7104 research outputs found
Sort by
Analisis Pemilihan Propeller Mesin Pesawat Tanpa Awak LSU 03 = Propeller Engine Selection Analysis For Unmanned Aircraft LSU 03
Pesawat tanpa awak LSU-03 merupakan pesawat surveillance yang dikembangkan oleh LAPAN.Sebelum melakukan misi terbangnya, dilakukan uji statik propulsi pesawat LSU-03 di laboratoriumpropulsi guna mengetahui kemampuan mesin dan pemilihan propeller yang tepat untuk menghasilkangaya dorong (thrust) yang sesuai dengan pesawat dan misi yang akan dilakukan. Mesin yang digunakan pesawat LSU-03 adalah mesin piston berkapasitas 60 cc dengan kemampuan 6 hp pada rpm maksimum8000. Pengujian dilakukan dengan menggunakan meja uji mesin yang sudah dimodifikasi agarmenyerupai posisi pemasangan di pesawat. Propeller yang diuji adalah jenis 3 bilah propeller berukuran 20 x 10 dan 21 x 14. Adapun sensor yang digunakan untuk mengukur thrust berupa load cell tipe S beam berkapasitas 100 KgF. Data hasil pengukuran ditampilkan dan diakuisi langsung ke komputerdengan menggunakan antarmuka GUI dari LabView. Hasil uji mesin yang diperoleh kemudian divalidasidengan membandingkan dengan hasil perhitungan menggunakan aplikasi kalkulator propeller. Hasil yang diperoleh pada perhitungan untuk propeller berukuran 20 x 10 pada rpm 7000 adalah sebesar 12.7KgF, dan untuk propeller berukuran 21 x 14 pada rpm 5200 adalah sebesar 10.2 KgF, sedangkan hasilpengujian diperoleh berurut sebesar 9.82 dan 7,3 KgF. Dari hasil perhitungan dan pengujian yang telahdilakukan, menunjukkan bahwa propeller 21 x 14 tidak memenuhi 1/3 dari Maximum Take Off Weight(MTOW) LSU 03 dan hanya mampu dimaksimum 5200 rpm, sehingga direkomendasikan untuk dipasangpada pesawat LSU-03 adalah 3 bilah propeller berukuran 20 x 10.Hlm. 23-3
BENTUK KELEMBAGAAN KAWASAN STRATEGIS NASIONAL BANDAR ANTARIKSA = INSTITUTIONAL STRUCTURE OF SPACEPORT NATIONAL STRATEGIC REGION
Dinamika penyelenggaraan keantariksaan di Indonesia membuka peluang bagi non Pemerintah berkontribusi sebagai penyelenggara Kawasan Bandar Antariksa ke depan. Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan menyatakan bahwa Kawasan Bandar Antariksa ditetapkan sebagai KSN Bandar Antariksa. Sejumlah kriteria menjadi prasyarat penetapan KSN Bandar Antariksa, termasuk kelembagaan. Tulisan ini dimaksudkan untuk menganalisis kriteria kelembagaan yang tepat bagi KSN Bandar Antariksa. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Data penelitian dari hasil penelitian terkait serta berbagai literatur sesuai topik penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa: 1) kriteria kelembagaan yang ada perlu disesuaikan dengan tipologi KSN Bandar Antariksa; 2) pemrakarsa kegiatan mempengaruhi bentuk kelembagaan KSN Bandar Antariksa. Apabila pemrakarsa adalah pemerintah, maka bentuk kelembagaannya setingkat Unit Pelaksana Teknis di bawah lembaga yang tugas dan fungsinya menjamin pelaksanaan peluncuran di KSN Bandar Antariksa secara aman dan selamat. Sedangkan bentuk kelembagaan setingkat Unit Pengelola yang memiliki koordinasi dengan lembaga dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dinilai cukup sesuai bagi pemrakarsa non pemerintah.Hlm. 37-4
The use of satellite beacon TEC data from GRBR campaign-based observations for ionosphere tomography over West Java Indonesia
The experiment of ionospheric tomographic reconstruction using satellite beacon TEC data from two or more adjacent GRBR observation stations following equatorial latitude and longitude have been conducted on campaign-based observation in Sumedang, Pameungpeuk and Indramayu West Java on 2016 and 2017. The reconstruction technique utilized is a simple algebraic reconstruction technique (ART). The result obtained is the ionosphere electron density distribution along the longitude of 108 degrees East over the area of West Java and Indonesia. The ionosphere electron density parameters obtained from the IRI-2012 Model were used as the initiation to construct ionospheric tomographic reconstruction. The validation performed by correlating foF2 from the ionospheric tomographic reconstruction with foF2 obtained from ionosonde observation at Sumedang station, one of the GRBR observation sites shows that corresponded to the correlation coefficient value of 0.8665, with a bias frequency of 1.386 MHz, whereas the correlation with the maximum electron density value obtained from the IRI-2016 model gives a correlation coefficient value of 0.8958. a bias frequency of 1.386 MHz, whereas the correlation with the maximum electron density value obtained from the IRI-2016 model gives a correlation coefficient value of 0.8958.Hlm.85-9
Identification of Ex-Sand Mining Area Using Optical and SAR Imagery
Open mining activities in Sumedang Regency has been operated since 1984 impacted to degradation of environment due to large area of ex-mining. Therefore, identification of exmining area which generally been used for sand mining is crucial and important to detect and monitor recent environmental degradation impacted from the ex-mining activities. In this research, identification ex-sand mining area using optical and SAR data in Sumedang Regency will be discussed. We use Landsat 5 TM acquisition date August 01, 2009 and Landsat 8 OLI acquired on June 24, 2016 to identify location of sand mining area, processed using Tasselled Cap Trasformation (TCT), while the landform deformation approached using ALOS PALSAR in 2009 and ALOS PALSAR 2 in 2016 processed using SAR interferometry (InSAR) method. The results show that TCT and InSAR method can can be used to identify the areas of ex-sand mining clearly. In 2016 the total area of ex-mining were 352.92 Ha. The land deformation show that during 7 years period since 2009 has impacted to the deformation at 7 meters.hlm. 1-
Deteksi Awan Pada Citra Satelit SPOT-6/7 Menggunakan Metode Multi-Temporal Cloud Detection (MTCD)
Ketersediaan data wilayah Indonesia dengan nilai tutupan awal minimal harus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Pemrograman permintaan (programming request) data citra satelit area tertentu dapat dimanfaatkan untuk memperoleh data citra dengan nilai tutupan awan minimal. Persentase tutupan awan citra hasil perekaman dapat diminimalisir dengan rekomendasi waktu perekaman yang tepat. Rekomendasi waktu perekaman dihasilkan dari cloud coverassesment, dimana untuk melakukan cloud cover assesmentterlebih dahulu harus dilakukan deteksi awan pada citra satelit. Deteksi awan adalah proses memberi label pada setiap piksel dari suatu citra satelit yang menunjukkan piksel tersebut sesuai dengan awan atau tidak. Citra satelit SPOT-6/7 tidak memiliki kanal termal untuk mendeteksi awan yang memiliki suhu rendah. Metode Multi-Temporal Cloud Detection (MTCD) dapat digunakan untuk melakukan deteksi awan pada citra satelit SPOT-6/7.Hlm. 4-
Metode Klasifikasi Awan Pada Citra Landsat-8
Keberadaan awan pada citra satelit optis dapat mengganggu proses pengolahan dan analisis interpretasi citra, terutama bagi Indonesia yang merupakan negara tropis yang sering tertutup awan sepanjang tahun. Oieh karena itu, perlu dilakukan klasifikasi awan sebelum pengolahan citra lebih lanjut. Artikel ini menawarkan metode lain untuk mengklasifikasi awan, yaitu Genetic algorithm initializing K--means (GAIK). GAIK merupakan metode pengelompokan data yang mengombinasikan metode K-means dengan algoritma genetika, dimana centroid-centroid yang digunakan pada metode K-means diperoleh dari hasil optimisasi algoritma genetika. Hash eksperimen pada citra Landsat-8 menunjukkan bahwa GAIK dapat digunakan untuk mengklasifikasi awan dengan hasil yang cukup baik.Hlm. 48-5