7104 research outputs found
Sort by
Karakteristik Konsentrasi Ch4 (Metana) Di Beberapa Kota Besar Dan Kota Kecil Di Indonesia
Keberadaan konsentrasi CH4 di atmosfer berasal dari sumber emisi CH4 di permukaan bumi baik asal antropogenik maupun alami. Bobot molekul CH4 yang ringan mengakibatkan CH4 dapat bergerak vertikal sampai ke stratosfer. Konsentrasi CH4 yang tak terkendali berakibat pada pemanasan global dan perubahan iklim, sehingga perlu dipahami karakteristik CH4 terutama di beberapa kota besar (Jakarta, Medan, Makassar) dan kota kecil (Ambon, Biak Numfor, Pangkal Pinang) di Indonesia. Dengan menggunakan data Atmospheric Infra Red Soundings (AIRS) level 3 yang memiliki resolusi spasial satu derajat dan resolusi temporal bulanan, untuk periode waktu 2003-2015, dikaji kecenderungan konsentrasi CH4 di enam kota dan anomalinya pada beberapa ketinggian atmosfer serta analisis pengaruh kategori kota (kota besar dan kotakecil berdasarkan jumlah penduduk) terhadap konsentrasi CH4. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis spasial horizontal dan vertikal dengan bantuan Software Grads untuk mengetahui daerah mana dan pada level ketinggian mana terjadi perubahan konsentrasi CH4, serta ditunjang oleh analisis statistik regresi dan uji Friedman serta uji Tukey untuk mengetahui apakah ada pengaruh kategori kota terhadap konsentrasi CH4 di atmosfer. Hasilnya menunjukkan adanya penurunan konsentrasi CH4 terhadap ketinggian atmosfer dengan pola logaritmik (eksponensial) yang sebagian besar berasal dari kegiatan di permukaan bumi. Fluktuasi konsentrasi CH4 di atmosfer disebabkan salah satunya oleh El Nino Southern Oscilation (ENSO). Kondisi ini tampak dari kesamaan pola nilai indeks ENSO dan konsentrasi CH4.Berdasarkan penelitian dengan menggunakan uji Friedman dan uji Tukey dihasilkan bahwa klasifikasi kota menjadi kota besar dan kota kecil tidak berpengaruh pada konsentrasi CH4Hal. 167-17
Retrieval Of Aerosol Properties Over Land Area From Himawari-8 Visible Channels
Viii,58 Hlm.,ill.;27 c
Klasifikasi Wilayah Rawan Kekeringan Pada Lahan Sawah Non Irigasi Di Sulawesi Selatan
Produktivitas padi di Sulawesi Selatan termasuk tertinggi di Kawasan Timur Indonesia. Dengan kekayaan sumber daya lahan, jenis tanah, fisiologi/bentuk wilayah, ketinggian tempat yang sangat bervariasi menjadikan sebagian besar daerah di Sulawesi Selatan sangat potensial untuk dikembangkan dalam bidang pertanian. Namun daerah ini juga sekaligus terpengaruh oleh aktivitas iklim tertutama fenomena ENSO (El-Nino Southern Oscilation). Sulawesi Selatan termasuk daerah yang mengalami dampak El-Nino sangat nyata. Terutama pada peristiwa El-Nino tahun 1997-1998 yang mengakibatkan puso sawah seluas 65.340 Ha. Untuk itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengklasifikasikan wilayah rawan kekeringan berdasarkan tingkat dampak kekeringan di seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Dalam mengklasifikasi wilayah dibagi dalam tiga kajian utama berdasarkan pembagian kekeringan yang ditetapkan oleh Wilhite dan Glantz yaitu kajian meteorologi, kajian hidrologi dan kajian pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah Sulawesi Selatan dibatasi oleh pegunungan Bawakarareng yang menyebabkan perbedaan pola distribusi hujan antara daerah bagian Barat dan Timur. Ini menyebabkan adanya perbedaan puncak curah hujan di beberapa daerah serta menyebabkan respon yang berbeda pula terhadap fenomena ENSO. Hasil perhitungan indeks menujukkan daerah bagian Barat yakni daerah Maros dan Makassar cenderung memiliki tingkat kerawanan tertinggi yaitu 3,26 yang tergolong Rawan.Hlm.9-2
Pemantauan Perambatan Seruak Dingin Utara
Penjalaran massa udara dingin yang berasal dari tekanan tinggi Siberia ke arah selatan merupakan aspek penting dalam variabilitas intraseasonal monsun dingin Asia (Asia Winter Monsoon). Gangguan sinoptik berupa seruak massa udara dingin dan kering yang diasosiasikan dengan peningkatan tekanan permukaan di Siberia, penurunan drastis temperatur di Cina, dan peningkatan intensitas angin utara hingga ke selatan ekuator tersebut dikenal dengan istilah Seruak Dingin Utara (Northerly Cold Surge / NCS). Persistensi aliran lintas ekuator yang menguat di permukaan berpengaruh signifikan terhadap proses konveksi di wilayah Benua Maritim. Bertujuan untuk mengembangkan sebuah sarana praktis peringatan dini khusus bagi kejadian NCS bagi prakirawan dalam memantau perambatan NCS dari lintang tinggi ke arah selatan ekuator, sebuah kajian numerik dilakukan pada kasus-kasus NCS yang teridentifikasi tahun 2002-2015. Dari kajian tersebut dihasilkan meteogram (surgegram) yang berisi panel-panel indeks NCS yang merepresentasikan satu episode NCS sejak merebaknya di Siberia, perambatannya melalui Hong Kong dan LautCina Selatan, hingga melintasi ekuator (Cross Equatorial Northerly Surge / CENS). Sarana tersebut menunjukkan performa cukup baik dalam mengkonfirmasi perambatan NCS sesuai yang diharapkan.Hlm.68-7