Indonesian National Institute of Aeronautics and Space

repository.lapan.go.id
Not a member yet
    7104 research outputs found

    Aplikasi Model HBV Pada DAS Citarum Hulu

    No full text
    DAS Citarum Hulu merupakan salah satu DAS yang cukup penting di Jawa Barat. sehingga dibutuhkan informasi mengenai kondisi fisik untuk pengelolaan DAS, termasuk data debit. Model HBV yang disimulasikan pada DAS Citarum Hulu menghasilkan hidrograf aliran dengan kinerja yang cukup baik sebesar 0.69 skala NSE. selain itu juga dilakukan analisis sensitivitas setiap individu parameter. Parameter K0, K1, KPerc, dan L1 sangat sensitif terhadap debit aliran. Sedangkanparameter FC dan C tidak terlalu sensitif tapi cukup mempengaruhi nilai error model. Hasil prediksi debit tahun 2070 menggunakan model HBV menunjukkan terjadinya nilai debit tertinggi 425.5 m3/sdan terendah 9.9 m3/s.Hlm.257-26

    Analisis Framing Pemberitaan Gerhana Bulan sebagian di Media Online

    No full text

    Pengukuran Kualitas Geometri Hasil Orthorektifikasi Citra Worldview-2 = Geometric Quality Assessment of Orthorectified Worldview-2

    No full text
    Salah satu produk yang disediakan oleh Pustekdata adalah data satelit resolusi sangat tinggi. Worldview-2merupakan salah satu bagian dari data tersebut. Worldview-2 memiliki resolusi spasial 46 cm pada kanal pankromatik dan 184 cm pada kanal multispektral. Data-data Worldview-2 yang dimiliki oleh LAPAN adalah data Ortho-Ready Standard (OR2A) multispektral 4 band (biru, hijau, merah, NIR) dan pankromatik. Data ini telah memiliki koordinatbumi namun akurasi geometrinya masih bisa ditingkatkan lagi dengan melalui proses koreksi geometrik atau disebut juga orthorektifikasi. Dalam tulisan ini akan dibahas tentang metode orthorektifikasi Worldview-2 Ortho-Ready Standard dan pengukuran kualitas geometrik hasil orthorektifikasi. Telah dibandingkan dua metode koreksi geometrik yang berbeda yaitu koreksi geometrik sistematis dan koreksi geometrik non-sistematis. Pengukuran kualitas geometrik dilakukan dengan menggunakan titik-titik kontrol independen (Independen control points/ICP) diperoleh hasil untuk metode pertama RMSE = 0.825334 meter dan metode kedua RMSE = 4.118048 meter.Hlm.97-104 : ill

    Pemanfaatan Model WRF-ARW Untuk Mengetahui Angin Laut Di Surabaya

    No full text
    Hlm.222-22

    Pengembangan Standardisasi Metode Koreksi Geometrik Data Optik Satelit Penginderaan Jauh Resolusi Menengah = ( Development of Standardization of Geometric Correction Method for Optical Remote Sensing Data in Medium Resolution

    No full text
    Undang-undang No. 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan pasal 19 ayat 2 menyebutkan bahwa pengolahandata penginderaan jauh wajib dilakukan dengan mengacu pada metode dan kualitas pengolahan data penginderaan jauh(inderaja) yang ditetapkan oleh lembaga (LAPAN). Metode pengolahan data yang dimaksud salah satunya adalah koreksi geometrik. Koreksi geometrik merupakan proses untuk memperbaiki posisi/koordinat data (inderaja) sehingga sesuai denganposisi di permukaan bumi. Berbagai metode koreksi geometrik telah dilakukan dan diimplementasikan di LembagaPenerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) pada data penginderaan jauh berbagai resolusi untuk menghasilkan produk inderaja seperti mosaik citra satelit bebas awan, surface reflectance dan produk turunan lainnya. Produk tersebut diberikankepada setiap pengguna dari Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah dan Lembaga Pendidikan untuk keperluan pemetaan,tata ruang, kehutanan, pertanian, kelautan, bencana alam, penelitian dan pengembangan, dan sebagainya. Namun metode yang dilakukan belum distandarkan sehingga masih menyulitkan bagi pengguna di luar LAPAN untuk melakukan koreksi geometrik secara mandiri dan menghasilkan akurasi geometrik yang sesuai standar. Pada penelitian telah dilakukan pengembangan standar koreksi geometrik data penginderaan jauh satelit meliputi ketentuan untuk data masukan, modelkoreksi (rigorous sensor model dan rational function model), rektifikasi, resampling, data keluaran dan ketelitian posisi geometrk. Pengembangan standardisasi koreksi geometrik mengacu kepada ketentuan Badan Nasional Standar (BSN).Penelitian ini telah menghasilkan standar koreksi geometri yang akan diberlakukan di lingkungan LAPAN dan pengguna data inderaja dan diharapkan dapat menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI).Hlm. 71-7

    Pendugaan Penyerapan Co2 Pada Tahun 2013 Dan 2015 Berdasarkan Nilai Npp Di Kabupaten Cianjur Dengan Menggunakan Landsat 8 (Studi Kasus: Kabupaten Cianjur, Bogor, Jawa Barat)

    No full text
    NPP atau Net Primary Productivity didefinisikan sebagai fluks karbon bersih dari atmosfer ke dalam tanaman hijau per satuan waktu. NPP mengacu pada tingkat proses seperti jumlah produksi materi dedaunan (NPP) per hari, minggu, atau tahun. NPP adalah variabel ekologi dasar, hal ini tidak hanya karena NPP mengukur input energi dari biosfer dan asimilasi Karbon Dioksida daratan, tetapi juga karena NPP adalah faktor signifikan dalam indikasi area penutupan lahan dan luas jarak dalam proses ekologi. NPP adalah komponen penting dalam siklus karbon dan indikasi dari kualitas ekosistem. NPP dikendalikan oleh radiasi matahari dan dipengaruhi oleh cahaya, curah hujan, dan suhu udara. Pengukurannilai NPP kali ini bertujuan mengetahui jumlah CO2 yang diserap di Wilayah Cianjur pada tahun 2013 dan 2015. Pengukuran NPP dilakukan dengan menggunakan data radiasi matahari serta data citra satelit Landsat 8,kemudian dilakukan analisis deskriptif melalui gambar untuk mengetahui besaran NPP pada wilayah tersebut. NPP yang diperoleh pada tahun 2013 sebesar740,966 gC/m2/tahun sedangkan tahun 2015 diperoleh sebesar 696,031 gC/m2/tahun.Hlm.151-15

    Kajian Kenyamanan Tinggal Dan Kualitas Udara Di Kota Besar Pulau Jawa Berbasis Thi, Thermal Comfort, Dan SPM Tahun 2010-2015

    No full text
    Peningkatan jumlah penduduk mendominasi kota-kota besar di pulau Jawa seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, dan Surabaya. Setiap tahun jumlah penduduk dan transportasi di wilayah tersebut semakin meningkat menyebabkan tingkat kenyamanan dan kondisi di lingkungan tersebut berubah yang berpengaruh terhadap perubahan cuaca. Untuk itu perlu adanya kajian kenyamanan tinggal dan kualitas udara di wilayah tersebut. Tingkat kenyamanan diketahui dari suhu dan kelembaban udaranya, sedangkan kualitas udaranya ditinjau dari kualitas SPM (Suspended Particulate Matter) yang merupakan campuran dari debu, PM 10 dan PM 2.5.Data yang digunakan dalam penelitian adalah data observasi harian suhu dan kelembaban serta data SPM tahun 2010-2015. Kenyamanan suhu di daerah tropis diteliti menggunakan metode THI dan Thermal comfort. Titik pengamatan yang diambil adalah Stasiun Meteorologi Cengkareng (Jakarta), Stasiun Meteorologi Juanda (Surabaya), Stasiun Meteorologi A. Yani (Semarang), Stasiun Meteorologi Citeko (Bogor), dan Stasiun Meteorologi Husein Sastranegara (Bandung). Berdasarkan penelitian diketahui bahwa diantara 5 kota besar yang diteliti, menurut perhitungan THI tingkat kenyamanan tinggal dari yang tidak nyaman adalah: Jakarta, Bogor, Semarang, Surabaya, Bandung. Hasil dari Thermal comfort juga menunjukkan bahwa daerah dengan suhu paling panas terdapat di wilayah Jakarta. Sedangkan untuk kualitas udara dilihat dari data SPM wilayah yang paling sehat terdapat di wilayah Bogor.Hlm.185-18

    0

    full texts

    7,104

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    repository.lapan.go.id
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇