7104 research outputs found
Sort by
Sistem Stasiun Bumi Pemancar Dan Penerima Data APRS Pada Satelit LAPAN-A2: APRS Ground Station System On LAPAN-A2 Satellite
Satelit LAPAN-A2 merupakan satelit kedua LAPAN yang dirancang untuk mendukung mitigasi bencana . Salah satu standar komunikasi radio amatir (ORARI). Dalam maklah ini telah dipaparkan mengenai sistem Stasiun Bumi yang digunakan untuk penerimaan dan pengiriman sinyal APRS melalui satelit LAPAN A2. Paparan meliputi konfigurasi hardware dan software, cara pengoperasian dan hasil percobaan akuisisi data. Dari sistem ini kita dapat mengetahui apakah pesan yang dipancarkan oleh stasiun bumi dapat diterima oleh stasiun bumi lain serta dapat menerima dengan baik pesan yang berasal dari satelit atau dari stasiun bumi APRS yang lain.Hlm. 11-2
Otomatisasi Penjadwalan Misi Pengamatan Medan Magnet Bumi LAPAN-A3 Menggunakan Metode Fixed Radius Near Neighbors (Automous LAPAN-A3 Earth Magnetic Field Observation Mission Scheduling By Using Fixed-Radius Near Neighbors Method)
Pengamatan medan magnet bumi merupakan salah satu misi dari satelit LAPAN-A3. Pada tahun pertama satelit LAPAN-A3 lebih berfokus pada misi pengamatan bumi dengan kamera multispectral yang mengakibatkan misi pengamatan medan magnet bumi belum optimal. Dari pengamatan medan magnet bumi yang telah dilakukan menunjukkan sebaran wilayah cakupan belum merata. Pada penelitian ini disusun sistem otomatisasi penjadwalan misi pengamatan medan magnet bumi pada satelit LAPAN-A3 menggunakan metode fixed-radius near neighbors. Dari metode yang disusun telah berhasil memberikan rekomendasi penjadwalan misi pengamatan medan magnet bumi untuk melengkapi data yang telah diperoleh sebelumnya. Dalam waktu kurang dari 3 bulan penerapan metode ini cakupan medan magnet bumi naik 38,19% menjadi 60,34% untuk resolusi 1o.Hlm. 61-6
Simulasi Kendali Sikap Pesawat LSU-02 Dengan Metode Hardware-In-The-Loop Simulation (Attitude Control Simulations Of LSU-02 Aircraft With Hardware-In-The-Loop Simulation Methode)
Pengembangan sistem kendali sikap LSU_02 telah dilakukan dengan metode hardware in-the Loop simultion (HILS) . Sistem Kendali yang digunakan pada LSU-02 yaitu autopilot pixhawk yang dapat difungsikan secara HILS, Pada HILS autopilot pixhawk mengendalikan sikap LSU-02 dengan menerima data sikap pesawat dari data simulasi X-Plane secara langsung sehingga sensor IMU tidak dipakai. Oleh karena itu dilakukan desain dan simulasi untuk kendali sikap LSU 02 dengan HILS dengan menambahkan gimbal riil. Pengujian dilakukan dengan tuning PID untuk gerak roll dan pitch dan membandingkan respon gerak pesawat LSU-02 dengan metode HILS dengan gimbal dan tanpa gimbal. Hasilnya didapatkan bahwa dengan gimbal riil sensor IMU autopilot pixhawk berfungsi langsung sebagai unoan balik kendali dan menghasilkan overshoot yang lebih besar dari pada tanpa gimbal karena adanya tandaan (delay) respon gerak gimbal terhadap gerak disimulasi X-Plane. HILS dengan gimbal riil dapat digunakan untuk pengujian sistem kendali sikap autopilot secara langsung sekaligus dengan sensornya.Hlm. 138-14
Perancangan Antena Untuk Penerimaan Secara Langsung Data Satelit Resolusi Tingkat Tinggi (Antenna Desgn For Very High Satellite Resolution Data Direct Receiving)
Data satelit resolusi sangat tinggi/very high resolution satellite image (VHRSI) dengan lisensi Pemerintah Indonesia dibutuhkan oleh Kementerian/Lembaga, TNI, Polri, serta Pemerintah Daerah untuk mendukung program prioritas nasional. Saat ini, Indonesia belum memiliki fasilitas penerima data VHRSI secara langsung. Sesuai UU 21/2013 tentang keantariksaan, LAPAN wajib menyediakan data satelit resolusi tinggi, dan berdasarkan roadmap penyediaan data satelit tahun 2017, LAPAN akan menyediakan fasilitas penerimaan data satelit resolusi sangat tinggi secara langsung /direct receiving system (DRS). Penyediaan data VHRSI melalui DRS akan jauh lebih efisien dibanding dengan metode lainnya. Prioritas penyediaan data satelit yang dimaksud adalah data pleiades dan TerraSAR-X yang beroperasi pada kisaran frekuensi 8 GHz (X-band). Untuk menerima kedua data tersebut dibutuhkan subsistem antena dengan coverage optimum seluruh wilayah Indonesia. Parameter untuk memperoleh spesifikasi antena minimum yang diperlukan antara lain Free Space Loss (FSL), carrier to Noise Ratio(C/No) dan Antenna Gain to noise temperature (g/T). Hasil perhitungan kebutuhan G/T antena dilakukan untuk kedua satelit berdasarkan parameter satelit serta analisis ketersediaan produk antena di pasaran. Dari parameter satelit diperoleh perhitungan nilai G/T minimum pada elevasi 5 derajat sebesar 27,71 dB/K untuk penerimaan data pleiades dan nilai G/T minimum sebesar 26,10 dB/K untuk penerimaan data TerraSAR-X. Sedangkan berdasarkan perhitungan produk antena yang tersedia dipasaran diperoleh nilai G/T sebesar 33,45 dB/K untuk pada elevasi 5 derajat dengan diameter antena 7,5 meter. Hasil analisis menunjukkan nilai G/T minimum untuk menerima data pleiades dan TerrSAR-X adalah 28dB/K, dan berdasarkan analisis produk antena yang tersedia dipasaran memenuhi pesifikasi kebutuhan minimum dan memungkinkan untuk dapat menerima data kedua satelit tersebutdengan nilai G/T mencapai 33 dB/K pada elevasi 5 derajat jika menggunakan antena berdiameter 7,5 meter. Namun kedua nilai perhitungan tersebut belum diterapkan dan dievaluasi secara langsung terhadap subsitem antena yang akan dipasang di Stasiun Bumi Penginderaan Jauh (SPBJ) Pare-Pare, Sulawesi Selatan.Hlm. 149-16
Peningkatan Response Dan Load Time Dalam Menampilkan Citra Satelit Penginderaan Jauh Pada Aplikasi Web GIS Sistem Pemantauan Bumi Provinsi = Increase In Response And Load Time Image To Display Remote Sensing Satellite Image On Web GIS Provincial Based Earth Monitoring System Application
Sistem Pemantauan Bumi Provinsi (SPBP) LAPAN disediakan untuk memenuhi kebutuhan pemerintah daerah terhadap pengelolaan dan pendistribusian data informasi geospasial penginderaan jauh dan data geospasial tematik. Pemetaan GIS (Geographic Information System) melalui Web atau dengan Web GIS menjadi salah satu cara untuk menampilkan dan mendistribusikan data citra satelit secara online. Web GIS ini dibangun untuk memberikan kemudahan dan kecepatan akses oleh pengguna. Kecepatan mengakses data Web Map Service (WMS) pada sistem SPBP dirasa cukup lambat seiring dengan peningkatan volume data diproses. Penelitian ini bertujuan meningkatkan performa Web GIS dalam menanggapi permintaan pengguna dan kecepatan menampilkan data (load time) mosaik Landsat-8 dan SPOT-6/7. Objek pengujian pada penelitian ini adalah citra wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Uji performa dilakukan dengan membandingkan beberapa ukuran tile map antara metode Web Map Tile Service (WMTS) dan manual tiling sebagai solusi menggantikan sistem WMS. Hasil pengukuran respon permintaan penggunan pada sistem WMTS dan manual tiling menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan. Tetapi tile map WMTS jauh lebih cepat dalam menampilkan data mosaik yang mencapai angka rata-rata kurang dari 3 detik. Berdasarkan hasil penelitian ini Web GIS dengan metode WMTS menjadi basis pengembangan SPBP, dalam rangka optimalisasi kecepatan akses data citra mosaik Landsat-8 dan SPOT-6/7.Hlm. 101-10
TINJAUAN ASPEK TEKNIS DAN YURIDIS KEGIATAN EKSPLORASI ANTARIKSA DAN DAMPAKNYA BAGI LAPAN = THE OVERVIEW OF TECHNICAL AND LEGAL ASPECTS OF SPACE EXPLORATION AND ITS IMPACTS FOR LAPAN
RINGKASAN Kemajuan teknologi antariksa memungkinkan manusia melakukan eksplorasi antariksa baik secara mandiri maupun melalui kerjasama internasional. Secara teknis kegiatan eksplorasi antariksa sudah dimulai sejak proyek Apollo 11 menerbangkan manusia ke bulan dan mengembalikannya ke bumi dengan selamat menggunakan roket Saturn V milik Amerika tahun 1969. Kemampuan teknologi transportasi antariksa semakin canggih menggunakan Space Launch System (SLS) Orion untuk misi Deep Space yang dirancang NASA mampu melakukan perjalanan antar planet. Perkembangan teknologi roket terbaru yang akan meramaikan kegiatan eksplorasi antariksa adalah suksesnya SpaceX meluncurkan roket Falcon Heavy pada 7 Februari 2018. Roket Falcon Heavy sangat efisien karena tabung roketnya dapat digunakan berkali-kali. Disamping itu tersedianya sarana penelitian laboratorium Antariksa (International Space Station -ISS). Dari aspek yuridis pemanfaatan antariksa sudah diatur baik secara nasional mapun internasional melalu Space Treaty dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2013 Tentang Keantariksaan. Amerika dan Luxemburg sudah membuat kebijakan guna mengatur pihak swasta dapat melakukan eksplorasi antariksa.Hlm. 19-2
Analysis of Land Use Spatial Pattern Change of Town Development Using Remote Sensing
The Assessment of the physical character of a city is considered relatively easier than the social-cultural aspects. It is important to recognize the type of city form and to predict the behavior of people in the city and its surrounding. Due to those characteristics, the study of the pattern of physical development of the city is required. The objective of research is to analyze the change of spatial pattern of the city due to the city growing by remote sensing. The multitemporal data of Landsat 5/7/8 year 2000, 2006 and 2015 in Jabodetabek area were used. The classification technique had been done and it produced five classes of land uses. Those are water, built-up area, vegetation, other land use and no data. The results of the analysis in Jabodetabek area (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang and Bekasi) show that there was land use changes from vegetation and other land use area to built-up area with an average accuracy of 78% in each year. The pattern of physical development of the city looks linear from year 2000 until year 2006, which is confirmed as concentric pattern from year 2006 to 2015. Based on those analysis, it confirmed that the city development in Jakarta as the center was influenced by the spatial land development of the surrounding cities of Depok, Bogor, Bekasi and Tangerang. The pattern of spatial development from 2000 to 2006 in Bogor, Bekasi and Depok areas is Linear pattern, whereas from 2006 - 2015 the pattern of spatial development shows Propagation Concentric pattern. For Tangerang Region in 2000-2015 its development is patterned Propagation Concentric.Hlm. 92-10