Vegetalika
Not a member yet
487 research outputs found
Sort by
Pertumbuhan, Hasil dan Kualitas Pucuk Teh (Camellia sinensis (L.) Kuntze) di Berbagai Tinggi Tempat
Ketinggian tempat merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan, hasil dan kualitas pucuk teh. Terdapat hubungan erat antara tinggi tempat dengan suhu udara. Suhu udara menurun seiring dengan bertambahnya tinggi tempat. Sebuah percobaan lapangan telah dijalankan dengan tujuan untuk menentukan pengaruh tinggi tempat terhadap pertumbuhan, hasil dan kualitas pucuk teh serta menentukan tinggi tempat yang optimal bagi budidaya teh. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Oktober - Desember 2010 di Kebun Teh PT. Pagilaran, Desa Keteleng, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang. Penelitian dijalankan menggunakan teh tipe Assamica asal biji dengan umur pangkas 3 tahun. Percobaan lapangan disusun dalam rancangan multilokasi dengan tiga blok sebagai ulangan. Perlakuan yang diuji adalah 5 ketinggian tempat, yaitu 735, 896, 980, 1.023 dan 1.254 m dari permukaan laut (dpl). Pengamatan dilakukan terhadap variabel pertumbuhan, hasil dan kualitas pucuk teh. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis varian (ANOVA) pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (LSD). Ketinggian tempat yang optimal bagi pertumbuhan, hasil dan kualitas pucuk teh ditentukan menggunakan analisis regresi. Penelitian memberikan informasi bahwa pertumbuhan, hasil dan kualitas pucuk teh yang dipetik pada ketinggian 980 m dpl nilainya lebih tinggi daripada pucuk yang berasal dari ketinggian 735, 896, 1.023 dan 1.254 m dpl. Oleh karena itu, ketinggian tempat yang optimal bagi pertumbuhan, hasil dan kualitas pucuk teh berada pada 980 m dpl. Ketinggian tersebut termasuk ke dalam zona medium yaitu 800 – 1.200 m dpl
Pertumbuhan dan Hasil Dua Kultivar Selada (Lactuca sativa L.) dalam Akuaponika pada Kolam Gurami dan Kolam Nila
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil dua kultivar selada (Lactuca sativa, L.) dalam akuaponika pada kolam gurami dan kolam nila. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Juni tahun 2012 di kolam perikanan Fakultas Pertanian UGM. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Tersarang (Nested Design) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah kolam yaitu kolam gurami dan kolam nila. Faktor kedua adalah selada yaitu selada merah dan selada hijau. Faktor selada tersarang pada kolam. Variabel pengamatan tanaman meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun, kehijauan daun, kandungan klorofil daun, bobot segar tajuk, bobot segar akar, bobot kering tajuk, dan bobot kering akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi tanaman selada hijau lebih tinggi daripada selada merah. Diameter batang tanaman selada yang ditanam di kolam nila lebih besar daripada kolam gurami. Kehijaun daun selada merah lebih tinggi daripada selada hijau. Laju pertumbuhan tanaman selada yang ditanam di kolam nila lebih cepat daripada kolam gurami. Laju pertumbuhan tanaman selada merah lebih cepat daripada selada hijau. Jumlah daun, luas daun, kandungan klorofil, nisbah luas daun, bobot segar akar, bobot segar tajuk, laju pertumbuhan nisbi, laju asimilasi bersih, bobot kering akar, bobot kering tajuk, kadar air, dan bobot hasil per tanaman selada sama pada tiap perlakuan. Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa tanaman selada merah dan selada hijau dapat ditanam di kolam gurami maupun kolam nila dengan hasil yang masih belum optimal.Kata kunci : selada, kolam ikan, akuaponika
Pengaruh Waktu Pangkas Pucuk dan Frekuensi Pemberian Paklobutrazol terhadap Pertumbuhan dan Pembungaan Tanaman Kembang Kertas (Zinnia elegans Jacq.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu pangkas pucuk dan frekuensi pemberian paklobutrazol atau interaksinya terhadap pertumbuhan dan pembungaan kembang kertas dan menentukan waktu pangkas pucuk dan frekuensi pemberian paklobutrazol atau interaksinya yang paling sesuai bagi pertumbuhan dan pembungaan kembang kertas dalam pot. Penelitian dilaksanakan di desa Kaponan, kecamatan Pakis, kabupaten Magelang, Jawa Tengah dari bulan Juni sampai dengan Oktober 2011. Percobaan menggunakan Rancangan Faktorial (3 x 3) + 1 yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah waktu pemangkasan pucuk terdiri dari 3 aras yaitu 5, 6, dan 7 minggu setelah semai dan faktor kedua adalah frekuensi pemberian paklobutrazol yang terdiri dari 3 aras yaitu 1, 2, dan 3 kali. Tanaman tanpa perlakuan sebagai kontrol. Analisis varian dilakukan terhadap hasil pengamatan yang diperoleh dan dilanjutkan dengan Uji Berganda Duncan (DMRT) apabila terdapat beda nyata antar perlakuan. Perbedaan pengaruh antara kontrol dan kombinasi perlakuan dianalisis dengan Uji Kontras Ortogonal pada tingkat kepercayaan 95 %.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pangkas pucuk maupun frekuensi pemberian paklobutrazol menyebabkan pemendekan tanaman, tetapi tidak efektif dalam meningkatkan jumlah cabang total, jumlah cabang produktif, dan jumlah bunga. Perlakuan pangkas pucuk menunda umur berbunga tanaman. Semakin cepat waktu pangkas pucuk dilakukan semakin pendek tanaman, nilai kekompakan tanaman semakin tinggi, warna bunga cerah, dan bunga mekar serempak. Aplikasi paklobutrazol 1 kali menghasilkan tanaman yang paling pendek tetapi Aplikasi 3 kali menghasilkan kekompakan tanaman tinggi, warna bunga cerah, dan bunga mekar serempak
Pengaruh Kadar Atonik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Dua Jenis Jahe (Zingiber officinale Roscoe)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar atonik, mendapatkan kadar atonik yang paling baik dan mengetahui interaksi kadar atonik terhadap pertumbuhan dan hasil dua jenis jahe (Zingiber officinale Roscoe). Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Tridharma Banguntapan, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, pada bulan April - Agustus 2011. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu jenis jahe terdiri dari jahe putih besar/gajah/badak (Z1) dan jahe merah (Z2), faktor kedua yaitu kadar atonik terdiri dari tanpa atonik (A0), kadar atonik 0,5 ml/l (A1), kadar aonik 1 ml/l (A2), kadar atonik 1,5 ml/l (A3), dan kadar atonik 2 ml/l (A4). Variabel pengamatan meliputi pengamatan lingkungan, tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah daun, luas daun, berat segar (tajuk, akar, dan rimpang), berat kering (tajuk, akar, dan rimpang), volume rimpang dan warna rimpang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jahe merah berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil kecuali pada variabel indeks panen. Pemberian berbagai kadar atonik belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil dua jenis jahe. Terdapat interaksi antara jenis jahe dengan kadar atonik pada berat segar rimpang, berat segar total, dan berat kering rimpang pada umur 8 mst
KAJIAN ASPEK BUDIDAYA DAN IDENTIFIKASI KERAGAMAN MORFOLOGI TANAMAN KELAPA (Cocos nucifera L.) DI KABUPATEN KEBUMEN
Penelitian untuk mengetahui cara budidaya tanaman kelapa di kebun rakyat dan mengetahui keragaman morfologi tanaman kelapa di Kabupaten Kebumen, dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2008 menggunakan metode survei budidaya dan morfologi tanaman kelapa. Pengambilan contoh acak dilakukan secara berstrata antar kecamatan, antar desa, antar petani, antar tanaman. Pengamatan dan pengumpulan data dilakukan terhadap karakter morfologi tanaman kelapa meliputi sifat kuantitatif dan kualitatif yaitu morfologi batang, daun dan komponen buah Hasil penelitian menunjukkan budidaya tanaman Cocos nucifera di Kabupaten Kebumen telah sesuai dengan rekomendasi, dipandang dari segi pemindahan bibit ke lahan, pembuatan lubang tanam, waktu penanaman bibit ke lahan, pengendalian gulma, pengendalian hama kelapa Oryctes rhinoceros, tikus pohon (Rattus rattus tiomaticus) dan Kutu putih (Aleurodicus destructor Macki), serta umur pertama tanaman berbunga. Keragaman morfologi Cocos nucifera di Kabupaten Kebumen terdapat pada karakter tinggi dan lingkar batang, panjang dan lebar tangkai daun, tebal daging buah, berat utuh buah, berat air buah, berat tempurung buah, nilai persentase berat sabut per berat utuh buah, nilai persentase berat air buah per berat utuh buah, nilai persentase berat tempurung per berat utuh buah, umur tanaman pertama berbunga, umur panen buah, jumlah buah per tanaman per panen, jumlah tanaman per tahun yang dipanen, harga jual buah dan umur pertama tanaman diambil nira. Kata kunci : Kelapa (Cocos nucifera L.), budidaya kelapa, keragaman morfologi
Pematahan Dormansi Benih Tanjung (Mimusops elengi L.) dengan Skarifikasi dan Perendaman Kalium Nitrat
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh skarifikasi dan perendaman KNO3 terhadap kecepatan pematahan dormansi bij
Tingkat Adopsi Petani Terhadap Benih Padi (Oryza sativa L.) Bersertifikat dan Non-Sertifikat di Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman
Penggunaan benih bersertifikasi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas padi. Oleh sebab itu, ketersedian benih unggul bersertifikat bagi petani dalam melakukan kegiatan usaha tani merupakan syarat mutlak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat adopsi petani, tingkat produktivitas, tingkat kualitas benih dan pendapatan petani terhadap penggunaan benih padi bersertifikat dan non-sertifikat. Penelitian ini dilaksanakan di empat desa yaitu Desa Purwomartani, Desa Selomartani, Desa Tamanmartani, dan Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, dimana terdapat petani yang menggunakan benih padi bersertifikat dan non-sertifikat. Teknik pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuisioner terhadap petani yang menggunakan benih padi bersertifikat dan non-sertifikat. Hasil wawancara diolah menggunakan likert dan kemudian dilakukan skoring. Skoring yang diperoleh berbasis data dianalisis lanjut dengan uji t menggunakan software SPSS versi 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat adopsi benih bersertifikat lebih rendah dibandingkan non-sertifikat. Meski produktivitas dan pendapatan usaha tani untuk benih bersertifikat ternyata lebih tinggi dibandingkan non-sertifikat. Pada penelitian ini diperoleh data bahwa kualitas untuk benih bersetifikat lebih rendah dibandingkan non-sertifikat dengan adanya kualitas benih bersertifkat yang rendah menjadi penurunan tingkat adopsi pada benih bersertifikat
Pertumbuhan dan Hasil Jagung (Zea mays L.), Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.), dan Jahe (Zingiber officinale var. officinale) pada Sistem Agroforestri Jati di Zona Ledok Wonosari , Gunung Kidul
Penelitian telah dijalankan untuk menentukan pertumbuhan dan hasil jagung, kacang tanah, serta jahe pada beberapa tingkat perkembangan sistem agroforesti berbasis jati. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor tunggal berupa tingkat perkembangan sistem agroforestri berbasis jati yaitu fase awal, tengah dan lanjut. Pengamatan dilakukan terhadap variabel pertumbuhan dan hasil jagung, kacang tanah serta jahe. Data yang diperoleh dianalisis Varians (ANOVA) pada level 5%, dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan jika terdapat beda nyata antar perlakuan. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa tingkat perkembangan tegakan jati berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sela. Jagung pada agroforestri fase awal memiliki pertumbuhan dan hasil yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan fase tengah dan lanjut. Namun, kacang tanah memiliki pertumbuhan dan hasil yang sama bila ditanam pada agroforestri fase awal dan tengah. Sementara itu, pada agroforestri fase lanjut kacang tanah memiliki pertumbuhan dan hasil yang rendah dibandingkan dengan agroforestri fase awal dan tengah. Berbeda dengan jagung dan kacang tanah, jahe memiliki pertumbuhan dan hasil tertinggi pada agroforestri fase tengah. Oleh karena itu, tanaman yang direkomendasikan untuk agroforestri berbasis jati fase awal adalah jagung dan kacang tanah (sebagai sumber pangan dan pakan ternak ruminansia). Pada agroforestri fase tengah dapat ditanami jahe sebagai bahan herbal. Sementara itu, agroforestri fase lanjut memiliki potensi sebagai sumber pakan ternak ruminansia apabila di bawah tegakan jati ditanami jagung maupun kacang tanah
Tanggapan Jagung (Zea mays L.) Terhadap Sistem Parit Berbahan Organik dan Dosis Kalium di Lahan Kering pada Tanah Bersifat Vertic
Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tanggapan jagung terhadap sistem parit berbahan organik dan dosis kalium di lahan kering pada tanah vertic. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilaksanakan di lahan petani, Dusun Sidowayah, Kelurahan Wareng, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mulai bulan Februari sampai Juni 2011.Rancangan Percobaan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi (split plot). Faktor pertama adalah sistem parit terdiri 3 taraf yaitu tanpa parit + tanpa bahan organik, parit + tanpa bahan organic, dan parit + bahan organic. Faktor kedua adalah dosis KCL terdiri atas 3 taraf yaitu tanpa KCl, 50 % dari rekomendasi Dinas Pertanian (37,5 kg/ha), dan 100 % dari rekomendasi Dinas Pertanian (75 kg/ha). Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam α = 5 %, apabila terdapat beda nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) α = 5 %.Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antar perlakuan parit dengan dosis kalium berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 6–12 minggu setelah tanam (mst), luas daun umur 12 mst, bobot kering umur 12 mst, indeks luas daun umur 12 mst, laju asimilasi bersih umur 12–6 mst, panjang tongkol, bobot biji per plot percobaan, bobot biji per hektar, dan serapan K. Parit berbahan organik meningkatkan hasil biji per hektar sebesar 40,34 % dibandingkan perlakuan tanpa parit + tanpa bahan organik. Pemupukan kalium 100 % dari rekomendasi Dinas Pertanian (75 kg/ha) meningkatkan hasil biji per hektar sebesar 43,68% dibandingkan perlakuan tanpa pupuk kalium
Karakterisasi Delapan Aksesi Kacang Tunggak (Vigna unguiculata {L.} Walp) Asal Daerah Istimewa Yogyakarta
Kacang tunggak tergolong tanaman bahan pangan, pakan, dan bahan baku industri. Penggunaan kacang tunggak masih terbatas untuk sayuran segar (daun muda dan polong muda), biji kering (campuran gudeg dan lodeh), dan lauk pauk. Banyak faktor yang ikut berperan pada peningkatan produksi dan produktivitas kacang tunggak, antara lain penanaman varietas unggul dan benih bermutu, perbaikan cara budidaya, cara pengendalian hama-penyakit, dan penanganan pasca panen yang baik. Kurangnya penelitian terhadap spesies-spesies yang kurang dimanfaatkan akan menyebabkan terdesaknya spesies-spesies tersebut oleh adanya budidaya tanaman lain yang telah umum diusahakan misalnya padi, jagung, kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian sifat-sifat penting dari tanaman yang kurang diperhatikan.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (Randomized Complete Block design = RCBD) dengan 10 perlakuan (8 tanaman lokal dan 2 varietas unggul) dan 3 ulangan. Berdasarkan seleksi hasil polong per hektar terhadap 8 aksesi yang dibandingkan dengan kacang tunggak unggul varietas KT-1 dan KT-6, didapatkan kacang tunggak asal Semin dan Wates sebagai promising line karena hasil polong per hektar yang tinggi.Terdapat berbagai keragaman sifat-sifat kualitatif dan kuantitatif kacang tunggak (Vigna unguiculata {L.} Walp) yang tumbuh di beberapa wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kacang tunggak unggul varietas KT-1 memiliki kekerabatan yang paling jauh dibandingkan kacang tunggak lain pada penelitian ini