487 research outputs found

    Pengaruh Suhu dan Lama Perendaman Benih Terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhan Awal Bibit Kopi Arabika (Coffea arabica (LENN))

    Get PDF
    Peningkatan produksi kopi harus diawali dengan penyediaan benih yang bermutu, terjangkau dan tersedia dalam jumlah yang cukup. Permasalahan yang kemudian muncul adalah benih kopi memiliki kulit biji yang keras sehingga impermiabel terhadap air Perkecambahan benih kopi di dataran rendah yang bersuhu 30°C - 35°C memerlukan waktu 3 – 4 minggu, sedangkan di dataran tinggi yang bersuhu relatif lebih dingin membutuhkan  waktu yang lebih lama yaitu 6 – 8 minggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu perendaman dan lama perendaman yang tepat untuk mempercepat perkecambahan benih kopi. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan di Desa Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah pada bulan Mei-September 2011. Rancangan yang digunakan adalah RCBD Faktorial (3x3) + 1 kontrol dengan 4 ulangan sebagai blok. Faktor pertama berupa suhu air awal perendaman (30°C, 60°C, 90°C), sedangkan faktor kedua berupa lama perendaman (10 menit, 20 menit, 30 menit). Benih direndam selama 1 hari dan setiap hari selama 7 hari. Benih dilakukan 3 kali pengujian yaitu pada waktu sebelum perendaman, setelah 1 hari perendaman, dan setelah perendaman setiap hari selama 7 hari. Variabel yang diamati meliputi laju repirasi, DHL, kadar air benih, daya tumbuh benih, indeks vigor, kecepatan berkecambah, vigor hipotetik. Hasil penelitian menunjukkan perendaman benih setiap hari selama 7 hari dengan suhu air awal 90°C selama 30 menit mampu meningkatkan daya tumbuh dan indeks vigor benih kopi

    Pengaruh Jeluk Muka Air Genangan dalam Parit pada Berbagai Fase Pertumbuhan Padi Terhadap Gulma dan Hasil Padi (Oriza sativa L.)

    Get PDF
    Sistem genangan dalam parit adalah usaha pengairan yang dilakukan dengan meninggikan bedengan dan memberikan pengairan dalam parit terus-menerus. Sistem genangan dalam parit merupakan salah satu sistem yang dapat mengefisiensikan penggunaan air namun dapat meningkatkan pertumbuhan gulma Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh jeluk muka air padi genangan dalam parit pada berbagai fase pertumbuhan terhadap pertumbuhan gulma dan hasil padi serta jeluk muka air yang paling baik untuk menekan pertumbuhan gulma.Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilaksanakan di desa Sidoarum, kecamatan Godean, kabupaten Sleman mulai bulan Juli sampai November 2011. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak blok lengkap dengan ulangan sebanyak 3 kali. Perlakuan yang digunakan adalah pengaturan jeluk muka air genangan 0, 10, dan 20 cm dari permukaan bedengan pada fase pertumbuhan tanaman yaitu fase vegetatif, reproduktif, dan pemasakan yang terdiri atas 10 aras. Parameter yang dikumpulkan adalah kadar lengas tanah, penerusan cahaya, SDR, berat kering gulma, dan berat gabah kering.Hasil penelitian menunjukkan: (1) Kadar lengas sistem genangan dalam parit dengan jeluk 0 dan 10 cm dapat menyamai sistem sawah saat fase pemasakan, (2) Pengaturan jeluk muka air sistem genangan dalam parit pada setiap fase pertumbuhan padi mengakibatkan berat kering gulma meningkat, (3) Peningkatan berat kering gulma menurunkan hasil gabah padi secara tidak nyata baik pada sistem genangan dalam parit maupun sawah

    Pengaruh Komposisi Media dan Kadar Nutrisi Hidroponik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.)

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan di daerahMangkudaranan, Margorejo, Tempel, Sleman, Yogyakarta mulai Juli 2011 hingga Januari 2012. Penelitian inimenggunakan rancangan petak terbagi dengan 3 ulangan dan 20 kombinasi perlakuan. Faktor pertama sebagaipetak utama komposisi media arang serbuk sabut kelapa yaitu 0%, 33%, 50%, 67%, dan 100%. Faktor keduasebagai anak petak kadar nutrisi, yaitu 2 ml/liter, 5 ml/liter, 10 ml/liter, dan 15 ml/liter. Pada penelitian inidilakukan pengamatan terhadap media komposisi meliputi pH, porositas total, kadar lengas, kapasitaspertukaran kation, daya hantar listrik, kadar C/N pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman tomat. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa arang serbuk sabut kelapa memiliki pori mikro lebih banyak dibandingkandengan arang sekam sehingga kemampuan menjerap dan menahan nutrisi arang serbuk sabut kelapa lebihtinggi. Hasil bobot buah total pada media dengan penambahan arang serbuk sabut kelapa setara dengan hasilbobot buah total media arang sekam sehingga arang serbuk sabut kelapa dapat digunakan sebagai mediatanam hidroponik. Kadar nutrisi lebih dari 5 ml/liter akan menghambat pertumbuhan tanaman tomat namundapat meningkatkan kandungan gula buah tomat

    Karakterisasi dan Analisis Daya Hasil Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Sebagai Pohon Induk

    Get PDF
    Karakterisasi dan analisis daya hasil dengan mengidentifikasi karakter-karakter pada tanaman jarak pagar sebagai acuan untuk seleksi pohon induk. Perdu terseleksi akan digunakan sebagai pohon induk dalam produksi benih komersial dan koleksi plasma nutfah. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juli 2009 hingga Juni 2010 bertempat di kebun percobaan Tridharma, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Ada empat blok pertanaman yang digunakan, yaitu I; II.1; II.2; dan III. Kegunaan penelitian ini adalah untuk karakterisasi dan identifikasi individu jarak pagar sebagai bahan seleksi dalam upaya mendapatkan perdu terseleksi sebagai pohon induk. Penelitian dimulai dengan pemberian identitas pada setiap tanaman, kemudian dilanjutkan pengamatan beberapa karakter pada tanaman jarak pagar yang diseleksi, dilanjutkan dengan seleksi pohon induk yang memiliki karakter terbaik dengan seleksi massa. Data dianalisis berdasarkan pada seleksi massa untuk mendapatkan perdu terbaik sebagai pohon induk. Seleksi dilakukan secara keseluruhan dan rerata bergerak. Secara keseluruhan, pertimbangan dilakukan berdasarkan pada μ+2σ, dengan μ dan σ adalah rerata dan standar deviasi populasi setiap blok pertanaman. Secara rerata bergerak, pohon yang terletak di tengah-tengah dari petak 3x3 terpilih jika nilainya di atas +2σ di mana   and σ adalah rerata dan standar deviasi dari beberapa tanaman yang mengelilinginya. Pohon terseleksi sebagai pohon induk jika terpilih di kedua metode seleksi. Hasilnya, pohon dengan nomor identitas II.1.16.06; II.2.11.04; II.2.18.06; III.15.03; dan III.18.03 terpilih sebagai pohon induk untuk produksi stek batang. Berdasarkan karakter daya hasil yang mencakup jumlah tandan buah per tanaman, jumlah buah per tandan, dan bobot 100 biji; pohon induk dengan nomor identitas III.04.05 dapat digunakan sebagai pohon induk (tetua betina) untuk produksi benih. Tidak ada keterkaitan antara pohon terseleksi pada karakter indeks multiplikasi dan daya hasil. Penggunaan pohon induk bergantung pada tujuan perbanyakan tanaman

    Pengaruh Pemotongan Akar dan Lama Aerasi Media Terhadap Pertumbuhan Selada (Lactuca sativa L.) Nutrient Film Technique

    Get PDF
    Permintaan selada dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, sedangkan produktivitas lahan terus mengalami penurunan. Maka sistem hidroponik dirasa menjadi salah satu jalan keluar untuk kendala ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama aerasi terhadap pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa L.) hidroponik sistem NFT baik dengan pemotongan akar maupun tidak, serta lama aerasi yang optimal untuk tanaman selada pada masing-masing perlakuan akar. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei - Juli 2010 di Rumah Kaca Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak Belah (Split Plot Design) dengan 2 faktor, lama pemberian aerasi sebagai faktor petak utama terdiri dari tanpa pemberian aerasi serta pemberian aerasi selama 6, 12 dan 24 jam/hari. Pemotongan akar sebagai faktor anak petak, terdiri dari tanpa pemotongan akar dan dengan pemotongan 50% dari panjang akar pada saat pindah tanam. Parameter yang diamati antara lain luas dan panjang akar total, jumlah dan luas daun, kadar klorofil total, tinggi tanaman, berat segar akar dan tajuk, berat kering akar dan tajuk, dan berat hasil per tanaman. Data dianalisis varian dengan tingkat kepercayaan 95%, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemotongan akar mampu memperluas perakaran tanaman dan meningkatkan berat segar akar. Pada tanaman selada yang dipotong akarnya, pemberian aerasi secara terus menerus dapat menyamakan berat hasil per tanaman dengan tanpa pemberian aerasi. Pada perlakuan tanpa pemotongan akar pemberian aerasi justru menurunkan hasil per tanaman, sehingga pemberian aerasi tambahan tidak dibutuhkan pada hidroponik sistem NFT

    Pengaruh Lapisan Debu Gunung Merapidan Dosis Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan Awal Buah Naga (Hylocereus undatus Haw.) di lahan Pasir Pantai Purworejo

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian lapisan kedap debu gunung Merapi dalam menahan kehilangan air dari media perakaran dan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk NPK terhadap pertumbuhan awal tanaman buah naga. Penelitian dilaksanakan di lahan pasir pantai milik Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada yang terletak di Purworejo, pada bulan Oktober 2011 sampai dengan Februari 2012. Rancangan yang digunakan adalah faktorial 3 x 3 yang disusun secara acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 3 blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah lapisan kedap yang berupa debu gunung Merapi yang diberikan 1 kg/pot, 2 kg/pot, dan 3 kg/pot. Faktor kedua berupa dosis pupuk NPK sebanyak 50 gram/pot, 100 gram/pot, dan 150 gram/pot. Tanaman di tanam pada bis beton diameter 60 cm dan diberi pupuk kandang sebanyak 20 kg/pot. Setiap pot berisi 4 bibit. Perlakuan lapisan kedap debu gunung Merapi dan dosis pupuk NPK tidak berpengaruh nyata terhadap semua variabel pengamatan. Pertumbuhan awal buah naga baik, dilihat dari tinggi tanaman selama 4 bulan dapat mencapai rata – rata 154,50 cm dengan diameter tunas yang mencapai 4,23 cm. Pertumbuhan buah naga mulai meningkat setelah diaplikasikan pupuk NPK, yaitu setelah umur tanaman 6 mst yang ditunjukkan oleh tinggi tanaman, jumlah tunas, diameter tunas, dan panjang tunas

    Periode Kritis Kedelai Hitam (Glycine max (L.) Merill) Terhadap Gulma

    Get PDF
    Keberadaan gulma dalam pertanaman tidak selamanya merugikan, ada saat-saat kehadiran gulma tidak merugikan dan ada saat-saat kehadiran  gulma sangat merugikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan periode kritis kedelai hitam terhadap persaingan dengan gulma, dengan mengetahui periode kritis kedelai hitam diharapkan dapat diketahui kapan waktu penyiangan intensif yang tepat sehingga dapat menghemat biaya, waktu, dan tenaga kerja yang digunakan untuk pemeliharaan.Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Banguntapan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dilaksanakan pada bulan  Juni 2010 sampai September 2010 menggunakan kedelai hitam varitas Mallika.  Variabel pertumbuhan dan hasil penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok lengkap (RAKL) dengan 12 perlakuan dan  tiga kali ulangan. Perlakuannya adalah periode bebas gulma 2, 4, 6, 8, 10 minggu setelah tanam dan sampai panen serta periode bergulma 2, 4, 6, 8, 10 minggu setelah tanam dan sampai panen. Tiap perlakuan diamati selama 12 minggu.             Hasil penelitian menunjukkan periode kritis kedelai hitam berada diantara umur 0 – 4 minggu. Dibuktikan dengan keberadaan gulma selama 0 - 4 minggu setelah tanam sudah dapat menurunkan  hasil biji kering secara nyata, sedangkan apabila gulma dibiarkan tumbuh setelah  umur 4 minggu setelah tanam tidak akan berpengaruh secara  secara nyata terhadap hasil biji kering apabila dibandingkan dengan perlakuan bebas gulma sampai panen. Waktu penyiangan yang tepat cukup dilakukan pada saat tanaman berumur 2 dan 3 mingg

    Pengaruh Warna Cahaya Tambahan Terhadap Pertumbuhan dan Pembungaan Tiga Varietas Tanaman Krisan (Chrysanthemum morifolium) Potong

    Get PDF
    Krisan merupakan tanaman hari pendek yang perkembangan dan inisiasi bunganya dipengaruhi oleh lama penyinaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh warna cahaya tambahan terhadap pembungaan tiga varietas krisan dan mendapatkan warna cahaya yang paling sesuai bagi pertumbuhan dan pembungaan krisan. Penelitian terdiri dari dua faktor yang disusun dalam rancangan petak terbagi, warna cahaya tambahan merupakan petak utama dan varietas sebagai anak petak. Cahaya tambahan yang digunakan meliputi cahaya warna putih, merah, biru dan tanpa cahaya, sedangkan varietas yang digunakan yakni varietas Fiji kuning, Fiji putih dan Remix Red.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman krisan yang mendapatkan cahaya tambahan memiliki pertumbuhan yang lebih baik dan umur yang lebih panjang, tanaman krisan dengan cahaya tambahan warna putih dan merah memilki umur paling panjang, begitu pula dengan induksi pembungaannya, tanaman yang mendapatkan cahaya tambahan berwarna putih dan merah memiliki induksi pembungaan yang lebih lama. Varietas Fiji kuning yang mendapat cahaya tambahan warna biru memiliki diameter bunga yang paling besar dan diameter bunga varietas Fiji putih paling besar pada cahaya berwarna merah. Diameter bunga krisan varietas Remix Red tidak terpengaruh oleh penambahan cahaya dengan berbagai warna

    Pengaruh Tingkat Kemasakan Polong Terhadap Hasil Benih Delapan Aksesi Kacang Tunggak (Vigna unguiculata (L.) Walp.)

    Get PDF
    Pengaruh umur panen terhadap hasil benih kacang tunggak merupakan kajian utama penelitian ini.Kualitas dan kuantitas benih menjadi faktor penting dalam kegiatan produksi benih.Kualitas benih diindikasikan dengan daya tumbuh (d.t.) dan indeks vigor yang berkaitan dengan tingkat kemasakan polong. Penelitian dilaksanakan dengan dua perlakuan, terdiri dari sepuluh kultivar kacang tunggak dan lima waktu panen. Delapan aksesi kacang tunggak asal D.I. Yogyakarta dan dua varietas unggul (KT-1 dan KT-6) menjadi material penelitian ini. Perlakuan waktu panen dibagi dalam lima tahap berselang sepuluh hari terhitung sejak antesis (hsa) di pertanaman mencapai 50 %. Masak fisiologis (m.f) benih Aksesi Bantul, Tempel, Wonosari, Wates, dan Kalibawang pada 30 hsa sedangkan benih Aksesi Imogiri, Prambanan, dan Semin serta KT-1 dan KT-6 pada 40 hsa. Penundaan waktu panen hingga 10 hari (20 hari pada Aksesi Wates dan Kalibawang) dapat dilakukan tanpa mempengaruhi kualitas benih (d.t. > 90 %). Umur panen mempengaruhi dua hal pada benih yaitu pengisian materi biji berupa cadangan makanan dan penurunan kadar air biji. Biji yang mencapai m.f. memiliki materi biji dengan kapasitas maksimum dan kadar air rendah sehingga memiliki mutu benih yang baik. Aksesi Wates dan Tempel dapat direkomendasikan calon varietas harapan. Aksesi Wates memiliki potensi hasil yang tinggi mencapai 2184,36 kg/ha, indeks panen tinggi, bobot brangkasan besar, dan berumur pendek (m.f. 75 hari), sedangkan Aksesi Tempel memiliki tipe pertumbuhan yang tegak, berumur pendek (m.f. 67 hari), indeks panen tinggi, dan potensi hasil cukup tinggi sebesar 1376,68 kg/ha

    Keragaan Sorgum Manis (Sorghum bicolor L.Moench ) pada Kondisi Tercekam Kekeringan

    Get PDF
    Saat ini dunia mulai mengalami kelangkaan sumber energi dari bahan bakar fosil, karena peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM). Oleh karena itu diperlukan bahan bakar alternatif yang salah satunya adalah bioethanol, yang berbahan baku tanaman mengandung pati dan gula, seperti sorgum manis. Salah satu keunggulan sorgum manis adalah dapat ditanam di daerah kering, tetapi ketahanan masing-masing kultivar berbeda terhadap cekaman kekeringan, tergantung fase pertumbuhannya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji keragaan sorgum manis pada kondisi tercekam kekeringan. Cekaman kekeringan diberikan kepada 12 kultivar sorgum manis, berdasarkan fase pertumbuhannya yaitu tanpa cekaman kekeringan, cekaman kekeringan saat berdaun bendera, dan cekaman kekeringan saat berdaun delapan. Tidak terdapat pengaruh nyata cekaman kekeringan terhadap 12 kultivar sorgum manis pada sifat jumlah daun, panjang dan jumlah akar, panjang dan jumlah malai, berat 100 biji dan hasil biji, umur berbunga, umur panen, dan padatan terlarut, tetapi terdapat pengaruh nyata pada sifat tinggi tanaman, diameter batang, jumlah batang, berat berangkasan segar, dan berat berangkasan kering. Kultvar Sorgama 3 dan Sorgama 5 menunjukkan pengurangan tinggi tanaman. Kultivar Sorgama 4 menunjukkan diameter yang menurun, sedangkan UGM SS1 dan Sorgama 5 mengurangi jumlah batang. Kultivar UGM SS1, Kotabun, Sorgama 3, dan Sorgama 5 pada kondisi cekaman kekeringan lama mengurangi berat berangkasan segar. Sama seperti berat berangkasan segar, pada berat berangkasan kering kultivar Sorgama 3, dan Sorgama 5 menunjukkan pengurangan beratnya saat tercekam berdaun delapan. Kultivar Sorgama 5 dapat digunakan sebagai tanaman penghasil bioethanol, karena memiliki nilai padatan terlarut tinggi, dan tahan cekaman kekeringan

    408

    full texts

    487

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Vegetalika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇