7104 research outputs found
Sort by
Sistem Informasi Gas Rumah Kaca Dari Data Atms Dan CRIS S-NPP Berbasis Google Earth
Gas rumah kaca adalah gas yang mempunyai efek rumah kaca berupa gelombang pendek (infra merah) yang datang dari Bumi kemudian dipantulkan kembali ke Bumi. Gas rumah kaca seperti CO2, CH4, N20, dan CFC. Meningkatnya gas rumah kaca berdampak pada meningkatnya suhu bumi dan kenaikan permukaan air laut yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Oleh karena itu penting untuk mengetahui peningkatan gas rumah kaca yang ada di atmosfer kita.Pemantauan peningkatan gas rumah kaca dapat dengan memanfaatkan satelit Suomi NPP yang didalamnya terdapat sensor Crosstrack Infrared Sounder (CrIS) dan Advanced Technology Microwave Sounder (ATMS). Dengan memanfaatkan tools NUCAPS, data CrIS dan ATMS akan diolah ke level 2 produk Suomi NPP yaitu berupa informasi besarnya konsentrasi gas rumah kaca. Untuk mempermudah penggunaan produk level 2 CrIS dan ATMS dalam pemantauan, maka dibuatkan sistem informasi gas rumah kaca berbasis Google Earth yang akan menampilkan informasi hasil pengolahan.Hlm.33-3
Pengaruh Enso Tehadap Variabilitas Curah Hujan Di Provinsi Nusa Tenggara Timur Selama 30 Tahun (1981-2010)
Variabilitas utama iklim musiman di Indonesia dipengaruhi oleh ENSO. ENSO(El Nino-South Oscilation) merupakan interaksi laut-atmosfer yang terjadi di Samudra Pasifik. Secara umum para ahli membagi ENSO menjadi ENSO hangat ( El Nino) dan ENSO dingin (La Nina), kedua fenomena ini pada umumnya berpengaruh terhadap beberapa parameter meteorologi seperti curah hujan dan suhu permukaa laut. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu komposit data curah hujan bulananselama 30 tahun (1981-2010) dari Stasiun Meteorologi Eltari Kupang dan Waingapu, indeks Nino 3.4, data curah hujanCHIRPS, dan data suhu permukaan lautsatellite AQUA MODIS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengestimasikan dampak ENSO terhadap variabilitas curah hujan di Nusa Tenggara Timur. Analisis korelasi antara curah hujan bulanan dengan indeks Nino 3.4 menunjukan bahwa ENSO memiliki hubungan keterbalikan dengan curah hujan di wilayah NTT dengan nilai korelasi tertinggi -0.56 pada bulan Oktober di Kupang dan pada bulan Januari di Waingapu. Pada periode El Nino terjadi penurunan curah hujan mencapai 63.5 mm dan terdapat anomali negatif suhu permukaan laut mencapai 10C di perairan NTT, kecuali pada musim MAM terdapat anomali suhu permukaan laut positif mencapai 10C . Pada periode La Nina terdapat peningkatan curah hujan bulanan mencapai 73.5 mm, disertai anomali positif suhu permukaan laut mencapai 10C di perairan NTT, kecuali pada musim MAM terdapat anomali suhu permukaan laut negatif mencapai 10C. Pengaruh ENSO menjadi signifikan pada bulan-bulan peralihan dari musim kemarau ke musim hujan yakni pada musim SON.Hlm.77-8
Aplikasi Metode Neraca Air Untuk Mitigasi Bencana Banjir Dan Kekeringan Studi Kasus: Sub Das Madiun
Bencana banjir dan kekeringan terjadi pada beberapa daerah di Jawa Timur. Oleh karena itu, informasi mengenai ketersediaan dan kebutuhan air di daerah tersebut diperlukan untuk mengetahui kondisi sumber daya air. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui status air sehingga dapat menentukan daerah yang berpotensi mengalami banjir atau kekeringan. Metode Neraca Air digunakan untuk mengetahui kondisi sumberdaya air surplus atau defisit. Penilaian status air dilakukan dengan membandingkan antara kebutuhan dengan ketersediaan air. Ketersediaan air dihitung berdasarkan debit andalan Sub DAS Madiun, sementara itu kebutuhan air diperoleh dari hasil analisis kebutuhan air domestik, industri dan pertanian. Hasil riset ini menunjukkan bahwa nerada air di Sub DAS Madiun mengalami defisit dan surplus air pada tahun tertentu. Nilai status sumber daya air dominan bernilai 3. Hal ini menyebabkan Sub DAS Madiun berpotensi mengalami kekeringan.Hlm.21-2
Studi Pengaruh Seruak Dingin Terhadap Anomali Curah Hujan Di Wilayah Indonesia Bagian Barat Laut Dan Pulau Jawa Menggunakan Analisis Komposit Data Curah Hujan Observasi
Seruak dingin (cold surge) diketahui merupakan salah satu jenis gangguan cuaca yang berkontribusi terhadap proses pembentukan cuaca di wilayah Laut China Selatan dan Indonesia Bagian Barat Laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gangguan seruak dingin terhadap anomali curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat laut sekitar wilayah penjalaran seruak dan pengaruhnya di wilayah Pulau Jawamenggunakan data curah hujan observasi. Analisis komposit pada kejadian seruak dilakukan terhadap data observasi 16 stasiun meteorologi di sekitar wilayah penjalaran seruak dan wilayah Pulau Jawa selama periode DJF tahun 2005 hingga tahun 2015. Hasil analisis menunjukkan perlambatan gerak massa udara pada daerah belokan angin dengan nilai moist transport yang cukup tinggiyang berasal dari wilayah Laut Cina Selatan sangat berperan dalam peningkatan akumulasi curah hujan di wilayahutara Sumatera bagian timur(Stasiun Meteorologi Kijang, Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II, dan Stasiun Meteorologi Tarempa) maupun di Kalimantan Barat bagian Utara (Stasiun Meteorologi Supadio).Data observasi juga menunjukkan anomali positif curah hujan di wilayah Jawa bagian barat dan tengah (Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta Cengkareng, Stasiun Meteorologi Citeko, dan Stasiun Meteorologi Ahmad Yani). Hasil berbeda ditunjukkan oleh wilayah Jawa bagian timur (Stasiun Meteorologi Juanda) yang menunjukkan respon anomali curah hujan yang negatif saat seruak terjadi. Hal ini didukung hasil analisis transport kelembaban pada wilayah Jawa yang menunjukkan terdapat nilai transport kelembaban yang cukup tinggi di utara Jawa bagian barat dan Jawa Tengah saat seruak terjadi, yang tidak dijumpai pada hari tanpa seruak.Hlm.134-13
Tren Dan Pemetaan Indeks Iklim Ekstrem Periode 1981 - 2010 Di Kalimantan Dan Sulawesi
Indonesia merupakan negara yang mempunyai kondisi atmosfer yang sangat dinamis, sehingga menyebabkan parameter cuaca dan iklim berubah secara berkala setiap waktu tertentu. Penelitian ini brtujuan untuk mengidentifikasi kondisi dinamika atmosfer terkait perubahan Indeks parameter iklim pada periode 1981 - 2010 di wilayah Kalimantan dan Sulawesi serta mengetahui indeks iklim ekstrim yang signifikanberdasarkan uji signifikasi yang dilakukan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data observasi curah hujan harian, temperatur maksimum dan temperatur minimum yang diperoleh dari beberapa stasiun meteorologi dan klimatologi BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) di Kalimantan dan Sulawesi. Metode yang digunakan adalah analisis dekskriptif dan uji signifikasi. Hasil menunjukan bahwa terdapat signifikasitren pada parameter suhu maksimum terbesar (TXx) di wilayah Sulawesi Barat sebesar 0.06 - 0.090C/tahun.Hlm.176-18
Dekomposisi Polarimetrik dalam Citra Radar yang Terkalibrasi untuk Deteksi Obyek Vegetasi
Citra radar memiliki beberapa karakteristik, pola, fitur tertentu untuk vegetasi yang spesifik. Harus tentukan berapa level proses produk pengolahan RADAR sebagai citra masukan. Level proses pengolahan dapat memberikan sebuah informasi mengenai citra satelit radar tersebut apakah citra tersebut sudah dikoreksi, direproyeksi, dikalibrasi radiometrik, dan pengolahan citra lainnya. Setelah mendapat informasi yang diperlukan maka citra tersebutdapat diolah lebih lanjut seperti konversi nilai dijital menjadi nilai Gamma atau Sigma Nought.Gamma nought sering li digunakan untuk aplikasi deteksi perubahan misalnya seperti pemantauan deforestasi dan perubahan lahan hutan. Gamma nought juga dapat diuji dan divalidasi untuk stabilitas dan efektifitas dalam memantau hutan. Dalam penelitian dekomposisi polarimetrik termasuk Sinclair, Pauli dan Freeman Durden telah diaplikasikan ke beberapa citra radar dengan empat polarisasi.Perbandingan dari hasil metode yang berbeda diuji dan dianalisa untuk proses lebih lanjut dalam menentukan metode klasifikasi terbaik dan beberapa klasifikasi tak terbimbing diaplikasikan untuk memeriksa tingkat separabilitas dari tiap kelas.Hlm. 105-11
Kajian Kesesuaian Sistem Pengolahan Data S-NPP untuk Melakukan Pengolahan Data JPSS-1 = Study of Compatibility of S-NPP Data Processing System for JPSS-1 Data Processing
Satelit JPSS-1 merupakan kelanjutan dari satelit S-NPP diperkirakan akan diluncurkan tahun ini. Sistem pengolahan JPSS-1 akan memiliki tahapan yang sama dengan S-NPP, hal ini dikarenakan sensor yang dibawa satelit JPSS-1 sama dengan sensor yang dibawa satelit S-NPP. Sistem pengolahan data yang selama ini digunakan untuk mengolah data S-NPP akan diuji untuk melakukan pengolahan data JPSS-1. Penulisan ini bertujuan untuk mengkaji kesesuaian dan kesiapan sistem pengolahan data S-NPP untuk pengolahan data JPSS-1. Pada sistem pengolahan data SNPP terdapat 3 tahapan pengolahan yang pertama pengolahan dari raw data hasil akuisisi menjadi Raw Data Record (RDR), tahap kedua yaitu pengolahan dari RDR menjadi Sensor Data Record (SDR), dan yang terakhir pengolahan SDR menjadi Environmental Data Record (EDR). Perbedaan pada sistem pengolahan data JPSS-1 terdapat pada pengolahan tahap pertama untuk menghasilkan produk RDR. Meskipun menggunakan software pengolahan yang sama yaitu Realtime Software Telemetry Processing System (RT-STPS) namun pada pengolahan data JPSS-1 terdapat parameter pengolahan yang berbeda sehingga akan menggunakan konfigurasi yang sedikit berbeda dengan S-NPP. Untuk mempersiapkan pengolahan satelit JPSS-1 maka diperlukan konfigurasi ulang pada sistem perangkat lunak RT-STPS. Hasil uji coba menyatakan sistem pengolahan NPP perlu dilakukan konfigurasi parameter dalam pengolahan raw data sehingga sistem tersebut dapat juga digunakan untuk pengolahan data JPSS-1.Hlm. 35-4
Analisis Dinamika Atmosfer Kejadian Hujan Es Memanfaatkan Citra Radar dan Satelit Himawari-8 (Studi Kasus: Tanggal 3 Mei 2017 di Kota Bandung) = Atmospheric Dynamics Analysis of Hail Event Utilizing Radar and Himawari-8 Satellite Imagery (Case Study: May 3, 2017 in Bandung City)
Hlm. 371-38