7104 research outputs found
Sort by
Maksimalisasi Kesintasan (Surviv Ability) Misil Melalui Implementasi Panduan Manuver menghindar (Survival Maximization Of Missile BY Implementing Evasive maneuver Guidance)
Pertimbangan utama dalam perancangan hukum panduan misil serangan darat saat ini adalah adanya misil pencegat dalam sistem pertahanan udara musuh. Hukum panduan misil yang terakhir dikembangkan memiliki enam karakteristik, yaitu membangkitkan manuver menghindar misil pencegat, tepat sasaran, kendali sudut perkenaan, pembatasan sudut pandang penjejak, pembatasan perintah percepatan, dan percepatan akhir nol. Namun hukum panduan ini hanya efektif pada satu kecepatan misil pencegat. Untuk memperluas cakupan kecepatan misil pencegat dan tetap memaksimalkan kesintasannya, naskah ini menawarkan weighting gain yang diaplikasikan pada persamaan perintah panduan. Weighting gain tersebut merupakan fungsi rasio kecepatan misil pencegat terhadap kecepatan misil penyerang. Dengan mengaplikasikan weighting gain, untuk kecepatan misil pencegat V1=230 m/s, peta kesintasan dapat dimaksimalisasi dari 135,32% menjadi 170,2% relatif terhadap kesintasan tanpa manuver menghindar. Hasil signifikan ditunjukan untuk kecepatan misil pencegat V1= 240 m/s, dimana peta kesintasan dapat diminimalisasi dari 51,27% menjadi 118,31% relatif terhadap kesintasan tanpa manuver menghindar. Dengan mengaplikasikan weighting gain ini, peta kesintasan pada skenario serangan darat dapat dimaksimalisasi. Hasil simulasi ini menunjukkan bahwa konsep maksimalisasi kesintasan manuver menghindar misil pencegat dapat divalidasi secara numerik.Hlm. 44-5
KOMUNIKASI VOICE REPEATER SATELIT LAPAN-A2/LAPAN-ORARI UNTUK MITIGASI BENCANA ALAM COMMUNICATION VOICE REPEATER OF LAPAN-A2/LAPAN-ORARI SATELLITE FOR NATURAL DISASTER MITIGATION
Satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI diluncurkan 28 September 2015, di India jam 11.30 WIB. Roket peluncur yang dioperasikan Organisasi Riset Antariksa India (ISRO) tersebut membawa muatan tujuh satelit, terniasuk satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI. Satelit ini membawa muatan utamanya yaitu Digital Space Camera, Analog Video Camera, MS (Automatic Identifications Sistem), APRS dan VR (Voice Repeater), dengan muatan yang dibawanya tersebut maka misi utama Bari Satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI ini antara lain untuk misi surveillance (pengamatan), pemantauan kapal laut dan komunikasi amatir, komunikasi amatir ini terdapat 2 muatan yaitu APRS dan VR, Voice Repeater inilah yang menjadi pokok bahasan di dalam karya tulis ilmiah ini. Dengan ketinggian sekitar 640 Km di atas permulcaan laut dan sudut inklinasi 6 derajat pada orbit ekuator, maka satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI akan mengorbit dari wilayah barat bagian Indonesia sampai ke wilayah timur sebanyak 14 kali dalam sehari, kondisi ini sangat cocok untuk komunikasi (mitigasi bencana) karena frekuensi yang sering dilalui dan wilayah seluruh Indonesia yang tercakup dari Sabang sampai Merauke. Untuk dapat mengalcusisi data komunikasi VR (Voice Repeater) ini maka diperlukan rancang bangun alat dan bahan yang akan digunakan di dalam penelitian ini, seperti penggunaan dual band frekuensi radio untuk uplink dan downlink, penggunaan antena UHF dan VHF sampai ke konfigurasi pengaturan tone untuk masuk ke repeater tsb.Hlm. 17-2
Simulasi Drop Test Nose Landing Gear LSU-02 Menggunakan Pendekatan Multi-Body Simulation (MBS) Rigid Models (Drop Test Simulation of LSU-02 Nose Landing Gear Via Multi-Body Simulation (MBS) Rigid Models
Hlm. 232-23
NIlai Kekuatan Tarik Komposit Serat E-Glass 45o Dengan Matriks Polyster Untuk Struktur LSU (LAPAN Surveillance UAV) (Tensile Properties E-Glass 45o Fiber Wth Matriks Polysther Composite As Structure Of LSU)
Hlm. 271- 27
ANALISIS KINERJA PROPELAN LAPAN BERDASARKAN DENSITAS-ISP PERFORMANCE ANALYSIS OF LAPAN PROPELLANT BASED ON DENSITY-ISP
Telah dilakukan analisis kinerja propelan LAPAN dengan cara membandingkan terhadap kinerja propelan dari Industrial Solid Propulsion, Inc (ISP) sebagai standar. Pembandingan dilakukan menggunakan data perkalian Isp (Impuls spesifik) dan massa jenis (densitas). Propelan LAPAN yang dibuat dengan komposisi Solid Content (SC) 85% Amonium Perklorat (AP) 77%, Aluminium bubuk 8%), Binder 15% menghasilkan massa jenis 1,67 gr/cc Impuls spesifik 206 detik, sehingga hasil perkalian massa jenis dan impuls spesifik 317,3. Sementara propelan standar dengan komposisi AP/Al/binder memiliki massa jenis 1,781 gr/cc Impuls spesifik 262,2 detik dengan hasil kali massa jenis dan impuls spesifik 467. Melalui rasio propelan LAPAN terhadap propelan ISP bisa dinyatakan sebagai kinerja propelan LAPAN sebesar 68%. Peningkatan Impuls spesifik bisa diupayakan dengan menaikkan kandungan dan kemurnian Aluminium, menambahkan modifier (percepatan pembakaran). Kata kunci: kinerja, propelan LAPAN, densitas.Isp.Hlm. 264- 27
Analisis Misalignment Citra Multispektral Terhadap Citra Pankromatik Pada Data Worldview-2 = (Misalignment Analysis Of Multispectral Image On Panchromatic Image In Worldview-2 Data)
Data standar Worldview-2 yang dimiliki oleh LAPAN merupakan data Ortho-Ready Standardlevel 2 (OR2A) yang terdiri dari 4 kanal multispektral (biru, hijau, merah, NIR) dan satu kanal pankromatik masing-masing memiliki resolusi spasial 2 meter dan 0,5 meter. Kedua kanal tersebut memiliki metadata dan RPC yang berbeda, sehingga memungkinkan untuk melakukan koreksi geometrik secara terpisah. Tulisan ini membahas tentang analisis misalignment citra multispektral terhadap citra pankromatik dibandingkan dengan yang telah terkoreksi geometrik sistematik. Metodeyang digunakan adalah fast fourier transform phase matching dengan mengambil 500 titik ikat antara kedua citra tersebut. Hasil pengukuran membuktikan bahwa citra multispektral data Worldview-2 level OR2A memiliki pergeseran yang lebih besar dibandingkan dengan citra multispektral yang terkoreksi geometrik sistematik. Citra multispektral data OR2A bergeser 2,14 meter pada sumbu X dan 0,42 meter pada sumbu Y. Sedangkan citra multispektral data terkoreksi geometrik sistematik bergeser 1,72 meter pada sumbu X dan 0,54 meter pada sumbu Y.Hlm. 47 - 5
Harmful Algal Bloom 2012 Event Verification in Lampung Bay Using Red Tide Detection on SPOT 4 Image
In mid-December 2012, harmful algal bloom phenomenon occurred in Lampung Bay. Harmful Algal Bloom (HAB) is blooming of algae in aquatic ecosystems. It has negative impact on living organism, due to its toxic. This study was applied Red Tide (RT) detection algorithm on SPOT 4 images and verified the distribution of HAB 2012 event in Lampung Bay. The HAB event in 2012 in Lampung Bay can be detected by using RT algorithm on SPOT 4 images quantitatively and qualitatively. According to field measurement, the phytoplankton blooming which happen at Lampung Bay in 2012 were Cochlodinium sp. Image analysis showed that Cochlodinium sp has specific pattern of RT with values, digitally, were 13 to 41 and threshold value of red band SPOT 4 image was 57. The total area of RT distribution, which are found in Lampung Bay, was 11,545.3 Ha. Based on the RT classification of RT images and field data measurement, the RT which is caused many fishes died on the western coastal of Lampung Bay spread out from Bandar Lampung City to Batumenyan village. By using confusion matrix, the accuracy of this this method was 74.05 %. This method was expected to be used as early warning system for HAB monitoring in Lampung Bay and perhaps in another coastal region of Indonesia.p.1-
KONSEP DAERAH ALIRAN UDARA ERUPSI GUNUNG API DAN APLIKASINYA
RINGKASANErupsi (letusan) gunung api memang tidak dapat diketahui sebelumnya, tetapi dari beberapa kali erupsi suatu gunung api dapat diketahui pola penyebaran awan panas, emisi gas vulkanik beracun, dan hujan debu sehingga dapat dibuat peta daerah aliran udara erupsi gunung api. Penyebaran awan panas, emisi gas vulkanik, dan hujan debu dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin lokal (setempat) seperti arah dan kecepatan angin gunung dan angin lembah. Perpaduan antara peta daerah aliran udara erupsi gunung api dan aliran sungai serta informasi spasial lain dapat digunakan sebagai pedoman untuk pembuatan jalur evakuasi warga sekitar gunung api ketika erupsi terjadi. Jalur evakuasi ini akan dibuat menghindari daerah aliran udara erupsi gunung api dan juga menghindari daerah aliran sungai atau genangan lahar dingin. Jalur evakuasi ini akan dibuat menuju bunker atau lokasi fasilitas umum/fasilitas sosial yang dimiliki pemerintah desa setempat atau menuju lokasi pengungsian. Adanya jalur evakuasi ini diharapkan dapat mengurangi korban erupsi gunung api.Hal. 37-42:ilus.; 30 c
Valuasi Jumlah Air Di Ekosistem Lahan Gambut Dengan Data Landsat 8 Oli/Tirs
Ekosistem lahan gambut menyimpan air dalam bentuk gas di udara, dan cair dalam tanah gambut dan vegetasi. Keberadaannya mempengaruhi nilai spektral radians yang diterima oleh sensor satelit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan model empirik yang dapat diaplikasikan untuk interpretasi citra satelit dalam pendugaan jumlah air di ekosistem lahan gambut. Metode penelitian terdiri dari pengukuran lapangan dan interpretasi data satelit LANDSAT 8. Parameter cuaca seperti radiasi, suhu udara, suhu permukaan, evapotranspirasi (ET), kelembaban udara (RH), kadar air tanah (KAT) dan biomassa diukur di lapangan pada setiap jenis tutupan lahan. Hasil-hasil pengukuran lapangan digunakan untuk memvalidasi parameter-parameter yang diturunkan dari data satelit LANDSAT 8. Jumlah air di udara yang dinilai dari ET dan RH, jumlah air di tanah dinilai dengan laju pemanasan tanah (G) dan jumlah air di vegetasi dengan biomassa. Hasil validasi antara data lapangan dengan data LANDSAT 8 menunjukkan hanya nilai ET (r2=0,71), RH (r2=0,71), dan biomassa ((r2=0,87) mempunyai hubungan yang kuat, sedangkan nilai G tidak mempunyai hubungan yang kuat dengan KAT. Penelitian ini menyimpulkan bahwa data satelit LANDSAT 8 hanya dapat digunakan untuk menghitung jumlah air yang tersimpan di udara dan vegetasi. Oleh karena itu, pendugaan jumlah air di ekosistem lahan gambut dengan data satelit hanya dapat dilakukan di atas permukaan.Hlm. 11-2
Analisis Spektral dan Tekstur Citra Remote Sensing berbasis Unsupervised Gaussian Mixture Learning (Studi Kasus: Perancak, Kabupaten Jembrana, Bali) = Spectral and Texture Analysis of Remote Sensing Based on Unsupervised Gaussian Mixture Learning (Case Study: Perancak, Bali, Indonesia)
Pengembangan metode analisis citra satelit resolusi tinggi penting dilakukan untuk mendukung aplikasi penggunaan data citra remote sensing yang luas diantaranya untuk klasifikasi dan deteksi perubahan objek. Permasalahan utama pada citra resolusi tinggi adalah besarnya data dan tingginya variansi nilai spektral. Tulisan ini betujuan untuk melakukan klasifikasi data citra VHR berbasis unsupervised gaussian mixture learning menggunakan dua variabel yaitu spektral dan tekstur untuk memperoleh tingkat akurasi yang tinggi dan mendukung pengklasifikasian otomatis. Citra resolusi tinggi yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra satelit Worldview-2, studi kasus di Jembrana, Bali. Penggunaan metode ini menunjukkan akurasi yang lebih tinggi dibandingkan metode klasik berbasis piksel.Hlm. 15-2