Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Not a member yet
    301 research outputs found

    Economic Potential and Direction of Economic Development in the Region of The Village Buffer at Ujung Kulon National Park

    Get PDF
    Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu merupakan wilayah penyangga Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Berdasarkan RTRW Kabupaten Pandeglang 2013, kedua wilayah tersebut diperuntukkan sebagai pusat pengembangan perdagangan dan jasa. Pada kenyataannya masih terkendala dengan keterbatasan infrastruktur. Kondisi ini menjadi permasalahan utama dari rencana pengembangan wilayah yang telah ditetapkan. Penelitian ini bertujuan: (1) Menganalisis hierarki wilayah berdasarkan aksesibilitas dan jumlah fasilitas per desa; (2) Menganalisis sektor unggulan yang mendukung pengembangan wilayah; (3) Menyusun arahan program pengembangan perekonomian di Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis skalogram mengindikasikan beberapa desa penyangga TNUK, yaitu terdapat dua belas yang termasuk hierarki III. Dari desa-desa yang termasuk hierarki III terdapat lima desa yang memiliki penduduk prasejahtera tinggi (79.9% - 87.8%). Selanjutnya terdapat enam desa yang termasuk hierarki II, sedangkan satu desa berada pada Hierarki I. Sektor unggulan di Kecamatan Sumur adalah pertanian, peternakan, perikanan dan pariwisata. Sektor unggulan di Kecamatan Cimanggu adalah pertanian, peternakan, dan perkebunan. Adapun arahan pengembangan wilayah di Kecamatan Sumur adalah perikanan dan pariwisata, program penerapan teknologi perikanan, pembangunan pelabuhan/darmaga, pembangunan kantor lembaga keuangan, sarana, dan prasarana wisata, sedangkan arahan pengembangan di Kecamatan Cimanggu adalah pertanian dan perkebunan, program penerapan teknologi pertanian. Kata kunci: Pengembangan wilayah, hierarki wilayah, Pandeglang, potensi wilayah penyangga TNUKSumur District and Cimanggu District are the buffer areas of Ujung Kulon National Park (UKNP). Based on the Spatial Planning of Pandeglang Regency 2013, the districts were designated as the center development of trade and services. In fact, there is still a lack of infrastructure. This condition is the main problem of the regional development plan. This study aims to: (1) analyze the village hierarchy based on areas for Sumur District and Cimanggu District; (2) analyze the main sector that supports the regional development; (3) propose the economic development programs in Sumur District and Cimanggu District. The results show that are twelve (12) UKNP buffer villages in hierarchy III. In hierarchy III, where there are five villages that have a relatively high economically disadvantaged population (79.9% - 87.8%). There are six villages in hierarchy II, and only one village in hierarchy I. The main sector in Sumur District, are rice (wet cultivation), vegetables, ornamental plants, livestock, fisheries and tourism. The main commodities in Cimanggu District, are rice, crops, vegetables, livestock, and plantations. The recommendation of regional development in Sumur District is fishery and tourism, the program of modern fishing technology, construction of ports and financial/capital institutions, facilities and infrastructure for tourism. The recommendation of regional development in Cimanggu District is on agriculture and plantation, the program of agricultural technology, financial/capital institutions, facilities and infrastructure to support the local economy. Keywords: Area development, area hierarchy, pandeglang, the potential of buffer areas in TNU

    Ability of Endophytic Diazotrophic Bacteria in Stimulating Growth of Oil Palm Seedlings (Elaeis guineensis Jacq)

    Get PDF
    Bakteri diazotrof endofit adalah bakteri penambat N2 yang hidup berkoloni di dalam jaringan tanaman tetapi tidak memberikan efek patogenik terhadap tanaman inangnya. Kemampuan bakteri diazotrof endofit dalam menyumbangkan hara nitrogen bagi tanaman diharapkan akan sangat berperan dalam mengurangi ketergantungan aterhadap pupuk nitrogen anorganik. Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari kemampuan isolat bakteri diazotrof endofit yang diaplikasikan dengan pupuk nitrogen terhadap pertumbuhan tanaman dan bobot kering bibit kelapa sawit. Percobaan dilakukan di rumah kaca kebun Percobaan IPB, Cikabayan, Darmaga dengan ketinggian sekitar 250 m dpl dan di Laboratorium Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB serta di Laboratorium Bioteknologi Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Pasuruan, Jawa Timur. Percobaan ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu dosis N yang terdiri dari empat taraf (0, 50%, 75% dan 100% standar pemupukan). Faktor kedua yaitu aplikasi isolat bakteri diazotrof endofit terdiri atas 4 taraf yaitu tanpa inokulasi, diinokulasi dengan isolat 1, isolat 2 dan isolat 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi inokulasi isolat bakteri diazotrof endofit dengan tanpa pemupukan nitrogen memberikan hasil pertumbuhan vegetatif terbaik untuk bibit kelapa sawit yaitu diameter bonggol, tinggi bibit, dan berat kering bibit kelapa sawit. Kata kunci : Endofit bakteri diazotrof, pengambilan hara, bibit kelapa sawit, pertumbuhan vegetatifEndophytic diazotrophic bacteria are free-living atmospheric dinitrogen fixing bacteria that lived and colonized between living plant cells and do not contribute pathogenic effects to its host. The ability of endophytic diazotrophic bacteria in providing nitrogen as a nutrient for crop plays an important role in reducing the dependency of inorganic nitrogen fertilizer. The aim of this experiment was to study the ability of endophytic diazotrophic bacteria isolate to stimulate vegetative growth of oil palm seedlings at four levels inorganic nitrogen fertilizer application. Experiment was conducted at the greenhouse IPB Campus, Cikabayan, Darmaga with the altitude of 250 m above sea level and at the Soil Fertility Laboratory, the Departement of Soil Science and Land Resources, Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University (IPB) and at the Laboratory of Biotechnology, Indonesian Sugarcane Research Centre (P3GI) Pasuruan, East Java. This experiment using Completely Randomized Block Design (CRBD) consisted of two factors with three replications. The first factor was inorganic nitrogen levels consisted of four levels (0, 50%, 75% and 100% of the recommended dose). The second factor was inoculation with endophytic diazotrophic bacterial isolates consisted of four levels; without inoculation, inoculated with isolate 1, isolate 2 and isolate 3. The results of the experiment showed that the inoculation with bacterial isolate 2 without N fertilizer application gave the best results to increase the diameter of the palm weevil, palm height, and dry weight. In addition to that, the application of endophytic diazotrophic bacterial isolate was able to promote vegetative growth of palm oil seedling. Keywords: Endophytic diazotrophic bacteria, nutrient up-take, oil palm seedling, vegetative growt

    Monitoring Hazard of Drought in Indramayu

    Get PDF
    Kekeringan sebagai peristiwa alam dan menyerang secara perlahan, telah menimbulkan kerugian bagi petani di Kabupaten Indramayu. Mengingat kekeringan merupakan kejadian yang dapat berulang, maka perlu dilakukan upaya pemantauan dan mengidentifikasi faktor-faktor bahaya kekeringan, agar dapat dikembangkan model bahaya kekeringan. Disamping itu, perlu dilakukan pemetaan untuk diketahui sebaran kekeringan sebagai salah satu pertimbangan dalam pengembangan pertanian dan kebijakan lainnya, serta dapat meminimalkan kerugian yang mungkin di alami di kemudian hari. Penelitian ini menggunakan metode dengan mengidentifikasi faktor-faktor bahaya kekeringan dan mengembangkan model kekeringan. Tiap-tiap faktor diberi skor dan bobot berdasarkan urutan kepentingan atau pengaruhnya terhadap bahaya kekeringan kemudian digabungkan dengan metode MCE (Multi Criteria Evaluation). Model diterapkan pada 3 (tiga) titik tahun yaitu 2003, 2008 dan 2012 dalam dua versi. Versi 1 yakni dengan tidak menyertakan jarak dari jaringan irigasi dan versi 2 adalah dengan menyertakan jarak dari jaringan irigasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor bahaya kekeringan yang memiliki pengaruh paling besar sampai dengan paling rendah adalah curah hujan, penggunaan lahan, jarak ke sumber air, tekstur tanah, suhu permukaan tanah, sehingga diperoleh model dengan formulasi: H=(0.34SPI)+(0.20L)+(0.19B)+(0.17Jt)+(0.10LST). Sebaran bahaya kekeringan pada model versi 2 memiliki luasan bahaya kekeringan lebih sedikit dari model versi 1 dan memiliki nilai akurasi lebih rendah dari versi 1. Model versi 2 merupakan kondisi ideal, tetapi jaringan irigasi kurang berperan pada masa musim kemarau. Sementara itu, model versi 1 memiliki tingkat validasi yang cukup signifikan. Versi 1 merupakan kondisi yang mendekati keadaan sebenarnya di lapangan. Kata kunci: Kekeringan, bahaya, suhu tanah, evaluasi multi kriteria, Indek Standar Curah HujanThe drought as a natural event and attacked slowly. Drought as a natural event and attacked slowly, has caused harm to the farmers in the district Indramayu. In vew of the drought is an event that can be repeated, it is necessary to monitor and identify factors associated risk of drought, so as to develop a model of the hazard of drought. Besides, it should be made maps to be known distribution of drought useful for the development of agriculture and other policies, as well as to minimize losses that may in the future. This research used a method to identify factors associated risk of drought and develop models of drought. Each factor was scored and weighted in order of importance or influence on the risk of drought and then overlay is connected through the MCE method (Multi Criteria Evaluation). The model is applied to three (3) points in that 2003, 2008 and 2012. The model is built for two versions. Model version 1, implementaed by excluding the distance from the irrigation network and model version 2, include a range of irrigation networks. The results showed that the drought hazard factor that has the most impact to the lowest is the rainfall, land use, distance to water sources, soil texture, soil surface temperature, in order to obtain a model with the formulation: H=(0.34SPI)+(0.20L)+ (0.19B)+(0.17Jt)+(0.10LST). The spread of the hazard on the model version 2 has an area at risk of drought less than the model version 1 and version 2 have a value lower accuracy than version 1. Model version 2 is an ideal condition, however, irrigation is less a role during the dry season. Meanwhile, the model version 1 has a significant level of validation. Version 1 is a condition close to the real situation on the ground. Keywords: Drought, hazard, land surface temperature, multi criteria evaluation, Standar Presipitation Inde

    Potencial and Strategic Development of Peri-Urban Agriculture in Bogor District

    Get PDF
    Trend baru dalam pengembangan pertanian di dunia saat ini adalah menganalisis potensi produksi pangan di kota-kota besar dengan mengintegrasikan kebijakan dan program penggunaan lahan, manajemen sumber daya alam dan perubahan lanskap pedesaan di area metropolitan. Kabupaten Bogor merupakan bagian dari kesatuan wilayah mega-city Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) yang terkena dampak perkembangan kota secara langsung. Dampak ini ditandai dengan perubahan lahan, salah satunya pertanian (lahan basah dan lahan kering), mengalami perubahan menjadi lahan terbangun sebesar 47,953 ha (16.04%). Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis potensi periurban agriculuture di Kabupaten Bogor dengan menggunakan penginderaan jauh, GIS, dan AHP. Rekomendasi utama studi ini dalam pengembangan pertanian multifungsi adalah pengembangan pertanian yang mengutamakan perlindungan lingkungan (pertanian ramah lingkungan) dengan strategi pengembangan melalui aspek ekonomi dan sosial. Kata kunci : Kabupaten Bogor, area Jabodetabek, pertanian multifungsi, pertanian peri-urbanThere is a growing newtrend of studies internationally for analyzing the potential of food production in cities by exploring the implications for land use policies and programs, management of natural resources and changes in rural landscapes in a metropolitan area. Bogor District is one of the peri-urban areas of Jakarta Greater Area (Jabodetabek) which is directly affected by its development as one of the world’s mega-city. This impact is marked by land use changes in Bogor District, where the agricultural land (both wet and dry agricultural land) has experienced significant changes within 1989 to 2013, with a total number of built-up area conversion reaching of 47,953 ha (16.04%). This study aims to identify and analyze the potencial of peri-urban agriculture in Bogor District using remote sensing, geographycal information system and analytical hierarchy process. The main recommendations of this study is the development of multifunctional agriculture that prioritizes of environmental protection development ( eco-friendly agriculture ) with the strategy of development through economic and social aspects. Keywords: Bogor District, Jabodetabek area, multifunction agriculture, peri-urban agricultur

    The Dinamics of Landuse Change and Prediction 2025 Also Its Associations with Spatial Planning 2005-2025 in Bogor Regency

    Get PDF
    Kebutuhan lahan selalu meningkat dipicu oleh pertumbuhan penduduk, perkembangan struktur masyarakat dan perekonomian, sementara penawaran terhadap lahan tidak pernah bertambah, sehingga cepat atau lambat kondisi tersebut akan menimbulkan konversi lahan. Penelitian bertujuan mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan Kabupaten Bogor tahun 1989-2013, menentukan faktor-faktor penentu perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Bogor, memprediksi penggunaan lahan tahun 2025 dan menguji akurasinya, serta mengevaluasi keselarasan prediksi penggunaan lahan tahun 2025 dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor 2005-2025. Lahan yang paling banyak berubah adalah lahan pertanian baik lahan pertanian basah (sawah) maupun lahan pertanian kering (kebun dan tegalan). Total areal pertanian yang berubah menjadi lahan terbangun sebesar 47,953 ha atau 16.04% dari luas Kabupaten Bogor. Faktor-faktor yang meningkatkan perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi non pertanian adalah izin lokasi tahun 2005, penetapan kawasan industri dalam kebijakan tata ruang, jarak ke/dari jalan kolektor, jarak ke/dari pusat aktivias ekonomi. Faktor – faktor yang menurunkan perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi non pertanian adalah kelas lereng (16 – 25%), jenis tanah podsolik, dan jarak ke/dari pusat pemerintahan kabupaten. Prediksi penggunaan lahan tahun 2013 memiliki nilai ketepatan 80.49% sehingga model digunakan dalam prediksi penggunaan lahan tahun 2025. Hasil analisis keselarasan RTRW 2005-2025 dengan penggunaan lahan aktual 2013 menunjukkan adanya ketidakselarasan yang dapat menjadi masalah tata ruang di Kabupaten Bogor 63,822 ha atau 21.36%, dimana hutan hilang 64.90%, pertanian lahan basah hilang 20.68% serta tubuh air hilang 6.49%. Hasil analisis keselarasan RTRW 2005-2025 dengan penggunaan lahan hasil prediksi tahun 2025 menunjukkan adanya ketidakselarasan dengan alokasi ruang yang berpotensi menjadi permasalahan tata ruang sebesar 75,577 ha atau 25.29%, dimana terdapat potensi berkurangnya hutan, pertanian lahan basah dan tubuh air masing-masing sebesar 72.41%, 33.62%, 24.64%. Nilai tersebut menunjukkan adanya kenaikan ketidakselarasan dari tahun 2013 sebesar 11,856 ha atau 3.96%. Kata kunci: Regresi logistik biner, perubahan penggunaan lahan, model penggunaan lahan, Markov ChainThe demand for land increases triggered by population growth, development of community structures and economy. On the other hand, the supply of land is somewhat constant, thus it will lead to land conversion. This study aims to identify land-use changes in Bogor Regency in 1989-2013 to determine factors affecting land-use change in Bogor Regency to predict land use in 2025 and to assess its accuracy, and to evaluate the conformity of predicted land use with Spatial Plan of Bogor Regency 2005-2025. The highest rate of change was in cropland including wet agricultural land (paddy fields) and dry agricultural land (garden and upland). A total change of agricultural uses into the built-up area was 47,953 ha or 16.04%. Factors increasing the change of agricultural land into non-agricultural uses are location permits in 2005, areal allocated for industrial area, and distance of land to the road. Factors decreasing the change are slope (16 – 25%), type of soil particularly Podzolik, and the distance of land to the government center. Markov analysis generated prediction of land use in 2013 with accuracy 80.49%. Result of conformity analysis between actual landuse in 2013 and Spatial Plan Bogor Regency indicates a problem in an area as much as 63,822 ha (21.36%), where the forest area reduced by 64.90% paddy field lowered by 20.68% and waterbody declined by 6.49%. The result of conformity analysis between predicted landuse in 2025 and Spatial Plan Bogor Regency indicates potential problem related to spatial planning in Bogor Regency as much as 75,577 ha (25.29%), where the forest area potentially reduced by 72.41%, paddy field potentially lowered by 33.62%, and waterbody potentially declined by 24.64%. The result indicates an increase of unconformity from 2013 amounted to 11,856 ha (3.96%). Keywords: Binary logistic regression, landuse change, landuse modeling, Markov Chai

    ANALISIS PERENCANAAN PRIORITAS JARINGAN JALAN UNTUK PENGEMBANGAN WILAYAH DI KABUPATEN TANA TORAJA

    Get PDF
    Jaringan jalan merupakan salah satu penunjang kegiatan perekonomian yang bermuara pada peningkatan taraf hidup masyarakat. Kabupaten Tana Toraja memiliki 166 ruas jalan kabupaten dengan total panjang 1,252 km yang sebagian besar (74.24%) berada dalam kondisi rusak. Hal ini disebabkan oleh adanya kebijakan pendanaan karena keterbatasan anggaran, akibatnya semua ruas jalan tidak dapat tertangani seluruhnya, sehingga membutuhkan prioritas jaringan jalan yang perlu ditangani untuk pengembangan wilayahnya ke depan. Penelitian ini menggunakan metode analisis skalogram untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah yang menjadi pusat pelayanan dan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mendapatkan persepsi stakeholder terhadap faktor yang menjadi prioritas dalam memilih jaringan jalan yang akan ditangani. Hasil penelitian menunjukkan 2 kecamatan merupakan pusat pelayanan (Hirarki I), 5 kecamatan merupakan subpusat pelayanan (Hirarki II), dan 12 kecamatan merupakan wilayah hinterland (Hirarki III). Dari analisis AHP diperoleh pilihan prioritas jaringan jalan berdasarkan potensi obyek wisata. Sehingga jaringan jalan yang dapat diprioritaskan adalah: 1). Alternatif I, terdiri atas: (i) Jalan lingkar wisata, (ii) Kokkang – Buakayu, (iii) Pasobo – Kondodewata, (iv) Tetebassi – Kondoran, (v) Batupapan – Rantekurra; 2). Alternatif II, terdiri atas: (i) Jalan lingkar wisata, (ii) Kokkang – Buakayu, (iii) Pasobo – Kondodewata, (iv) Tetebassi – Kondoran, (v) Batupapan – Rantekurra, (vi) Makale – Kaduaja

    PENGEMBANGAN WILAYAH PETERNAKAN SAPI POTONG BERBASIS KESESUAIAN FISIK LINGKUNGAN DAN KESESUAIAN LAHAN UNTUK PAKAN DI KABUPATEN CIANJUR

    Get PDF
    Kondisi fisik optimal ternak dapat dicapai bila didukung oleh kesesuaian lingkungan fisik tempat ternak tumbuh dan kecukupan hijauan sebagai makanan ternak. Analisis dalam penelitian ini dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) pada berbagai peta digital (peta pengunaan lahan, peta suhu, peta tanah, peta elevasi, dan peta curah hujan) dan data- data tabular untuk menilai kesesuaian fisik lingkungan, kesesuaian hijauan makanan ternak dan daya dukung hijauan makanan ternak. Luas kesesuaian fisik lingkungan untuk ternak sapi potong di Kabupaten Cianjur yang digembalakan adalah 193,282 hektar (ha) (53.45% dari total luas wilayah), sedangkan lahan yang tidak sesuai 3,076 ha (0.85%). Lahan yang sesuai secara fisik lingkungan untuk pengembangan sapi potong yang dikandangkan seluas 112,877 ha (31.21%), lahan yang sesuai dengan pembatas Temperature Humidity Indexs (THI) seluas 60,616 ha (16.76%) dan lahan yang tidak sesuai seluas 22,865 ha (6.32%). Luas kesesuaian hijauan makanan ternak adalah 194,566 ha (53.80%) dan luas lahan yang tidak sesuai adalah 1,792 ha (0.50%). Daya dukung hijauan di Kabupaten Cianjur berada dalam kriteria aman seluas 186,479 ha (51.56%) dan wilayah yang rawan pakan ternak seluas 9,880 ha (2.73%). Wilayah untuk pengembangan peternakan sapi potong yang digembalakan di Kabupaten Cianjur seluas 126,626 ha (35.01%) dan untuk pengembangan peternakan sapi potong yang dikandangkan seluas 78,065 ha (21.59%)

    EKSPLORASI BAKTERI ANTAGONIS ASAL JARINGAN DAN RIZOSFER TANAMAN KARET UNTUK MENEKAN PERTUMBUHAN BAKTERI PROTEOLITIK PADA BAHAN OLAHAN KARET (BOKAR)

    Get PDF
    Lateks merupakan komoditas pertanian andalan dan merupakan sumber penerimaan devisa negara Indonesia yang cukup penting, namun pada saat penyimpanannya menyumbangkan bau tidak sedap ke udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bakteri antagonis asal jaringan dan rizosfer tanaman karet yang mampu menekan pertumbuhan mikroba proteolitik penyebab bau tidak sedap pada bahan olahan karet (bokar). Bakteri proteolitik penyebab bau tidak sedap diisolasi dari berbagai masa simpan bokar. Bakteri antagonis diisolasi dari jaringan dan rizosfer tanaman karet. Kemampuan bakteri antagonis menekan pertumbuhan bakteri proteolitik dilakukan dengan uji daya hambat dalam medium agar (NA). Diameter zona bening yang terbentuk merupakan indikasi kemampuan bakteri antagonis dalam menghambat aktivitas bakteri proteolitik. Dari hasil penelitian ini diperoleh 2 isolat bakteri yang berpotensi dikembangkan sebagai bakteri antagonis penghambat aktivitas bakteri proteolitik perombak bokar dalam proses penyimpanan. Kedua bakteri antagonis tersebut adalah isolat D1U1 yang berasal dari daun tanaman karet dan isolat A2U2 yang berasal dari akar tanaman karet, yang menghasilkan rata-rata zona hambat terluas berturut-turut berdiameter 11.37 dan 11.29 mm

    PERANAN RIZOBAKTERI DAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULAR DALAM MENINGKATKAN EFISIENSI PENYERAPAN HARA SORGUM MANIS (Sorghum bicolor L. Moench)

    Get PDF
    Efisiensi pemakaian pupuk kimia dapat didefinisikan berdasarkan aspek agronomi. Secara umum, semakin banyak hara yang diserap tanaman untuk meningkatkan hasil panen, maka tingkat efisiensi semakin tinggi. Pelacakan jumlah hara yang dapat diserap tanaman dalam meningkatkan produksi adalah komponen kunci untuk mengukur efisiensi hara. Percobaan lapangan dilakukan untuk menilai peranan rizobakteri dan fungi mikoriza arbuskular (FMA) pada berbagai konsentrasi pupuk kimia pada budidaya sorgum manis (Sorghum bicolor L. Moench). Dua galur rizobakteri (Mycobacterium senegalense 73LR dan Bacillus firmus 80JR) serta dua galur FMA (Gigaspora sp. 40MDL dan Glomus sp. 38MDL) digunakan sebagai inokulan dengan penambahan beberapa variasi konsentrasi pupuk kimia. Bobot biomasa, kandungan gula, serapan fosfor, kalium dan nitrogen dianalisis. Inokulasi rizobakteri mampu meningkatkan tinggi tanaman dan kandungan P pada taraf p<0.01, sedangkan bobot biomassa, kandungan gula, serapan P dan K pada taraf p<0.05. Inokulasi FMA saja berpengaruh nyata terhadap bobot biomassa dan kandungan N pada taraf p<0.01, sedangkan kandungan gula pada taraf p<0.05. Sementara itu, interaksi rizobakteri dan FMA mampu meningkatkan bobot biomassa, kandungan dan serapan K, serta efisiensi penyerapan hara N. Secara keseluruhan pengaruh inokulasi rizobakteri, FMA dan pupuk kimia serta interaksi faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan bobot biomasa, kandungan gula, serapan P dan K, serta efisiensi penyerapan hara N oleh tanaman sorgum manis. Dengan demikian, pemakaian rizobakteri dan FMA berpotensi meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia, sehingga diharapkan dapat mengurangi biaya produksi budidaya sorgum manis

    KOMBINASI PUPUK ORGANIK HAYATI DAN PUPUK FOSFAT UNTUK PENINGKATAN KERAGAAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq)

    Get PDF
    Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik hayati diperkaya mikrob tanah terhadap keragaan tanaman, populasi total mikrob dan populasi mikrob pelarut fosfat di pembibitan kelapa sawit. Persiapan media tanam dilakukan dengan mengambil lapisan tanah atas (topsoil) dengan kedalaman maksimal 25 cm kemudian tanah tersebut dikering anginkan dan dimasukkan ke dalam setiap kantong plastik media tanam dengan volume masing-masing 5 kg. Pengukuran parameter keragaan tanaman bibit kelapa sawit dilakukan dari minggu ke-4 setelah tanam (MST) hingga ke-22 MST di rumah kaca kebun percobaan Cikabayan, Darmaga. Percobaan uji efektivitas mikrob pelarut fosfat (MPF) pada pupuk organik hayati menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri dari dua faktor dengan tiga ulangan. Hasil percobaan menunjukkan pengaruh penggunaan pupuk batuan fosfat terhadap tinggi tanaman memberikan hasil yang lebih baik dibandingan penggunaan SP-36 dan analisa statistik terhadap pengaruh tunggal pupuk organik hayati, pengaruh pupuk organik terhadap populasi total mikrob menunjukkan hasil terbaik

    233

    full texts

    301

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇