7104 research outputs found
Sort by
AP2L Komisariat LAPAN Wujudkan Profesionalisme Pemangku Jabatan Fungsional Perencana
Hlm.14-1
Aplikasi Siforenmonev Memberi Inovasi Baru dalam Penyusunan Laporan Kinerja di LAPAN
Hlm. 16-1
DESAIN TIMING GENERATOR SEDERHANA PADA CCD LINIER MENGGUNAKAN MODUL FPGA = SIMPLE TIMING GENERATOR DESIGN FOR LINEAR CCD USING FPGA MODULE
Abstrak CCD linier secara umum digunakan sebagai sensor imager untuk satelit remote sensing. Pembuatan imager dari CCD membutuhkan komponen yang cepat dan berjalan paralel. Salah satu komponen yang sering digunakan adalah FPGA yang berfungsi mensinkronisasi berbagai komponen pendukung sampai dikeluarkannya sinyal video analog dan digitasi dengan analog digital converter. Proses sinkronisasi ini umumnya berupa timing generator yang spesifik dirancang sesuai dengan komponen yang digunakan. Untuk menyederhanakan pemrograman FPGA maka digunakan analisa timing diagram dari masing masing komponen dan dibuat tabel keluaran pada tiap fase konter FPGA. Cara ini sederhana dari segi pemrograman tetapi diperlukan analisa manual untuk membuat tabel keluaran dari timing generator. Pada penelitian ini akan dibahas proses desain timing generator, tabel keluaran sinyal per fase konter, hasil berupa sinyal analog dan hasil gambar dari CCD linier. Dengan cara sederhana tersebut telah berhasil dibuat timing generator yang handal untuk menghasilkan gambar. Abstract Linear CCD generally used for imager sensor in remote sensing Satellite. For build imager from CCD sensor need high speed device and parallel processing. Ones frequently device to do this job is FPGA which function to synchronize some support component until output of video analogue signal and digitation with analogue digital converter. Synchronization process generally called timing generator which specially design for some component used. For simplification of FPGA so timing diagram have analyzed from every component and output table created on every counter FPGA phase. This way is simple for programmer but need manual analysis for create output table for timing generator. In this research will discuss about design process of timing generator, output signal table each counter phase, analogue signal result and digital image result from linear CCD. This simple way is success to create robust timing generator for make digital images.Hlm. 198-205:Il; 29,7 Cm
ANALISIS PERBANDINGAN PENGARUH LILITAN DAN BAHAN ANTENA HELICAL S-BAND SEBAGAI PENERIMA DATA SATELIT LAPAN-A2/LAPAN-ORARI = COMPARATIVE ANALYSIS OF WINDINGS AND MATERIAL EFFECT OF HELICAL S-BAND ANTENNA AS THE LAPAN-A2/LAPAN-ORARI SATELLITE DATA RECEIVER
Abstrak Pada makalah ini memaparkan hasil dari penelitian mengenai desain dan realisasi antena helix 4 dan 5 lilitan untuk ground station satelit mikro yang bekerja pada frekuensi S-band 2,2 GHz yang berfungsi untuk menerima sinyal data payload hasil penginderaan dari satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI. Pembuatan dan realisasi antena helix ini juga dilengkapi dengan perhitungan link budget antena dan pembuatan aplikasi perhitungan link budget. Antena helix mempunyai kemampuan mengatasi rotasi Faraday akibat putaran ion yang ada di atmosfer sangat diperlukan oleh antena penerima S-Band ini sehingga antena tersebut harus berpolarisasi sirkular[1][5]. Untuk mendapatkan antena yang optimal, penelitian ini membuat empat macam antena dengan perbadaan masing-masing parameter untuk dibandingkan yaitu parameter lilitan 4 dan 5 lilitan, dan parameter bahan yaitu kawat tembaga dan kuningan. Sehingga didapatkan antena dengan hasil gain tinggi dan efisiensi. Reflektor parabola digunakan pada antena helix untuk meningkatkan gain dan direktivitas[3][6]. Hasil simulasi serta implementasi menunjukkan bahwa antena helix yang telah memenuhi kriteria desain adalah antena helix 5 lilitan bahan tembaga dan 5 lilitan bahan kuningan. Pola radiasi yang dihasilkan merupakan directional Nilai return loss dari hasil pengukuran bernilai -11.9 dB dengan VSWR 1.69 untuk 5 lilitan bahan tembaga dan bernilai -14.38 dB dengan VSWR 1.47 untuk 5 lilitan bahan kuningan. Penambahan satu lilitan meningkatkan gain sebesar 1,9%. Impedansi hasil pengukuran sebesar 35,36 ? untuk 5 lilitan bahan tembaga dan sebesar 67,00 ? untuk 5 lilitan bahan kuningan. Abstract This research showed about the design and realization of helix antenna 4 and 5 loops for ground satellite satellites working on the frequency of S-band 2.2 GHz that serves to receive data signal payload of sensing results from satellites LAPAN-A2/LAPAN-ORARI. The design and realization of helix also included calculation of antenna link budget as antenna receiver for LAPAN-A2 satellite and design the application of link budget calculation. Helix antenna has the ability to overcome the Faraday rotation due to the rotation of ions in the atmosphere is needed by the antenna S-Band Receiver so that the antenna must be circular polarized. To obtain the optimum antenna, this study realizes four kinds of antennas with the proportion of each parameters to be compared i.e. the winding coil 4 and 5 winding, and the material parameters i.e. copper and brass wire. So we get the antenna with high gain and efficiency. The parabolic reflector is used on the helix antenna to increase gain and directivity. Simulation and implementation results show that the helix antenna that has met the design criteria is a helix antenna 5 copper wire and 5 coils of brass material. The resulting radiation pattern is directional. The return loss value of the measurement result is -11.9 dB with VSWR 1.69 for 5 copper coils and a value of -14.38 dB with VSWR 1.47 for 5 coils of brass material. The addition of one winding increases the gain by 1.9%. The measurement impedance is 35.36 ? for 5 copper wire and 67.00 ? for 5 coils of brass.Hlm. 206-215:Il.;29,7 Cm
METODE ESTIMASI JARAK GROUND-RUN UAV DENGAN MENGGUNAKAN DATA GPS ESTIMATING GROUND-RUN DISTANCE OF UAV BY APPLYING GPS DATA
Abstrak UAV (Unmanned Aerial Vehicle) merupakan pesawat udara tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh dengan menggunakan radio control atau sistem autopilot yang mampu menerbangkan pesawat secara otomatis. Suatu UAV dinilai memiliki prestasi terbang yang baik jika memenuhi spesifikasi yang ditentukan oleh penggunanya. Salah satunya adalah kemampuan untuk take-off dan landing di landasan pendek. Semakin pendek jarak take-off dan landing suatu UAV, maka semakin efektif dan efisien UAV tersebut dari segi ekonomi dan operasional. Proses take-off terbagi menjadi dua fase yaitu fase ground-run dan fase airborne. Ground-run merupakan bagian dari fase take-off pada UAV dimana posisi UAV masih berada dalam landasan pacu saat pesawat bergerak dari V=0 hingga mencapai Vr (rotation speed) untuk melakukan gerakan pitch-up. Beberapa metode yang digunakan untuk menentukan estimasi jarak ground-run antara lain dengan observasi menggunakan penandaan pada runway, perhitungan awal sebelum terbang, menggunakan rekaman konvensional dan differential GPS. Metode penentuan jarak ground-run dengan penggunaan rumus standard melibatkan operasi matematika yang kompleks dan membutuhkan parameter ukur yang sangat akurat. Dalam kajian ini penentuan jarak ground-run dilakukan dengan menggunakan titik koordinat longitudinal dan latitude saat UAV dalam posisi V=0 hingga mencapai Vr. Sistem koordinat diperoleh dari data hasil uji terbang UAV. Hasil kajian perhitungan jarak ground-run dari selisih koordinat kemudian di konversikan dalam satuan meter. Dari penggunaan metode estimasi jarak ground-run tersebut diperoleh hasil yang akurat dengan waktu perhitungan lebih cepat, sederhana, dan praktis. Abstract UAV (Unmanned Aerial Vehicle) is an aircraft with no human on board which remotely controlled or able to fly automatically by the aid of autopilot system. The optimum flight performance considered as one of user requirements. The shorter take-off or landing distance become preferable feature required by the user. UAV with shorter take-off and landing distance will be more effective and efficient in economical and operational aspects. The take-off process consists of two phase, the ground-run and airborne. The ground-run is take-off phase which aircraft accelerates from stop (V=0) to rotation speed (Vr). There is a variety of method to measure ground-run distance such as observation by applying high-speed photography, marking the runway, inertial method, conventional data recording or differential GPS. The ground-run distance prediction method employing standard formulas involves complex mathematical operation and required accurate parametric standard measurement. This paper studied the estimation method of ground-run distance by determining the longitude and latitude coordinate when UAV on stop position with V=0 till accelerated up to rotation speed (Vr). Coordinate systems of longitude and latitude were taken from UAV data flight test. The estimated ground-run distance will be calculated from the coordinate difference which converted to length dimension. This method was produce more accurate result of ground-run distance. This method can be easily implemented to many types of UAV with more practical and simpler estimation.Hlm. 216-221:Il.; 29,7 Cm
Abstrak Desain grain propellant merupakan hal yang penting dalam desain motor roket. Besar total impuls dan Isp dari motor roket dipengaruhi oleh desain grain propellant. Salah satu cara untuk mendapatkan bentuk grain propellant yang menghasilkan nilai total impuls maksimal adalah dengan menggunakan metode Real Code Genetics Algorithm (RCGA). Masalah dari RCGA yaitu sulit untuk menghasilkan bilangan bulat. padahal jumlah-N pada star grain merupakan bilangan bulat. Konsekuensinya diharuskan menerapkan RCGA pada setiap-N. Hasil eksperimen menunjukan untuk jumlah N 3 dan 4 optimasi sulit untuk konvergen dan sulit untuk mendapatkan nilai maksimal, sementara untuk N 5,6,7 lebih cepat konvergen dan dapat memenuhi target optimasi dengan batasan Fitness evaluation pada Genetics Algorithm kurang dari 10000. Abstract Grain propellant design is important in rocket motor design. The total impulse and Isp of the rocket motor is influenced by the grain propellant design. One way to get a grain propellant shape that generates the maximum total impulse value is to use the Real Code Genetic Algorithm (RCGA) method. The problem of RCGA is that it is difficult to generate integers, when the number of N-in star grains is an integer. The consequences are required to apply RCGA to each N. The experimental results show that the number of N3 and 4 optimizations is difficult to converge and it is difficult to achieve maximum value, while for N 5.6,7 converges faster and can meet the optimization target with Genetics Algorithm Fitness evaluation less than 10000.Hlm. 340-349:Il.; 29,7 Cm