Jurnal Akuakultur Indonesia
Not a member yet
    582 research outputs found

    Performance of mud crab farming in natural seed-based apartment systems with various pre-transportation holding durations

    Get PDF
    Farming mud crabs (Scylla serrata) in Indonesia generally use seeds from natural habitats, which are caught, held, and transported dry to the farming location. The crabs are held for several days while waiting for consumers. This study analyzed the impact of pre-transport holding times (one, three, and five days) with four replications and an average initial weight of 73.60 ± 12.53 g on the physiological condition and production performance of farming mud crabs in an apartment system. The crabs were transported dry from Muara Gembong, Bekasi Regency, West Java, to the IPB Fisheries and Marine Observation Station (IFMOS) Ancol, North Jakarta, DKI Jakarta, for three hours. The crabs were farming in apartment boxes with a recirculation system for 14 days. The results showed that the crabs experienced severe gill damage indicated by the lysis of gill cuticles and low survival rates, especially after five days of pre-transport holding. The crabs experienced stress in all treatments, as indicated by high glucose levels above 30 mg/dL. The best survival rate was found in the one-day pre-transport holding time, with a value of 87.50% at the holding location and 95% at the farming location. In conclusion, a one-day pre-transport holding time provides better physiological conditions and production performance for mud crab farming in an apartment system.   Keywords: crab, gills, natural catch, stress   ABSTRAK   Budidaya kepiting bakau (Scylla serrata) di Indonesia umumnya menggunakan benih dari alam, yang ditangkap, ditampung, dan kemudian di transportasi kering ke lokasi budidaya. Penampungan kepiting berlangsung beberapa hari sambil menunggu konsumen. Penelitian ini menganalisis dampak lama waktu penampungan pratransportasi (satu, tiga, dan lima hari) dengan empat ulangan dan bobot rata-rata awal 73,60 ± 12,53 g, terhadap kondisi fisiologi dan kinerja produksi kepiting bakau yang dibudidayakan dalam sistem apartemen. Kepiting di transportasi kering dari Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, ke IPB fisheries and marine observation station (IFMOS) Ancol, Jakarta Utara, DKI Jakarta, selama tiga jam. Kepiting dibudidayakan pada boks apartemen dengan sistem resirkulasi selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepiting mengalami kerusakan insang yang parah ditunjukkan dengan lisisnya kutikula insang dan tingkat kelangsungan hidup rendah, terutama setelah lima hari lama penampungan. Kepiting mengalami stres dalam semua perlakuan, yang ditunjukkan oleh tingginya kadar glukosa di atas 30 mg/dL. Tingkat kelangsungan hidup terbaik yakni pada lama waktu penampungan satu hari, dengan nilai 87,50% di lokasi penampungan dan 95% di lokasi budidaya. Kesimpulannya, lama waktu penampungan satu hari pratransportasi memberikan kondisi fisiologi dan kinerja produksi budidaya kepiting bakau sistem apartemen yang lebih baik. Kata kunci: insang, kepiting, stres, tangkapan ala

    Potential of Eurycoma longifolia, Curcuma zedoaria, and Allium sativum extracts as phytobiotics for shrimp health

    Get PDF
    This study evaluated the efficacy of Eurycoma longifolia, Curcuma zedoaria, and Allium sativum in improving the immune response and resistance of whiteleg shrimp to prevent Vibrio parahaemolyticus infection. The study consisted of two phases, an in vitro phase to determine the compounds contained in three medicinal plants as antibacterials, followed by an in vivo phase to evaluate the effect of the medical plant extract on immune response and robustness against V. parahaemolyticus. The results from the first phase revealed that bioactive compounds present in E. longifolia were more varied and had higher concentrations with a lower bactericidal value when compared to those found in C. zedoaria or A. sativum. In the second phase of the experiment, the medicinal plant extract was added to the feed with a dose that was determined according to the first phase results. The treatments tested in the second phase were 1.6% E. longifolia extract dietary addition (EL16), 6.4% C. zedoaria extract dietary addition (CZ64), 6.4% A. sativum extract dietary addition (AS64) and phytobiotics mixture of 1:1:1 (C1) dietary addition, as well as no phytobiotic for negative control treatment and positive control. The results from the second stage demonstrated that dietary phytobiotic extract addition enhances the immunological responses and improves the shrimp survival against V. parahaemolyticus challenge compared to the control group. In conclusion, E. longifolia, C. zedoaria, and A. sativum showed different bioactive compound profiles, which affect their efficacy against V. parahaemolyticus, with EL16 showing higher efficacy.   Keywords: A. sativum, C. zedoaria, E. longifolia, Penaeus vannamei, Phytobiotic   ABSTRAK   Penelitian ini mengevaluasi efikasi Eurycoma longifolia, Curcuma zedoaria, dan Allium sativum dalam meningkatkan respon imun dan resistensi udang vaname untuk mencegah infeksi Vibrio parahaemolyticus. Penelitian ini terdiri dari dua tahap: tahap in vitro untuk menentukan senyawa yang terkandung dalam tiga tanaman obat sebagai antibakteri, diikuti oleh tahap in vivo untuk mengevaluasi efek ekstrak tanaman obat terhadap respon imun dan ketahanan terhadap V. parahaemolyticus. Hasil dari tahap pertama mengungkapkan bahwa senyawa bioaktif yang ada dalam E. longifolia lebih bervariasi dan memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dengan nilai bakterisida yang lebih rendah jika dibandingkan dengan yang ditemukan di C. zedoaria atau A. sativum. Pada percobaan tahap kedua, ekstrak tanaman obat ditambahkan ke pakan dengan dosis yang ditentukan sesuai dengan hasil tahap pertama. Perlakuan yang diuji pada tahap kedua adalah penambahan 1,6% ekstrak E. longifolia dalam pakan (EL16), penambahan 6,4% ekstrak C. zedoaria dalam pakan (CZ64), penambahan 6,4% ekstrak A. sativum dalam pakan (AS64) dan campuran fitobiotik 1:1:1 (C1) dalam pakan, serta tanpa fitobiotik untuk perlakuan kontrol negatif dan kontrol positif. Hasil dari tahap kedua menunjukkan bahwa penambahan ekstrak fitobiotik dalam pakan meningkatkan respons imunologi dan memperbaiki kelangsungan hidup udang terhadap tantangan V. parahaemolyticus dibandingkan dengan kelompok kontrol. Sebagai kesimpulan, E. longifolia, C. zedoaria, dan A. sativum menunjukkan profil senyawa bioaktif yang berbeda, yang mempengaruhi efikasinya terhadap V. parahaemolyticus, dengan EL16 menunjukkan efikasi yang lebih tinggi.   Kata kunci: Allium sativum, Curcuma zedoaria, Eurycoma. longifolia, fitobiotik, Penaeus vanname

    The effectiveness of immersed in extract viscera of sea cucumber Holothuria sp on growth, consumption level and feed efficiency in tilapia larvae Oreochromis niloticus

    Get PDF
    The aim of this research was to determine the effect of sea cucumber immersion extract on growth, consumption and feed efficiency in masculinized tilapia larvae aged six to seven days. September–November 2022 was the time the research was carried out and the experimental method used in this study was a Completely Randomized Design (CRD) with five treatments and three replications. The treatment used was the soaking of sea cucumber viscera with doses of 0 ml/L (A), 1 ml/L (B), 3 ml/L for 24 hours (C), 5 ml/L for 24 hours (D), and 0.5 ml/L 17α-MT for 12 hours as positive control (E), then maintained for 60 days. Parameters observed included absolute length growth, absolute weight growth, feed consumption level, feed efficiency and water quality. The results showed that immersion sea cucumber innards for 24 hours with a dose of 1 ml/L showed the highest growth rate in absolute length and a dose of 3 ml/L showed the highest feed consumption rate.   Keywords: feed consumption rate, feed efficiency, sea cucumber viscera, tilapia fry   ABSTRAK   Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pengaruh ekstrak jeroan teripang terhadap pertumbuhan, konsumsi dan efisensi pakan pada larva ikan nila hasil maskulinisasi yang berumur enam sampai tujuh hari. Penelitian ini dilakukan pada bulan September–November 2022 dan metode eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah perendaman jeroan teripang dengan dosis 0 ml/L (A), 1 ml/L (B), 3 ml/L (C), 5 ml/L selama 24 jam (D), dan 0,5 ml/L 17α-MT selama 12 jam sebagai kontrol positif (E), kemudian dipelihara selama 60 hari. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan panjang mutlak dan bobot mutlak ikan, tingkat konsumsi pakan, efisiensi pakan dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan perendaman jeroan teripang selama 24 jam dengan dosis 1 ml/L menunjukkan laju pertumbuhan panjang mutlak yang tertinggi dan pada dosis 3 ml/L tingkat konsumsi pakan dan efsiensi pakan tertinggi.   Kata kunci: benih ikan nila, efisiensi pakan, jeroan teripang, tingkat konsumsi paka

    The effectiveness of dragon fruit peel Hylocereus polyrhizus in feed on color quality and growth performance of comet fish Carassius auratus

    Get PDF
    Color is a defining trait of ornamental fish, crucial for their aesthetic appeal, but it diminishes without pigment supplementation in their diet. Utilizing dragon fruit skin as a natural feed constituent offers a promising method to intensify fish coloration. This investigation aims to assess the impact of incorporating dragon fruit skin meal into fish feed on color vibrancy and growth performance, specifically focusing on comet fish. The test subjects, ranging from 4 to 6 cm in size and weighing 3.1 ± 0.2 grams, underwent examination. Employing a completely randomized design (CRD), the study involved four treatments replicated four times: treatment A (control), B (5% dragon fruit skin meal addition), C (10% addition), and D (15% addition). Before commencing the study, a preliminary assessment of dragon fruit skin meal was conducted, encompassing a chromameter-based color pigmentation test. Results revealed positive a (red) and b (yellow) values, a chroma value of 26.32 signifying carotenoid pigments, a hue value of 3.18° indicating a red-orange hue, and a moderate antioxidant activity was observed, indicating the presence of antioxidant compounds. Findings demonstrated that a 15% addition of dragon fruit skin meal substantially enhanced color vibrancy across the fish\u27s body sections, including the head, body, and tail. Although fish weight and length were influenced by the feed amendment, ANOVA analysis did not ascertain significant effects. Furthermore, treatment C exhibited the most favorable feed conversion ratio and specific growth rate, recording values of 0.09 ± 0.03 and 0.934 ± 0.215, respectively.   Keywords: comet fish, color brightness, dragon fruit peel flour   ABSTRAK   Warna merupakan ciri khas yang dimiliki oleh ikan hias, yang akan memudar bila tidak ada tambahan pigmen dalam pakan. Kulit buah naga dapat digunakan sebagai bahan pakan alami untuk meningkatkan kecerahan warna pada ikan. Riset ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung kulit buah naga dalam pakan terhadap kualitas warna dan performa pertumbuhan ikan komet. Ikan uji berukuran 4-6 cm dengan bobot 3,1 ± 0,2 gram. Metode riset yang digunakan yaitu metode eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan yaitu perlakuan A (kontrol), B (penambahan tepung kulit buah naga 5%), C (penambahan tepung kulit buah naga 10%) dan D (penambahan tepung kulit buah naga 15%). Sebelum penelitian dilakukan uji pendahuluan pada tepung kulit buah naga yaitu uji pigmentasi warna menggunakan chromameter diperoleh hasil nilai a positif (merah) dan b positif (kuning), nilai chroma 26,32 artinya terdapat kandungan pigmen karotenoid, nilai hue 3,18° menunjukkan warna orange merah, serta uji aktivitas antioksidan dengan hasil aktivitas antioksidan yang kurang aktif namun tetap memiliki kandungan antioksidan. Hasil riset menunjukkan bahwa penambahan tepung kulit buah naga 15% dalam pakan dapat meningkatkan kualitas warna yang optimal pada tubuh ikan yaitu kepala, badan dan ekor. Penambahan tepung kulit buah naga dalam pakan dapat mempengaruhi bobot dan panjang ikan namun di uji lanjut menggunakan analisis ANNOVA tidak memberikan pengaruh nyata. Penambahan tepung kulit buah naga juga memberikan nilai konversi pakan dan laju pertumbuhan spesifik terbaik pada perlakuan C dengan nilai 0,09 ± 0,03 dan 0,934 ± 0,215.   Kata kunci: ikan komet, kecerahan warna, tepung kulit buah nag

    Utilization of chicken manure enriched with Lemna liquid organic fertilizer Lemna minor on cell density of Chlorella sp.

    Get PDF
    One of the organic fertilizers that has the potential to be used to culture Chlorella sp. is chicken manure. However, to increase the content of nutrients in chicken manure, it must be enriched with liquid organic fertilizer (POC) in different doses. The purpose of this study was to determine the optimal dose of chicken manure enrichment using Lemna POC on the cell density of Chlorella sp. This study used a complete randomized design (CRD) with five treatments of three replicates, namely P0 giving 3 g/L chicken manure (control), P1 = 3 g/L chicken manure enriched with 4% Lemna POC, P2 = 3 g/L chicken manure enriched with 5% Lemna POC, P3 = 3 g/L chicken manure enriched with 6% Lemna POC, and P4 = 3 g/L chicken manure enriched with 7% Lemna POC. The results obtained the highest cell density of Chlorella sp. in the P3 treatment of 516.67 ± 6.29 ×104 cells/mL, a specific growth rate of 0.142 cells/mL/day, and a biomass weight of 0.39 g/L. From the results of the study, it can be concluded that the optimal dose of chicken manure enrichment to increase the cell density of Chlorella sp. is 6% Lemna POC in P3 treatment.   Keyword: cell density, chicken manure, Chlorella sp., Lemna POC   ABSTRAK   Salah satu pupuk organik yang memiliki potensi dimanfaatkan untuk kultur Chlorella sp. adalah kotoran ayam. Namun untuk meningkatkan kandungan unsur hara pada kotoran ayam maka harus diperkaya dengan pupuk organik cair (POC) Lemna dengan dosis berbeda. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dosis pengayaan kotoran ayam yang optimal menggunakan POC Lemna terhadap kepadatan sel Chlorella sp. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan tiga ulangan, yaitu P0 pemberian 3 g/L kotoran ayam (kontrol), P1 = 3 g/L kotoran ayam diperkaya 4% POC Lemna, P2 = 3 g/L kotoran ayam diperkaya 5% POC Lemna, P3 = 3 g/L kotoran ayam diperkaya 6% POC Lemna, dan P4 = 3 g/L kotoran ayam diperkaya 7% POC Lemna. Hasil penelitian diperoleh kepadatan sel Chlorella sp. tertinggi pada perlakuan P3 sebanyak 516,67 ± 6,29 ×104 sel/mL, laju pertumbuhan spesifik sebesar 0,142 sel/mL/hari dan berat biomassa sebesar 0,39 g/L. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dosis pengayaan kotoran ayam yang optimal untuk meningkatkan kepadatan sel Chlorella sp. adalah 6% POC Lemna pada perlakuan P3.   Kata kunci: Chlorella sp., kepadatan sel, kotoran ayam, POC Lemn

    Induction of reproduction of fish Anasa Nomorhampus sp. endemic Palu, Central Sulawesi orally through hormon bioencapsulation use Chironomus sp.

    Get PDF
    Species Nomorhampus sp. with the local name Anasa fish, endemic to Palu, Central Sulawesi, has a unique superior mouth shape, beak-shaped jaws, attractive colors and patterns, becoming an export commodity with high economic value, but currently it cannot be cultivated, domestication efforts are needed to avoid extinction, by carrying out hormonal manipulation that accelerates the domestication process. This study aims to evaluate the effectiveness of Oodev® on the induction of reproduction in the fish Nomorhampus sp. through bioencapsulation using Chironomus sp. which resulted in births, five groups of fish were fed using Oodev® at a dose of 1 mL/kg parent weight and NaCl 1 mL/kg parent weight as a control group, the fish were kept for 60 days. This research focuses on assessing specific weight growth rate (LPBS), specific length growth rate (LPPS), survival rate (TKH), gonadosomatic index (IGS), gonadal histology, birth frequency, number of births, and growth performance. Fish fed Oodev® feed showed higher SGR and IGS (p<0.05), 40% of fish fed Oodev® supplementary feed successfully gave birth with a total of 9 fry, while no birth occurred in control fish. Histological analysis showed faster gonad development in fish fed Oodev®. Hormonal induction with Oodev® can accelerate reproduction in anasa fish in cultivation containers. These findings provide valuable insight for fish farmers regarding the effect of Oodev® on gonad development in anasa fish in both male and female parents. It is hoped that this discovery will speed up the process of domestication of Anasa fish.   Keywords: domestication, endemic, Nomorhampus sp., Oodev®, reproduction   ABSTRAK   Spesies Nomorhampus sp. dengan nama lokal ikan Anasa endemik Palu, Sulawesi Tengah, memiliki keunikan  bentuk mulut superior rahang berbentuk paruh, warna dan corak menarik menjadi komoditas ekspor dengan nilai ekonomis yang tinggi, namun saat ini belum dapat dibudidayakan, perlu upaya domestikasi agar tidak terjadi kepunahan, dengan melakukan manipulasi hormormonal yang mempercepat proses domestikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Oodev® terhadap induksi reproduksi ikan Nomorhampus sp. melalui bioenkapsulasi menggunakan Chironomus sp. yang menghasilkan kelahiran, lima kelompok ikan yang diberi pakan menggunakan Oodev® dosis 1 mL/kg bobot induk dan NaCl 1 mL/kg bobot induk sebagai kelompok kontrol, ikan dipelihara selama 60 hari. Penelitian ini fokus pada penilaian laju pertumbuhan bobot spesifik (LPBS), laju pertumbuhan panjang spesifik (LPPS), tingkat kelangsungan hidup (TKH), indeks     gonadosomatik (IGS), histologi gonad, frekuensi kelahiran, jumlah kelahiran, dan kinerja pertumbuhan. Ikan yang diberi pakan Oodev® menunjukkan SGR dan IGS yang lebih tinggi (p<0,05), 40% ikan yang diberi pakan tambahan Oodev® berhasil melahirkan dengan jumlah total 9 ekor benih, sementara pada ikan kontrol tidak terjadi kelahiran. Analisa histologi menunjukkan perkembangan gonad yang berkembang lebih cepat pada ikan yang diberi pakan Oodev®. Induksi hormonal dengan Oodev® mampu mempercepat reproduksi pada ikan anasa di wadah budidaya. Temuan ini memberikan wawasan berharga bagi pembudidaya ikan mengenai pengaruh Oodev® terhadap perkembangan gonad pada ikan anasa baik pada induk jantan maupun betina. Penemuan ini diharapkan dapat mempercepat proses domestikasi ikan Anasa.   Kata kunci: domestikasi, endemik, Nomorhampus sp., Oodev®, reproduks

    Prospects for Mangrove Reforestation Using the Silvofishery Method in Aquaculture Areas in Bireuen Regency, Aceh

    Get PDF
    The conflict between shrimp productivity and mangrove conservation can be addressed through the “silvofishery” pond model, which integrates shrimp farming with mangrove intercropping especially relevant for traditional pond farmers who dominate aquaculture in Indonesia. However, silvofishery is not yet widely practiced. This research aims to assess the understanding and acceptance of pond farmers in Bireuen Regency toward mangroves and silvofishery, and to identify barriers to future implementation. The study was conducted in three sub-districts Kuala, Peusangan, and Jangka using in-depth interviews with ten respondents selected through a snowball method. Quantitative responses were analyzed descriptively, while qualitative data were interpreted using Miles and Huberman’s interactive model. Findings reveal that mangrove reforestation in Bireuen is still under threat from land conversion. Silvofishery remains challenging due to three core issues: (1) declining per capita landholding makes it difficult for farmers to allocate pond space for mangrove planting; (2) not all farmers accept silvofishery without first seeing proven models initiated by the government; and (3) concerns about increased pests, such as crabs and birds, which are attracted to mangrove habitats. These factors contribute to the currently low prospects for mangrove rehabilitation through silvofishery at the farmer level. A paradigm shift is needed, encouraging farmers to see mangroves not as a threat but as allies in solving persistent aquaculture problems, including disease and water pollution. Policy support, field schools, and demonstration ponds will be critical in building local trust and fostering long-term ecological and economic resilience.   Keywords: aquaculture, farmer perception, mangrove conservation, shrimp pond, silvofishery   ABSTRAK   Konflik antara produktivitas budidaya udang dan konservasi mangrove dapat diatasi melalui model tambak “silvofishery” yang mengintegrasikan budidaya udang dengan penanaman mangrove terutama relevan bagi petambak tradisional yang mendominasi sektor akuakultur di Indonesia. Namun, praktik silvofishery belum banyak diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pemahaman dan penerimaan petambak di Kabupaten Bireuen terhadap mangrove dan sistem silvofishery, serta mengidentifikasi hambatan implementasi ke depan. Studi dilakukan di tiga kecamatan Kuala, Peusangan, dan Jangka melalui wawancara mendalam terhadap sepuluh responden yang dipilih dengan metode bola salju. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif, sementara data kualitatif dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil menunjukkan bahwa rehabilitasi mangrove di Bireuen masih terancam oleh alih fungsi lahan. Silvofishery menghadapi tantangan karena tiga hal utama: (1) penyusutan luas lahan per kapita menyulitkan petambak untuk menyediakan ruang tanam mangrove di dalam tambak; (2) tidak semua petambak menerima konsep silvofishery tanpa melihat model nyata yang diinisiasi pemerintah; dan (3) kekhawatiran akan meningkatnya hama seperti kepiting dan burung yang tertarik ke habitat mangrove. Faktor-faktor ini menyebabkan prospek rehabilitasi mangrove melalui silvofishery masih rendah di tingkat petambak. Diperlukan pergeseran paradigma, agar petambak mulai melihat mangrove bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sekutu dalam mengatasi persoalan budidaya seperti penyakit dan pencemaran air. Dukungan kebijakan, sekolah lapang, dan tambak percontohan akan sangat penting untuk membangun kepercayaan lokal dan mewujudkan ketahanan ekologi dan ekonomi jangka panjang.   Kata kunci: akuakultur, konservasi mangrove, persepsi petambak, tambak udang, wanamin

    Utilization of skipjack tuna Katsuwonus pelamis offal waste for mass culture of Daphnia sp. as feed for Betta sp.

    Get PDF
    This study aims to assess the impact of skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) offal soaking water on the mass culture of Daphnia sp. for the growth of Betta fish (Betta sp.). This study was conducted for 30 days with treatment of offal 4.5 ml/L (treatment B), 7.5 ml/L (treatment C), 10.5 ml/L (treatment D) and commercial feed without skipjack offal soaking water as control (treatment A). The variables data of this study consisted of growth rate and population density of Daphnia sp., which were analyzed using variance analysis. The results showed that the highest population growth rate was found in the treatment of offal soaking water 4.5 ml/L with a value of 11.59% and a density of 260 individuals/liter on the 19th day of rearing. Daphnia sp. produced from soaking tuna offal can also be used as a natural food for the growth and development of Betta fish, although its effectiveness is still lower than other organic materials.   Keywords: Daphnia sp., growth, mass culture, skipjack offal   ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh air rendaman jeroan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) pada kultur massal Daphnia sp. terhadap pertumbuhan ikan Betta (Betta sp.). Penelitian ini dilakukan selama 30 hari dengan perlakuan air rendaman jeroan ikan cakalang sebanyak 4,5 ml/L (perlakuan B), 7,5 ml/L (perlakuan C), 10,5 ml/L (perlakuan D) dan pakan komersil tanpa air rendaman jeroan ikan cakalang sebagai kontrol (perlakuan A). Data variabel penelitian terdiri dari laju pertumbuhan dan kepadatan populasi Daphnia sp. dianalisis menggunakan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan populasi tertinggi pada perlakuan menggunakan air rendaman jeroan 4,5 ml/L dengan nilai 11,59% dan dengan kepadatan individu 260 individu/liter pada hari pemeliharaan ke 19. Daphnia sp. yang dihasilkan dari perendaman jeroan ikan cakalang juga dapat digunakan sebagai pakan alami untuk pertumbuhan dan perkembangan ikan Betta (Betta sp.) walaupun efektivitasnya masih lebih rendah dibandingkan bahan organik lainnya.   Kata kunci: Daphnia sp., jeroan cakalang, kultur massal, pertumbuha

    Rotifer Brachionus rotundiformis enriched with taurine for survival and growth of larval milkfish Chanos chanos

    Get PDF
    This research evaluated the effect of taurine-enriched rotifers on the survival and growth of milkfish larvae. Twenty-five fertilized milkfish eggs were placed in a 250 L cylindrical fiber tank. This study used a completely randomized design with four treatments and five replications. Three days old larvae were given rotifers enriched with taurine at 0, 25, 50, or 75 mg/L. Larvae were cultured until they were 18 days old. The results showed that the taurine content in rotifers was higher in rotifer at 50 mg/L treatment, then decreased at the 75 mg/L treatment. Taurine content in the milkfish larvae aligned with taurine levels in rotifers. Furthermore, the taurine content in rotifers affected milkfish larvae\u27 survival and body length. The highest larval survival and growth was obtained in the 50 mg/L taurine treatment. Thus, it can be concluded that taurine at 50 mg/L is the optimal rotifer enrichment dose for milkfish larvae.   Keywords: growth, milkfish larvae, notochord, survival rate, taurine   ABSTRAK   Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian rotifera yang diperkaya taurin terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan bandeng. Dua puluh lima butir telur ikan bandeng yang telah dibuahi ditempatkan pada tangki fiber berbentuk silinder berukuran 250 L. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Larva berumur tiga hari setelah menetas diberi rotifer yang diperkaya taurin dengan dosis 0, 25, 50, atau 75 mg/L. Larva dipelihara hingga berumur 18 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan taurin pada rotifer tertinggi diperoleh pada perlakuan rotifer 50 mg/L, kemudian menurun pada perlakuan rotifer 75 mg/L. Kandungan taurin pada larva ikan bandeng sebanding dengan kandungan taurin pada rotifer. Kandungan taurin pada rotifer berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup dan panjang tubuh larva ikan bandeng. Kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva tertinggi diperoleh pada perlakuan dosis 50 mg/L. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian taurin 50 mg/L pada pengayaan rotifer merupakan dosis yang optimal untuk diberikan pada larva ikan bandeng.   Kata Kunci: kelangsungan hidup, larva bandeng, notochord, pertumbuhan, tauri

    Histopathology of liver, kidney, intestine, spleen, and bile of catfish with Jaundice

    Get PDF
    Jaundice is a disease that can affect catfish, resulting in low or unsalable selling prices. The yellow colour in catfish is associated with tissue/organ disorders, particularly bile or liver function. This study aims to compare the histopathological structure of the liver, kidney, intestine, spleen, and bile of naturally jaundiced catfish and those injected with bacteria associated with jaundice. The study employed the observation method, using three variables: healthy catfish as a control (K), yellow catfish treated with Aeromonas spp. bacteria associated with jaundice (KP), and yellow catfish from the farm (KL). The results of the observation showed that the field scale variable (KL) had a higher level of necrosis damage in each organ compared to the laboratory scale variable (KP). The yellow colour in catfish is caused by disrupted organ tissue, particularly in the bile or liver. This can be observed in the liver, intestines, kidneys, spleen, and bile, where the field variable consistently indicates high levels of necrosis damage, with scores ranging from 1.11 to 2.48. Some of these scores indicate moderate damage, with a necrosis percentage of 40% ≤ P < 60% in the liver, kidneys, and bile organs. Keyword: Clarias sp., histopathology, jaundice, necrosis   ABSTRAK   Salah satu penyakit yang menyerang ikan lele adalah penyakit kuning atau dikenal juga dengan jaundice, yang dapat mengakibatkan harga jual menjadi rendah atau bahkan tidak dapat dijual. Warna kuning pada ikan lele dikaitkan dengan gangguan jaringan / organ, terutama empedu atau fungsi hati. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan struktur histopatologi organ hati, ginjal, usus, limpa, dan empedu ikan lele yang sakit kuning baik yang alami maupun yang diinjeksi dengan bakteri  yang berasosiasi dengan penyakit kuning. Penelitian ini menggunakan metode observasi dengan tiga variabel yaitu ikan lele sehat sebagai kontrol (K), ikan lele kuning yang diberi perlakuan injeksi dengan bakteri yang berasosiasi dengan penyakit kuning yaiatu bakteri Aeromonas spp. (KP), dan ikan lele kuning yang berasal dari farm (KL). Hasil pengamatan yang diperoleh menunjukkan bahwa variabel skala lapangan (KL) memiliki tingkat kerusakan nekrosis paling tinggi pada setiap organnya dibandingkan dengan variabel skala laboratorium (KP). Warna kuning pada ikan lele berhubungan dengan terganggunya jaringan organ terutama empedu atau fungsi hati. Terlihat pada organ hati, usus, ginjal, limpa, dan empedu bahwa variabel lapangan selalu mendapatkan skor tingkat kerusakan nekrosis yang tinggi dengan kisaran nilai skoring 1,11-2,48 yang sebagian tergolong kerusakan sedang dengan persentase nekrosis 40% ≤ P<60% pada organ hati, ginjal, dan empedu.   Kata kunci: Clarias sp., histopatologi, nekrosis, penyakit kunin

    554

    full texts

    582

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Akuakultur Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇