Jurnal Kesehatan Komunitas
Not a member yet
    548 research outputs found

    THE Pemanfaatan Daun Kopi (Kawa Daun) Sebagai Penurun Tekanan Darah Tinggi pada Akseptor KB Suntik: UTILIZATION OF COFFEE LEAVES (KAWA LEAVES) AS A REDUCTION OF HIGH BLOOD PRESSURE IN INJECTING KB ACCEPTORS

    No full text
    The percentage of hypertension sufferers wherein women who have a higher hypertension rate is 28.8%, it occurs because it is influenced by the rate of contraceptive use, where the prevalence rate of contraceptive use tends to increase in 1991 - 2012 by 50% to 62%. The purpose of research to know the content in the decoction of coffee leaves and to know the effect of coffee leaf stew on the decrease in high blood pressure levels in the contraceptive injection aceptor. This research was a pre-experimental study with pre-test and post-test design and used Complete Random Design (RAL). Then tested to a sample of women with contraceptive injection as many as 60 people, the technique before drinking the boiled water of coffee leaves, the mother in the tension first to know how much change after drinking boiling water coffee leaves. The results of the study in the decoction of coffee leaves there are tannin levels, flavonoid levels that increase antioxidants that are very needed in hypertension sufferers. Majority of blood pressure respondents before consuming coffee leaf stew having stage 1 hypertension as many as 20 people (60.0%), then pre-hypertension amount 25 people and hypertension stage 2 in every 15 people (20,0%). Blood pressure of respondents after consuming pandan leaf stew the majority of the respondent's blood pressure decreased and became pre-hypertension as many as 25 people (41.0%), hypertension stage 1 20 (34%), hypertension stage 2 as many as 15 people (25%). It can be concluded the decoction of coffee leaves is very beneficial for a decrease in the high blood pressure of contraceptive injection acceptor.Persentase penderita hipertensi dimana pada perempuan yang mempunyai angka hipertensi yang lebih tinggi yakni sebesar 28,8%, hal terjadi karena dipengaruhi oleh angka penggunanan kontrasepsi, dimana angka prevalensi penggunaan kontrasepsi cenderung mengalami peningkatan yakni pada tahun 1991 – 2012 sebesar 50% menjadi sebesar 62%. Tujuan penelitian untuk mengetahui kandungan di dalam rebusan daun kopi dan pengaruh rebusan daun kopi terhadap penurunan kadar tekanan darah tinggi pada akseptor keluarga berencana (KB) suntik. Metode penelitian pre eksperimen dengan desain penelitian pre test dan post test yakni dengan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Lalu di ujikan kepada sampel ibu-ibu dengan KB suntik sebanyak 60 orang, tehniknya sebelum di minumkan air rebusan daun kopi tersebut, ibu di tensi terlebih dahulu agar tahu berapa perubahan setelah minum air rebusan daun kopi. Hasil penelitian di dalam rebusan daun kopi terdapat kadar tanin, kadar flavonoid yang meningkatkan antioksidan yang sangat dibutuhkan penderita hipertensi. Mayoritas tekanan darah responden sebelum mengkonsumsi rebusan daun kopi mengalami hipertensi stage 1 sebanyak 20 orang (60,0%), kemudian yang mengalami pre-hipertensi 25 orang dan hipertensi stage 2 masing-masing 15 orang (20,0%). Setelah mengkonsumsi rebusan daun pandan mayoritas tekanan darah responden menurun dan menjadi pre-hipertensi sebanyak 25 orang (41,0%), hipertensi stage 1 sebanyak 20 orang (34%), hipertensi stage 2 sebanyak 15 orang (25%). Dapat disimpulkan rebusan daun kopi sangat bermanfaat untuk penurunan tekanan darah tinggi akseptor KB suntik

    Penyelenggaraan Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular Di Wilayah Puskesmas Sungai Piring Kabupaten Indragiri Hilir

    Get PDF
    The increasing prevalence of non-communicable disease is a serious threat to development, because it threatens national economic growth. Public Health Center of Sungai Piring area is one of the largest Non-Communicable Disease of  Integrated Guidance Post (Posbindu PTM) distributions out of 28 Public Healh Centers in Indragiri Hilir regency, however, health screening at Non-Communicable Disease of Integrated Guidance Post (Posbindu PTM) was only 31.1% of the program target in 2019. Through it, early detection of Non-Communicable risk factors could be detected so that the incidence of it in the community could be pressed. The purpose of knowing the trends of input, process and output in implementation of Non-Communicable Disease of Integrated Guidance Post (Posbindu PTM) at Public Health Center of Sungai Piring Area, Indragiri Hilir Regency in 2019. This type of research was qualitative research that used purposive sampling technique. Research informants were the head of Public Health Center, Headman, the village head, the person in charge of the program, officers, cadres and users of Integrated Guidance Post. The Collecting data was interview, observation and documents related with a triangulation analysis of data sources and methods. The result of the research was in terms of input, the role of officers had been optimal, but the roles of cadres and policy makers had not been optimal, limited funding of Health Operational Assistance (BOK) funds and the infrastructure Public Health Center was not optimal. From the process of planning and coaching Non-Communicable Disease of Integrated Guidance Post (Posbindu PTM) had not been optimal, the types of activities were not in accordance with the Integrated Guidance Post concept, follow up the monitoring of risk factors had been carried out by Integrated Guidance Post officers and the basic Integrated Guidance Post criteria phasing. The output of evaluation in implementation of Integrated Guidance Post of Non-Communicable Disease at Public Health Center of Sungai Piring Area in 2019 was seen from the input and process there still obstacles. It should be necessary to increase socialization and support from related sectors to increase the utilization of Non- Communicable Disease of Integrated Guidance Post (Posbindu PTM).  Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular menjadi ancaman yang serius dalam pembangunan, karena mengancam pertumbuhan ekonomi nasional. Puskesmas Sungai Piring salah satu distribusi Posbindu PTM terbanyak dari 28 Puskesmas di Kabupaten Indragiri Hilir, Namun skrining kesehatan di Posbindu PTM hanya sebesar 31,1% dari target program tahun 2019. Melalui Posbindu PTM, dapat dilakukan deteksi dini pencegahan faktor risiko PTM sehingga kejadian PTM di masyarakat dapat ditekan. Tujuan diketahuinya tentang kecenderungan input, proces dan output dalam penyelenggaraan Posbindu PTM di wilayah Puskesmas Sungai Piring Kabupaten Indragiri Hilir Tahun 2019. Jenis penelitian kualitatif dengan teknik purposive sampling. Informan penelitian kepala Puskesmas, lurah, kepala desa, penanggung jawab program, petugas, kader dan pengguna Posbindu. Pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan telusur dokumen terkait dengan analisis triangulasi sumber data dan metode. Hasil penelitian dari segi input peran petugas sudah optimal, namun peran kader dan pemangku kebijakan belum optimal, kegiatan belum sesuai konsep Posbindu, tidak lanjut pemantauan faktor risiko sudah dilaksanakan petugas dan penahapan Posbindu kriteria Posbindu dasar. Evaluasi penyelenggaraan Posbindu PTM di wilayah Puskesmas Sungai Piring tahun 2019 dilihat dari segi input dan process masih ada kendala. Perlu peningkatan sosialisasi dan dukungan dari lintas sektor terkait untuk peningkatan pemanfaatan Posbindu PTM

    Analisis Upaya Pencapaian Indikator Kapitasi Berbasis Pemenuhan Komitmen Pelayanan (KBPKP) di Puskesmas Rumbai Kota Pekanbaru

    Get PDF
    Capitation Based on Service Commitment Fulfillment (KBPKP) is an adjustment to the capitation rate based on the results of an agreed assessment of individual health service indicators in the form of a commitment to First Level Health Facilities (FKTP) services in order to increase the efficiency and effectiveness of health service delivery in FKTPs. The achievement of the target indicators for the Capitation Based on Service Commitment Fulfillment (KBPKP) at Puskesmas Rumbai Pekanbaru has not been satisfactory. Throughout 2019, most of the KBPKP indicators were in unsafe conditions with a capitation payment range ranging from 90% - 95%. The research objective was to analyze the efforts to achieve the Capitation indicator based on Service Commitment Fulfillment (KBPKP) at the Rumbai Public Health Center in Pekanbaru City in 2019. The method of selecting informants used snowball sampling. Data source qualified and able to present opinions well. The informants in this study were flexible according to the adequacy and suitability of the study. The results showed that the efforts to achieve the Capitation indicators based on the Service Commitment Fulfillment (KBPKP) at Puskesmas Rumbai, Pekanbaru City were not optimal. Commitment to achieve indicator numbers is still lacking. The strategy that has been made is not clear, therefore there is no effort to formulate a clear, structured and systematic strategy. Organizational structure is not followed by a description of the main tasks and functions so that supervision becomes weak, program holder officers do not focus on realizing the plan for achieving the service commitment based capitation indicator (KBPKP) that has been determined as a result efforts to achieve the KBPKP indicator are difficult to realize. It is recommended that efforts be made to make SOPs, a comprehensive, measurable, systematic plan, formulate the main tasks and functions for officers assigned as personnel to realize the target indicators that have been set so that coordination and control of actions in realizing the KBPKP indicators can be carried out properly.Kapitasi Berbasis Pemenuhan Komitmen Pelayanan (KBPKP) adalah penyesuaian besaran tarif kapitasi berdasarkan hasil penilaian pencapaian indikator pelayanan kesehatan perseorangan yang disepakati berupa komitmen pelayanan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dalam rangka meningkatkanefisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pelayanan kesehatan di FKTP. Pencapaian target indikator Kapitasi Berbasis Pemenuhan Komitmen Pelayanan (KBPKP) di Puskesmas Rumbai  Pekanbaru belum memuaskan. Sepanjang tahun 2019 pencapaian indikator KBPKP sebahagian besar berada pada kondisi tidak aman dengan rentang pembayaran kapitasi berkisar 90% - 95%. Tujuan penelitian untuk menganalisis upaya pencapaian indikator Kapitasi Berbasis Pemenuhan Komitmen Pelayanan (KBPKP) Di Puskesmas Rumbai Kota Pekanbaru Tahun 2019. Cara pemelihan  informan menggunakan snowball sampling Kriteria informan yang dipilih dalam penelitian ini berdasarkan ketersediaan untuk diwawancarai, mengetahui  permasalahan dengan jelas, dapat dipercayai dan menjadi sumber data yang baik dan mampu mengemukan pendapat secara baik. Informan dalam penelitian ini bersifat fleksibel sesuai dengan kecukupan dan kesesuaian dalam penelitian.. Hasil penelitian menunjukan bahwa upaya pencapaian indikator Kapitasi Berbasis Pemenuhan Komitmen Pelayanan (KBPKP) di Puskesmas Rumbai Kota Pekanbaru belum maksimal. Komitmen untuk mencapai angka indikator masih kurang. Strategi yang dibuat belum jelas, karenanya belum melakukan upaya penyusunan strategi secara jelas, terstruktur dan sistimatis. strutur organisasi tidak diikuti dengan uraian tugas pokok dan fungsi sehingga pengawasan menjadi lemah, petugas pemegang program tidak fokus dalam merealisasikan rencanna pencapaian indikator kapitasi berbasis pelaksanaan komitmen pelayanan (KBPKP) yang sudah ditetapkan akibatnya upaya pencapaian indikator KBPKP sulit direalisasikan. Disarankan Perlu dilakukan upaya untuk membuat  SOP, rencana yang komprehensif, terukur, sistematis, menyusun tugas pokok dan fungsi untuk petugas yang ditempatkan sebagai personal yang bertugas untuk merealisasikan target indikator yang sudah ditetapkan sehingga koordinasi dan pengendalian tindakan dalam  merealisasikan indikator KBPKP dapat dilakukan dengan baik

    Determinan Pemanfaatan Pelayanan Voluntary Counselling and Testing (VCT) pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Langsat Kota Pekanbaru Tahun 2020

    Get PDF
    Voluntary Counselling and Testing (VCT) is voluntary counseling and HIV testing which aims to help prevention, caret, and treatment of HIV and AIDS. According to Permenkes No.42 in 2017 about triple elimination explain every pregnant woman must be checked for HIV, Hepatitis B, and Sifilis as early as possible Mother to Child HIV Transmission (MTCT) In 2018, in Indonesia the target of HIV testing in pregnant women is that 60% of pregnant women are tested for HIV. However, only 34% of pregnant women conduct examinations, and the Langsat Health Center is the health center with the lowest VCT rate in pregnant women in Pekanbaru City at 12,7% of pregnant women not to check. The purpose of this study was to determine the determinants of the use of Voluntary Counselling and Testing (VCT) services of pregnant women in the work area of Langsat Health Center Pekanbaru City in 2020. This was an analytical quantitative type with a cross-sectional design. The sampling technique was accidental sampling totaling 101 respondents. Variable of the research were knowledge, attitude, stigma, discrimination, support of family, and support from health workers to the utilization of VCT. Analysis of the data used in univariate and bivariate analysis with chi-square test with α = 0,05. The result showed a variable knowledge (p = 0,010. POR = 3,357), stigma and discrimination (p = 0,042. POR = 2,619), family support (p = 0,002. POR = 4,357), and support of health workers (p = 0,004. POR = 3,843) are related to the use of VCT. Suggestion for the health center to actively socialize about VCT and invite cross-sectoral to collaborate in VCT examination in pregnant women can be easily affordable. Voluntary Counselling and Testing (VCT) adalah konseling dan tes HIV secara sukarela yang bertujuan untuk membantu pencegahan, perawatan, serta pengobatan penyakit HIV dan AIDS. Berdasarkan Permenkes No 42 tahun 2017 tentang triple eliminasi menjelaskan bahwasanya setiap ibu hamil harus dilakukan pemeriksaan HIV, Hepatitis, dan juga sifilis sedini mungkin sehingga dapat mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu ke anak (MTCT). Tahun 2018, di Indonesia target pemeriksaan HIV pada ibu hamil yaitu 60% ibu hamil diperiksa HIV. Namun, hanya 34% ibu hamil yang melakukan pemeriksaan. Puskesmas Langsat merupakan puskesmas dengan angka VCT pada ibu hamil terendah yang ada di Kota Pekanbaru yaitu sebesar 12,7% ibu hamil yang melakukan pemeriksaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan pemanfaatan pelayanan Voluntary Counselling and Testing (VCT) pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Langsat Kota Pekanbaru Tahun 2020. Metode penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan desain cross sectional. Teknik sampling yaitu accidental sampling sebanyak 101 responden. Variabel dalam penelitian ini adalah pengetahuan, sikap, stigma dan diskriminasi, dukungan keluarga, serta dukungan tenaga kesehatan terhadap pemanfaatan VCT. Analisis data yang digunakan adalah analisi univariat dan bivariat dengan uji chi-square dengan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan (p = 0,010. POR = 3,357), stigma dan diskriminasi (p = 0,042. POR = 2,619), dukungan keluarga (p = 0,002. POR = 4,357), dan dukungan tenaga kesehatan (p = 0,004. POR = 3,843) berhubungan dengan pemanfaatan VCT. Saran bagi pihak puskesmas untuk aktif bersosialisasi mengenai VCT dan mengajak lintas sektor untuk bekerjasama dalam pelayanan VCT sehingga, pemeriksaan VCT pada ibu hamil dapat dengan mudah terjangkau

    Pengorganisasian Program Penyakit Tidak Menular (PTM) di Puskesmas Tambang Kabupaten Kampar Tahun 2019

    Get PDF
    ABSTRACT   Organazing is a process pf detemining, grouping and managing various activities needed to achieve goals. One of the Health District Office programs ie the Prevention and Control for Non-Communicable Diseases (NCDs) program. Tambang Primary Health Care is one of 31 Primary Health Care in Kampar District Government which alredy has an organizing Non-Communicable Diseases (NCDs). This research aims to find out the organazing of the Non-Communicable Diseases program (NCDs) at the Tambang Primary Health care. This research was conducted in May-June 2019. This research is a qualitative study. Data was collected through in-depth interviews, observation and document review. The number of informants in this study were 8 people. The results of the study show that the division of work description has already done. Departementalisasi  of work has been done based on the type of region, type of customer and type of activities even though it is already. Organization relationship has run according to the hierarchy level. Coordination has not run optimally. The head of the Primary Health Care has diving the tasks in detail in detail such as work guidelines, workload analysis, determine the human resource requirements and improve the inter-health district office meetings for achieving program objectives.   Keywords    : Organizing, Non-Communicable Diseases  ABSTRAK   Pengorganisasian adalah suatu proses penentuan, pengelompokan dan pengaturan bermacam-macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Salah satu program Dinas kesehatan adalah program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM). Puskesmas Tambang adalah salah satu dari 31 Puskesmas yang ada di Kabupaten Kampar yang sudah memiliki pengorganisasian program penyakit tidak menular (PTM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengorganisasian program penyakit tidak menular (PTM) di Puskesmas Tambang. Penelitian ini dilaksanakan dibulan mei - Juni. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam ,observasi dan telaah dokumen. Jumlah informan dalam penelitian ini adalah 8 orang. Hasil penelitian diperoleh bahwa pembagian kerja sudah dilakukan. Pengelompokan pekerjaan sudah dilakukan berdasarkan jenis wilayah, jenis pelanggan dan jenis kegiata. Hubungan relasi sudah berjalan baik antara tim. Koordinasi belum berjalan secara optimal. Kepala puskesmas dapat melakukan pembagian kerja secara rinci berupa pedoman kerja, melakukan analisis beban petugas dan  menetapkan kebutuhan SDM serta meningkatkan rapat antar lintas sektor agar masing-masing program bisa mencapai tujuannya.   Kata kunci : Pengorganisasian, Penyakit Tidak Menula

    Faktor Risiko Lingkungan Rumah terhadap Keberadaan Jentik Nyamuk di Lubuk Linggau Timur I

    Get PDF
    Background: The existence of Aedes sp. is an indicator of the presence of a population of Aedes sp. environmental conditions also greatly affect the incidence of dengue disease, it is also related to the presence of larvae. Citra Medika Health center’s working area is a contributor of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) incidence with increased DHF cased from 2016-2018. Objective: to analyze the relationship between environmental conditions and the presence of Aedes sp. in the Citra Medika Health Center, Lubuk Linggau Timur District 1 in 2020. Methods: It was quantitative research with a cross-sectional design approach. The total sample was 91 respondents, who have met predetermined criteria using the purposive sampling technique, with inclusion criteria and exclusion criteria. The data used in this study are secondary data from Citra Medika Health Center and primary data obtained from interviews and direct observation. Result: It showed that there was a relationship between the implementation of Mosquito Breeding Eradication (p-value 0,047) and the presence of solid waste (p-value 0.039) with the presence of Aedes sp. larvae. Conclusion: This study concludes that the presence of Aedes sp. larvae are caused by factors such as the implementation of Mosquito breeding Eradication DBD and the presence of solid waste.Background: The existence of Aedes sp. is an indicator of the presence of a population of Aedes sp. environmental conditions also greatly affect the incidence of dengue disease, it is also related to the presence of larvae. Citra Medika Health center’s working area is a contributor of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) incidence with increased DHF cased from 2016-2018. Objective: to analyze the relationship between environmental conditions and the presence of Aedes sp. in the Citra Medika Health Center, Lubuk Linggau Timur District 1 in 2020. Methods: It was quantitative research with a cross-sectional design approach. The total sample was 91 respondents, who have met predetermined criteria using the purposive sampling technique, with inclusion criteria and exclusion criteria. The data used in this study are secondary data from Citra Medika Health Center and primary data obtained from interviews and direct observation. Result: It showed that there was a relationship between the implementation of Mosquito Breeding Eradication (p-value 0,047) and the presence of solid waste (p-value 0.039) with the presence of Aedes sp. larvae. Conclusion: This study concludes that the presence of Aedes sp. larvae are caused by factors such as the implementation of Mosquito breeding Eradication DBD and the presence of solid waste

    Kesiapsiagaan Rumah Sakit Umum Daerah Haji AbdoelMadjid Batoe Batanghari Jambi Menghadapi Bencana

    Get PDF
    Disasters are events caused by events or a series of events caused by natural or non-natural. During the period from January to May 2021, there were 1,185 disasters that occurred in Indonesia such as floods, tornadoes, landslides, forest and land fires, earthquakes, tidal waves and droughts. This study aimed to analyse the preparedness of the Haji Abdoel Madjid Batang Hari Regional General Hospital (RSUD HAMBA) Jambi (facing disasters and the COVID-19 pandemic). The research method uses a mix method approach, using the Hospital Safety Index (HSI) forms. The HAMBA Hospital included earthquakes, strong winds, fires, and the COVID-19 pandemic. The struktural safety assessment got an index score of 0.69, non-struktural safety was 0.67, and emergency and disaster management safety got an index score of o.63. Overall, HAMBA Hospital received a safety index of 0.67 which was included in the "A" classification which indicates that HAMBA Hospital is ready to face the COVID-19 disaster and pandemic. HAMBA Hospital is expected to strengthen emergency and disaster management, renovation and addition of rooms and facilities must follow applicable hospital building safety standards.Bencana merupakan peristiwa yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam maupun non alam. Selama kurun waktu Januari sampai dengan Mei tahun 2021, terjadi 1.185 bencana yang terjadi di Indonesia seperti banjir, putting beliung, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, gempa bumi, gelombang pasang dan kekeringan. Studi ini bertujuan untuk menganalisa kesiapsiagaan Rumah Sakit Umum Daerah Haji Abdoel Madjid Batang Hari (RSUD HAMBA) Jambi (menghadapi bencana dan Pandemi COVID-19. Metode penelitian menggunakan pendekatan mix method, menggunakan formula Hospital Safety Index (HSI). Hasil penilaian menunjukkan sumber bahaya pada RSUD HAMBA antara lain gempa bumi, angin kencang, kebakaran, dan pandemic COVID-19. Penilaian keselamatan struktural mendapatkan skor indeks 0,69, keselamatan non-struktural 0,67, dan keselamatan manajemen kegawatdaruratan dan bencana mendapatkan skor indeks o,63. Secara keseluruhan RSUD HAMBA mendapatkan indeks keselamatan 0,67 yang masuk dalam klasifikasi “Aâ€. Indeks keselamatan yang menunjukkan bahwa RSUD HAMBA siap dalam menghadapi bencana dan pandemic COVID-19. RSUD HAMBA diharapkan dapat memperkuat manajemen kegawatdaruratan dan kebencanaan, renovasi dan penambahan ruangan dan fasilitas harus mengikuti standar keselamatan bangunan rumah sakit yang berlaku

    Perbedaan Massa Lemak Antara Pengukuran Skinfold Caliper dengan Bioelectrical Impedance analysis (BIA) pada Atle

    Get PDF
    Research about Skinfold Caliper (SKF) and Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) has been frequently studied in athletes. Accurate of SKF is dependent on the technique, skill, and experience of the tester, whereas BIA is less time consuming and easily administered by investigators. The study aimed was to analyze the mean difference of body fat composition (BF%) between SKF and BIA methods among bodybuilders, heavy lifter, and weight lifter athletes. This was an observational analytic research with a cross-sectional design. The data were obtained from direct measurements to 30 athletes (21 men and 9 women). The percentage of body fat data were obtained by SKF and BIA and also anthropometric data (weight and height). The mean of BF percentages was analyzed by multiple paired t-test. The study showed a significant difference in BF% between SKF and BIA methods according to gender, sport, and Body Mass Index (BMI) categories (p<0,05). The mean BF % by skinfold caliper was 18,91 and by BIA was 24,27. Body fat percentage by SKF methods in bodybuilder, heavy lifter, weight lifter, man, woman, normal, overweight, moderates and severe obese were  12,05; 21,77; 17,67;17,31; 22,67;11,75; 17,83; 23,05; and 34,99. In other, by BIA were 15,34; 28,58; 21,59; 21,99; 29,60; 16,47; 23,69; 29,32; 36,00. It concluded that the mean difference in Body Fat (BF) % between SKF and BIA methods according to gender, kind of sport, and BMI categories was significant (p<0,05), except in severely obese.Penelitian mengenai pengukuran massa lemak menggunakan alat Skinfold Caliper (SKF) dan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) pada atlet sudah banyak dilakukan. Keakuratan metode skinfold caliper tergantung pada teknik pengukuran, keahlian, dan pengalaman dari pengukur, sedangkan metode BIA lebih ringkas, hemat waktu, dan mudah digunakan. Tujuan Penelitian adalah untuk menganalisis perbedaan rata-rata persentase massa lemak tubuh antara menggunakan metode SKF dengan BIA pada atlet binaraga, angkat berat, dan angkat besi.  Desain penelitian crossectional. Data dikumpulkan secara langsung terhadap 30 atlet (21 laki-laki dan 9 orang perempuan). Pengukuran dilakukan dengan mengukur berat badan, tinggi badan, persen lemak tubuh menggunakan BIA, dan SKF. Perbedaan rata-rata persentase lemak tubuh dianalisis menggunakan uji multiple paired t-test. Hasil penelitian menujukkan adanya perbedaan rata- rata persentase lemak tubuh pada atlet menggunakan metode SKF dan BIA. Secara umum dan berdasarkan jenis kelamin, jenis olahraga, dan IMT terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05). Rata- rata persentase massa lemak tubuh menggunakan kaliper skinfold adalah 18,91 sedangkan menggunakan BIA adalah 24, 27. Berurutan persentase lemak tubuh menggunakan metode SKF  pada atlet binaraga, angkat berat, angkat besi, laki-laki, perempuan, status gizi normal, gizi lebih, moderate obes, dan severe obes yaitu : 12,05; 21,77; 17,67;17,31; 22,67;11,75; 17,83; 23,05; dan 34,99. Persentase rata-rata massa lemak tubuh menggunakan metode BIA yaitu 15,34; 28,58; 21,59; 21,99; 29,60; 16,47; 23,69; 29,32; dan 36,00. Kesimpulan penelitian terdapat perbedaan rata- rata persentase lemak tubuh pada atlet menggunakan metode SKF dan BIA secara umum dan berdasarkan jenis kelamin, jenis olahraga, dan IMT, kecuali pada kelompok severe obese Kata Kunci: Atlet, biolelectrical impendance analysis (BIA), gizi, kaliper skinfold, massa lemak tubu

    Determinan Perilaku Pacaran Pada Remaja

    Get PDF
      Adolescent dating is worrying when it leads to sexual behavior because it has an impact on unwanted pregnancy, early marriage, Abortion, sexually transmitted infections (STIs), HIV and AIDS. At SMAN 7 Singkawang for the 2019/2020 school period, 2 students were pregnant outside of marriage, from interviews with 10 male students and 10 female students, 90% of male students and 100% of female students had dated. The research objective was to study and explain the determinants of student dating behavior at SMAN 07 Singkawang. The research method used a quantitative approach, cross sectional design. The population was all 495 students of SMAN 07 Singkawang in the academic year 2019/2020. The research sample was 272 students of class X and XI who were dating, using purposive sampling technique. Univariate, bivariate data analysis with chi square test and multivariate logistic regression. The results showed that there was a relationship between knowledge about reproductive health (p-value = 0,0005 OR=4,017 CI 95%=1,96-8,234), attitudes towards reproductive health (p-value = 0,004 OR=2,910 CI 95%=1,437-5,894), religiosity (p-value = 0,011 OR=2,783 CI 95%=1,272-6,088), peer group influence (p-value = 0,0005 OR=3,816 CI 95%=2,002-7,273), the influence of social media (p-value = 0,007 OR=3,300 CI 95%=1,438-7,573) with student’s dating behavior at SMAN 07 Singkawang in 2020. The dominant factor is religiosity (p=0,004; OR=4.024; 95%CI 1,580-10,253). The conclusion is that the dating behavior of adolescents is greatly influenced by the level of religiosity.  Suggestion for school can increase religious education through religious subjects, religious activities, facilitating facilities / equipment for worship activities.Pacaran remaja menghawatirkan ketika mengarah pada perilaku seksual sebab berdampak pada kehamilan yang tidak diinginkan, pernikahan dini, aborsi, infeksi menular seksual (IMS), HIV dan AIDS. Di SMAN 7 Singkawang periode ajaran 2019/2020 didapati 2 siswa hamil diluar nikah, dari wawancara 10 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan, 90% siswa laki-laki dan 100% siswa perempuan pernah berpacaran. Tujuan penelitian adalah mempelajari dan menjelaskan determinan perilaku pacaran siswa di SMAN 07 Singkawang. Metode penelitian dengan pendekatan kuantitatif desain penelitian cross sectional. Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh siswa SMAN 07 Singkawang tahun ajaran 2019/2020 sebanyak 495 siswa. Sampel penelitian yaitu kelas X dan XI yang berpacaran sebanyak 272 siswa, tehnik sampling purposive sampling. Analisa data univariat, bivariat dengan uji chi square dan multivariat dengan regresi logistik. Hasil analisis bivariat diperoleh ada hubungan antara pengetahuan tentang kesehatan reproduksi (p=0,0005 OR=4,017), sikap terhadap kesehatan reproduksi (p=0,004 OR=2,910), religiusitas (p=0,011 OR=2,783), pengaruh teman sebaya (0,0005 OR=3,816), pengaruh media sosial (p=0,007 OR=3,300) dengan perilaku pacaran siswa di SMAN 07 Singkawang tahun 2020. Faktor dominan yang berhubungan dengan perilaku pacaran adalah religiusitas (p=0,004; OR=4.024; 95%CI 1,580-10,253). Kesimpulan bahwa perilaku pacaran remaja sangat besar dipengaruhi oleh tingkat religiusitas. Saran bagi sekolah dapat meningkatkan edukasi keagamaan melalui mata pelajaran agama, kegiatan-kegiatan keagamaan, mempasilitasi sarana/perlengkapan untuk kegiatan ibadah.   Kata kunci: Perilaku, Pacaran, Remaja &nbsp

    Analisis Implementasi Manajemen Program Imunisasi Hepatitis B-0 di Wilayah Kerja Puskesmas Rumbio Jaya Kabupaten Kampar Tahun 2020

    Get PDF
    The implementation of immunization program is a very important element, but still found that the immunization program at health center is not run in accordance with a promise that is in Indonesian Permenkes No. 12 in 2017. This study aims to analyze the program management immunization Hepatitis B-0 in the work area Rumbio Jaya Health Center in Kampar Regency in 2020. This research used is qualitative research with a descriptive approach. This data collection was carried out at the Rumbio Jaya Health Center in Kampar Regency through in-depth interviews involving 7 informants and reviewing documents.The results showed that there was no vaccine management officer, immunization training had not been carried out, planning for syringe, safety box, and cold chain planning was not carried out by the Rumbio Jaya Health Center, unavailability of immunization waste management and timely immunization reporting. It is recommended to Rumbio Jaya Health Center in Kampar Regency should appoint vaccine management officers so that immunization activities can be carried out optimally, it is better to plan syringe, safety box and cold chain needs, it is better to make the imunization reporting at the fifth date the following month. It is recommended to the Rumbio Jaya Health Office conduct minimum immunization training once a year and should provide immunization waste management places.Implementasi program imunisasi puskesmas merupakan unsur yang sangat penting, namun masih ditemukan bahwa penyelenggaraan program imunisasi di Puskesmas belum berjalan sesuai dengan ketetapan yang ada pada Permenkes RI No. 12 Tahun 2017. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis implementasi manajemen program imunisasi Hepatitis B-0 di Wilayah Kerja Puskesmas Rumbio Jaya Kabupaten Kampar Tahun 2020. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data ini dilakukan di Puskesmas Rumbio Jaya Kabupaten Kampar melalui wawancara mendalam melibatkan 7 informan dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak adanya petugas pengelola vaksin, pelatihan imunisasi belum dilaksanakan, perencanaan kebutuhan alat suntik, safety box, dan cold chain tidak dilaksanakan oleh Puskesmas Rumbio Jaya, tidak tersedianya tempat pengeloaan limbah imunisasi dan pelaporan imunisasi tidak tepat waktu. Disarankan kepada Puskesmas Rumbio Jaya Kabupaten Kampar agar mengangkat petugas pengelola vaksin sehingga kegiatan imunisasi dapat terlaksana dengan maksimal, sebaiknya membuat perencanaan kebutuhan alat suntik, safety box, dan cold chain, sebaiknya membuat pelaporan imusisasi tepat waktu minimal tanggal 5 pada bulan berikutnya. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar agar mengadakan pelatihan imunisasi minimal satu kali dalam setahun dan sebaiknya menyediakan tempat pengeloaan limbah imunisasi. &nbsp

    444

    full texts

    548

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Komunitas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇