7104 research outputs found
Sort by
Kajian Mikrofisis Awan Menggunakan Satelit Himawari 8 pada Kejadian Hail (Studi Kasus: Kejadian Hail di Jakarta Tanggal 28 Maret 2017) = Study of Cloud Microphysic Using Himawari 8 Satellite on the Hail Stone Event (Case Study: Hail Stone Event in Jakarta on 28 March 2017)
Keberadaan satelit Himawari 8 dengan 16 kanal membuka peluang untuk kajian lebih dalam terhadap kondisi mikrofisis awan konvektif yang dapat menghasilkan fenomena hail (hujan batu es) di wilayah Indonesia. Berdasarkan beberapa kajian baik menggunakan radar cuaca maupun satelit cuaca GOES dan MSG menyebutkan bahwa fenomena hail bisa terjadi pada kondisi awan konvektif tebal yang memiliki updraft kuat. Pada kajian ini, penulis akan mengkaji kondisi mikrofisis awan pada kejadian hail tanggal 28 Maret 2017 sore di Jakarta bagian selatan sebagai studi kasus. Kajian ini terdiri dari 4 tahap yaitu pemetaan wilayah terdampak hail dari laporan kejadian dan data produk hail probability radar cuaca; pengolahan citra day convective Storm RGB satelit Himawari 8 (red=6.2?m-7.3?m; green= 3.9?m-10.4?m; blue=1.6?m-0.64?m) untuk mengetahui wilayah severe dari awan konvektif; melakukan analisis terhadap distribusi spasial dan temporal dari selisih nilai suhu kecerahan dan nilai reflektifitas beberapa kanal (6.2?m - 7.3?m, 3.9?m - 10.4?m, dan 1.6?m - 0.64?m); serta melakukan analisis beberapa produk turunan satelit (radius efektif droplet puncak awan, optical thicknes, dan tinggi puncak awan). Berdasarkan analisis, dapat disimpulkan bahwa satelit Himawari 8 pada saat kejadian hail (hujan batu es) telah mendeteksi kondisi mikrofisis awan konvektif berupa updraft yang sangat kuat, puncak awan yang tinggi dan mengandung kristal es, wilayah overshooting CB, serta pertumbuhan awan yang cepat ditandai dengan perubahan selisih nilai kanal 6.2?m-7.3?m, 3.9?m-10.4?m, dan 1.6?m-0.64?m yang cukup signifikan hanya dalam durasi singkat. Hal tersebut bisa dijadikan sarana untuk mendeteksi dini kemunculan hail.Hlm. 413-42
Prinp-prinsip Umum Pemilihan Lokasi Bandar Antariksa Dikaitkan Dengan Program Pembangunan Bandar Antariksa di ndonesia
9P., ill., 27 c
The Characteristics of Mesoscale Convective Complexes (MCCs) over the Indonesian Maritime Continent and their Relationship with Rainfall and the Large-scale Environment
xxii....27 c
Proceedings 2017 3rd International Conferences on Science and Technology-Computer (ICST), Yogyakarta, Indonesia, 11-12 July 2017
...hlm
EVALUASI METODE FLUTTER MARGIN PADA PENGUJIAN TEROWONGAN ANGIN = EVALUATION OF FLUTTER MARGIN METHODS ON WIND TUNNEL TEST
Abstrak Pengujian flutter di terowongan angin dilakukan pada kecepatan subkritis untuk menghindari terjadinya kerusakan pada fasilitas pengujian. Oleh karena itu, kita harus menggunakan metode prediksi kecepatan flutter yang dapat mengestimasi kecepatan kritis seakurat mungkin. Makalah ini membahas mengenai pengujian aeroelastik sebuah model kantilever sayap di terowongan angin dan evaluasi metode flutter margin dalam memprediksi kecepatan flutter. Metode yang dievaluasi yaitu Metode flutter margin Zimmerman dan flutter margin discrete time systems (FMDS). Model uji berupa kantilever sayap yang memiliki dua derajat kebebasan yaitu bending dan torsi. Sensor akselerometer dipasang pada ujung sayap di posisi tengah dan leading edge. Data respon dinamik diukur oleh akselerometer kemudian dievaluasi dengan menggunakan metode flutter margin zimmerman dan FMDS untuk mendapatkan prediksi kecepatan flutter. Tujuan penelitian ini adalah menentukan metode yang akurat dan efektif dalam memprediksi kecepatan flutter di pengujian terowongan angin. Metode FMDS memprediksi tekanan dinamik flutter terjadi pada 972,5 Pa atau pada kecepatan aliran udara 41,7 m/s, dan flutter margin Zimmerman memprediksi terjadi 845 Pa atau pada kecepatan aliran udara 39 m/s. Berdasarkan eksperimen kecepatan kritis aktual model adalah 40,5 m/s, sehingga prediksi dengan FMDS memiliki error 3% dan flutter margin Zimmerman 7%. FMDS memiliki performa yang lebih baik dibanding dengan redaman modus flutter dan flutter margin zimmerman dalam prediksi kecepatan kritis flutter Kata kunci: terowongan angin, flutter, subkritis, aeroelastik, flutter margin Abstract Flutter testing on wind tunnel conducted at subcritical speed to avoid damage on testing facilities. Therefore, we have to use a method of flutter speed prediction which is capable to estimate critical speed as accurate as possible. This paper discuss an aeroelastic test of a cantilever wing model on a wind tunnel and evaluation of flutter margin methods. The methods were evaluated, are flutter margin zimmerman and flutter margin discrete time systems (FMDS). The model testing is a cantilever wing with two degree of freedom are bending and torsion mode. Accelerometers sensor were installed on center and leading edge of the wing tip. The dynamic response was measured by sensors, and then it was evaluated by flutter margin zimmerman and FMDS method to determine the flutter cricital speed. The goal of this study, we could determine accurate and effective methods to predict flutter speed on a wind tunnel test. The FMDS method predicted flutter dynamic pressure occurs at 972,5 Pa or wind speed of 41,7 m/s, and the flutter margin Zimmerman at 845Pa or wind speed of 39 m/s. Based on the experiment, actual flutter speed occurred at 40,5 m/s. Therefore, FMDS has error 3% and Flutter margin Zimmerman 3%. Based on result of this study, FMDS has a better performance in the prediction of critical flutter speed than the modal damping and the flutter margin zimmerman.Hlm. 19-27:Il.; 29,7 Cm
PEMILIHAN SENSOR ATTITUDE AND HEADING REFERENCE SYSTEM (AHRS) DAN LASER ALTIMETER UNTUK PESAWAT LSA-02 = ATTITUDE AND HEADING REFERENCE SYSTEM (AHRS) AND LASER ALTIMETER SENSOR SELECTION FOR LSA-02 AIRCRAFT
Abstrak Tulisan ini membahas tentang bagaimana melakukan pemilihan sensor yang mampu memberikan kinerja sesuai dengan requirement yang telah ditentukan sebelumnya. Requirement yang menjadi acuan diturunkan dari requirement flight control law. Sensor yang dipilih harus mampu menyediakan data yang dibutuhkan oleh flight control law, sehingga flight control law dapat melakukan melakukan perhitungan dengan benar dan menghasilkan output berupa actuator command. Sensor yang akan diseleksi adalah sensor AHRS dan laser altimeter. Kedua sensor ini menjadi prioritas untuk diseleksi karena kedua sensor ini masuk ke dalam kategori sensor kritikal. Setelah melakukan analisis pasar dan membandingkan spesifikasi teknis dengan sensor requirement maka untuk AHRS akan menggunakan produk Northrop Grumman LITEF GmbH LCR-100, sedangkan untuk laser altimeter menggunakan produk RIEGL LD90-3100HS. Abstract This paper discusses selection of sensors that are able to provide performance in accordance with the requirements that have been predetermined. Requirement of reference is derived from the requirement of flight control law. The selected sensor must be able to provide the data needed by the flight control law, so flight control law can perform the calculation correctly and produce the actuator command output. Sensors to be selected are AHRS sensors and laser altimeter. Both sensors are a priority to be selected because these two sensors fall into the category of critical sensors. After doing market analysis and comparing technical specifications with sensor requirement then for AHRS will use Northrop Grumman LITEF GmbH LCR-100, while for laser altimeter using RIEGL LD90-3100HS product Keywords: AHRS, Laser altimeter, LSA-02, Sensor.Hlm. 106-114:Il.; 29,7 Cm
PENGARUH BILANGAN REYNOLD PADA PENGUJIAN MODEL KAPAL SELAM STANDAR DI TEROWONGAN ANGIN REYNOLD NUMBER = EFFECT OF STANDARD SUBMARINE MODEL IN WIND TUNNEL TESTING
Abstrak Bilangan Reynold dalam bidang aerodinamika menjadi satu hal yang sangat penting baik dalam pengujian maupun desain suatu model. Pengaruh bilangan Reynold khususnya dalam pengujian di dalam terowongan angin dapat mengakibatkan perbedaan koefisien gaya-gaya aerodinamik. Penentuan bilangan Reynold di dalam terowongan angin secara tepat dapat memberikan hasil pengujian yang mendekati model sebenarnya. Oleh karena itu perlu dilakukan perhitungan secara matematis dan pengujian dengan menggunakan terowongan angin untuk mengetahui seberapa besar pengaruh bilangan Reynold khususnya pada model uji kapal selam standar. Pengujian dilakukan pada kecepatan angin 40 m/s, 50 m/s, dan 60 m/s dengan bilangan Reynold masing-masing sebesar 5.802.091,30, 7.252.614,13, dan 8.703.136,95 untuk ukuran model kapal selam sebesar 2,275 m. Untuk mengukur koefisien-koefisien aerodinamika kapal selam menggunakan external balance yang dihubungkan dengan central strut. Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa kecepatan 60 m/s memberikan hasil koefisien-koefisien gaya normal, axial, dan momen yang lebih smooth serta stabil dibandingkan kecepatan 40 m/s dan 50 m/s. Hal ini menunjukkan pada kecepatan 60 m/s memiliki aliran yang lebih smooth jika dibandingkan kecepatan 40 m/s dan 50 m/s yang terjadi separasi dibeberapa bagian model uji. Abstract Reynold number in the field of aerodynamics becomes very important both in testing and design of a model. Reynolds number effect, especially in wind tunnels test can result in differences coefficients of aerodynamic forces. Determination of Reynold numbers in wind tunnel with accurately give result test that approximates the actual model. Therefore, it is necessary to calculate mathematic and test by using wind tunnel to know how big Reynold number effect specially at model test standard submarine. The tests were conducted at wind speeds of 40 m/s, 50 m/s, and 60 m/s with Reynold numbers respectively of 5.802.091,30, 7252.614,13, and 8,703,136.95 for size of submarine model 2,275 m. To measure submarine aerodynamic coefficients using external balance connected to central strut. From the test results show at wind speed of 60 m/s gives the results of coefficients of normal force, axial, and moment more smooth and stable compared with wind speeds of 40 m/s and 50 m/s. This shows at wind speed of 60 m/s having a smoother flow compared to the speed of 40 m/s and 50 m/s of separation across section model test.Hlm. 167-175:Il.; 29,7 Cm