7104 research outputs found
Sort by
Program Keantariksaan dan Rasionalisasinya Berdasarkan Kepentingan Politik Negara
Hlm. 54-5
Analisis Kondisi Fluks Elektron Di Sabuk Radiasi Elektron Luar Berdasarkan Medan Magnet Antarplanet (Bz) Dan Kecepatan Angin Matahari
Kondisi ruang antarplanet merupakan prekursor bahaya erupsi matahari terhadap bumi. Erupsi matahari dapat menyebabkan peningkatan fluks elektron. Tingginya fluks elektron dapat menyebabkan anomali, pergeseran, dan kerusakan permanen pada wahana antariksa, misal satelit. Data yang digunakan pada makalah ini adalah data ruang antarplanet yang diwakili oleh kondisi medan magnet antarplanet (Bz) dan kecepatan angin matahari yang merupakan prekursor peningkatan fluks elektron serta data indeks Dst dan indeks AE sebagai pembanding bahwa gangguan telah mencapai kutub dan ekuator bumi selama rentang waktu 2011-2012. Metode yang digunakan adalah menentukan nilai Bz maksimum dan minimum dalam tahun 2011-2012 yang selanjutnya dari penanggalan data tersebut diambil data lima hari sebelum dan sesudah. Analisis dan perhitungan korelasi dilakukan terhadap data Bz-fluks elektron dan kecepatan angin matahari-fluks elektron. Klarifikasi gangguan yang terjadi di ruang antarplanet dan sabuk radiasi elektron luar menggunakan data indeks Dst dan indeks AE. Tujuan ditulisnya makalah ini adalah untuk mengetahui karakteristik kondisi ruang antarplanet yang dapat meningkatkan fluks elektron agar peringatan dini cuaca antariksa dapat dilakukan. Hasil yang didapatkan adalah waktu yang dibutuhkan fluks elektron setelah terjadi penurunan dan peningkatan Bz adalah 2 hingga 3 hari, fluks elektron akan meningkat saat kondisi ruang antarplanet normal yaitu pada kecepatan 500 km/detik dan Bz -5 nT hingga +5 nT, korelasi fluks elektron dengan kecepatan angin matahari lebih baik dibanding fluks elektron dengan Bz.Hlm.39-5
Penaksiran Model Autoregressive (AR) Pada Data Curah Hujan Di Jawa Barat Menggunakan Program R
Model Autoregressive (AR) adalah suatu model deret waktu univariat yang menggambarkan pengamatan suatu variabel yang dipengaruhi variabel itu sendiri pada periode sebelumnya untuk data stasioner. Model AR termasuk ke dalam model linier sehingga salah satu metode penaksiran parameter model yang dapat digunakan adalah Ordinary Least Square (OLS). Dalam penelitian ini dilakukanprediksi pada data curah hujan di wilayah Jawa Barat. Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul di tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Data curah hujanmerupakan data yang berpola musiman sehingga membentuk model deret waktu. Untuk mempermudah perhitungan, denganmenggunakan program R diperoleh hasil peramalan curah hujan di wilayah Jawa Barat digunakan Model AR(1). Model AR(1) adalah model yang menyatakan bahwa pengamatan pada satu waktu sekarang dipengaruhi oleh satu waktu pada pengamatan sebelumnya.Hlm.44-5
Application of rain scanner SANTANU and transportable weather radar in analyze of Mesoscale Convective System (MCS) events over Bandung, West Java
9 Hl
Implementation of RFID based raspberry Pi for user authentication and offline intelligent payment system
Hlm. 251-25
Kualitas Uji Citra Phantom Payudara untuk Deteksi Dini Kanker Menggunakan Konstruksi Sensor UWB
Hlm. 185-18
Efek Penajaman Citra Terhadap Indeks Vegetasi = Image Pan-Sharpening on Vegetation Index
Penajaman citra sangat dibutuhkan untuk meningkatkan resolusi spasial. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efek dari berbagai metode penajaman citra terhadap indeks vegetasi. Data yang digunakan adalah Citra Worldview-2 dengan metode penajaman citra Gram-Schmidt Spectral, PC Spectral Sharpening, dan NNDiffuse Pan Sharpening. Hasil dari penajaman citra kemudian dilakukan proses indeks vegetasi dengan metode NDVI. Indeks vegetasi hasil penajaman citra tersebut kemudian dilihat korelasinya terhadap indeks vegetasi citra asli. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penajaman citra baik metode Gram-Schmidt Spectral, PC Spectral Sharpening, dan NNDiffuse Pan Sharpening menunjukkan nilai korelasi yang tidak tinggi terhadap citra asli, sehingga untuk kajian indeks vegetasi tidak disarankan untuk melakukan proses penajaman citra.Hlm. 151-15