7104 research outputs found
Sort by
KAJIAN AWAL POTENSI PEMANFAATAN SATELIT PENGINDERAAN JAUH LAPAN-A3 = INITIAL ASSESSMENT ON LAPAN-A3 MULTISPECTRAL SENSOR UTILIZATION
LAPAN-A3 merupakan satelit penginderaan jauh pertama Indonesia yang membawa muatan sensor multispektral. Potensi pemanfaatan data ini masih belum dikaji secara menyeluruh untuk kegiatan pemantauan sumber daya alam di Indonesia. Kajian terkait informasi yang dibutuhkan untuk melakukan pemantauan sumber daya alam kemudian dilakukan dengan mengacu pada dokumen ilmiah yang telah diterbitkan sebelumnya dengan menggunakan data penginderaan jauh satelit yang memiliki karakteristik spasial, spektral, dan temporal yang mirip dengan LAPAN-A3. Hasil awal kajian menunjukkan tingginya potensi pemanfaatan data multispektral LAPAN-A3 untuk pemetaan penutup/penggunaan lahan, pemetaan luas sawah dan perkebunan, identifikasi lahan bekas terbakar, perubahan luas ruang terbuka hijau perkotaan, pemantauan ekosistem danau, serta pemetaan kerapatan mangrove. Dengan karakter data yang dimiliki, satelit LAPAN-A3 juga bisa digunakan sebagai pelengkap data satelit penginderaan jauh yang sudah terlebih dahulu dikembangkan oleh negara lain (Landsat, Sentinel).Hlm.43-5
Di Bidang Penerbangan, Indonesia Sudah Punya Nilai Lebih dibanding Negara Berkembang Lainnya
Hlm. 23-2
Low-cost Switched Array-wide Band Antenna for Search and Rescue Disaster Management
The activity of SAR (Search and Rescue) is anactivity that requires speed in finding the location point.Successfully search for victims can save many lives. Directionfinder is proposing to accelerating search survivors. Directionfinder can detect the direction and track the radio transmitterusing Doppler function. The design, measuring, testing andintegrating wideband switched parasitic antenna for directionfinder application are conducted in the research. In this paperdirection finder antenna made with simple devices and thematerials can be found in Indonesia. The proposed architecturehas advantages for cost-effective, easy to design and to integrate.The antenna design successfully reaches maximum gain bysimulation and field test. The antenna success passes S11measurement, in accord with international standards of antennamanufacturing. The antenna successfully tracks the transmitterusing zero cross detector software.Hlm.131-13
IEEE, The 2017 International Seminar on Sensors, Instrumentation, Measurement and Metrology (ISSIMM)
Analisis Pola Spektral Asap Kebakaran Hutan Dan Lahan Dari Data Soumi NPP-VIIRS
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pola spektral asap kebakaran hutan dan lahan di wilayah Indonesia khususnya Sumatera dan Kalimantan dari citra Soumi NPP-VIIRS. Pola spektral asap ini juga dibandingkan dengan obyek awan, air dan vegetasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis spektral obyek melalui training sampel obyek dari citra VIIRS. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai refelektansi asap kebakaran hutan dan lahan lebih rendah dibandingkan dengan awan, sebaliknya mempunyai temperature brightness yang lebih tinggi dari awan pada beberapa wilayah panjang gelombang. Disamping itu, obyek asap memiliki nilai reflektansi yang lebih tinggi daripada obyek vegetasi dan obyek air. Perbedaan nilai refletansi dan temperature brightness pada obyek awan dan asap memungkinkan digunakannya untuk kepentingan pemodelan deteksi sebaran asap pada kebakaran hutan dan lahan.Hlm.53-5
Variasi Musiman Dan Harian Struktur Vertikal Hujan Di Sumatra Dan Lautan Sekitar Berdasarkan Pengamatan TRMM-PR
Struktur vertikal hujan atau distribusi hujan arah vertikal di Sumatera dan lautan sekitar dengan variasi musiman dan harian telah dibandingkan. Perbandingan dilakukan dengan menggunakan data TRMM 2A25 yang berasal dari satelit Tropical Rainfall Measuring Mission-Precipitation Radar (TRMM-PR) dengan data selama tiga tahun (2011-2013). Struktur vertical hujan diamati menggunakan Contoured Frequency of Altitude Diagrams (CFADs) dan perhitungan gradien radar reflectivity (Z). dari penelitian ini terlihat bahwa CFAD radar reflectivity tidak memperlihatkan variasi musiman dan harianyang signifikan. Namun, dari nilai gradien radar reflectivity untuk ketinggian 1-3 km, variasi musiman struktur vertikal terlihat lebih jelas. Secara umum nilai gradien yang negatif dominan untuk setiap musim tetapi gradien pada JJA lebih negatif dari DJF, MAM dan SON. Hal ini menandakan pertumbuhan butiran hujan lebih aktif selama DJF, MAM dan SON dibandingkan dengan JJA. Selain itu, terlihat juga bahwa daratan memiliki gradien yang lebih negatif dibandingkan dengan pantai dan lautan sekitar.Hlm.227-23
Onset Monsun Dan Hubungannya Dengan Awal Musim Hujan Di Pulau Jawa
Onset monsun merupakan rangkaian dari fase sirkulasi monsun yang mendahului periode monsun aktif. Onset monsun belum didefinisikan secara operasional di Indonesia. Sebagai gantinya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia (BMKG) hanya menentukan awal musim hujan di wilayah Indonesia sebagai dasarian pertama dari tiga dasarian beturut-turut dengan jumlah hujan ? 50 mm pada tiap dasariannya. Penelitian ini mencoba mencari definisi onset monsun yang praktis namun tetap konsisten dan mencari hubungannya dengan awal musim hujan yang ditentukan berdasarkan kriteria BMKG. Pada penelitian ini, tanggal kejadian onset monsun ditentukan dengan menggunakan modifikasi kriteria Australian Monsoon Rainfall Index (AMRI), kejadian onset monsun terjadi ketika nilai running mean lima-harian curah hujan melebihi 150% mean annual cycle (MAC) curah hujan harian, dan perbedaan antara 150% MAC dengan MAC lebih dari 1 mm. Dengan menggunakan kriteria ini, tanggal kejadian onset monsun dapat ditentukan sepanjang tahun di seluruh Pulau Jawa dengan konsisten. Dasarian yang ditentukan sebagai kejadian onset monsun kemudian dibandingkan dengan dasarian awal awal musim hujan kriteria BMKG.Secara klimatologis dasarian awal onset monsun mendahului lebih dari 6 dasarian di sebagian wilayah Jawa bagian barat, sedangkan di Jawa bagian tengah dan timur masing-masing mendahului 3 dan 2 dasarian. Onset monsun di sebagian wilayah Jawa bagian barat mungkin merupakan kejadian onset yang semu karena mendahului awal musim hujan melebihi 6 dasarian, karena wilayah Jawa bagian barat dipengaruhi oleh proses lokal yang kuat seperti konvergensi angin laut. Hal ini menyebabkan pada penelitian ini penentuan onset monsun di sebagian wilayah Jawa bagian barat menggunakan nilai ambang yang lebih tinggi dibandingkan wilayah Jawa lainnya, yakni running mean lima-harian curah hujan melebihi 150% mean annual cycle (MAC) curah hujan harian, dan perbedaan antara 150% MAC dengan MAC lebih dari 2 mm serta lima-harian curah hujan melebihi 150% mean annual cycle (MAC) curah hujan harian, dan perbedaan antara 150% MAC dengan MAC lebih dari 3 mm di sebagian wilayah Pulau Jawa bagian barat lainnya.Hlm.250-25