7104 research outputs found
Sort by
Pengolahan Gambut Menjadi Lahan Pertanian
Sekitar 50% dari luasan lahan gambut tropika terdapat di Indonesia yang tersebar di pulau-pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua, sehingga Indonesia menempati urutan ke-4 luas total lahan gambut sedunia, setelah Kanada, Uni Soviet, dan Amerika Serikat. Dan diperkirakan sedikitnya 20% dari luasan lahan gambut di Indonesia telah dimanfaatkan dalam berbagai sektor pembangunan meliputi pertanian, kehutanan, dan penambangan. Gambut merupakan tanah marjinal yang memiliki kesuburan rendah yang dicirikan oleh pH rendah (3.0 - 5.0), kandungan dan ketersediaan unsur N, P, K, Mg, Zn, B, Ca, Mo dan Mn rendah dan kandungan air yang tinggi. Pengolahan lahan gambut menjadi lahan pertanian memerlukan perencanaan yang cermat dan teliti, penerapan teknologi yang sesuai, dan pengelolaan yang tepat karena ekosistemnya yang marginal dan fragile. Pengaruh buruk asam organik dapat dikurangi dengan cara teknologi pengolahan air dan menambahkan bahan bahan yang banyak mengandung kation. Lahan gambut sangat ditentukan oleh kandungan, ketebalan, dan jenis mineral pada substratum (di dasar gambut), serta tingkat dekomposisi gambut. Pertanian di lahan gambut mempunyai kendala antara lain kematangan dan ketebalan gambut yang bervariasi, penurunan permukaan gambut, rendahnya daya tumpu, rendahnya kesuburan tanah, dan pH yang sangat masam. Upaya dapat dilaksanakan untuk memanfaatkan lahan gambut dan mengurangi resiko terjadinya kebakaran di lahan gambut adalah memperpendek masa bera selain itu pengelolaan air harus disesuaikan dengan kebutuhan perakaran tanaman. Parit kebun diusahakan agar tidak terlalu jauh dari akar tanaman. Untuk mengatasi kendala reaksi tanah masam dan keberadaan asam organik beracun maka tanah mineral, pupuk kandang dan abu sisa pembakaran dapat diberikan sebagai bahan amelioran untuk meningkatkan pH dan basa-basa tanah. Pengembangkan hutan rawa gambut menjadi lahan pertanian harus memerhatikan ekosistem lahan gambut yang dapat dicermati dari Peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dan alokasi Hutan Tanaman Industri (HTI) yang berada pada ekosistem kubah gambut.12P., Ill., Pd
Perubahan Penutup/Penggunaan Lahan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat Menggunakan Data LANDSAT Tahun 1990-2013
Wilayah Kabupaten Bekasi adalah salah satu lahan yang banyak dimanfaatkan sebagai tempat pengembangan kawasan industri karena lahan di wilayah Jakarta sudah semakin berkurang.Akibat banyaknya pengembangan kawasan industri maka terjadi perubahan penutup/pengguna lahan yang signifikan di wilayah Kabupaten Bekasi. Tujuan penelitian ini adalah memantau penutup/penggunaan lahan di wilayah Kabupaten Bekasi berdasarkan analisis citra satelit Landsat tahun 1990 dan 2013. Metode penelitian yang dilakukan adalah analisis data Landsat-TM tahun 1990 dan data Landsat 8 tahun 2013 dengan membuat citra gabungan Red Green Blue (RGB) dan citra klasifikasi. Citra klasifikasi dibuat rnenggunakan metode klasifikasi tak terbimbing (unsupervised) dengan tujuan menentukan luas dan perubahan penggunaan lahan dalam periode 1990 rampai 2013 (=.23 tahun). Hasil analisis menunjukkan bahwa dampak perubahan pertutup/penggunan lahan menyebabkan penggunaan lahan permukiman naik 406,20 hektare per tahun setara 0.32% dari total wilayah Kabupaten Bekasi dan laju penurunan lahan produktif untuk sawah rata-rata 748,83 hektare per tahun setara 0,58% dari total luas wilayah Kabupaten Bekasi dan lahan tegalan rata-rata 142 helmet per tahun atau 0,11% dari total luas wilayah Kabupaten BekasiHal.49-6
In-Situ Measurement of Diffuse Attenuation Coefficient and its Relationship with Water Constituent and Depth Estimation of Shallow Waters by Remote Sensing Technique
p.47-6
Identification of Mangrove Forest Damage by Using Object Based Image Analysis Study Case : Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Denpasar, Bali
Mangrove forest have several functions, namely preventing the instrusion of sea water, erosion, abrasion, and was instrumental in the formation of the island and stabilize the presence of coastal habitat. Mangrove forest ares of Denpasar, Bali is the largest mangrove forest in Indonesia. Taman Hutan Raya Ngurah Rai in 1993 has an area of 1373.50 ha based on the Ministerial Decree No.554/Kpt-II/1993. Remote sensing providing opportunities for identifying, monitoring, mappng and calculation of the extent of land cover and deforestation. This mapping is very effective and efficient, especially for areas changes from year to year, the research needs to be done to see how big the impact of land use change on forest area. One of the tecnologies and methods in the identification of remote sensing image information that is object-based image analysis (OBIA). OBIA classification process is an approach that not only take consider the spatial aspects but also the spatial aspects of the object. The research objective is to knowing the damage to mangrove forests and extensive damage at Tahura, Ngurah Rai, Bal 2015 by using remote sensing data Sentinel-2. This research develops methods for the identification of mangrove deforestation and Providing advice in the planning of land use in the management of coastal mangrove forests
RANCANG BANGUN SIMULATOR PEMBANGKIT DATA ATTITUDE CONTROL SYSTEM (ACS) STREAM
RINGKASANSebuah satelit membutuhkan sistem pengendalian untuk menentukan sikap (attitude) diluar angkasa agar bisa dikendalikan. Rotasi satelit berpotensi menyebabkan perubahan posisi satelit. Untuk itu diperlukan suatu mekanisme pengontrolan posisi satelit untuk menjaga posisi dan kesetimbangan. Tulisan ini menjelaskan perancangan, pembuatan, dan pengujian simulator data pembangkit data Attitude Control System (ACS) yang mampu menunjukkan hasil-hasil data dari sensor yang ada di satelit. Rancang bangun ini menggunakan mikrokontroller ATmega32, dengan perangkat lunak yang bekerja bahasa Basic Compiler, antarmuka serial RS422, perancangan desain simulator menggunakan software Proteus7, dan perancangan skematik dan layout PCB menggunakan software Eagle. Data yang dihasilkan mikrokontroller berupa data streaming secara continue dari format data yang telah ditentukan yang akan di teruskan ke Payload Data Handling (PDH) berbasis Field Programmable Gate Array (FPGA) melalui antarmuka serial RS422. Dari hasil pengujian di dapatkan simulator pembangkit data ACS mampu mentransmit data secara terus menerus sebanyak 248 byte secara continue dengan delay waktu 500ms.Hal. 19-28:ilus.; 30 c