan Way Kanan. Kajian menggunakan metode survey dengan cara mengumpulkan data produduksi karet, serta karakter agroekologi yang meliputi data sifat-sifat tanah dan iklim dengan berpedoman pada panduan evaluasi lahan untuk pewilayahan komoditas pertanian. Hasil kajian menunjukkan, bahwa karakter agroekologi perkebunan karet di Lampung termasuk ke dalam kelas sesuai (S2). Tingkat kesuburan tanah perkebunan karet di semua lokasi rata-rata rendah sampai sedang, kecuali kadar K potensial di Tulang Bawang dan Way Kanan tinggi dan P tersedia di semua lokasi tinggi. pH tanah yang rendah dan kadar Aldd pada taraf sedang sampai tinggi pada lapisan 20-40 cm di bawah permukaan tanah berpotensi untuk memfiksasi hara P sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Terdapat hubungan yang sangat kuat antara faktor tanah dan hasil karet di Tulang Bawang dan Way Kanan, namun di Lampung Tengah hubungannya sangat lemah. Direkomendasikan teknologi perbaikan kualitas lahan di perkebunan karet melalui pengapuran dan penggunaan bahan organik untuk menghilangkan/mencegah terjadinya fiksasi P dalam tanah karena rendahnya pH tanah dan adanya kadar Aldd pada taraf sedang sampai tinggi pada lapisan 20-40 cm di bawah permukaan tanah.
Kata kunci: Karakter agroekologi, Hevea brassiliansis L, kesesuaian lahanThe productivity of rubber (Hevea brassiliansis L) are determined by agro-ecological conditions in which the commodity is developed. Lampung province is one of the producers of the commodity. To determine the relationship between the characteristics of agroecology with rubber yield, the study of correlation of agroecological characteristics of the rubber yield was conducted in Lampung. The study was conducted at three locations, namely Tulang Bawang, Central Lampung and Way Kanan regency. The study used a survey method to collect rubber yield, as well as the character of agroecology including soil properties and climate data especially the rainfall based on the land evaluation guidelines for agricultural commodities. The results showed that the character of rubber plantations agroecology in Lampung belongs to a class of suitable (S2). Soil fertility of rubber plantation in all locations generally at the level of low to moderate, except for potential K in Way Kanan and Tulang Bawang is high and available P is high in all locations. Low soil pH and levels exchangeable Al at moderate to a high level in the depth of 20-40 cm soil surface potentially to fix P, therefore, making it unavailable to plants. There was a strong correlation between soil properties and yield of rubber in Tulang Bawang and Way Kanan, but in Central Lampung, the relationship is very weak. Recommended land quality improvement technology in rubber plantations through liming and the use of organic materials to eliminate/prevent fixation of P in the soil due to low soil pH and the levels of exchangeable Al at a medium and high level in the layer 20-40 cm below the soil surface.
Keywords: Character agroecology, Hevea brassiliansis L, land suitabilit
DINAMIKA KELIMPAHAN ORIBATIDA PADA AREA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI KECAMATAN BAJUBANG BATANGHARI JAMBI
Oribatids are one of the important fauna groups in the soil. They have an important role in the decomposition of organic matter in the soil. The objection of this research was to study population dynamics of Oribatids through determining the abundance and diversity of Oribatids and to know the effect of environmental factors on Oribatids in oil palm plantation at Bajubang, Batanghari, Jambi. Soil and litter samples were taken from four different locations (25 m x 25 m) and from each location three samples were taken from litter lanes and open lanes, respectively (the size was 16 x 16 cm with a depth of soil is 5 cm). The samples were extracted using Kempson extractor. Identification of Oribatids was done to the family level and the diversity of Oribatids was measured using Shannon’s diversity index. The population dynamic of Oribatids showed a fluctuation in the sampling period. When rainfall increased >200 mm did not follow by increasing abundance and diversity (number of the family) of Oribatid mites. When rainfall between 100 – 200 mm was the optimal condition for Oribatids so abundance and diversity (the number of the family) of Oribatids increased. But, when rainfall <100 mm especially in February 2014 (the lowest rainfall 1 mm), abundance and diversity (number of the family) of Oribatids was lowest (330 individual m-2; 7 families) compared to another month. It was assumed that Oribatids may migrate into the deep soil to avoid a harsh environmental condition. Abundance and diversity (number of the family) of oribatids were significantly higher in litter lanes (4,560 individual m-2; 25 families) than in open lanes (1,570 individual m-2; 14 families). The availability of litter in the litter lanes was higher than in open lanes. In this research, There are 3 families that most abundance and always found on the sampling period, they are Scheloribatidae, Mycobatidae and Galumniidae.
Keywords: Abundance, diversity, oil palm plantation, Oribatids, soil faunaOribatida merupakan salah satu kelompok fauna yang penting di dalam tanah. Mereka memiliki peran dalam dekomposisi bahan organik di tanah. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari dinamika populasi Oribatida dengan mengukur kelimpahan dan keanekaragaman Oribatida pada area perkebunan kelapa sawit dan mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap Oribatida pada area perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Bajubang, Batanghari, Jambi. Contoh tanah dan serasah diambil dari empat lokasi yang berbeda (25 m x 25 m) dan dari setiap lokasi diambil masing - masing tiga contoh tanah pada gawangan serasah dan gawangan hidup (berukuran 16 x 16 cm, kedalaman 5 cm). Sampel tersebut diekstrak menggunakan Kempson Extractor. Identifikasi Oribatida dilakukan sampai tingkat famili dan indeks keanekaragamannya ditentukan menurut Shannon’s diversity index. Dinamika populasi Oribatida di area perkebunan kelapa sawit menunjukkan adanya fluktuasi pada periode pengambilan sampel. Fluktuasi tersebut bergantung dengan curah hujan setiap bulannya. Ketika curah hujan meningkat >200 mm tidak diikuti dengan peningkatan kelimpahan dan keanekaragaman Oribatida. Ketika curah hujan antara 100 – 200 mm merupakan kondisi yang optimal bagi Oribatida sehingga kelimpahan dan keanekaragamannya meningkat. Namun, ketika curah hujan < 100 mm khususnya pada bulan Februari 2014 (curah hujan terendah 1 mm), kelimpahan dan keanekaragaman Oribatida (330 individu m-2; 7 famili) terendah dibandingkan bulan lainnya. Oribatida diduga mengalami perpindahan ke lapisan tanah yang lebih dalam untuk menghindari kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan di permukaan tanah. Kelimpahan dan keanekaragaman Oribatida (jumlah famili) secara signifikan lebih tinggi di Gawangan serasah (4,560 individu m-2; 25 famili) dibandingkan di gawangan hidup (1,570 individu m-2; 14 famili). Ketersediaan serasah di gawangan serasah lebih tinggi dibandingkan di gawangan hidup. Di dalam penelitian ini, terdapat 3 famili yang paling melimpah dan selalu ditemukan selama periode pengambilan sampel yaitu Scheloribatidae, Mycobatidae dan Galumniidae.
Kata kunci: Kelimpahan, keanekaragaman, perkebunan kelapa Sawit, Oribatida, fauna tana
Land Use Dynamics and Development of Oil Palm Plantation in Kubu Raya and Sanggau Regencies During 1990-2013
Penggunaan lahan merupakan hasil dari intervensi (campur tangan) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup baik materiil maupun spiritual dan mengalami perubahan sejalan dengan meningkatnya jumlah dan aktivitas penduduk dalam menjalankan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Pola penggunaan lahan di Kabupaten Kubu Raya dan Sanggau selama tiga dekade mengalami perubahan yang signifikan. Tutupan lahan hutan Kubu Raya pada dekade 1970-an masih 100%, kemudian mulai dekade berikutnya sampai tahun 1991 mulai banyak dibuka untuk perkebunan rakyat dan perkebunan besar maupun perkebunan campuran. Sementara itu, di Kabupaten Sanggau dalam periode 1996-2005 perubahan tutupan lahan hutan dan wanatani menurun secara signifikan, yang diikuti dengan meningkatnya perkebunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan/penutupan lahan di Kabupaten Kubu Raya dan Sanggau dan mengetahui perkembangan perkebunan sawit yang terjadi selama tahun 1990-2013. Data spasial penggunaan/penutupan lahan diperoleh dari Kementrian Kehutanan, kemudian dicermati ulang menggunakan citra satelit Landsat dengan Sistem Klasifikasi Penutupan Lahan Kementerian Kehutanan (SNI 7654:2010). Selama periode 1990-2013, perubahan penggunaan lahan terjadi secara dinamis. Penggunaan/penutupan lahan hutan secara konsisten menurun sedangkan penggunaan/penutupan non-hutan: lahan terbuka, semak belukar, semak belukar rawa, dan kebun sawit relatif meningkat. Secara umum, luas perkebunan sawit di Kabupaten Sanggau meningkat yang sebagian besar berasal dari konversi penggunaan lahan non-hutan. Pada periode 1990-2009 luas penggunaan lahan sawit bertambah dari penggunaan lahan hutan rawa sekunder sedangkan pada periode 2009-2013 dari lahan non-hutan.
Kata kunci: Perubahan penggunaan/penutupan lahan, perkebunan kelapa sawitLand use is the result of the intervention of humans to land in order to satisfy the needs of life the material and spiritual, and it changes in line with the growing number of people\u27s activities in regulating economic, social and cultural life. Land use patterns in Kubu Raya and Sanggau regencies for three decades changed significantly. Forest land cover in the decade 1970s in Kubu Raya was 100%, then it was started to open until 1991 for smallholder plantations, large plantations and mix plantations. While, in the Sanggau regency, in the period of 1996-2005 land cover forest and agroforestry change decreased significantly, which was followed by increasing plantation. The objectives of this research were to identify land use/cover change in Kubu Raya and Sanggau regencies and to determine the development of oil palm plantation that occurred during the years 1990-2013. The spatial data land use/cover was obtained from the Ministry of Forestry, which were reexamined using Landsat satellite images with the Land Cover Classification System of the Ministry of Forestry (SNI 7654: 2010). During the 1990-2013 period, land-use change had occurred dynamically. Forest land use consistently decreased while non-forest land such as open land, shrubland, swamp shrubland, and oil palm plantation relatively increased. In general, oil palm plantation in Sanggau regency increase was largely derived from the conversion of non-forest land use. In the period 1990-2009 the increase of oil palm land use was from secondary swamp forest while in the period 2009-2013, that was from non-forest land.
Keywords: Land use/cover change, oil palm plantatio
Spatial Model of Land Degradation and Water Pollution Caused by Illegal Gold Mining Activities in Raya Watershed, W
Aktivitas pertambangan emas tanpa izin menyebabkan terbentuknya lubang tambang, tailing, vegetasi tercekam dan lahan terbuka. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengembangkan model spasial kerusakan lahan dan pencemaran perairan akibat penambangan emas tanpa izin di DAS Raya, Kalimantan Barat. Model kerusakan lahan dikembangkan berdasarkan perkalian skor umur tambang dan jenis tailing, sedangkan skor untuk model pencemaran perairan didasarkan hasil analisis distribusi spasial kadar total dissolved solids (TDS) dan Hg air Danau Serantangan. Vegetasi di area terdegradasi menunjukkan gejala defisiensi dan toksisitas hara. Berdasarkan NDVI (normalized difference vegetation index), area terdegradasi menghasilkan kisaran nilai 0.1-0.6. Tingkat kerusakan lahan di areal penelitian diklasifikasikan agak rusak (29.33%), rusak (28.70%) dan sangat rusak (41.97% dari total luas 4,551 ha), sedangkan 65.87% atau 83 ha areal perairan Danau Serantangan diklasifikasikan sangat tercemar berdasarkan kadar Hg dan TDS. Tingkat akurasi model spasial kerusakan lahan dan pencemaran perairan yang dikembangkan masing-masing mencapai 88.30 dan 82.57%.
Kata kunci: Pertambangan emas tanpa izin, kerusakan lahan, model spasial, pencemaran airIllegal gold mining activities create mine pits, taillings, stressed vegetation and unvegetated land. The aims of this study were to identify and to develop spatial model of land degradation and water pollution caused by illegal gold mining activities in Raya watershed, West Kalimantan. The spatial land degradation model was developed by multiplication the score of mine age and type of mine tailings, while the scores for water pollution was based on the results of spatial distribution analysis of the water’s total dissolved solids (TDS) and Hg concentration levels in Lake Serantangan. Vegetations of the degraded area showed nutrient deficiency and toxicity symptoms. Based on the NDVI (normalized difference vegetation index), the degraded area generated a value range of 0.1-0.6. Mine land in the study area were classified as rather degraded (29.33%), degraded (28.70%), and severe degraded (41.97% of the total 4,551 ha area). While, 65.87% or 83 ha of the Lake Serantangan area was classified as severely polluted based on the water’s concentration of Hg and TDS. The accuracy of the spatial model developed was 88.30 and 82.57% for land degradation and water pollution, respectively.
Keywords: Illegal gold mining, land degradation, spatial model, water pollutio
DINAMIKA PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN INDUSTRI KAITANNYA DENGAN PDRB SEKTOR INDUSTRI DI JABODETABEK
Pengembangan kawasan industri di Jabodetabek berkembang pesat sejak awal 1970. Perkembangan perkotaan yang pesat di Jabodetabek mengakibatkan munculnya daerah-daerah baru di pinggiran sebagai penampung pertumbuhan kegiatan kota tersebut, diantaranya adalah daerah industri. Kondisi ini terjadi karena adanya keterbatasan penyediaan lahan di perkotaan dalam skala besar terutama untuk kegiatan industri. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perubahan penggunaan lahan dari lahan non industri ke lahan industri dan kaitannya dengan PDRB industri di Jabodetabek serta menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap PDRB sektor industri. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survey, analisis SIG dan regresi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perubahan penggunaan lahan (konversi) non industri ke industri tahun 1998 sampai tahun 2012 terbesar terdapat di Kabupaten Bekasi dengan jenis penggunaan lahan permukiman, ruang terbuka, dan persawahan. Perubahan penggunaan lahan non industri ke industri berkorelasi positif dengan perubahan PDRB sektor industri di Jabodetabek. Variabel yang berpengaruh kuat terhadap pembentukan PDRB sektor industri, adalah variabel bahan baku. Pengembangan lokasi industri di Jabodetabek cenderung mengikuti jaringan jalan utama untuk kemudahan aksesibilitas.
Kata kunci: Sebaran lahan industri, Jabodetabek, industriThe development of industrial areas in Jabodetabek developed rapidly since the beginning of 1970. The rapid urban development in the Greater Jakarta resulted in the emergence of new areas on the outskirts of the city as a container for the growth of activities, such as industrial areas. This condition occurs because of the limited supply of urban land on a large scale, especially for industrial activities. The purpose of this study was to analyze changes in land use to non-industrial land to industrial land and its relation to the GDP in Jabodetabek industry and analyzes the factors that affect the industrial sector GDP. The method used in this research are the survey, GIS analysis and regression. The results showed that changes in land use (conversion) non industry to 1998 to the Year 2012 are in Bekasi largest by land use type housing, open space, and rice fields. Changes in land use non industry to positively correlate with changes in the industrial sector GDP in Jabodetabek.. Variables are a strong influence on the formation of GDP industrial sector, is a variable raw material. The development of industrial sites in Greater Jakarta tends to follow them main road network forease of accessibility.
Keywords: Distribution of industrial land, Jabodetabek, industr