Indonesian National Institute of Aeronautics and Space

repository.lapan.go.id
Not a member yet
    7104 research outputs found

    Kenalkan Hasil Teknologi LAPAN melalui Pameran

    No full text
    Hlm. 34-3

    Rencana Kerja Harus Diimplementasikan Secara Konsisten

    No full text
    Hlm. 42-4

    No full text
    Hlm.20-2

    PUSKKPA Tempat Semua Mimpi Keantariksaan Dikaji

    No full text
    Hlm. 34-3

    Koreksi Atmosfer Citra Landsat-8 Menggunakan Metode 6S

    No full text
    Koreksi Atmosfer menggunakan metode Second Simulation of a Satellite Signal in the Solar Spectrum (6S) diterapkan pada data Landsat 8 level 1T (precision terrain-corrected product) dari stasiun bumiLAPAN Parepare menggunakan parameter visibility dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika(BMKG). Hasil analisis yang dilakukan di areal persawahan di wilayah Jakarta (P/R 122/064 tanggal 18 September 2016) dan Jawa Barat (Path/Raw 121/065 tanggal 13 Oktober 2016) menunjukkan adanyaperbaikan pola spektral objek. Nilai spektral objek sebelum dilakukan koreksi atmosfer masih memilikinilai yang cukup tinggi khususnya pada band 1 (aerosol), 2 (biru), 3 (hijau) dan 4 (merah) namun setelah koreksi atmosfer hasilnya menunjukkan nilai pantulan vegetasi untuk tanaman padi, lahan basah danlahan kering relatif lebih rendah pada band-band tersebut baik untuk tanaman padi di sekitar wilayahJakarta maupun wilayah Jawa Barat. Hal tersebut sesuai dengan pola pantulan citra Landsat secara umum. Perbandingan dengan produk Landsat-8 Surface Reflectance (L8-SR) menunjukkan adanyakesamaan karakteristik spektral khususnya pada Band 1,2,3 dan 4. Nilai NDVI model koreksi atmosfer6S cenderung hamper sama dengan nilai NDVI L8-SR baik untuk tanaman padi, lahan basah maupun lahan kering.Hlm.100-10

    Transport Langrange Polutan Saat Kebakaran Hutan Di Kalimantan Dan Sumatera

    No full text
    Analisa lintasan polutan yang terjadi di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan selama tahun 2015 saat kebakaran hutan terbesar di Indonesia telah didapatkan. Berdasarkan data luas kebakaran hutan Indonesia dari LAPAN, wilayah Kalimantan Tengah (Palangkaraya) dan Sumatera Selatan (Palembang) merupakan daerah yang memiliki luas kebakaran hutan terbesar pada tahun tersebut. Pada makalah ini dilakukan analisa forward trajectory polutan di kedua wilayah tersebut, untuk mengetahui arah lintasan polutan dari kedua wilayah tersebut menyebar. Jejak lintasan tersebut dilakukan pada musim hujan, peralihan, dan musim kering. Metode yang digunakan berdasarkan Hysplit Trajectory Model NOAA. Hasil menunjukkan forward trajectory polutan di bulan Oktober (musim Pancaroba), lintasan polutan mengarah ke Barat Laut Sumatera, dan hal ini dapat mengakibatkan polutan yang berasal dari wilayah Kalimantan Tengah dapat memperparah kondisi polutan di wilayah tersebut. Bulan Juli (musim kering) lintasan polutan mengarah ke wilayah Timur Palangkaraya untuk angin dengan ketinggian 100 m dan 300 m, sedangkan angin dengan ketinggian 500 m cenderung membawa polutan ke arah Utara dari kota Palangkaraya. Wilayah Sumatera Selatan forward trajectory polutan pada musim kering mengarah ke Barat, karena hal tersebut sesuai dengan arah angin yang umumnya mengarah ke Barat saat musim kering. Saat musim peralihan lintasan polutan yang diasumsikan berasal dari kebakaran hutan mengarah ke wilayah Tenggara sehingga polutan tersebut terbawa dan jatuh di pulau Jawa, khususnya oleh angin pada ketinggian 100 m dan 300 m, sedangkan pada musim hujan lintasan polutan mengarah ke wilayah Timur, dengan jarak tempuh terjauh untuk angin pada ketinggian 500 m.Hlm.83-8

    Linieritas Iradiasi Permukaan Dan Lama Penyinaran Matahari Di Bandung

    No full text
    Telah dilakukan uji linieritas antarairadiasi permukaan dan lama penyinaran matahari di Bandung menggunakan data insolasi dan lama penyinaran matahari tahun 2014-2016. Iradiasi hariandihitung dari insolasi harianmenggunakan prinsip trapesium siku-siku. Hasil penghitungan linieritas menunjukkan bahwa iradiasi minimum rata-rata diperoleh sebesar 9,22 MJ/hari pada saat tidak adanya penyinaran matahari dengan koefisien determinasi R2=0,595. Diperoleh juga bahwa tahun 2015 merupakan tahun yang memiliki rata-rata lama penyinaran matahari relatif lebih panjang dibandingkan tahun sebelum dan sesudahnya.Hlm.240-24

    Mekanisme Pergerakan Mesoscale Convective Complexes(MCCs) Di Atas Pesisir Barat Sulawesi Dalam Mempengaruhi Curah Hujan Di Pulau Kalimantan

    No full text
    Makalah ini menjelaskan karakteristik dan mekanisme perambatan mesoscale convective complexes (MCCs) yang diamati di pesisir barat Sulawesi pada tanggal 22-23 Oktober 2011. Analisis komposit juga dilakukan pada sebelas kasus MCC yang terjadi di pesisir barat Sulawesi. MCC diidentifikasi oleh citra satelit inframerah menggunakan algoritma yang menggabungkan informasi tentang cakupan awan, eksentrisitas, dan masa hidup awan MCC. Brightness temperature (TBB) diperoleh dari data satelit generasi Himawari yang terdiri dari Geostationary Meteorological Satellite (GMS-5), Multi-functional Satellite imagery Transport SATellite (MTSAT 1R and MTSAT 2), Himawari 8 and Geostationary Operational Environmental Satellites (GOES-9). Data curah hujan dari TRMM (Tropical Measurement Measurement Mission) Multi-satelit Precipitation Analysis (TMPA-RT) 3B41RT v7 dan data sinoptik dari OGIMET. Data angin permukaan dari Cross-Calibrated Multi-Platform (CCMP). Data parameter lingkungan diperoleh dari data reanalisis Europe Center for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF)-ERAInterim. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa MCC di pesisir Sulawesi berkembang mulai tengah malam dan mencapai maksimum pada pagi hari yang diintensifkan oleh angin konvergensi dari utara dan selatan Sulawesi. Sistem konvektif baru yang dihasilkan oleh kolam dingin saat MCC punah pada sore hari menyebar ke Pulau Kalimantan karena arus keluar divergensi dari kolam dingin yang juga dibantu oleh angin laut. Kombinasi angin laut dan arus keluar dari kolam dingin merupakan faktor signifikan dalam pembentukan dan pergerakkan sel konvektif baru sehingga membuat curah hujan lebat di Pulau Kalimantan. MCC yang terjadi di pesisir Sulawesi mempunyai karakteristik bergerak kearah barat (westward-propagating MCC). Perambatan sistem konvektif baru juga berhubungan suhu potensial ekuivalen tinggi (?E ridge)dan pusat konvergensi yang sangat berperan dalam perkembangan awan-awan konfektif.Hlm.271-28

    Libatkan Masyarakat Dalam Penguasaan Iptek Keantariksaan

    No full text
    Hlm. 4-

    0

    full texts

    7,104

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    repository.lapan.go.id
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇