PKn Progresif : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Kewarganegaraan
Not a member yet
72 research outputs found
Sort by
KETERLIBATAN ORANG TUA DALAM PEMBELAJARAN DALAM JARINGAN (DARING) UNTUK MEMBENTUK CIVIC RESPONSIBILITY PESERTA DIDIK MADRASAH IBTIDAIYAH TEMPURSARI, KECAMATAN SAMBI, KABUPATEN BOYOLALI.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) keterlibatan orangtua dalam membentuk civic responsibility anak selama pembelajaran dalam jaringan (daring); (2) hambatan dan solusi dalam menerapkan usaha keterlibatan orang tua dalam membentuk civic responsibility anak selama pembelajaran dalam jaringan (daring). Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, karena digunakan untuk mengkaji dan memastikan kebenaran suatu data atau informasi mengenai permasalahan yang belum jelas. Teknik pengambilan sampel yang digunakanadalah purposive sampling kepada informan yang dianggap mengetahui permasalahan dalam penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:1) Keterlibatan orang tua dalam membentuk civic responsibility anak selama pembelajaran daring seperti berikut : a) Melalui teori pemenuhan diri, orang tua memberikan motivasi berupa reward atau dorongan agar anak memiliki keinginan untuk belajar; b) Dialog internal, hubungan baik antara anak dengan orang tua, seperti menanyakan kesulitan yang dialami anak; c) Menghadapi masalah, mengembalikan semangat belajar dengan mengajak anak untuk segera menyelesaikan tugas; d) Melihat sisi baik, memberikan waktu untuk refreshing pada anak dengan bermain game atau menonton televisi; e) Menjaga kesehatan mental anak, orang tua memberikan kebebasan pada anak untuk mengatur jadwal secara mandiri dengan bimbingannya. 2) Hambatan dan solusi dalam menerapkan usaha keterlibatan orang tua dalam membentuk civic responsibility anak selama pembelajaran daring berupa : a) Anak belummampu mengatur jadwal belajar dan kegiatan secara mandiri, sehingga orangtua membantu anak; b) Orang tua tidak dapat membantu anak belajar karena pekerjaan atau karena keterbatasan pengetahuan, orang tua meminta anak belajar bersama dengan teman atau tetangga; c) Fasilitas sinyal di rumah yang tidak stabil, orang tua memperbolehkan anak untuk belajar di tempat yang memiliki wi-fi
SILA KE 5 PANCASILA SEBAGAI DASAR AKTUALISASI DIRI GENERASI MILENIAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Aktualisasi diri adalah bentuk dari tindakan seseorang untuk berkarakter. Di abad ini teknologi berkembang pesat, setiap orang dapat berkarya di manapun, terutama melalui internet. Namun, sering kali terjadi penghinaan atas karya yang di unggah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap pemahaman masyarakat tentang kebebasan berekspresi, yang termasuk di dalamnya adalah aktualisasi diri. Penelitian menggunakan metode kualitatif berupa penelitian kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Sila ke 5 pancasila dapat dijadikan pedoman untuk berani mengaktualisasikan diri oleh generasi milenial. Oleh karenanya, seluruh warga negara, terutama generasi milenial pengguna internet harus bisa membudayakan apresiasi hasil karya orang lain terutama yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama
TEACHER STRATEGIES IN DEVELOPING CIVIC ATTITUDE ASSESSMENT INSTRUMENTS (STUDY OF SMK NEGERI 2 KARANGANYAR)
Penelitian ini ditunjukkan untuk mengetahui: 1. Strategi guru dalam mengembangkan instrumen penilaian sikap kewarganegaraan di SMK Negeri 2 Karanganyar. 2. Kendaladan solusi guru dalam mengembangkan instrumen penilaian sikap kewarganegaraan diSMK Negeri 2 Karanganyar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara,observasi, dan studi dokumen. Pengujian validatas data menggunakan model analisis triangulasi data dan triangulasi metode. Analisis data menggunakan model analisis interaktif. Sikap kewarganegaraan terdiri dari karakter privat dan karakter publik makadari itu instrumen penilaian sikap yang dikembangkan oleh guru PPKn harus dapat mengukur kedua aspek dari sikap kewarganegaraan tersebut. Karena mata pelajaran PPKn merupakan salah satu kelompok mata pelajaran yang menanamkan pendidikan karakter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru dalam melaksanakan penilaian sikap menggunakan teknik observasi dengan instrumen lembar pengamatan. Oleh karena itu strategi guru dalam mengembangkan instrumen penilaian sikap kewarganegaraan ialah a) Menyesuaikan kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD) dalam penyusunan instrumen penilaian; b) Menyesuaikan dengan karakteristik peserta didik; c)Menentukan bentuk instrumen dan teknik penilaian; d) Menyusun instrumen penilaian dan pedoman penskoran; e) Menganalisa instrumen penilaian sikap. Kendala yang dihadapi oleh guru dalam mengembangkan instrumen penilaian sikap kewarganegaraan yaitu a) Kurangnya penguasaan teknologi informasi; b) Kesulitan memahami karakter peserta didik; c) Alokasi waktu lama; e) Kesulitan guru dalam penyusunan instrumen penilaian. Sedangkan solusi yang ditawarkan adalah a) Meningkatkan motivasi; b) Mengikuti pelatihan atau workshop; c) memberi contoh kepada peserta didik
MENGKAJI ISU DEMOKRASI DI INDONESIA MENGENAI WACANA 3 PERIODE MASA JABATAN PRESIDEN BERDASARKAN UUD 1945
Pada akhir-akhir ini sedang muncul isu pada demokrasi di Indonesia mengenai wacana 3 periode masa jabatan Presiden. Isu tersebut muncul karena adanya pernyataan dari ketua DPP Surtawijaya. Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data berupa studi kepustakaan dengan pendekatan perundang-undangan. Hasil penelitian ini diperoleh informasi mengenai pengertian demokrasi, sejarah demokrasi di Indonesia dan negara-negara yang sudah memberlakukan masa jabatan Presiden 3 periode. Selanjutnya, hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Presiden bisa menjabat dalam 3 periode berturut-turut tetapi harus mengamandemen terlebih dahulu pada pasal 7 UUD 1945 dengan syarat yang sudah ditentukan pada pasal 37 UUD 1945. Selain itu, jika masyarakat benar-benar menginginkan Presiden berkuasa selama 3 periode, maka hal tersebut tidak akan bertentangan terhadap sistem demokrasi. Namun, semua itu dikembalikan lagi kepada Presiden, apakah beliau bersedia atau tidak untuk melanjutkan masa jabatannya selama 3 periode.Kata Kunci: Demokrasi, Presiden, Masa Jabatan 3 Periode, Amandemen, Konstitus
NILAI-NILAI MORAL DAN AGAMA PADA ANAK USIA DINI
one of the basic attitudes that must be possessed by a child is to have good religious attitudes and morals in behaving as religious people of god. the age of early childhood is a good age to lay the foundations of moral and religious education. Instilling moral and religious values in early childhood is verry important so that children can have good moral and religious values, so that when children enter the next level, children already have knowledge, good experiences that have been obtained when they were still in school. early childhood or kindergarten
PERANAN KARANG TARUNA DALAM PEMBENTUKAN CIVIC RESPONSIBILTY DI DUKUH NGOMBOL SARI DESA PALUR KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peranan karang taruna dalampembentukan civic responsibility di Dukuh Ngombol Sari Desa Palur Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo, mendeskripsikan kendala-kendala yang dihadapi karang taruna dalam pembentukan civic responsibility di Dukuh Ngombol Sari Desa Palur Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan Teknik sampling kepada Karang Taruna Saras Muda yang dilaksanakan di Dukuh Ngombol Sari, Desa Palur, Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan peranan karang taruna dalam pembentukan civic responsibility yaitu mampu membentuk anggotanya agar mampu bekerja sesuai dengan hak dan kewajibannya, bekerja secara tulus dan ikhlas, dapat mengemban kepercayaan dari orang lain, mengakui kesalahan diri sendiri, dan mampu mengakui kelebihan orang lain. Kendala yang dihadapi karang taruna terdapat kendala eksternal dan internal, kendala eksternal yaitu terbatasnya biaya anggaran atau dari pemerintah desa untuk melaksanakan program kerja, sedangkan kendala internal yaitu kurangnya kesadaran remaja terhadap tanggung jawab atau kewajibannya yang berupa melaksanakan kegiatan pendidikan yang berorientasi pada pengembangan, menyelenggarakan usaha-usaha kesejahteraan sosial, menyelenggarakan kegiatan pemberdayaan masyarakat, sikap pasif remaja dalam kegiatan yang dilaksanakan Karang Taruna Saras Muda, misalnya tidak mengikuti kegiatan “nyinom”, kerja bakti, bakti sosial, dan sikap tidak acuh remaja terhadap tanggung jawab atau tugas yang diberikan seperti tidak menaati peraturan dalam organisasi, tidak mengikuti perkataan ketua karang taruna, dan lain sebagainya.Kata Kunci: Peranan, Karang Taruna, Civic Responsibilit
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN NILAI MORAL DAN SOSIAL PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
Good social and moral attitude in behaving is one of the basic attitudes that a person must have to be a good and right human being in carrying out his life. Although the role of parents is very large in building and creating the basis for moral and social values in their children, the role of PAUD teachers is not small in putting moral and social values on their students, because students tend to obey orders and listen to what the teacher says. Therefore, a PAUD teacher must always try in various ways to guide early childhood to have a good personality, which is based on moral and social values. By giving a moral and social foundation to early childhood, a child can get used to and be able to distinguish between good and bad behavior, what is wrong and right, and get used to carrying out teachings that are in accordance with the character values that are instilled according to the level of education. Growth and development. The method used is the literature study method. The results of the implementation of moral and social learning in early childhood can show that children’s learning activities, either individually or in groups, can run well
KAMPANYE NILAI-NILAI ANTIKORUPSI MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Penanaman nilai antikorupsi harus terus dilakukan, salah satunya melalui integrasi dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Tujuannya ialah untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman mahasiswa mengenai korupsi, penumbuhan sikap antikorupsi, dan pengembangan keterampilan dalam diseminasi gagasan pemberantasan korupsi. Penelitian ini dilakukan di Program Studi Periklanan Politeknik Negeri Media Kreatif. Rumusan dalam riset ini ialah bagaimana kampanye nilai-nilai antikorupsi dilakukan dalam pembelajaran PKn. Tujuan riset ialah untuk mengetahui kampanye nilai-nilai antikorupsi yang dilakukan dalam pembelajaran PKn. Metode penelitian yang dipilih ialah dengan pendekatan kualitatif, dimana pengumpulan data melalui observasi dan kuesioner dengan alat pengumpul data berupa lembar observasi dan angket. Kampanye nilai-nilai antikorupsi diwujudkan melalui pembuatan video kampanye dan pembuatan papan cerita. Aspek yang dikembangkan dalam pembelajaran ini ialah aspek berpikir kritis, kreatif, disiplin, menghargai karya, dan antikorupsi. Pelaksanaan kampanye penanaman nilai-nilai antikorupsi ini juga turut mewujudkan konsep internalisasi pembelajaran integritas bagi mahasiswa dimana mahasiswa menginternalisasi antikorupsi dalam bentuk kognitif, afektif, dan psikomotoriknya
Penerapan Pembelajaran PPKn dalam menumbuhkan Pemahaman Ideologi Pancasila pada Siswa
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan Pembelajaran PPKn dalam menumbuhkan pemahaman ideologi Pancasila pada siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek dalam penelitian ini ialah Subjek berasal dari SMK N 1 Karawang yang terdiri dari Wakasek Bidang Kurikulum, Guru PPKn, dan Siswa Kelas X Jurusan Teknik Elektronika Industri (TEI) 1. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa siswa cukup memahami nilai-nilai Pancasila melalui pembelajaran PPKn yang diterapkan, terbukti dengan siswa dapat mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila di sekolah serta dilingkungan sekitarnya, hal tersebut menjadi sebuah dampak ditanamkannya nilai-nilai Pancasila pada penerapan pembelajaran PPKn di sekolah. Rekomendasi penelitian ini bagi Universitas Buana Perjuangan Karawang selaku penyelenggara pendidikan perguruan tinggi guna menjadi kepustakaan terutama dalam bidang wawasan kebangsaan. Bagi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dengan hasil penelitian ini peneliti menyarankan untuk dimasukkan dalam kajian-kajian kebangsaan sebagai wawasan pengetahuan mengenai pembelajaran PPKn di sekolah serta dampaknya bagi siswa.Kata Kunci : Pembelajaran, Pemahaman, dan Pancasil
AKTUALISASI PEMBELAJARAN REAL LEARNING DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Kualitas Pendidikan di suatu negara erat kaitannya dengan sistem kurikulum yang diterapkan, terutama mengenai metode yang diterapakan pendidik dalam proses pembelajaran. Metode yang diterapkan oleh pendidik sangat berpengaruh terhadap daya tangkap dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran, khususnya pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang mempunyai tujuan utama menjadikan peserta didik senagai warga negara yang yang baik dan cerdas. Tentunya untuk menjalankan tujuan tersebut sangatlah sulit apabila tidak diterapkannya metode yang tepat, karena Pendidikan Kewarganegaraan merupakan ilmu mengenai kecakapan hidup mendasar untuk seorang warga negara. Dari hasil pembahasan yang dikemukakan, beberapa aspek penting manajemen pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang diperlukan dalam memperkuat implementasi kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan di satuan Pendidikan yakni: (1) kemampuan dalam menyiapkan perencanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan baik dalam perumusan tujuan, penentuan materi dan bahan ajar, model dan strategi pembelajaran, serta sistem penilaian. (2) kemampuan dalam mengorganisasi proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan baik pengorganisasian kelas, kegiatan pembelajaran, maupun sumber daya dan lingkungan bagi kepentingan belajar. (3) kemampuan mengaktualisasi pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sehingga terjadi proses real learning oleh siswa dalam proses pembentukan nilai, sikap, dan perilaku. (4) kemampuan mengembangkan sistem evaluasi sebagai bagian dari proses untuk menilai sejauhmana telah terjadi perubahan dalam sikap dan perilaku siswa.