PKn Progresif : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Kewarganegaraan
Not a member yet
72 research outputs found
Sort by
Konsepsi Merdeka Belajar Dalam Sistem Among Menurut Pandangan Ki Hajar Dewantara
Pendidan memiliki tujuan pembentukan watak dan karakter bangsa. Pembentukan watak dan karakter bangsa diperloleh dari pengembangan asek pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang sesuai dengan pandangan hiduap suatu bangsa. Ki Hajar Dewantara sebagai tooh pendidikan di Indonesia melahirkan konsep pendidian yang disebut dengan istilah sistem among. Sistem among memiliki dua prinsip utama yakni menghargai kodrat alamiah anak dan dasar kemerdekaan serta berasaskan kekeluargaan untuk menyokong tumbuh kembang anak lahir dan batin tanpa perintah dan paksaan namun dengan tuntunan. Dua prinsip sistem among inilah yang kemudian melahirkan suatu konsepsi merdeka belajar. Konsepsi merdeka belajar dalam sistem among ini memberikan anak didik kemerdekaan sebanyak mungkin, meskipun demikian tetap harus diingat bahwa anak tidak dibenarkan apabila menggunakan itu sebebas mungkin dan melakukan segala sesuai sesuai kehendaknya dan seuka hatinya. Kata kunci: merdeka belajar, sistem among, Ki Hajar Dewantara
Peran Komunitas Jaga Sesama Terhadap Penguatan Sikap Toleransi Sebagai Perwujudan Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa
Komunitas Jaga Sesama adalah salah satu komunitas agama di Surakarta yang memiliki visi misi untuk menciptakan wadah bagi pemuda yang kesulitan mencari guru ngaji untuk dapat belajar agama. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peran komunitas Jaga Sesama melalui kegiatan-kegiatannya terhadap penguatan sikap toleransi sehingga dapat mewujudkan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan enam subjek penelitian yaitu anggota komunitas Jaga Sesama. Pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi dan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Jaga Sesama melalui kegiatan Jaga Sesama (Belajar Mengaji Setiap Selasa Malam) dan Mbois (Membahas Obrolan Islami) memiliki peran terhadap penguatan sikap toleransi pemuda yang dibuktikan dari sikap mau menerima perbedaan latar belakang anggota, membantu anggota dalam belajar membaca al qur’an serta sholat, mau menerima perbedaan pendapat maupun perbedaan keyakinan dengan orang lain sehingga dapat mewujudkan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Kata kunci: peran, komunitas, sikap, toleransi, Ketuhanan Yang Maha Es
Membangun Sense Of Belonging Masyarakat Melalui Pemanenan Air Hujan Dalam Telaah Ecology Citizenship
Tulisan ini beranjak dari pencermatan destruksi lingkungan yang berbentuk kekeringan, banjir, penurunan muka air tanah yang terus mengalami peningkatan, kualitas penurunan air tanah, kebutuhan air yang meningkat, kebakaran hutan yang terus berlangsung. Air merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat dibutuhkan seluruh makluk hidup. Krisis air memaksa manusia untuk meredefinisi ulang implementasi konsep keadilan antar generasi dalam pemanfaatan sumber daya alam. Krisis air memaksa munculnya sebuah gerakan masyarakat secara ” pentahelijk” untuk menemukan alternatif sumber air bagi kebutuhan hidup. Gerakan itu disebut dengan Gerakan Memanen Hujan yang sudah eksis dan berkembang diberbagai daerah di Indonesia. Tujuan tulisan : Membangun sense of belonging masyarakat melalui pemanenan air hujan dalam telaah ecologi citizenship. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah penelusuran data kepustakaan , yang didukung dengan dokumentasi, wawancara dan observasi. Sumber data adalah Pendiri dan pengurus Komunitas Pemanenan Air Hujan ”Banyu Bening” di Sleman. Pembahasan : Gerakan memanen air hujan merupakan kegiatan untuk menampung air hujan, memanfaatakan secara maksimal,meresapkan kedalam tanah dan mengalirkannya kembali. Kegiatan ini merupakan salah satu alternatif dalam mitigasi lingkungan, dalam telaah Ecological Citizenship diistilahkan dengan “memikirkan kewarganegaraan dengan cara-cara agak baru” yang dikaitkan dengan hak dan kewajiban warga negara dalam mencapai lingkungan yang bersih dan sehat. Kata kunci: rekonstruksi, air hujan, ecologi
PENERAPAN KONSELING RATIONAL EMOTIF BEHAVIOR THERAPY UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL GURU
Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kecerdasan emosional guru melalui konseling Rational Emotif Behavior Therapy di SMP Negeri 11 Tambun Selatan. Subjek penelitian adalah 18 guru SMP Negeri 11 Tambun Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan model Kemmis yang terdiri dari dua siklus. Teknik pengumpulan data dalam penelitian diperoleh dari instrumen yang berupa lembar observasi dan angket. Hasil penelitian diperoleh data nilai rata-rata kecerdasan emosional guru sebelum diberikan perlakuan konseling REBT sebesar 139,11 atau prosentase 69,56% dengan kategori sedang, yang mengalami peningkatan setelah diberikan perlakuan konseling REBT sebesar 29,75% yaitu nilai rata-rata 180,50 atau prosentase 90,25% dengan kategori sedang. Kesimpulan penelitian ini adalah melalui konseling REBT dapat meningkatkan kecerdasan emosional guru-guru di SMP Negeri 11 Tambun Selatan. Kata kunci: Kecerdasan emosional, konseling, rational emotif behavior therap
Analisis Kebutuhan Guru PPKn dalam Pengembangan Bahan Ajar Virtual
Di era digital, dalam proses pembelajaran, bahan ajar virtual menjadi kebutuhan yang pokok bagi dunia pendidikan. Artikel ini berisi analisis mengenai kebutuhan Guru PPKn dalam pengembangan bahan ajar virtual. Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahan ajar virtual pada prinsipnya diperlukan dalam pembelajaran PPKn, hal ini dikarenakan perkembangan era digital yang sangat pesat dan dinamis. Beberapa kebutuhan guru PPKn dalam melakukan pengembangan bahan ajar virtual ialah perlunya modul atau panduan pengembangan bahan ajar virtual, perlunya pelatihan pengembangan bahan ajar virtual, dan sarana dan prasarana yang memadai. Kata kunci : Kebutuhan Guru, Bahan Ajar Virtual, PPK
Problematika dalam Pembelajaran PPKn pada Era Covid-19 di SMA NEGERI 3 SUKOHARJO
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Pembelajaran PPKn memfokuskan pada pengembangan aspek spiritual, rasional, emosional, sosial, tanggung jawab, dan keikutsertaan sebagai warga negara. Pembelajaran daring sebagai alternatif pembelajaran pada kondisi pandemi Covid-19, dimana pembelajaran tetap berlangsung di rumah sehingga dapat mengurangi tingkat penyebaran virus Covid-19. Pembelajaran daring menggunakan akses internet untuk menghubungkan pembelajaran daring menggunakan aplikasi yang mendukung seperti; whatsapp, google classroom, google meet, zoom meeting, UKS Smaga, microsoft teams, xambro, edmodo, youtube yang mendukung pelaksanaan pembelajaran PPKn pada peserta didik SMA Negeri 3 Sukoharjo. Metode penelitian ini menggunakan metode observasi dan kuisioner atau angket. Observasi atau pengamatan dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan kuisioner atau angket menggunakan google form secara online. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan problematika pembelajaran PPKn di SMA Negeri 3 Sukoharjo pada masa pandemi Covid-19. Hasil penelitian yang dilakukan menemui hambatan pada pembelajaran daring seperti kuota dan koneksi internet, pelaksanaan pembelajaran, alat penunjang yang kurang mendukung, dan pengaruh pembelajaran daring terhadap hasil belajar. Pemilihan metode yang tepat dapat menghasilkan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran, adanya umpan balik dapat mendorong siswa untuk dapat mengutarakan gagasan peserta didik yang dapat mengembangkan keaktifan peserta didik. Pada pembelajaran daring diperlukan kerjasama antara guru dan peserta didik supaya pembelajaran dapat sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Kata Kunci: Pembelajaran daring, Problematika, Hasil belaja
Reorientasi Pendidikan Kebangsaan Berbasis Adab: Konsep dan Problematiknya
Secara tegas, di antara tujuan awal penyelenggaraan pendidikan nasional selain membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah membentuk manusia berakhlak mulia. Dalam konteks demikian, pendidikan kebangsaan yang dititipkan melalui pembelajaran PPKn dapat diselenggarakan dengan bersandar pada nilai-nilai budi/akhlak/ kebajikan utama warga negara. Hal itu sebagai ikhtiar untuk menjaga dan merawat rajutan kebangsaan Indonesia yang bersatu di atas dasar falsafah Pancasila dan dasar konstitusional UUD 1945. Menjadikan adab sebagai basis penguatan wawasan kebangsaan memerlukan komitmen dari seluruh komunitas akademik PPKn. Diperlukan kajian-kajian akademis pedagogis untuk praxis penyelenggaraan pendidikan kebangsaan yang berkemajuan agar misi pendidikan kebangsaan melalui PPKn menjadi bidang kajian yang kuat dan berkontribusi besar bagi penguatan akhlak utama warga negara demi terwujudnya cita-cita dan tujuan Indonesia berkemajuan. Kata kunci: pendidikan kebangsaan, PPKn, Indonesia berkemajuan, adab, akhlak, ta’dib, tarbiyah, ta’lim
STRATEGI GURU DALAM PEMBELAJARAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK MELALUI UNIT KEGIATAN BELAJAR MANDIRI MATA PELAJARAN PPKn (Studi di SMA Negeri 3 Surakarta)
The research aims to find out: 1) The strategy of teachers in student’s critical thinking learning using self learning activity in Pancasila and Citizenship Education in SMA Negeri 3 Surakarta; 2) Teacher’s supporting factors and inhibitory factor in critical thinking learning using self learning activity in Pancasila and Citizenship Education in SMA Negeri 3 Surakarta.They study uses a qualitative approach, a type of qualitative descriptive research. Data sources are obtained from the informant, place and document. Sampling techniques using purposive sampling. Data collection techniques using interviews, observations, and document analysis. Data validity using trianggulation data and Trianggulation method. Analyze data using interactive analysis models.Result of the research: 1) The strategy of teachers in student’s critical thinking learning using self learning activities in Pancasila education subjects and citizenship in Pancasila and Citizenship Education in SMA Negeri 3 Surakarta: a) Teacher need to learn and understand about the components development and characteristics of self learning activities ; b) The teacher makes a learning activity by displaying questions of Higher Order Thinking Skills (HOTS); c) The teacher makes the look of self learning activity; and d) The teacher designed the planning, implementation, and evaluation activities. 2) The teacher's supporting factor in student’s critical thinking learning using self learning in Pancasila Education and Citizenship course includes: a) schools facilities; b) The positive response from the students with the self learning activity; c) Learning activities in the self learning activities lead to the growing Higher Order Thinking Skills (HOTS) that support critical thinking skills; d) Self learning activities as a self-learning strategy that helps learners achieve learning submission. The inhibitory factor includes internal factors: a) The feeling of fear of self-learners; b) lack of ability to communicate students; and c) lack of motivation in the students in the interest of the study of Pancasila and the citizenship. External factors include: a) The responses of nearby friends who often laugh at other learners when they wrong answer; b) Limited time allocation; c) Learners who have completed self learning activity of Pancasila and Citizenship Education must wait for other learners to get new material taught by the teacher and; d) Find it difficult to print the modul for the self learning activity of Pancasila and Citizenship Education because of the limited fund of the school.Keywords: Strategies, Critical Thinking, Self Learning Activity, Pancasila Education and Citizenshi
PERAN PEMERINTAH DALAM MENGUPAYAKAN HAK ATAS UPAH YANG LAYAK BAGI PEKERJA (STUDI PADA DINAS TENAGA KERJA DAN PERINDUSTRIAN KOTA SURAKARTA)
This research has aims to know: 1) employee’s, entrepreneur’s, and government’s perception about proper payment, 2) Government’s role, labor offices and industrial, strives for proper payment, 3) problem and government’s problem solve to strive proper payment.This research used qualitative research method with purposive sampling technique. Data collecting technique which is used are observation, interview and documentation. Trustworthiness of the Data which is used is source of the data triangulation and triangulation method. The data analysis of the research used interactive analysis method.The results of the research show that: 1) there are some of differences perception between employee, entrepreneur, and government on proper payment. Employees have a hunch that proper payment is payment which appropriate with their requirement. According to entrepreneur’s point of view, proper payment is payment which is agreed by both of employees and entrepreneur. Whereas, according to government’s proper payment is payment which appropriate with requirement based on KHL calculation. 2) Surakarta Labor Offices and industrial’s role about minimum payment are; a) payment minimum calculation, b) suggesting to Regent or Mayor, c) doing monitoring, d) giving punishment. Whereas in the principal structure and payment scale; a) giving training and socialization, b) doing monitoring, c) giving punishment. 3) problems ; a) entrepreneur’s less understanding about structure and payment scale, b)there is entrepreneur which is burdened and do not arrange the structure and payment scale. Problem solutions; a) giving socialization and training to entrepreneur, b) giving administration punishment to the entrepreneur which do not arrange the structure and payment scale. Keywords: authority, payment, employees, labor offices and industrial
RELEVANSI PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH PADA KOMPETENSI DASAR MENELAAH PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA DAN PANDANGAN HIDUP BANGSA (Studi pada mata pelajaran PKn Kelas VIII di SMP N 1 Polanharjo, Kabupaten Klaten)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Relevansi model pembelajaran kooperatif tipe make a match yang digunakan guru pada kompetensi dasar menelaah Pancasila sebagai dasar negara dan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa; 2) Kendala yang ditemukan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match yang digunakan guru pada kompetensi dasar menelaah Pancasila sebagai dasar negara dan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Pengujian validitas data menggunakan triangulasi data dan triangulasi metode. Analisis data menggunakan model analisis interaktif.Simpulan hasil penelitian: 1) Model pembelajaran yang digunakan guru pada kompetensi dasar menelaah Pancasila sebagai dasar negara dan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa adalah model pembelajaran kooperatif tipe make a match, model pembelajaran yang digunakan guru “relevan marginal” apabila digunakan pada kompetensi dasar menelaah Pancasila sebagai dasar negara dan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dikarenakan hanya memenuhi dua persyaratan untuk dapat dikatakan relevan , 2) Kendala yang dihadapi guru dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match pada kompetensi dasar menelaah Pancasila sebagai dasar negara dan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa menurut guru yaitu memerlukan banyak waktu pada pembentukan kelompok dan pelaksanaannya serta sulit membuat siswa berkonsentrasi karena ketakutan siswa jika terkena hukuman, sedangkan kendalanya menurut siswa yaitu takut apabila terkena hukuman ketika salah menjawab. Kata Kunci: Relevansi, pembelajaran, kooperatif tipe make a match