487 research outputs found

    Pengaruh Abu Boiler dan Pupuk Grand-K Terhadap Pertumbuhan serta Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)

    Full text link
    Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi maupun pengaruh utama abu boiler dan pupuk Grand-K terhadap pertumbuhan serta hasil produksi tanaman bawang merah. Penelitian ini telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau, Jalan Kaharuddin Nasution, KM 11 No. 113, Kelurahan Air Dingin, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru. Penelitian berlangsung selama 4 bulan dimulai dari Mei sampai Agustus 2022. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial, terdiri dari 2 faktor yaitu faktor pertama abu boiler (A) terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu (0), (0,3), (0,6), (0,9) kg/plot. Faktor kedua pupuk Grand-K (G) terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu 0, 15, 30, 45 g/plot. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, umur panen, jumlah umbi per rumpun, berat basah umbi per rumpun, berat umbi kering per rumpun, susut umbi dan bobot umbi per rumpun. Data pengamatan dianalisis secara statistik dan dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf 5%. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pengaruh interaksi abu boiler dan pupuk Grand-K berpengaruh terhadap persentase bunga menjadi buah, diameter buah, dan berat buah per tanaman. Pengaruh utama abu boiler dan pupuk Grand-K berpengaruh terhadap semua parameter pengamatan. Perlakuan terbaik dengan pemberian abu boiler 0,9 kg/plot dan pupuk Grand-K 45 g/plot.

    Back Matter

    No full text

    Review Pemanfaatan MarkaSimple Sequence Repeat (SSR) dalam Kegiatan Analisis Keragaman Genetik Plasma Nutfah Padi Lokal di Indonesia

    Full text link
    Analisis keragaman genetik plasma nutfah padi lokal Indonesia dapat dilakukan baik secara morfologi, biokimia, maupun molekuler. Studi terkait penanda molekuler sangat diperlukan untuk mendukung program pemuliaan tanaman, karena penggunaan penanda molekuler bersifat lebih efektif dan presisi dalam menganalisis keragaman genetik tanaman. Salah satu penanda molekuler yang banyak digunakan pada studi keragaman genetik tanaman padi yaitu penanda mikrosatelit atau Simple Sequence Repeat (SSR). Penanda SSR dapat mendeteksi keragaman genetik berdasarkan perbedaan tingkat polimorfisme DNA. Identifikasi aksesi plasma nutfah padi lokal Indonesia berbasis penanda SSR diperlukan untuk menganalisis hubungan kekerabatan antar aksesi serta mencegah terjadinya duplikasi pada koleksi plasma nutfah yang ada sehingga potensi yang dimiliki oleh tiap aksesi dapat dimanfaatkan secara optimal pada program pemuliaan tanaman. Beberapa studi terkait pemanfaatan penanda SSR dalam menganalisis keragaman genetik padi lokal di Indonesia telah banyak dilakukan. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa penanda SSR yang digunakan dapat mengidentifikasi adanya duplikasi pada koleksi plasma nutfah padi lokal yang digunakan, serta dapat mengelompokkan koleksi padi lokal berdasarkan karakter warna beras, ketan dan bukan ketan, serta daerah asal

    Keragaman Fisikokimia Beberapa Populasi Tanaman Garut di Kabupaten Jember

    No full text
    Garut (Maranta arundinacea L.) merupakan tanaman perenial yang umbinya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan alternatif, pakan, dan bahan baku industri. Tanaman garut di Kabupaten Jember masih sebagai tanaman liar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman fisikokimia garut dari beberapa kecamatan di Kabupaten Jember. Variabel fisikokimia yang diamati meliputi kadar air, sukrosa, protein terlarut, antioksidan, flavonoid, phenolic, gula reduksi, dan karbohidrat. Data yang diperoleh dianalisis korelasi dan biplot. Hasil korelasi menunjukkan semakin tinggi kadar air maka semakin rendah kandungan sukrosa pada umbi garut (r= -0.480), juga dengan kandungan protein terlarut (r=-0.515) dan gula reduksi (r=-0.698). Semakin tinggi kandungan sukrosa pada umbi garut maka semakin tinggi pula kandungan protein terlarut (r=0.515), phenolik (r=0.513) dan gula reduksi (r=0.657). Berdasarkan hasil analisis biplot, total keragaman fisikokimia garut di Kabupaten Jember sebesar 58.6%. Kandungan flavonoid memiliki nilai keragaman kecil dibanding variabel lainnya. Umbi garut yang diperoleh dari Kecamatan Wuluhan (Desa Tanjangrejo dan Glundengan) memiliki kandungan gula reduksi dan protein terlarut rendah, dan umbi garut dari Kecamatan Sumbersari (Desa Kranjingan) memiliki kandungan antioksidan dan karbohidrat paling tinggi

    Karakterisasi Morfologi Pisang di Kabupaten Kampar Provinsi Riau

    No full text
    Pisang (Musa spp.) merupakan buah paling penting di hampir setiap negara termasuk Indonesia. Pisang  juga merupakan tanaman penting di dunia dan sumber pendapatan di banyak negara berkembang. Keanekaragaman pisang setiap daerahnya memiliki keunggulan masing-masing. Informasi terkait keragaman genetik tanaman sangat penting karena keragaman genetik yang tinggi merupakan salah satu kunci sukses dalam pengembangan tanaman. Terutama dalam penyediaan informasi pemuliaan tanaman. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 6 aksesi pisang. Setiap spesies terdiri atas 3 individu yang diperoleh dari hasil eksplorasi di Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah stapler, alat tulis, kertas label, kamera, dan penggaris. Pengamatan dan pertelaan morfologi mengikuti Musa Descriptor List. Deskripsi morfologi karakter kualitatif dari 6 populasi pisang telah berhasil didapatkan dan telah disajikan di dalam pembahasan. Hubungan kekerabatan berdasarkan penanda morfologi menggunakan 30 karakter kualitatif menunjukkan koefisien kemiripan genetiknya berkisar antara 0,28-0,60 yang terbagi dua yaitu Klaster A (A1; Pisang 40 Hari, Barangan Medan, Cavendish, Lilit, A2; Ambon) dan B (Pisang Kepok Taiwan). Perbedaan jenis pisang yang tumbuh menunjukkan pisang di Kabupaten Kampar memiliki keragaman morfologis yang cukup tinggi. Pengelompokan pisang pada penelitian ini dipengaruhi oleh persamaan karakter yang dimiliki oleh setiap aksesi yang pada akhirnya mengelompok berdasar persamaan spesiesnya. Dari penelitian ini, diharapkan dapat mengetahui keanekaragaman genetik dan hubungan kekerabatan pisang yang tumbuh di Kabupaten Kampar untuk nantinya akan didapatkan tetua pisang yang bagus sebagai bahan persilangan dan menghasilkan pisang yang potensial di masa mendatang

    Front Matter

    No full text

    Back Matter

    No full text

    Pengaruh Konsentrasi POC Urin Kelinci dan Komposisi Media Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Sawi Pagoda (Brassica narinosa L.)

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi POC urin kelinci yang terbaik, komposisi media tanam terbaik dan interaksi kedua perlakuan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi pagoda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2021 di screen house Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Rancangan yang digunakan pada percobaan ini adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi POC urin kelinci, yaitu K0= 0 ml/L, K1= 20 ml/L, K2= 40 ml/L, K3= 60 ml/L. Faktor kedua adalah komposisi media tanam, yaitu M1= tanah, M2= tanah + kompos (1:1), M3= tanah + arang sekam (1:1). Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan Uji F dan apabila terdapat perbedaan yang signifikan dilakukan uji lanjut menggunakan DMRT dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara konsentrasi POC urin kelinci dengan komposisi media tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi pagoda. Tidak terdapat interaksi antara konsentrasi POC urin kelinci dan komposisi media tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi pagoda (Brassica narinosa L.). Konsentrasi POC urin kelinci 60 ml/L memberikan hasil yang tertinggi pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, diameter tajuk, bobot tajuk segar, bobot tajuk kering, bobot akar segar dan bobot akar kering. Komposisi media tanam M2 (tanah + kompos 1:1) memberikan hasil terbaik pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, kehijaun daun, diameter tajuk, bobot segar tajuk, bobot tajuk kering, bobot akar segar dan bobot akar kering

    Efektivitas Metode Ekstraksi DNA pada Daun Segar dan Kering dari Tanaman Obat

    Full text link
    Tanaman obat merupakan salah satu tanaman yang sering menjadi target studi molekuler. Pada studi molekuler, ekstraksi dan purifikasi DNA genom merupakan tahap awal yang akan menentukan analisis selanjutnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan metode ekstraksi DNA yang mampu menghasilkan DNA dengan kuantitas dan kualitas yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas metode ekstraksi DNA dari daun segar maupun daun yang dikeringkan dari tanaman obat. Sebanyak sembilan genotip tanaman obat yang digunakan pada penelitian ini yaitu tiga genotip Justicia gendarussa, dua genotip Orthosiphon aristatus, dan masing-masing satu genotip Adenostemma lavenia, Adenostemma platyphyllum, Adenostemma madurense, dan Curcuma xanthorrhiza. Metode ekstraksi DNA genom yang digunakan adalah metode CTAB dengan beberapa modifikasi. Hasil penelitian DNA genom dari daun segar dan kering menunjukkan kuantitas, kualitas, dan dapat teramplifikasi dengan baik menggunakan primer RAPD dan penanda DNA

    Analisis Pektin dan Vitamin C untuk Evaluasi Sifat Tahan Simpan pada Generasi F2 Buah Cabai LB

    Full text link
    Cabai (Capsicum annuum L.)  merupakan salah satu komoditas sayuran terpenting dan strategis di Indonesia. Sebagai salah satu komoditas terpenting, cabai memiliki masa simpan pascapanen yang relatif singkat yang seringkali menjadi penyebab kerugian ekonomi. Ketahanan daya simpan cabai dapat ditingkatkan melalui upaya persilangan. Persilangan antara dua varietas cabai, Laris (daya hasil tinggi) dan SSP (tahan simpan) telah menghasilkan generasi kedua (F2) cabai LB. Buah cabai F2 LB matang merah telah dikelompokkan berdasarkan daya simpannya, dilihat dari susut bobot buah pascapanen. Pada studi ini, dilakukan pengukuran kandungan pektin dan vitamin C pada buah cabai F2 LB matang merah. Pektin dan vitamin C merupakan bagian komponen struktural dan antioksidan penjaga keutuhan dinding sel yang penting untuk ketahanan simpan buah. Tujuan penelitian adalah menyelidiki korelasi antara kandungan pektin atau vitamin C dengan sifat ketahanan simpan buah cabai. Analisis juga dilakukan pada buah cabai tetua Laris dan SSP sebagai kontrol. Pengukuran pektin dilakukan menggunakan Pectin Identification Kit (Megazyme) dengan dua protokol tambahan. Kandungan pektin dan vitamin C diukur secara semi kuantitatif menggunakan spektrofotometer. Hasil menunjukkan bahwa kandungan pektin dan vitamin C pada buah cabai F2 LB tidak berbeda signifikan antara yang tahan simpan dengan yang tidak tahan simpan, maupun dengan kedua tetuanya. Hasil ini mengindikasikan bahwa variasi ketahanan simpan yang teramati pada sampel buah cabai tidak bergantung pada kandungan pektin maupun vitamin C. Kami menduga bahwa aktivitas enzimatik, terutama yang terlibat dalam proses degradasi komponen dinding sel, lebih berperan dalam menentukan sifat ketahanan simpan cabai

    408

    full texts

    487

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Vegetalika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇