Vegetalika
Not a member yet
487 research outputs found
Sort by
Uji Daya Hasil Galur Harapan Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hasil galur harapan tanaman tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) hasil persilangan Gadjah Mada 1 (GM 1) dengan Gondol Hijau (GH) dengan nomor A65/6/8/1/1/5/3, A134/4/12/4/1/2/1, A175/1/11/1/1/1/5, dan galur hasil persilangan antara varietas Gadjah Mada 3 (GM 3) dan Gondol Putih (GP) dengan nomor B52/3/12/1/1/2/2, B78/1/9/3/1/3/1. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengembangan dan Promosi Agribisnis Perbenihan Hortikultura (BPPAPH) Yogyakarta, pada bulan Januari-Mei 2011. Penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga blok sebagai ulangan, 30 tanaman untuk masing-masing nomor hasil persilangan, 10 tanaman untuk tetua dan pembanding (lokal ”Kaliurang” dan F1 ”Permata”), dan 8 sampel. Variabel yang diamati antara lain tinggi tanaman (cm), diameter batang (mm), jumlah tandan, umur berbunga (hst), jumlah bunga per tandan, jumlah buah per tandan, fruit set (%), jumlah buah rusak, bobot per buah (g), bobot buah per tanaman (g), hasil per petak (kg) dan hasil per hektar (ku).Data dianalisis dengan analisis varian, analisis korelasi, analisis lintas dan heritabilitas. Analisis varian menunjukkan adanya beda nyata pada sumber ragam nomor untuk semua variabel kecuali hasil per petak dan hasil per hektar. Nomor B/78/1/9/3/1/3/1 (G18), A/134/4/12/4/1/2/1 (G5) berdasarkan nilai rerata menunjukkan hasil tinggi. Nilai heritabilitas menunjukkan bahwa semua variabel dalam kriteria rendah, kecuali tinggi tanaman(cm), diameter batang (mm), hasil per petak (kg), hasil per hektar (ku). Nilai korelasi dan analisis lintas menunjukkan bahwa seleksi secara efektif dapat dilakukan pada variabel bobot per buah (g) dan bobot buah per tanaman (g)
Pertumbuhan dan Hasil Benih Lima varietas Cabai Merah (Capsicum annum L.) di Dataran Menengah
oai:journal.ugm.ac.id:article/1345Lima varietas cabai merah, yaitu Branang, Gantari, Lokal Pakem, Lembang-1, dan Kusuma dilihat pertumbuhan dan hasil benihnya dari bulan Desember 2011 hingga Mei 2012. Percobaan lapangan dilaksanakan di Dusun Pandanpuro, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman pada ketinggian 505 m diatas permukaan laut. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan empat ulangan. Unit percobaan terdiri dari 60 tanaman dengan jarak tanam 50 cm x 50 cm. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil benih lima varietas cabai merah di dataran menengah. Data hasil pengamatan dianalisis dengan sidik ragam pada tingkat kepercayaan 95%, dan untuk mengetahui perbedaan diantara perlakuan dilakukan dengan Uji Jarak Ganda Duncan (Duncan’s Multiple Range Test) pada tingkat kepercayaan 95%. Untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dilakukan analisis korelasi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima varietas cabai merah memiliki pertumbuhan dan hasil benih yang berbeda di dataran menengah. Cabai merah keriting varietas Lembang-1 mempunyai pertumbuhan terbaik dan hasil buah tertinggi (10,22 ton/ha), diikuti oleh Kusuma (8,71 ton/ha), kemudian Lokal Pakem (7,37 ton/ha). Cabai merah besar varietas Gantari mempunyai pertumbuhan terbaik dan hasil buah tertinggi (8,5 ton/ha) dibandingkan dengan varietas Branang (6,5 ton/ha). Cabai merah keriting varietas Lembang-1 mempunyai hasil benih tertinggi (46,12 gram/tanaman), diikuti oleh Kusuma (37,21 gram/tanaman), dan Lokal Pakem (25,28 gram/tanaman). Hasil benih cabai merah besar varietas Branang (29,62 gram/tanaman) lebih baik dari pada varietas Gantari (28,05 gram/tanaman). Nilai komersial dari cabai merah adalah rasa pedas. Kadar capsaicin berpengaruh terhadap tingkat kepedasan. Kadar capsaicin tertinggi dimiliki oleh cabai merah keriting varietas Kusuma (1,12%) dan Lokal Pakem (0,91%) dibandingkan dengan ketiga varietas cabai merah lainnya
Pertumbuhan, Hasil dan Mutu Minyak Atsiri 16 Aksesi Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Dipanen pada Umur yang Berbeda
Tanaman nilam adalah salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang potensial dikembangkan di Indonesia. Minyak nilam atau biasa disebut patchouli oil memiliki banyak manfaat seperti sebagai bahan baku industri parfum, farmasi, kosmetik, dan kimia lainnya. Indonesia termasuk salah satu pemasok minyak nilam terbesar di dunia, dengan potensi tersebut, perlu dilakukan peningkatan dan pengembangan, salah satunya dilakukan kerja sama dan percepatan masa panen guna meningkatkan pendapatan petani dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan, hasil, dan mutu minyak atsiri 16 aksesi nilam, serta mengetahui aksesi nilam yang memiliki hasil dan mutu terbaik pada umur panen yang berbeda.Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Cimanggu, Balittro, Bogor, pada bulan April sampai September 2010. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan perlakuan 15 aksesi nilam dan satu varietas Sidikalang sebagai pembanding dan perlakuan umur panen (3, 4 dan 5 bst), dalam 2 blok sebagai ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil terna tertinggi terdapat pada aksesi CLP dan PWK 1 yang dipanen pada umur 4 bst, serta aksesi BRS dan CLP menghasilkan kadar minyak dan patchouli alkohol tertinggi, serta memenuhi kriteria persyaratan mutu menurut SNI
Studi Aspek Fisiologis dan Biokimia Perkecambahan Benih Jagung (Zea mays L.) pada Umur Penyimpanan Benih yang Berbeda
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari aspek fisiologis dan biokimia perkecambahan benih jagung (Zea mays) pada umur penyimpanan yang berbeda. Umur penyimpanan benih mempengaruhi kecepatan pertumbuhan serta produksi tanaman. Benih baru pada umumnya memiliki pertumbuhan yang lebih pesat dibandingkan dengan benih-lama. Penelitian ini disusun menggunakan 2 perlakuan berdasarkan umur penyimpanan benih. Perlakuan pertama adalah benih jagung baru dengan umur simpan 2 minggu, perlakuan kedua adalah benih jagung lama dengan umur simpan 10 bulan. Masing-masing perlakuan memiliki empat ulangan dengan setiap ulangan memiliki sampel 540 butir benih jagung. Masing-masing perlakuan dikecambahkan selama 7 hari dan dilakukan pengamatan terhadap gaya berkecambah, indeks vigor, pertumbuhan tunas, pertumbuhan panjang akar, berat kering kecambah normal, laju respirasi dan kadar pati. Perlakuan umur penyimpanan benih 2 minggu dan 10 bulan memberikan hasil yang berbeda nyata untuk variabel laju respirasi, kadar pati, pertumbuhan tunas, pertumbuhan akar, berat kering kecambah, daya berkecambah dan indeks vigor. Pada perlakuan umur penyimpanan benih 2 minggu, hubungan antara pertumbuhan tunas, pertumbuhan akar dan berat kering kecambah normal memiliki korelasi positif dengan laju respirasi benih, serta korelasi negatif dengan kadar pati benih. Pada perlakuan umur penyimpanan benih 2 minggu, hubungan antara daya berkecambah dan indeks vigor memiliki korelasi positif dengan laju respirasi benih, serta korelasi negatif dengan kadar pati benih
Potensi Hasil dan Toleransi Kekeringan Seri Klon Teh (Camelia sinensis (L.) Kuntze) PGL di Kebun Poduksi Pagilaran Bagian Andongsili
Teh (Camellia sinensis (L.) O.Kuntze) merupakan tanaman yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di dunia. Curah hujan merupakan faktor iklim yang dapat berpengaruh pada pertumbuhan dan hasil tanaman teh. Musim kemarau yang panjang lebih dari dua bulan kering biasanya menurunkan hasil pertanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah pertama untuk mengetahui potensi hasil klon – klon PGL. Kedua untuk mengetahui ketahanan klon PGL terhadap kekeringan. Penelitian dilakukan di Afdeling Andongsili, Kebun Produksi Pagilaran pada ketinggian 980 m dpl menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga ulangan. Klon TRI 2025 digunakan sebagai pembanding. Variabel pengamatan meliputi jumlah pucuk, hasil segar pucuk, hasil kering pucuk, bobot per pucuk dan kualitas hasil pucuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat enam klon PGL yang memiliki hasil pucuk segar yang tinggi, yaitu PGL 3, PGL 4, PGL 10, PGL 12, PGL 15 dan PGL 17. Hanya PGL 4, PGL 12, PGL 15, dan PGL 17 yang tahan kering dengan penurunan hasil saat kondisi kering masing – masing 10,8%, 1,07%, 8,51%, dan 11,3%. Klon PGL yang tahan terhadap intensitas curah hujan yang tinggi hanya klon PGL 4 dengan penurunan hasil saat kondisi hujan adalah 5,58%. Pada umumnya kualitas hasil pucuk klon PGL masih rendah dibandingkan klon TRI 2025, namun hanya PGL 17 yang memiliki kualitas hasil pucuk yang hampir sama dengan TRI 2025
Potensi Hasil dan Toleransi Curah hujan beberapa Klon Teh (Camelllia sinensis (L.) O. Kuntze) PGL di Bagian Kebun Kayulandak, PT. Pagilaran
Penelitian bertujuan untuk 1) mengetahui karakter morfologi, potensi hasil, dan ketahanan curah hujan rendah dan tinggi klon PGL 1, 3, 4, 7, 10, 11, 12, 15, dan 17, 2) menentukan klon PGL yang berdaya hasil tinggi dan tahan cekaman curah hujan rendah maupun cekaman curah hujan tinggi, dan 3) menentukan hubungan kekerabatan diantara klon-klon PGL yang diuji mendasarkan kepada data karakter morfologi dan potensi hasil. Penelitian lapangan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor tunggal yang diuji adalah sembilan klon PGL yaitu PGL 1, 3, 4, 7, 10, 11, 12, 15, dan 17. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot per pucuk dan panjang ruas tunas mempengaruhi potensi hasil tiap klon secara langsung, sedangkan karakter morfologi lainnya tidak berpengaruh. Klon PGL 12 memiliki potensi hasil pucuk tinggi dan tingkat ketahanan terhadap berbagai aras curah hujan sehingga berpeluang untuk dilepas sebagai klon unggul nasional. Berdasarkan data karakter morfologis dan potensi hasil, klon PGL dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu I (PGL 1, PGL 3, PGL 4, PGL 10 dan PGL 11), II (PGL 7 dan PGL 17), III (PGL 12), dan IV (PGL 15). Berdasarkan data produksi, klon PGL dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu klon produksi rendah (PGL 1 dan PGL 7), klon produksi menengah (PGL 3, PGL 4, PGL 10, PGL 11, dan PGL 17), dan klon produksi tinggi (PGL 12 dan PGL 15)
Identifikasi Karakteristik dan Fungsi Tanaman Hias untuk Taman Rumah di Dataran Medium dan Dataran Rendah
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik fisik dan hortikultura tanaman hias, mengetahui fungsi tanaman hias pada taman pekarangan di dataran medium dan dataran rendah, dan mengetahui persepsi dan preferensi pemilik rumah terhadap karakteristik tanaman hias. Lokasi penelitian ini adalah Perumahan Dataran Medium Perwita Wisata dan Perumahan Dataran Rendah Perwita Asri.Pada kedua lokasi tersebut diinventarisasi dan diidetifikasi karakteristik fisik dan hortikulturanya. Seluruh elemen lunak dan keras dipetakan dalam sketsa taman rumah. Persepsi dan preferensi penghuni rumah diketahui melalui kuesioner. Hasil diinventarisasi dan diidetifikasi digunakan untuk mengetahui karakteristik fisik dan karakteristik hortikultura. Hasil sketsa taman rumah digunakan untuk mengetahui fungsi taman rumah. Sedangkan hasil kuesioner digunakan untuk mengetahui persepsi dan preferensi penghuni rumah terhadap taman rumah yang ada.Di taman rumah di Perumahan Dataran Medium terdapat 8 jenis tanaman hias pohon, 4 jenis tanaman hias perdu, 11 jenis tanaman hias semak, 2 jenis tanaman hias penutup tanah dan 1 rumputan. Di taman rumah di Perumahan Dataran Rendah terdapat 3 jenis tanaman hias pohon, 2 jenis tanaman hias perdu, 18 jenis tanaman hias semak, 2 jenis tanaman hias penutup tanah, dan 1 rumputan. Karakteristik fisik tanaman hias yang mendominasi di Perumahan Dataran Médium dan Perumahan Dataran Rendah adalah tanaman mangga (Mangifera indica L). Karakteristik hortikultura yang mendominasi di Perumahan Dataran Medium dan Perumahan Dataran Rendah adalah kebutuhan penyinaran intensif, penyiraman non-intensif, dan kelembaban rendah. Fungsi tanaman hias yang mendominasi di Perumahan Dataran Medium adalah pengontrol iklim mikro. Sedangkan fungsi tanaman hias yang mendominasi di Perumahan Dataran Rendah adalah nilai keindahan. Preferensi/ rekomendasi penghuni rumah di Perumahan Dataran Medium terhadap taman rumah adalah sudah sesuai karena taman rumah yang ada sudah memenuhi unsur-unsur dan prinsip desain lanskap, serta fungsi yang sesuai dengan wilayah perumahan dataran medium. Sedangkan penghuni rumah di Perumahan Dataran Rendah adalah kurang sesuai karena taman rumah yang ada kurang memenuhi unsur-unsur dan prinsip desain lanskap, serta fungsi yang sesuai dengan wilayah perumahan dataran rendah
Pengaruh Kadar NaCl Terhadap Keragaan Bibit Wijen (Sesamum indicum L.)
Penelitian dengan judul “Pengaruh Kadar NaCl Terhadap Keragaan Bibit Wijen (Sesamum indicum L.)” bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar NaCl terhadap keragaan bibit wijen serta dilaksanakan di Mrai, Margoagung, Seyegan Sleman, Yogyakarta.Rancangan penelitian yang digunakan adalah 4 x 5 faktorial yang diatur dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah 4 kultivar wijen, sedang faktor kedua adalah 5 konsentrasi NaCl. Pengamatan pada tahap perkecambahan meliputi gaya berkecambah, indeks vigor, tinggi bibit, panjang akar bibit, berat segar bibit dan berat kering bibit.Pemberian larutan garam pada tahap perkecambahan dengan konsentrasi 9 dan 12 g/l NaCl mengakibatkan gaya berkecambah dan indeks vigor sangat rendah bahkan bibit tidak mampu bertahan hidup
Pengaruh Pengurangan Daun Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Dua Varietas Paprika (Capsicum annum var.Grossum) Hidroponik
Paprika merupakan salah satu sayuran yang memiliki prospek yang bagus, namun produksi dalam negeri masih terbatas. Upaya untuk menanggulangi kendala tersebut dengan hidroponik dan pengurangan daun. Penelitian ini menggunakan dua varietas paprika yaitu varietas Inspiration dan Chang. Tujuan mengurangi daun dengan menyisakan daun per ruas per tanaman agar pertumbuhan dan hasil tanaman paprika dapat optimal.Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan 3 ulangan. Petak utama terdiri dari dua varietas, yaitu V1 = Varietas Inspiration, V2 = Varietas Chang, dan sebagai anak petak, yaitu P1 = pengurangan daun dengan sisa dua daun per ruas, P2 = pengurangan daun dengan sisa tiga daun per ruas, dan P3 = pengurangan daun dengan sisa satu, tiga, lima daun per ruas per tanaman. Pengamatan yang dilakukan adalah penyekapan cahaya, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun, jumlah buah, dan hasil panen buah. Hasil penelitian menunjukkan, varietas Chang memiliki hasil panen yang lebih tinggi daripada varietas Inspiration, namun pertumbuhan tanamannya tidak berbeda. Pengurangan daun dengan sisa dua daun menghasilkan tanaman yang lebih tinggi, namun ukuran daun dan hasil panen buahnya tidak berbeda dibandingkan dengan pengurangan daun sisa tiga daun dan sisa satu sampai lima daun
Pengaruh Takaran Pupuk Kascing Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Dua Varietas Kedelai (Glycine max (L.) Merrill)
Kedelai merupakan bahan pangan penting setelah padi dan jagung. Produksi kedelai saat ini tidak dapat mencukupi kebutuhan penduduk. Telah banyak usaha yang dilakukan untuk meningkatkan produksi kedelai terutama melalui pemupukan.Suatu penelitian dengan tujuan untuk Mengetahui pengaruh takaran kascing terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas kedelai (Glycine max L. Merrill) telah dilaksanakan di desa Gamelan, Sendang Tirto, Berbah, Sleman, pada bulan Oktober 2011 sampai Januari 2012.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial 5x2 dengan 3 ( tiga ) blok sebagai ulangan. Faktor pertama,takaran pupuk : Tanpa Pupuk Kascing; 0 kg/petak, takaran Pupuk Kascing 2 ton/ha; 2,4 kg/petak, takaran Pupuk Kascing 4 ton/ha ; 4,8 kg/petak, takaran Pupuk Kascing 6 ton/ha; 7,2 kg/petak, takaran Pupuk Kascing 8 ton/ha; 9,6 kg/petak.Faktor kedua adalah varietas yaitu; varietas kedelai Mallika, dan Anjasmoro.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pada kedelai kuning Anjasmoro pemberian pupuk kascing dengan takaran 8 ton/ha dapat meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, luas daun, indeks luas daun, laju pertumbuhan tanaman, laju asimilasi bersih, dan berat kering akar dan tajuk. Pada kedelai Mallika pemberian pupuk kascing tidak memberikan pengaruh yang nyata dalam pertumbuhan. Pemberian pupuk kascing tidak meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kedelai hitam Mallika.Hasil kedelai hitam Mallika (2,11 ton/ha) lebih tinggi dibandingkan kedelai kuning Anjasmoro (1,61 ton/ha