7104 research outputs found
Sort by
Kajian Kondisi Atmosfer Banyuwangi Saat Kejadian Banjir Bandang Di Musim Kemarau (Study Of Atmospheric Condition Over Banyuwangi During Flash Flood In The Dry Season)
Banjir bandang merupakan bencana yang disebabkan oleh faktor multi-dimensi, salah satunya faktor kondisi atmosfer. Literatur menyebutkan adanya keterkaitan kuat antara kejadian banjir bandang dengan kondisi atmosfer, namun perlu dikaji lagi apakah keterkaitan tersebut berlaku secara umum. Kajian ini difokuskan pada kasus banjir bandang yang terjadi pada tanggal 22 Juni 2018 di Banyuwangi yang mengakibatkan ratusan rumah terdampak. Analisis dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi klimatologi curah hujan di Banyuwangi, dan mengetahui kondisi atmosfer (curah hujan dan angin permukaaan) pada saat dan hari-hari sebelum kejadian bencana banjir bandang. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata curah hujan Banyuwangi pada musim kering (Juni-Juli-Agustus/JJA) berkisar antara 0-100 mm/bulan. Pada lokasi kejadian nilai klimatologi curah hujan JJA relatif lebih tinggi (50-100 mm/bulan) dibanding dengan nilai di wilayah sekitarnya. Kejadian banjir bandang pada tanggal 22 Juni 2018 di Banyuwangi diduga dipicu oleh adanya hujan pada hari sebelum kejadian banjir bandang. Nilai curah hujan pada tanggal 21 Juni 2018 menunjukkan pada angka 15-30 mm/hari, dimana nilai ini tidak memenuhi definisi curah hujan ekstrem harian dari BMKG. Kondisi curah hujan per-jam pada hari sebelum terjadinya bencana menunjukkan pola variasi harian yang tidak tegas. Kondisi angin permukaan pada tanggal 19-22 Juni 2018 didominasi oleh angin timuran. Selain melihat kondisi atmosfer yang diduga menjadi pemicu terjadinya banjir bandang, untuk menganalisis penyebab banjir bandang perlu dilakukan juga kajian pengaruh faktor lokal seperti kondisi tanah, topografi dan faktor lokal lainnyaHlm.89-9
Band co-registration modeling of LAPAN-A3/IPB Multispectral imager based on satellite attitude
hlm.1-
Diseminasi Menjadi Program Penting untuk Menyebarluaskan Hasil Inovasi Teknologi Penerbangan dan Antariksa
Hlm.26-3
Digital Interpretability Of Annual Tile-Based Mosaic Of Landsat-8 OLI For Time-Series Land Cover Analysis In The Central Part Of Sumatra
This paper presented a digital interpretability of the annual tile-based mosaic (TBM) images for the operational purposes of time-series land cover analysis. The primary data used were the TBM images of Landsat-8 OLI of the central part of Sumatra, acquired from January 2015 to June 2017. The method used was comparing the overall accuracies of the results of the TBM images of land cover classification that using the master training samples of 2016 data with that using the training sample from each year of the three-years of data. The classifications were performed using four groups of spectral bands, namely Band 6-5-4-3-2, Band 6-5-4, Band 6-5-2, and Band 5-4. In order to improve the overall accu-racies (OA), the classification results were afterward reclassified using fewer class number, based on Jefferies Matusita (JM) distance approach. The digital interpretability of the images could be deliberated through the average of overall accuracy (AOA) scores, which is Good with a score of > 80%, Fair between 70.0% - 79.9% and Poor if 80% for six and four object classes. To support operational requirements, the use of group Bands 6-5 could also be recommended as the most efficient group of bands selected for land cover analysis with four object classes. Paper ini menyajikan interpretabilitas dijital citra mosaik tahunan TBM untuk keperluan operasional analisis liputan lahan time-series. Data primer yang digunakan yakni citra Landsat-8 OLI TBM wilayah Sumatera bagian tengah, yang direkam dari Januari 2015 hingga Juni 2017. Metode yang digunakan yakni membandingkan akurasi keseluruhan hasil klasifikasi liputan lahan citra TBM menggunakan master training sampel data tahun 2016 dengan hasil klasifikasi menggunakan training sampel dari masing-masing ketiga tahun data. Klasifikasi tersebut dilakukan menggunakan empat kelompok kanal spektral yakni Band 6-5-4-3-2, Band 6-5-4, Band 6-5-2, dan Band 5-4. Guna meningkatkan nilai akurasi keseluruhan, hasil klasifikasi tersebut kemudian dilakukan klasifikasi ulang menggunakan kelas yang lebih sedikit melalui pendekatan Jefferies Matusita (JM) distance. Interpretabilitas citra dapat diukur melalui nilai rata-rata akurasi keseluru-han (AOA), yakni Bagus dengan nilai > 80%, Fair antara 70,0% - 79,9%, dan Buruk apabila 80% untuk enam dan empat kelas objek. Guna mendukung keperluan operasional, peng-gunaan kelompok Band 6-5 dapat direkomendasikan sebagai kelompok band terpilih paling efisien untuk analisis liputan lahan dengan empat kelas objek. jukkan tingkat konsistensi akurasi Bagus untuk empat kelas objek, dengan skor AOA masing-masing yakni sebesar 89%, 82%, dan 81%. Dengan demikian citra mosaik tahunan TBM dapat diterima melalui interpretabilitas dijital klasifikasi liputan lahan dengan AOA > 80% untuk enam dan empat kelas objek. Guna mendukung keperluan operasional, penggunaan kelompok Band 6-5 dapat direkomendasikan sebagai kelompok band terpilih paling efisien untuk analisis liputan lahan dengan empat kelas objek.Hlm. 168-18
Pengukuran Reflektansi Spektral Menggunakan ASD Fieldspec4 Di Kepulauan Seribu
Untuk memvalidasi keakuratan data citra satelit optis, diperlukan pengukuran langsung menggunakan spektrometer jarak dekat. Spektrometer adalah alat yang digunakan untuk penginderaan jauh hiperspektral. Pengukuran spektral selalu bergantung pada pengukuran panjang gelombang dari radian yang dipancarkan atau dipantulkan oleh obyek yang diamati. Dengan kemajuan teknologi, banyak spektrometer jarak dekat yang sudah memberikan data dengan tingkat keakuratan tinggi, salah satunya adalah ASD Fieldspec4 yang diproduksi oleh Malvern Panalytical. Alat ini memberikan hasil reflektansi yang berbeda untuk setiap obyek yang diamati, karena setiap obyek memiliki daya serap dan pantul yang berbeda-beda untuk setiap panjang gelombang. Dalam percobaan kali ini, ASD Fieldspec4 digunakan di wilayah perairan Kepulauan Seribu untuk mengukur reflektansi spektral dari berbagai obyek seperti lamun, terumbu, dan jugs pasir. Pengukuran ini dilakukan dari atas permukaan air maupun langsung terhadap obyek di bawah air. Setiap alat tentu memiliki ketidaksempurnaan dan batasan masing-masing, dan batasan utama dari ASD Fieldspec4 jika digunakan di wilayah perairan adalah faktor mobilisasi, kapasitas baterai, dan keamanan alat. Kendala ini diakibatkan prasyarat alat yang tidak boleh basah kecuali aksesoris tertentu, dan prosedur pengoperasian alat yang membutuhkan beberapa aksesoris untuk aktif secara bersamaan.Hlm. 30-3
Sintesis Komposit Epoksi-Rockwool-Clay Sebagai Material Penahan Panas
Untuk mendapatkan material komposit dengan sifat penahan panas maka perlu ditambahkan filler yang memiliki titik leleh atau ketaanan termal yang tinggi. Rockwool dikenal sebagai meterial penahan panas yang baik dan clay dengna bentuk nano mampu menjadi penguat komposit yang baik dengan sedikit penambahan. Komposit epoksi-rockwool-clay (E-R-C) dibuat dengna metode hand lay-up dengan memvariasikan penambahan rockwool (10 phr) dan clay (1:3:5 phr) sebagai material filler dalam matriks polimer epoksi. Komposit dikarakterisasi dengna Thermogravimetic Analysis (TGA) dan Konduktometer untuk mengetahui perubahan pada sifat termal komposit. Ultimate Tensile Machine (UTM), Impact Test Charpy dan Optical Microscope (OM) digunakan untuk mengetahui perubahan pada sifat mekanik komposit. Hasil TGA menunjukkan penambahan rockwool dan clay mampu menaikkan ketahanan panas komposit. Konduktivitas panas secara umum naik dengan penambahan filler, namun terjadi penurunan pada komposit E-R10-C1 dan E-R1-C5 pr. asil UTM menunjukkan penurunan untuk komposit E-R-C dengan penurunan paling kecil pada sampel clay 3 pr. Sedangkan hasil uji impak menunjukkan perubahan morfologi pada komposit E-R-C.Xii, 44 hlm. : ill. ; 28 c