JURNAL KEDOKTERAN KOMUNITAS DAN TROPIK
Not a member yet
198 research outputs found
Sort by
Pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap personal hygiene pada siswa SD Katolik 15 St. Laurentius Kota Manado
Background: Personal hygiene is self-care that is done to maintain health, both physically and psychologically. Personal hygiene is a basic human need that must always be fulfilled. Personal hygiene is included in specific primary prevention measures. Personal hygiene is very important because good personal hygiene will minimize the entrance (port de entry) of microorganisms that are everywhere and ultimately prevent a person from getting sick.
Aim: To determine the effect of health counseling on personal hygiene in students of Catholic Elementary School 15 St. Laurentius, Manado City.
Methods: This research is a pre-experiment study and uses a one group pre-test post-test design in August 2024 and the research site at SD Katolik 15 St. Laurentius Kota Manado. The sampling technique used a total population of 16 The statistical test used was the statistical test “t-test” with a 95% confidence degree.
Results: The results of the study obtained Personal Hygiene Research on Students at Catholic Elementary School 15 ST. Laurentius Manado City before giving health counseling. More are less than good. The results of Personal Hygiene research on students at Catholic Elementary School 15 ST. Laurentius City Manado after Giving Health Counseling more are good than less. there is an effect of health counseling on personal hygiene in students of Catholic Elementary School 15 St. Laurentius City Manado.
Conclusion: There is an effect of health counseling on personal hygiene in students of Catholic Elementary School 15 St. Laurentius City Manado Suggestions in this study are This research is expected to help students understand the importance of personl hygiene in preventing disease.
Keywords: health counseling, personal hygiene for studentsLatar belakang: Kebersihan diri (personal hygiene) merupakan perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan, baik secara fisik maupun psikologis. Personal hygiene merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus senantiasa terpenuhi. Personal hygiene termasuk kedalam tindakan pencegahan primer yang spesifik. Personal hygiene menjadi sangat penting karena personal hygiene yang baik akan meminimalkan pintu masuk (port de entry) mikroorganisme yang ada dimana-mana dan pada akhirnya mencegah seseorang terkena penyakit.
Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap personal hygiene pada siswa SD Katolik 15 St. Laurentius Kota Manado
Metode: Penelitian ini adalah penelitian pra experiment dan menggunakan rancangan one group pre-test post-test waktu pada Agustus 2024 dan tempat penelitian di SD Katolik 15 St. Laurentius Kota Manado. Teknik pengambilan sampel menggunakan total populasi berjumlah 16 Uji statistik yang digunakan adalah uji statistik “ uji t-test ” dengan derajat kepercayaan 95%.
Hasil: Hasil penelitian diperoleh penelitian Personal Hygiene Pada Siswa di SD Katolik 15 ST. Laurentius Kota Manado sebelum Pemberian Penyuluhan Kesehatan. Lebih banyak yang kurang dibandingkan yang baik. Hasil penelitian Personal Hygiene Pada Siswa di SD Katolik 15 ST. Laurentius Kota Manado sesudah Pemberian Penyuluhan Kesehatan lebih banyak yang baik dibandingkan yang kurang. terdapat pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap personal hygiene pada siswa SD Katolik 15 St. Laurentius Kota Manado
Kesimpulan: Terdapat pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap personal hygiene pada siswa SD Katolik 15 St. Laurentius Kota Manado Saran dalam Penelitian ini yaitu Penelitian ini diharapkan dapat membantu siswa memahami pentingnya personl hygiene dalam mencegah penyakit.
Kata kunci: penyuluhan kesehatan, personal hygiene pada sisw
Efek samping glaukoma pada penggunaan antipsikotik atipikal
Background: Antipsychotics are the primary therapy supported by the first scientific evidence to treat schizophrenia and other primary psychotic disorders.
Aim: To determine the side effects of glaucoma in the use of atypical antipsychotics and to identify the types of atypical antipsychotic drugs that can give glaucoma side effects.
Methods: This study is a literature review research, searching journal publications on Google Search, Google Scholar, PubMed, ClinicalKey using selected keywords. Articles or journals that fit the inclusion and exclusion criteria were taken for further analysis.
Result: Several cases of glaucoma side effects were found in the use of atypical antipsychotics such as ziprasidone, olanzapine and aripiprazole.
Conclusion: Several cases of glaucoma side effects occurred when using atypical antipsychotics such as ziprasidone, olanzapine and aripiprazole. Glaucoma cases occur in individuals who have risk factors and in eyes that have a tendency to develop glaucoma such as elderly individuals and have anatomical abnormalities in the trabecular flow.
Keywords: atypical antipsychotics, glaucoma, ziprasidone, olanzapine, aripiprazoleLatar Belakang: Antipsikotik merupakan terapi utama yang didukung oleh bukti ilmiah pertama untuk mengatasi skizofrenia dan gangguan psikotik primer lainnya.
Tujuan: Mengetahui efek samping glaukoma pada penggunaan antipsikotik atipikal dan untuk mengidentifikasi macam-macam obat antipsikotik atipikal yang dapat memberikan efek samping glaukoma.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian literature review, penelusuran jurnal publikasi pada Google Search, Google Scholar, PubMed , ClinicalKey dengan menggunakan kata kunci yang dipilih. Artikel atau jurnal yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi diambil untuk selanjutnya dianalisis.
Hasil: Ditemukan beberapa kasus terjadinya efek samping glaukoma pada penggunaan antipsikotik atipikal seperti ziprasidone, olanzapine dan aripiprazole.
Kesimpulan: Beberapa kasus terjadinya efek samping glaukoma pada penggunaan antipsikotik atipikal seperti ziprasidone, olanzapine dan aripiprazole. Kasus glaukoma terjadi pada individu yang memiliki faktor resiko dan pada mata yang memiliki kecendrungan terkena glaukoma seperti individu lansia dan memiliki kelainan anatomi pada aliran trabekular.
Kata Kunci: antipsikotik atipikal, glaukoma, ziprasidone, olanzapine, aripiprazol
PKM Gambaran pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan COVID-19 pada masyarakat Desa Watumea, Kecamatan Eris, Kabupaten Minahasa
Community knowledge and attitudes towards the COVID-19 virus in Watumea Village, Eris Subdistrict, Minahasa Regency have not been able to reduce the impact of risks that can lead to increased COVID-19 morbidity and mortality. This study aims to assess the level of knowledge and attitudes towards COVID-19 prevention in reducing the risk of disease, premature death and disability in the future. This study was conducted for 6 months with a total sample size of 45 people. The research method is descriptive research with a cross-sectional research design, and uses a simple random sampling research method. In this study, the measuring instrument used was a questionnaire about knowledge, attitudes towards preventing COVID-19 which consisted of 30 question results: Based on the research, it was found that most of the people of Watumea Village, Eris Subdistrict, Minahasa Regency had good knowledge, positive attitudes and good actions towards COVID-19 prevention. Conclusion: the people of Watumea Village, Eris Subdistrict, Minahasa Regency showed good knowledge, positive attitudes, and good actions towards COVID-19 prevention.
Keywords: Knowledge, attitude, COVID-19 prevention, communityPengetahuan dan sikap masyarakat terhadap virus COVID-19 di Desa Watumea, Kecamatan Eris, Kabupaten Minahasa belum dapat mengurangi dampak risiko yang dapat mengakibatkan peningkatan morbiditas dan mortalitas COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan COVID-19 dalam menurunkan risiko penyakit, kematian dini serta kecacatan di masa yang akan datang. Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan dengan jumlah sampel sebanyak 45 orang. Metode penelitian adalah penelitian deskriptif dengan desain penelitian potong lintang atau cross sectional, dan menggunakan metode penelitian simple random sampling. Dalam penelitian ini alat ukur yang digunakan adalah kuesioner tentang pengetahuan, sikap terhadap pencegahan COVID-19 yang terdiri dari 30 pertanyaan Hasil: Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa sebagian besar masyarakat Desa Watumea, Kecamatan Eris, Kabupaten Minahasa mempunyai pengetahuan yang baik, sikap yang positif dan tindakan yang baik terhadap pencegahan COVID-19 Kesimpulan: masyarakat Desa Watumea, Kecamatan Eris, Kabupaten Minahasa menunjukkan pengetahuan yang baik, sikap yang positif, dan tindakan yang baik terhadap pencegahan COVID-19.
Kata Kunci: Pengetahuan, sikap, pencegahan COVID-19, masyaraka
Hubungan indeks massa tubuh dengan forced vital capacity pada usia remaja
Background: The respiratory system plays an important role in the human body. However, body mass index (BMI) affects lung volume, and obesity is associated with changes in lung volume. Obesity can also reduce static and dynamic lung volumes.
Aim: To determine the relationship between adolescent BMI and forced vital capacity (FVC).
Methods: This study uses an analytical observational research design using a cross-sectional study research design. Sampling is done using a purposive sampling technique. Data collection by measuring body weight and height to calculate body mass index, and measuring FVC using a spirometer. Data analysis using normality test and Spearman correlation test.
Results: Data normality tests were the Kolmogorov-Smirnov test and were not normally distributed data. We used the Spearman correlation test to determine whether there was a relationship between FVC and BMI using SPSS Statistics. The results obtained were a correlation coefficient value of 0.288 with p-value =0.008 (p=<0.05), which means there is a relationship between FVC and BMI.
Conclusion: There is a significant positive relationship between FVC and body mass index, where the higher the FVC, the higher the body mass index.
Keywords: body mass index, forced vital capacity (FVC)Latar Belakang: Sistem pernapasan berperan penting bagi manusia. Namun, indeks massa tubuh (IMT) mempengaruhi volume paru dan obesitas berhubungan dengan variasi volume paru. Obesitas dapat juga menyebabkan penurunan volume paru statis dan dinamis
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan forced vital capacity (FVC) pada usia remaja
Metode: Pada penelitian ini digunakan jenis penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian studi cross sectional atau potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan dta mengukur berat badan dan tinggi badan untuk menghitung IMT, dan mengukur FVC menggunakan spirometer. Analisis data dengan uji normalitas dan uji korelasi Spearman. Peneliti menggunakan uji Kolmogorov Smirnov dan data berdistribusi tidak normal. Peneliti menggunakan uji korelasi Spearman untuk menentukan apakah ada hubungan FVC dengan IMT menggunakan SPSS Statistics.
Hasil: Hasil diperoleh nilai koefisien korelasi 0,288 dengan p value =0,008 (p=<0,05) yang berarti terdapat hubungan antara FVC dengan IMT.
Kesimpulan: Terdapat hubungan positif secara signifikan antara FVC dengan IMT yakni semakin tinggi FVC, semakin tinggi juga IMT.
Kata kunci: indeks massa tubuh, forced vital capacity (FVC
Hubungan indeks massa tubuh dengan FEV1/FVC pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan 2023 Universitas Sam Ratulangi Manado
Background: Body mass index (BMI) is a simple anthropometric measurement by measuring height and weight to determine a person's nutritional status. Pulmonary function test is one way that can be done to measure FEV1 (Forced Expiratory Volume 1 Second)/FVC (Forced Vital Capacity), namely by using spirometer as a tool to measure lung function. Lung function can decrease as BMI increases. In the parameters of lung function, there is an abnormal lung volume of respiratory efficiency in people who are obese.
Aim: To determine the relationship between BMI and FEV1/FVC in Unsrat Faculty of Medicine students batch 2023.
Methods: Analytical research type with cross-sectional study design with purposive sampling technique measuring height and weight to calculate BMI and measuring FEV1/FVC using a spirometer data analysis using the spearman rho test.
Results: BMI less as many as 6 people (7.1%), normal BMI amounted to 41 people (48.8%), BMI more / overweight amounted to 14 people (16.7%), BMI obesity 1 as many as 18 people (21.4%) and BMI obesity II as many as 5 students (6.0%). There were 80 people (95.2%) who had normal FEV1/FVC values, for mild FEV1/FVC values there were 3 students (3.5%), and for moderate FEV1/FVC values there were 1 student (1.2%). The results of the Spearman correlation test significance value p=0.120, which means H0 is accepted and H1 is rejected.
Conclusion: There is no relationship between BMI and FEV1/FVC in students of the Faculty of Medicine Batch 2023, Sam Ratulangi University Manado.
Keywords: body mass index, FEV1/FVCLatar Belakang: Indeks massa tubuh (IMT) merupakan suatu pengukuran antropometri sederhana dengan cara mengukur tinggi badan dan berat badan untuk menentukan status gizi seseorang. Uji fungsi paru merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengukur FEV1 (forced expiratory volume 1 second)/FVC (forced vital capacity), yakni dengan cara menggunakan spirometri sebagai alat untuk mengukur fungsi paru. Fungsi paru dapat mengalami penurunan seiring terjadinya peningkatan IMT. Pada parameter fungsi paru terdapatnya volume paru efisiensi pernapasan tidak normal pada orang yang mengalami obesitas.
Tujuan: Untuk mengetahui adanya hubungan antara IMT dengan FEV1/FVC pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsrat Angkatan 2023.
Metode: Jenis penelitian analitik dengan desain penelitian cross-sectional study dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling untuk mengukur tinggi badan dan berat badan untuk menghitung IMT serta mengukur FEV1/FVC menggunakan spirometer. Analisa data menggunakan uji spearman rho.
Hasil: IMT kurang sebanyak 6 orang (7,1%), IMT normal berjumlah 41 orang (48.8%), IMT lebih/overweight berjumlah 14 orang (16,7%), IMT obesitas 1 sebanyak 18 orang (21,4%) dan IMT obesitas II sebanyak 5 orang mahasiswa (6,0%). Terdapat 80 orang (95,2%) yang memiliki nilai FEV1/FVC normal, untuk nilai FEV1/FVC ringan berjumlah 3 orang mahasiswa (3,5%), dan untuk nilai FEV1/FVC sedang berjumlah 1 orang mahasiswa (1,2%). Hasil uji korelasi Spearman nilai signifikansi p=0,120; yang berarti H0 diterima dan H1 ditolak.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan FEV1/FVC pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan 2023 Universitas Sam Ratulangi Manado.
Kata Kunci: indeks massa tubuh, FEV1/FV
Hubungan antara karakteristik individu dan fungsi paru di posyandu lansia Kecamatan Langowan Timur
Background: As people age, their lung function changes significantly, increasing the risk of pulmonary diseases such as pneumonia and COPD.
Aim: To determine the relationship between individual characteristics and lung function in the elderly integrated healthcare post of the East Langowan District.
Methods: Analytic observational study with cross sectional design, involving 55 samples using purposive sampling. Data analysis was performed using the Lambda Test (gender), Chi-Square (age, BMI [body mass index], and lung disease), and logistic regression analysis.
Result: Gender showed a significant association with lung function (p=0.022), where more women had normal lung function than men. Age (p=0.883), BMI (p=0.550), and lung disease (p=0.528) did not show a significant relationship with lung function.
Conclusion: There is relation between individual characteristics and lung function in the elderly integrated healthcare post of the East Langowan District.
Keywords: lung function, elderly, characteristicsLatar Belakang: Seiring bertambahnya usia, fungsi paru-paru mereka mengalami perubahan yang signifikan, yang menyebabkan peningkatan risiko penyakit paru seperti pneumonia dan PPOK.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara karakteristik individu dan fungsi paru di posyandu lansia Kecamatan Langowan Timur.
Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional, melibatkan 55 sampel dengan menggunakan purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan uji lambda (jenis kelamin), chi square (usia, IMT [indeks massa tubuh], dan penyakit paru), dan analisis regresi logistik.
Hasil: Jenis kelamin menunjukkan hubungan yang signifikan dengan fungsi paru (p=0,022), dimana perempuan lebih banyak yang memiliki fungsi paru normal dibandingkan laki-laki. Usia (p=0,883), IMT (p=0,550), dan penyakit paru (p=0,528) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan fungsi paru.
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara karakteristik individu dan fungsi paru di posyandu lansia Kecamatan Langowan Timur.
Kata kunci: lansia, fungsi paru, karakteristik individ
Gambaran kualitas hidup pada remaja sekolah menengah atas dengan berat badan berlebih di Kota Kotamobagu pascapandemi COVID-19
Background: Adolescents who are individuals aged between 10 and 19 years, are facing health problems, one of which is being above normal weight. The fatten adolescents tend to have a lower quality of life (QoL) compared to adolescents with normal nutritional status.
Aim: To determine the QoL of the high school adolescents with excess weight in Kotamobagu City post-COVID-19 pandemic.
Methods: This study was a quantitative descriptive study with a cross-sectional design, with a cluster random sampling technique. We used the World Health Organization Quality of Life-BREF (WHOQOL-BREF) and measure the height and weight of the participants.
Results: The study involved 353 adolescents, 14.4% of whom were excess weight. The study showed that the excess weight participants had QoL in physical health domain of 66.03±9.67 (42.85 - 85.71), psychological domain of 60.29±17.02 (16.67 - 91.67), social relationship domain of 57.02±13.16 (16.67 - 83.33), environmental domain of 64.03±15.06 (31.25 - 90.62).
Conclusion: The QoL of high school adolescents with excess weight in Kotamobagu City post-COVID-19 pandemic has increased in all aspects. However, globally, the QoL is adequate in environmental domain and are quite lower in physical health, psychological, and social relationship aspects.
Keywords: quality of life, adolescents, excess weightLatar belakang: Remaja, yang merupakan individu berusia antara 10 hingga 19 tahun, menghadapi persoalan kesehatan, yaitu berat badan berlebih. Remaja dengan berat badan berlebih cenderung memiliki kualitas hidup yang kurang baik dibandingkan dengan remaja yang memiliki status gizi normal.
Tujuan: Untuk mengetahui kualitas hidup remaja sekolah menengah atas (SMA) dengan berat badan berlebih di Kota Kotamobagu pascapandemi COVID-19.
Metode: Ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif, dengan desain penelitian cross-sectional, dan dengan teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Penelitian ini menggunakan instrumen World Health Organization Quality of Life-BREF (WHOQOL-BREF) dan mengukur tinggi dan berat badan peserta penelitian.
Hasil: Penelitian melibatkan 353 remaja, 14.4% di antaranya mengalami berat badan berlebih. Hasil rerata pada remaja dengan berat badan berlebih pada domain kesehatan fisik 66,03 ±9,67 (42,85 – 85,71); domain psikologis 60,29 ±17,02 (16,67 - 91,67); domain hubungan sosial 57,02 ±13,16 (16,67 - 83,33); domain lingkungan 64,03 ±15,06 (31,25 - 90,62).
Kesimpulan: Kualitas hidup remaja SMA dengan berat badan berlebih di Kota Kotamobagu pascapandemi COVID-19 meningkat pada semua aspek kualitas hidup. Namun, secara global, kualitas hidup remaja SMA dengan berat badan berlebih di Kota Kotamobagu dinilai cukup pada domain lingkungan dan lebih rendah pada domain kesehatan fisik, psikologis, dan hubungan sosial.
Kata kunci: kualitas hidup, remaja, berat badan berlebi
Hubungan intelligence quotient dengan perceived stress pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas X
Background: Every medical student has a different level of intelligence quotient (IQ), where IQ they have will help in solving problems, especially in learning. Problem based learning (PBL), expert lectures, and skills lab are some of the things that a medical student will do when studying at the faculty of medicine. This can be a stressor for a medical student who is living his life within the scope of the faculty of medicine. This is supported by data that proves that medical students have high levels of stress, where the average stress level is in the moderate stress category.
Aim: To determine the relationship between IQ and perceived stress (PS) in medical faculty students at University of X.
Methods: This research is a quantitative study with a cross sectional design involving 162 respondents.
Results: This research shows that there are 57.4% of students who have an average IQ level and a PS level in the moderate PS category of 70.4%. Where the two variables have a very weak correlation when tested with the Spearman rank test with a correlation coefficient value of 0.184.
Conclusion: Students at the Faculty of Medicine at X University has an average IQ level and moderate PS level with a very weak correlation between the two variables.
Keywords: medical students, intelligence quotient, perceived stressLatar Belakang: Setiap mahasiswa kedokteran memiliki tingkat intelligence quotient (IQ) yang berbeda-beda, di mana IQ yang dimiliki akan membantu dalam penyelesaian masalah terkhususnya dalam pembelajaran. Problem based learning (PBL), kuliah pakar, dan skills lab merupakan beberapa hal yang akan dilakukan seorang mahasiswa kedokteran ketika menjalani studinya di Fakultas Kedokteran. Hal ini dapat menjadi stresor bagi seorang mahasiswa kedokteran yang sedang menjalani kehidupannya di dalam ruang lingkup fakultas kedokteran. Hal ini didukung dengan data yang membuktikan bahwa mahasiswa kedokteran memiliki tingkat stres yang tinggi, di mana rata-rata tingkat stres berada di dalam kategori stres sedang.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan IQ dan perceived stress (PS) pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas X.
Metode: Penelitian dilakukan secara kuantitatif dengan desain cross sectional melibatkan 162 responden.
Hasil: Penelitian ini menunjukan bahwa terdapat 57,4% mahasiswa yang memiliki tingkat IQ rata-rata dan tingkat PS dalam kategori moderate PS sebanyak 70,4%. Kedua variabel memiliki korelasi yang sangat lemah ketika diuji dengan uji rank Spearman yaitu dengan nilai correlation coefficient sebesar 0,184.
Kesimpulan: Mayoritas mahasiswa Fakultas Kedokteran di Universitas X memiliki tingkat IQ rata-rata dan tingkat PS moderat dengan kekuatan korelasi kedua variabel yang sangat lemah.
Kata Kunci: mahasiswa kedokteran, kecerdasan intelektual, persepsi stre
Identifikasi faktor resiko katarak pada pasien Poli Mata Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon
Background: Cataract blindness has become a global health problem and must be solved immediately because blindness can affect the quality of life and productivity. In 2013-2017, a Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) was conducted in 15 provinces in Indonesia, one of which is North Sulawesi. The survey showed that the main cause of visual impairment and blindness in the 15 provinces was untreated cataracts.
Aim: To identify the dominant risk factors of cataract patients at the eye clinic of Gunung Maria Hospital Tomohon.
Methods: This is descriptive-analytic research with a cross-sectional study design using questionnaires and direct interviews. The research consisted of 40 samples for the inclusion and exclusion.
Result: The result showed there were a total of 40 cataract patients, 29 patients aged >60 years (72.5%) and 11 patients aged <60 years (27.5%). According to gender, there were 21 male cataract patients (52.5%) and 19 female cataract patients (47.5%). Based on smoking history, 17 patients smoked (42.5%) and 23 patients who did not smoke (57.5%). Based on the duration of sun exposure, 12 patients were daily exposed to sunlight for <5 hours (30%) and 28 patients were daily exposed to sunlight for >5 hours (70.0%). Based on the history of lens trauma, seven patients had a history of lens trauma (17.5%), and 33 patients did not have a history of lens trauma (82.5%).
Conclusion: The dominant risk factors for cataract patients in the eye clinic of The Gunung Maria Hospital Tomohon are the age factors >60 years and patients who were exposed to sunlight for >5 hours daily.
Keywords: cataract, risk factorsLatar Belakang: Kebutaan akibat katarak telah menjadi masalah kesehatan global dan harus segera diatasi karena kebutaan dapat mempengaruhi kualitas hidup dan produktivitas. Pada tahun 2013-2017 telah dilakukan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) di 15 provinsi di Indonesia, salah satunya Sulawesi Utara. Hasil survei memperlihatkan bahwa penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan di 15 provinsi tersebut adalah katarak yang tidak diobati.
Tujuan: Untuk mengidentifikasi faktor risiko dominan pasien katarak di poli mata Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon.
Metode: Ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain studi cross sectional yang menggunakan kuesioner dan wawancara langsung. Penelitian ini terdiri dari 40 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Hasil: Dari 40 pasien katarak, terdapat 29 pasien yang berusia >60 tahun (72,5%) dan 11 pasien yang berusia <60 tahun (27,5%). Terdapat 21 pasien katarak laki-laki (52,5%) dan 19 pasien katarak perempuan (47,5%). Ada 17 pasien perokok (42,5%) dan 23 pasien non perokok (57,5%). Ada 12 pasien yang terpapar sinar matahari <5 jam setiap hari (30%) dan 28 pasien yang terpapar sinar matahari >5 jam per hari (70,0%). Terdapat 7 pasien yang memiliki riwayat trauma lensa (17.5%) dan 33 pasien yang tidak memiliki riwayat trauma lensa (82.5%).
Kesimpulan: Faktor resiko dominan katarak pada pasien poli mata Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon adalah faktor usia >60 tahun dan faktor riwayat paparan sinar matahari >5 jam perhari.
Kata kunci: katarak, faktor resik
Gangguan cemas pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis: Literatur review
Background: Hemodialysis (HD) is a therapy performed on patients with chronic kidney disease (CKD) undergoing renal replacement therapy. In 2018, based on basic health research, the prevalence of CKD was 3.4%, and 19.3% of patients aged 15 years and over underwent HD, making it the 10th highest cause of death in Indonesia. This situation often causes morning anxiety disorder in each patient.
Aim: To determine the factors that influence anxiety disorders with CKD patients undergoing HD therapy.
Methods: The preparation of this literature review followed the PICOS guidelines. PubMed, Science Direct, and Google Scholar were the databases used in collecting articles with relevant keywords.
Results: Several research articles suggest that factors that are often associated with anxiety disorders in patients undergoing HD therapy are age, gender, financial status, education, employment, family support, comorbid diseases, duration of HD, and one's mental state. These factors become a benchmark for how anxiety disorders can occur in patients. Based on the research that has been done, the factors that often occur and have a major impact on patients from the research that has been done are age, gender, period of undergoing HD, socioeconomic status of the patient, family support, comorbid diseases and adaptive attitudes such as accepting the conditions that patients have experienced, are very influential on CKD patients with HD therapy who experience anxiety disorders.
Conclusion: Anxiety disorder factors in CKD patients are age, gender, period of undergoing HD, socioeconomic, family support, comorbid diseases and the patient's adaptive attitude.
Keywords: anxiety disorders, chronic kidney disease, hemodialysis
Latar Belakang: Hemodialisis (HD) adalah terapi yang dilakukan pada pasien dengan penyakit ginjal kronik (PGK) yang menjalani terapi pengganti ginjal. Pada tahun 2018, berdasarkan riset kesehatan dasar prevalensi PGK adalah 3,4%, dan 19,3% pasien berusia 15 tahun ke atas menjalani HD, sehingga menjadi penyebab kematian ke-10 tertinggi di Indonesia. Keadaan ini sering menyebabkan gangguan cemas pagi setiap pasien.
Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh pada gangguan cemas dengan pasien PGK yang menjalani terapi HD.
Metode: Penyusunan literature review ini mengikuti panduan PICOS. PubMed, Science Direct, dan Google Scholar adalah database yang digunakan dalam mengumpulkan artikel dengan kata kunci yang relevan.
Hasil: Beberapa artikel penelitian mengemukakan bahwa faktor-faktor yang sering berhubungan dengan gangguan cemas pada pasien yang menjalani terapi HD adalah faktor usia, jenis kelamin, status keuangan, pendidikan, pekerjaan, dukungan keluarga, penyakit komorbid, durasi menjalani HD, dan kondisi mental seseorang. Faktor-faktor tersebut menjadi tolak ukur bagaimana gangguan cemas dapat terjadi pada pasien. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, faktor-faktor yang sering terjadi dan memiliki dampak yang besar pada pasien dari penelitian yang telah dilakukan adalah usia, jenis kelamin, periode menjalani HD, sosial ekonomi dari pasien, dukungan keluarga, penyakit komorbid dan sikap adaptif seperti menerima keadaan yang sudah pasien alami, sangat berpengaruh pada pasien PGK dengan terapi HD yang mengalami gangguan cemas.
Kesimpulan: Faktor-faktor gangguan cemas pada pasien PGK adalah usia, jenis kelamin, periode menjalani HD, sosial ekonomi, dukungan keluarga, penyakit komorbid dan sikap adaptif pasien.
Kata Kunci: gangguan cemas, penyakit ginjal kronik, hemodialisi