7104 research outputs found
Sort by
Analisis Statik Dan Dinamik Struktur Main Landing Gear Pesawat Nirawak LSU-02 NG LD Dengan Metode Elemen Hingga (Static And Dynamic Analysis Of LSU-02 Ng LD UAV main Landing Gear With Finite Element Method)
Main landing gear merupakan salah satu komponen paling penting pada pesawat terbang. Kegagalan komponen main landing gear akan mengakibatkan kerusakan yang parah pada struktur pesawat secara keseluruhan. Analisis pada struktur main landing gear hams dilakukan untuk mengetahui kehandalan struktur main landing gear saat beroperasi. Umumnya, analisis pada struktur main landing gear hanya dilakukan dalam kasus statik, sementara beban terbesar yang akan ditenma struktur main landing gear adalah beban dinamik (beban impak). Makalah ini dibuat untuk mengetahui perilaku struktur main landing gear dalam kondisi pembebanan statik dan dinamik. Analisis statik dan dinamik dilakukan pada struktur main landing gear pesawat nirawak hasil pengembangan Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN yaitu LSU-02 NG LD. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak berbasis metode elemen hingga ABAQUS versi 6.14: Hasil simulasi statik pada struktur main landing gear adalah tegangan maksimum dalam arah serat (X), arah tegak hints serat (Y), dan arah geser (XY) sebesar 121 MPa, 120 MPa dan 12.8 MPa. Hasil simulasi dinamik pada struktur main landing gear adalah tegangan maksimum arah serat (X), arah tegak lurus serat (Y), dan tegangan geser (XY) sebesar 596 MPa, 576 MPa dan 72.2 MPa. Sebagai tambahan dilakukan analisis parametrik dengan variasi massa dan kecepatan pesawat saat pendaratan terhadap keamanan struktur main landing gear. Hasil yang didapatkan adalah pengurangan kecepatan memiliki dampak yang lebih besar terhadap keamanan struktur main landing gear jika dibandingkan dengan pengurangan massa pesawat saat pendaratan. Kata kunci: main landing gear, beban statik, beban dinamik, metode elemen hingga, LSU-02 NG LDHlm. 239-24
BENTUK KELEMBAGAAN KAWASAN STRATEGIS NATIONAL BANDAR ANTARIKSA = INSTITUTIONAL STRUCTURE OF SPACEPORT NATIONAL STRATEGIC REGION
RINGKASAN Dinamika penyelenggaraan keantariksaan di Indonesia membuka peluang bagi non Pemerintah berkontribusi sebagai penyelenggara Kawasan Bandar Antariksa ke depan. Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan menyatakan bahwa Kawasan Bandar Antariksa ditetapkan sebagai KSN Bandar Antariksa. Sejumlah kriteria menjadi prasyarat penetapan KSN Bandar Antariksa, termasuk kelembagaan. Tulisan ini dimaksudkan untuk menganalisis kriteria kelembagaan yang tepat bagi KSN Bandar Antariksa. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Data penelitian dari hasil penelitian terkait serta berbagai literatur sesuai topik penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa: 1) kriteria kelembagaan yang ada perlu disesuaikan dengan tipologi KSN Bandar Antariksa; 2) pemrakarsa kegiatan mempengaruhi bentuk kelembagaan KSN Bandar Antariksa. Apabila pemrakarsa adalah pemerintah, maka bentuk kelembagaannya setingkat Unit Pelaksana Teknis di bawah lembaga yang tugas dan fungsinya menjamin pelaksanaan peluncuran di KSN Bandar Antariksa secara aman dan selamat. Sedangkan bentuk kelembagaan setingkat Unit Pengelola yang memiliki koordinasi dengan lembaga dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dinilai cukup sesuai bagi pemrakarsa non pemerintah.Hlm. 37-4
Tinjauan aspek teknis dan yuridis Kegiatan eksplorasi antariksa dan dampaknya bagi lapan = the overview of technical and legal aspects of Space exploration and its impacts for lapan/Zakaria
Hlm. 19-2
Teknologi Satelit Observasi Bumi Orbit Rendah Kelas Mini/Medium Sebagai Pemampu Kunci Penguasan Teknologi Satelit Indonesia
93 hlm. : ill.;20 c
Analisis Konsentrasi CO2 Di Indonesia Secara Musiman Dan Tahunan Pada Kurun 2003-2016 Berdasarkan Data AIRS Dan TRMM (Analysis Of Annual And Seasonal CO2 Concentration In Indonesia In The 2003-2016 Period Based On Airs And TRMM Data)
Karbon dioksida merupakan salah satu gas rumah kaca yang dapat menyebabkan peningkatan temperatur global atau penyebab terjadinya global warming. Hal itu perlu diadakan upaya penurunan emisi gas rumah kaca. Meskipun telah terjadi upaya penurunan konsentrasi CO2, namun konsentrasi gas rumah kaca ini tetap tinggi dan meningkat di atmosfer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola musiman dan tahunan konsentrasi CO2 berdasarkan data AIRS sehingga kedepan dapat diketahui penyebab terjadinya peningkatan konsentrasi CO2. Data yang digunakan adalah data konsentrasi CO2 di Indonesia dari AIRS (Atmospheric Infrared Sounders) serta data curah hujan dari TRMM (The Tropical Rainfall Measuring Mission). Sementara metode yang digunakan adalah analisis komposit konsentrasi CO2 baik bulanan, musiman, maupun tahunan. Berdasarkan analisis tahunan, diketahui bahwa CO2 meningkat sekitar 2 ppm per tahun. Sementara pada analisis musiman, konsentrasi CO2 terbesar ada pada musim SON (September, Oktober, November) dan konsentrasi terkecil ada pada musim DJF (Desember-JanuariFebruari). Konsentrasi CO2 bulanan tertinggi terjadi pada Bulan November dan Bulan Desember sedangkan konsentrasi CO2 bulanan terendah pada kurun 2003-2016 terjadi pada Bulan Januari. Fakta tersebut memperkuat salah satu analisis bahwa rendahnya konsentrasi CO2 pada musim DJF kemungkinan disebabkan tingginya kejadian deposisi basah yang diakibatkan tingginya curah hujan di Indonesia karena pada Bulan Januari curah hujan di kebanyakan wilayah Indonesia mencapai titik tertingginyaHlm.45-5