PKn Progresif : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Kewarganegaraan
Not a member yet
72 research outputs found
Sort by
ANALISIS KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PPKn DALAM MEMILIH MATERI PEMBELAJARAN YANG TERKAIT DENGAN TUJUAN PEMBELAJARAN DAN PENGALAMAN BELAJAR (Studi di SMP Negeri 20 Purworejo)
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui : 1) kompetensi pedagogik guru PPKn dalam memilih materi pembelajaran KD 3.3 “memahami tata urutan peraturan perundang-undangan dalam sistem hukum nasional di Indonesia” yang terkait dengan tujuan pembelajaran; dan 2) kompetensi pedagogik guru PPKn dalam memilih materi pembelajaran KD 3.3 “memahami tata urutan peraturan perundang-undangan dalam sistem hukum nasional di Indonesia” yang terkait dengan pengalaman belajar.Merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan studi dokumen. Pengujian validitas data menggunakan model analisis triangulasi data dan metode. Analisis data menggunakan model analisis interaktif.Simpulan hasil penelitian: 1) Guru PPKn di SMP Negeri 20 Purworejo belum memiliki kompetensi pedagogik dalam memilih materi pembelajaran KD 3.3 “memahami tata urutan peraturan perundang-undangan dalam sistem hukum nasional di Indonesia” yang terkait dengan tujuan pembelajaran, dikarenakan : a) Indikator pembelajaran yang dibuat tidak sesuai dengan tuntutan KD 3.3. b) Pengidentifikasian jenis materi pembelajaran tidak sesuai dengan kebutuhan KD 3.3, dikarenakan guru belum mampu menempatkan jenis materi konseptual sesuai dengan kebutuhan pengetahuan prasyarat, inti dan pengayaan, dan c) Belum memiliki kemampuan menyeleksi materi pembelajaran yang sesuai kebutuhannya. 2) Guru juga belum memiliki kompetensi pedagogik dalam memilih materi pembelajaran dari KD 3.3tersebut terkait dengan pengalaman belajar, dikarenakan guru belum mampu membedakan jenis pengalaman belajar yang sesuai terhadap materi bertujuan meretensi pengetahuan dan materi bertujuan mentrasfer pengetahuan. Kata Kunci : Kompetensi Pedagogik, Memilih materi, Pengalaman belajar, dan Tujuan pembelajaran
STRATEGI PENANAMAN NILAI-NILAI KEDISIPLINAN PESERTA DIDIK MELALUI ORGANISASI KEPRAMUKAAN UNTUK MEMBENTUK KARAKTER KEWARGANEGARAAN (STUDI DI SMP NEGERI 8 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2018/2019)
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) strategi penanaman nilai-nilai kedisiplinan peserta didik melalui organisasi kepramukaan untuk membentuk karakter kewarganegaraan di SMP Negeri 8 Surakarta. (2) nilai-nilai kedisiplinan pesert didik setelah mengikuti kegiatan kepramukaan di SMP Negeri 8 Surakarta. (3) faktor pendukung dan penghambat dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan melalui organisasi kepramukaan untuk membentuk karakter kewarganegaraan di SMP Negeri 8 Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sumber data yang digunakan berupa informan, dokumen dan arsip serta tempat dan peristiwa.Teknik Pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh dan menyusun data penelitian adalah dengan teknik pengamatan atau observasi, wawancara, dokumentasi dan angket. Teknik analisis yang digunakan adalah dengan analisis data model analisis interaktif.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Strategi yang digunakan diantaranya strategi keteladanan dan pembiasaan, strategi dinamika kelompok, adanya kontrak pembelajaran di awal kegiatan pramuka, memberikan pengumuman kepada peserta didik supaya mempersiapkan kegiatan pramuka selanjutnya. (2) Nilai-nilai kedisiplinan peserta didik setelah mengikuti kegiatan pramuka berupa disiplin waktu, disiplin dalam berpakaian lengkap, disiplin dalam berbahasa dan disiplin dalam tata tertib. (3) Faktor penghambat dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan diantaranya memiliki rasa minder untuk melakukan hal yang berkaitan dengan disiplin, tidak memiliki kemauan untuk disiplin, kurangnya partisipasi dari guru lain, mayoritas dewan galang putri, susahnya mengatur peserta didik putra dan lingkungan pergaulan yang salah. Sedangkan faktor pendukungnya, yaitu adanya dukungan penuh dari orang tua untuk melakukan kegiatan pramuka, adanya tata tertib yang harus dipatuhi peserta didik, adanya pembentukan sikap dan keterampilan,sarana dan prasarana yang mendukung, adanya seleksi pramuka garuda, pihak pembina dari luar ikut berpartisipasi pada saat kegiatan berlangsungKata Kunci: Penanaman, Nilai-Nilai Kedisiplinan, Karakter Kewarganegaraan
PENGUATAN KESADARAN BERKONSTITUSI MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER “LCC 4 PILAR” (STUDI PADA SMA NEGERI 1 SIMO, KABUPATEN BOYOLALI)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) penguatan kesadaran berkonstitusi di SMA Negeri 1 Simo melalui kegiatan ekstrakurikuler “LCC 4 Pilar”; 2) faktor pendukung dan faktor penghambat dalam menguatkan kesadaran berkonstitusi pada siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler “LCC 4 Pilar”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan studi dokumen. Pengujian validitas data menggunakan model analisis triangulasi data dan triangulasi metode. Analisis data menggunakan model analisis interaktif.Kesimpulan hasil penelitian: 1) Penguatan kesadaran berkonstitusi di SMA Negeri Simo melalui ekstrakurikuler “LCC 4 Pilar” dilakukan dengan kegiatan a) Menghafal Pasal-pasal dalam UUD NRI tahun 1945 sebagai sarana untuk memahami norma-norma dasar dalam konstitusi dan mengimplementasikan isi dari Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. b) Musyawarah untuk menetapkan target hafalan sebagai sarana untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan Ekstrakurikuler. c) Outbond dan Mengikuti kompetisi sebagai sarana dalam rangka berpartisipasi mengisi kemerdekaan sesuai dengan kapasitasnya sebagai seorang siswa. 2) Faktor pendukung dalam kegiatan ekstrakurikuler adalah a) motivasi atau dorongan yang kuat dalam diri siswa, b) Komitmen dan rasa kekeluargaan yang sudah ditanamkan sejak pertama kalimasuk ekstrakurikuler, c) dukungan finansial ketika akan menghadapi lomba, d) sarana dan prasarana yang memadai, e) buku-buku materi yang memadai, f) dukungan motivasi yang didatangkan dari para alumni, mentor/pelatih yang kompeten. Faktor penghambat dalam kegiatan ekstrakurikuler adalah a) kegiatan yang cenderung membosankan, b) pengelolaan kegiatan cenderung kurang terkoordinir dan belum memiliki dokumentasi yang sistemasis, c) waktu ekstrakurikuler yang cenderung pendek Kata Kunci: kesadaran berkonstitusi, Ekstrakurikuler “LCC 4 Pilar
INOVASI MODEL VALUE CLARIFICATION TECHNIQUE (VCT) BERBASIS MEDIA WINDOWS MOVIE MAKER SEBAGAI UPAYA REVITALISASI NILAI PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN NILAI DAN NORMA
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran value clarification technique (VCT) berbasis media windows movie maker sebagai bentuk inovasi dalam pembelajaran mata kuliah Pendidikan nilai dan norma. Pembelajaran VCT merupakan model pembelajaran yang dapat digunakan untuk menunjukkan dan membangun nilai-nilai yang penting untuk dikembangkan pada setiap diri individu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pembelajaran ini dilakukan dengan dukungan video yang menjadi salah satu media pembelajaran untuk mendukung revitalisasi nilai. Penelitan ini dilaksanakan di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian pendidikan dengan pendekatan pengembangan. Hasil penelitian yaitu peneliti sudah melakukan studi pendahuluan dengan memetakan capaian pembelajaran lulusan, capaian pembelajaran mata kuliah, dan kemampuan yang diharapkan dalam mata kuliah Pendidikan Nilai dan Norma yang cocok didukung dengan model pembelajaran VCT dengan media video movie maker. Kelayakan Model pembelajaran VCT berbasis Media Windows Movie Maker terlihat dari hasil uji kelayakan validator yang menunjukkan bahwa rancangan model dapat diujikan di kelas treatment dengan kategori layak digunakan dalam penelitian. Keefektifan Model pembelajaran VCT berbasis Media Windows Movie Maker dapat dilihat dari hasil uji dikelas treatment dengan pola one group pretest posttest design menunjukkan hasil pretest dan posttest terjadi peningkatan hasil belajar dari 45,69% menjadi 88,12%, jika dihitung dengan rumus N-Gain mendapatkan hasil 0,78 yang berarti terjadi peningkatan dalam kategori tinggi, sedangkan melalui angket kefektifan inovasi model menunjukan bahwa terjadi peningkatan kefektifan pembelajaran sebelum dan sesudah menggunakan inovasi model pembelajaran terjadi peningkatan dari 53,49% menjadi 89,15%. Kata kunci : VCT, media windows movie maker, pembelajaran, nilai dan norm
PENGUATAN ECOLOGICAL CITIZENSHIP SEBAGAI UPAYA MENGUBAH PERILAKU MASYARAKAT SADAR AKAN LINGKUNGAN MELALUI PROGRAM KAMPUNG SELO BERAKSI
This study aims to find out: (1) Strengthening ecological citizenship in changing the behavior of people aware of the environment through the Kampung Selo Beraksi program; (2) Obstacles faced in realizing the Kampung Selo Beraksi program. This study uses qualitative research methods and descriptive research approaches. The research technique used was purposive sampling. Data collection uses interviews, observation and document analysis. Testing data validity using data triangulation and methods. Data analysis uses an interactive analysis model which includes: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Stages of research include: (1) Preparation; (2) Data collection; (3) Analysis of data; (4) Preparation of research reports. The results of this study include: (1) Strengthening ecological citizenship is needed to arouse community awareness through environmental activities, namely the Kampung Selo Beraksi program. Insightful activities in the Kampung Selo Beraksi program include garbage banks, hydroponic parks, vertical gardens, craft galleries, and outbound. Strengthening ecological citizenship in the Kampung Selo Beraksi program is a bottom up approach that is realized through the formation of environmental knowledge, environmental skills, environmental attitudes, environmental participation. (2) The obstacles faced in realizing the Kampung Selo Beraksi program come from internal and external. The barriers to the Kampung Selo Beraksi program originating from the internal include: a) limited human resources due to lack of activeness and participation of the Kampung Selo community members; b) limited sources of funds in the development of the Kampung Selo Beraksi program. Barriers to the Kampung Selo Beraksi program originating from the external include: a) obstacles from the community, namely the existence of counter-attitudes from the community and a lack of community participation; b) obstacles from the government, namely lack of attention and participation of the local government; c) obstacles from the environment, namely the location of Kampung Selo Beraksi far from the city and the maximum arrangement of the village. Keywords: Strengthening, ecological citizenship, Kampung Sel
PENGUATAN NILAI-NILAI TOLERANSI OLEH MAJLIS TAFSIR AL QUR’AN (MTA) PUSAT SEBAGAI UPAYA MENJAGA KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DI KOTA SURAKARTA
The purpose of this study are 1) to describe the implementation of strengthening tolerance values by Majlis Tafsir Al Qur'an (MTA) Center, 2) to describe the impact of strengthening the tolerance values by Majlis Tafsir Al Qur'an (MTA), 3) to know the supporting factors and the inhibitors of strengthening tolerance value by Majlis Tafsir Al Qur'an (MTA) as an effort to maintain the harmony between one and another religious groups. This study uses a qualitative research approach, this type of research is described qualitatively. The data sources are obtained from informants, places, events, and documents. Based on the results of this study, it can be concluded that (1) The implementation of strengthening tolerance values by Majlis Tafsir Al Qur'an (MTA) Center is carried out through recitation and activities in various fields such as: education, social, and health, which contain values the value of respecting, respecting, accepting differences, and mutual cooperation based on the Qur'an and the Sunnah, (2) The harmony between religious communities in the society is always guarded by Majlis Tafsir Al Qur'an (MTA), this is evidenced in the research findings where there is good relations between the congregation of the MTA and non-Muslim citizens around MTA, (3) The supporting factors of the strengthening of tolerance values in the Majlis Tafsir Al Qur'an (MTA) are: the value of tolerance in the Qur'an and the Sunnah (the Prophet's hadith) in the teachings of Islam, facilitates the strengthening of tolerance values that can be accepted by the congregation, the teaching material is conveyed in a language that is easily understood by worshipers, and the understanding of tolerance in MTA is relatively high. The inhibiting factors are: there is no study material that specifically made to discuss about the values of tolerance, the existence of a society that is easily provoked by issues and slander that develops so that it prevents MTA activities, and there are some individuals (Ex MTA) who vilify MTA. Key words: Strengthening The Tolerance Value, The Harmony Between Religious Communities, Majlis Tafsir Al Qur’an (MTA) Cente
STUDI RELEVANSI MODEL PEMBELAJARAN YANG DIGUNAKAN GURU DENGAN KOMPETENSI DASAR PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
The aims of this study are: 1) Describe the learning models used by the teachers on Citizenship Education subject. 2) Explain the relevance of the learning models used with the basic competencies in Citizenship Education subject. According to the results of the study, there are two conclusions. The first one is the teachers use a few learning models in Citizenship Education. The first model is the class based-passive cognitive pedagogies model. The teacher has planned the subject as stated in the lesson plan (RPP). This model emphasizes traditional learning about how the teacher provides initial definitions, principles, and concepts of learning materials and provides examples of problem-solving exercises in the form of lectures, demonstrations, question and answer, and assignments. The second model is the application of the model used by the teacher, namely lectures. The second conclusion is, the learning model used by the teachers in Wikarya Vocational School is not yet relevant to the basic competencies in the school. This can be seen from a number of facts, namely: a) the plan for implementing learning that has been prepared by the teacher does not fully reflect the circumstances during the learning process. b) The teachers do not apply everything contained in the lesson plan and the teachers still use the traditional learning models which is the lecture model. c) On average more than 70% of students have low minimum completeness criteria. d) Attitudes and behaviors of the students in the school show the lack of achievement of basic competencies to be achieved. In addition to the facts mentioned above, the unsuccessful learning model applied by the teachers at Karanganyar Wikarya Vocational School in maintaining a conducive atmosphere during the learning process makes the students feel bored and not concerned with the importance of the lesson. Then, it results in failure to achieve the expected basic competencies. Keywords : learning model, teacher, basic competenc
PEMENUHAN AKSESIBILITAS HAK POLITIK BAGI PENYANDANG DISABILITAS PADA SAAT PEMILIHAN KEPALA DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR JAWA TENGAH TAHUN 2018 DI KECAMATAN SIDOHARJO KABUPATEN WONOGIRI
The purpose of this research is to (1) Find out the fulfillment of accessibility of political rights for persons with disabilities in Sidoharjo District Wonogiri Regency during the regional elections of Governor and Deputy Governor of central Java 2018 and (2)find out what are the supporting and inhibiting factors in fulfilling the accessibility of political rights for persons with disabilities in Sidoharjo District Wonogiri Regency during the regional elections of the Governor and Deputy Governor of Central Java 2018. This research uses a descriptive qualitative method which tends towards the ex-post facto. The sampling technique used in this research is purposive sampling with data collection techniques are interview and document analysis. The validity of the data obtained by data triangulation techniques and triangulation methods. Analysis of the data used in this study is the interactive analysis of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The result of the research showed that (1) fulfilling the accessibility of political rights for persons with disabilities in the 2018 regional elections was seen from the aspect of procedures, facilities, and assistive devices that were adjusted to UU No 8 of 2016 Concerning Persons with Disabilities Clause 77 point c, (2) There is a supportive and obstructive factors which are from PPK as organizer of regional elections activities and persons with disabilities. Factors supporting that come from PPK is PPK has paid attention to the accessibility of political rights for persons with disabilities in accordance with the guidelines for the June 27 2018 regional elections guidebook issued by the KPUD Wonogiri, then supporting factors that come from persons with disabilities are having their own awareness to participate in a series of regional elections activities. The obstructive factors derived from PPK is lack of understanding by the organizing committee on disability issues has caused unevenness accessibility of political rights for persons with disabilities in each TPS, then obstructive factor of persons with disabilities is the self-confidence that is embedded in oneself so that it inhibits persons with disabilities from participating in the 2018 regional elections. Keywords: accessibility, political rights, persons with disabilitie
ASAS PROPORSIONAL DALAM PERJANJIAN WARALABA (FRANCHISE)
Waralaba adalah persetujuan atas pemberian hak atas istimewaan untuk memasarkan suatu barang atau jasa dari pemilik kepada pihak lain yang diatur dalam suatu aturan permainan tertentu. Waralaba juga digunakan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PPRI) Nomor 16 Tahun 1997 adalah kata lain dari franchise. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PPRI) Nomor 16 Tahun 1997 tersebut sebagai kata lain dari franchisor disebut pemberi waralaba dan untuk kata lain dari franchise disebut penerima waralaba. Definisi mengenai waralaba ini kemudian berkembang dengan bermacam-macam pengertian namun dengan prinsip yang sama yakni adanya pemberian hak menggunakan atau memanfaatkan hak milik intelektual dari pihak pemberi waralaba oleh penerima waralaba dalam suatu jaringan pemasaran.Kata kunci : asas proporsional, perjanjian, waralaba
HUBUNGAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENGIDENTIFIKASI KEBERAGAMAN SUKU, AGAMA, RAS, DAN ANTARGOLONGAN DALAM BINGKAI BHINNEKA TUNGGAL IKA DENGAN SIKAP MENGHARGAI KEBERAGAMAN SUKU, AGAMA, RAS, DAN ANTARGOLONGAN (STUDI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 4 SURAKARTA)
The purpose of this study was to determine the relationship between students' ability in identifying ethnic, religious, racial and intergroup diversity in the frame of Unity in Diversity with an attitude of respect for ethnic, religious, racial and intergroup diversity in class VII students of Surakarta State Junior High School 4.This research is quantitative research. The method used is descriptive correlational statistics. Subjects in this study were class VII students of SMP Negeri 4 Surakarta using simple random sampling technique. Data collection techniques used are test and questionnaire instruments. Validity test used uses the product moment formula. Reliability testing uses the Spearman Brown formula to test the X variable, and the Cronbach Alpha formula to test the Y variable. Data analysis uses a simple correlation technique.The results in this study are that there is a positive and significant relationship between students' ability to identify ethnic, religious, racial and intergroup diversity in the frame of Unity in Diversity with an attitude of respect for ethnic, religious, racial and intergroup diversity. A positive relationship between variable X and variable Y is indicated by the value of r count = 0.889> r table = 0.244. The meaning of the relationship between variable X and variable Y is significant indicated by the value of t count = 15, 28> t table1.27. Keywords: identifying diversity, respect