Vegetalika
Not a member yet
487 research outputs found
Sort by
Perbanyakan Cissus quadrangularis L. dengan Stek Batang
Cissus quadrangularis L. merupakan salah satu anggota suku Vitaceae yang memiliki khasiat obat. Salah satunya di masyarakat Kabupaten Buleleng, Bali tanaman ini dikenal dapat menyembuhkan ambeien dengan cara memakan batangnya. Karena manfaatnya itu maka Kebun Raya „Eka Karya‟ Bali-LIPI mengkoleksinya di Taman Usada (Koleksi Tanaman Obat). Namun ironisnya pertumbuhannya sangat lamban dan tidak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lokasi penanaman dan media tanam terhadap pertumbuhan stek batang Cissus quadrangularis L.. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Raya „Eka Karya‟ Bali-LIPI pada bulan Juni hingga Oktober 2011. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial 3 x 5 dengan 3 ulangan. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan vegetatif meliputi rata-rata jumlah daun, jumlah cabang, persentase berakar dan awal muncul tunas. Hasil yang diperoleh memperlihatkan pertumbuhan vegetatif C.quadrangularis L.. paling baik pada lokasi Pembibitan. Media tanam tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif C.quadrangularis L.
Keragaan Kembang Kertas (Zinnia elegans Jacq) Generasi M5 dan M6 hasil irradiasi Sinar X
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi beberapa karakter pada populasi M5 dan M6 tanaman kembang kertas (Zinnia elegans) setelah dilakukan kegiatan seleksi. Kegiatan seleksi dilakukan pada individu tanaman yang memilki bunga berbentuk pompon atau bunga berbentuk double dan berwarna red purple. Penelitian dilaksanakan di lahan seluas ± 250 m2 di komplek perumahan Jatimulyo, Yogyakarta. Penanaman populasi M5 dilaksanakan pada bulan April sampai Agustus 2010 sedangkan penanaman populasi M6 dilaksanakan pada bulan November 2010 sampai Maret 2011. Data masing-masing karakter pengamatan dianalisis dengan Uji F untuk mendapatkan nilai varian, kemudian digunakan Uji T untuk membandingkan rerata nilai tiap karakter pengamatan antara kedua populasi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai varian pada karakter bentuk bunga pompon, bentuk bunga double dan warna bunga red purple pada populasi M6 menurun setelah dilakukan kegiatan seleksi. Meskipun, persentase jumlah individu dengan karakter bunga pompon, bentuk bunga double dan warna bunga red purple tidak berbeda nyata antara populasi M5 dan M6. Karakter pengamatan diameter batang dan jumlah bunga per tanaman memiliki nilai heritabilitas yang tinggi
Kesesuaian Sambungan Mini Tiga Kultivar Durian (Durio zibethinus L. ex Murray) dengan Batang Bawah Berbagai Umur
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur batang bawah terhadap keberhasilan penyambungan durian (Durio zibenthinus M), dan mengetahui kompatibilitas batang atas dan batang bawah beberapa varietas durian dalam penyambungan durian. Penelitian ini dilaksanakan di Penelitian ini dilaksanakan di kebun di desa Kaligesing, Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo pada bulan Oktober – Desember 2011. Rancangan yang digunakan adalah percobaan faktorial 2 faktor (3x3) yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah varietas batang atas yang terdiri atas 3 macam yaitu: Batang atas Petruk, Batang atas Sunan dan Batang atas Sitokong. Faktor kedua adalah umur batang bawah yang terdiri atas 3 aras yaitu : Umur batang bawah 4 minggu, 6 minggu dan 8 mingu. Parameter yang diamati meliputi persentase keberhasilan penyambungan, pertambahan tinggi tanaman, diameter batang bawah, diameter batang atas, serta jumlah daun. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan umur 6 minggu memberikan hasil persentase keberhasilan penyambungan yang lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya pada masing-masing varietas batang atas. Sedangkan pada parameter tinggi tanaman terlihat interaksi perlakuan juga mempengaruhi. Kombinasi perlakuan batang atas varietas Sunan dengan umur batang bawah 6 minggu dan 8 minggu memberikan hasil yang terbaik diantara semua perlakuan. Tidak ada pengaruh interaksi maupun antar perlakuan yang nyata pada hasil pengamatan terhadap pertumbuhan diameter batang bawah, diameter batang atas dan jumlah daun
Produktivitas Kopi Arabika (Coffea arabica L.) Rakyat di Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun
Usaha peningkatan nilai ekspor hingga saat ini masih menemui hambatan karena umumnya kopi Indonesia bermutu rendah. Rendahnya mutu kopi Indonesia menyebabkan harga yang diterima petani rendah. Penelitian ini bertujuan mengetahui produktivitas kopi Arabika dengan spesifik lokasi pada lahan pasiran (regosol) dengan ketinggian tempat 800 – 1500 mdpl dan type iklim D (daerah sedang) (Schmidt-Ferguson). Untuk mengevaluasi dan memberi saran kepada pemerintah daerah dan masyarakat umum, khususnva kepada petani tentang cara budidaya kopi Arabika agar diperoleh hasil yang optimal. Penelitian ini bertujuan mengetahui produktivitas kopi Arabika dengan spesifik lokasi pada lahan pasiran (regosol) dengan ketinggian tempat 800 – 1500 mdpl dan type iklim D (daerah sedang) (Schmidt-Fergoson). Metode yang digunakan adalah metode survei agronomi untuk mendapatkan data primer dan sekunder.Dari beberapa desa di Kecamatan Raya tersebut diambil 5 desa sebagai sampel yang diperkirakan memiliki tingkat intensifikasi yang berbeda dan produksi kopi yang lebih baik dibandingkan desa yang lain, dari tiap desa diambil satu kelompok tani, dan dari tiap kelompok tani diambil 10 petani sebagai sampel sehingga jumlah keseluruhan ada 50 petani sampel dan dilanjutkan dengan wawancara.Pengukuran di lahan petani meliputi data produksi buah pertanaman sampel serta komponen produksinya. Untuk membandingkan tingkat intensifikasi budidaya tanaman di dusun Nagatongah, Tambanan, Rayatonah, Baringin Raya dan Sinondang dengan menggunakan analisis Varians Rancangan Tersarang (Nested Design). Hasil penelitian menunjukkan dusun Tambahan lebih baik produksi kopi arabika dibandingkan dusun Nagatongah, Rayatonah, Baringin Raya dan Sinondang. Pengaruh langsung karakter agronomi yang paling kuat mempengaruhi produksi kopi di dusun Nagatongah, Tambahan, Baringin Raya dan Sinondang adalah diameter kanopi. Produksi kopi Arabika di Kecamatan Raya lebih banyak dipengaruhi oleh karakter agronomi yaitu jumlah cabang produktif, jumlah tandan per cabang, jumlah buah per tandan, total buah perpohon dan diameter kanopi
Pengaruh Takaran Pupuk Kompos Sampah Pasar Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai Hitam (Glycine max (L.) Merill)
Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai pupuk organik adalah sampah pasar. Selama ini sampah masih menjadi masalah karena menimbulkan bau dan menyebabkan pencemaran lingkungan. Namun bila dikelola dengan baik, dapat menjadi bahan yang bermanfaat. Sampah yang telah dibakar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dikumpulkan dan dikemas kembali dan dijual sebagai kompos. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh takaran pupuk kompos sampah pasar dan mendapatkan takaran pupuk kompos sampah pasar yang paling sesuai bagi pertumbuhan dan hasil kedelai hitam yang terbaik. Penanaman kedelai hitam dilakukan di lahan KP4 UGM, Kalitirto, Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mulai bulan Maret sampai Juli 2011. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 2 kontrol dan 5 takaran pupuk kompos sampah pasar sebagai perlakuan dan 3 blok sebagai ulangan. Adapun susunan perlakuan pada percobaan ini yaitu kontrol 1 (tanpa pupuk kompos sampah pasar dan pupuk anorganik); kontrol 2 (tanpa pupuk kompos sampah pasar tetapi menggunakan pupuk anorganik); pupuk kompos sampah pasar dengan takaran 1,0, 1,5, 2,0, 2,5, dan 3,0 ton/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kompos sampah pasar pada takaran 1-3 ton/ha tidak meningkatkan hasil kedelai hitam Mallika dibandingkan tanaman tanpa pemupukan maupun tanaman yang diberi pupuk anorganik. Takaran pupuk kompos sampah pasar 1-3 ton/ha masih sangat kecil untuk mendapatkan hasil kedelai hitam Mallika yang maksimal
Keragaan Sembilan Kultivar Wijen (Sesamum indicum L.) dalam Berbagai Tingkat Salinitas
Wijen merupakan tanaman penting penghasil minyak yang dibudidayakan di daerah tropis maupun sub tropis untuk diambil asam lemak, protein, vitamin serta asam aminonya. Produksi wijen dalam negeri tergolong rendah, peningkatan produksi wijen dapat dilakukan melalui pemanfaatan lahan marginal yang sering mengalami cekaman abiotik dengan penggunaan kultivar berdaya daya hasil tinggi yang sesuai untuk lahan marginal. Penelitian berjudul “Keragaan Sembilan Kultivar Wijen (Sesamum indicum L.) dalam Berbagai Tingkat Salinitas” bertujuan untuk mengetahui tanggapan beberapa kultivar wijen terhadap cekaman salinitas serta mengetahui daya adaptasil kultivar wijen pada budidaya lahan pasir pantai yang tercekam salinitas.Penelitian menggunakan pendekatan percobaan 9 x 6 faktorial yang diatur dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah 9 kultivar wijen, sedang faktor kedua adalah 6 konsentrasi NaCl. Pengamatan meliputi daya hantar listrik tanah, tinggi tanaman, jumlah polong, jumlah cabang, dan berat biji per tanaman. Data dianalisis dengan pendekatan analisis varian dan apabila terdapat interaksi antarakultivar dan cekaman salinitas pada sifat bobot total biji kering per tanaman, analisis dilanjutkan menggunakan diagram GGE biplot.Pemberian larutan garam dengan konsentrasi 8 dan 10 g/l NaCl menghambat pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Pengaruh salinitas biasanya linier pada banyak sifat kecuali pada sifat akar. Dari analisis GGE biplot menunjukkan bahwa Gamawi 2 dan Sumberejo 3 cenderung sesuai pada kondisi tercekam salinitas dalam budidaya wijen lahan pasir pantai.Kata kunci : wijen, konsentrasi NaCl, budidaya pasir panta
Kajian Perendaman Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) dalam Urin Sapi dan Air Kelapa untuk Mempercepat Pertunasan
Temulawak merupakan tanaman yang banyak digunakan sebagai bahan baku obat tradisional. Dalam budidaya temulawak yang menjadi kendala adalah rimpang tidak tumbuh dengan cepat dan serempak. Penelitian mengenai pengaruh konsentrasi air kelapa dan urin sapi terhadap percepatan pertunasan temulawak bertujuan untuk memperpendek masa tertundanya pertunasan temulawak dan menentukan konsentrasi larutan urin sapi dan air kelapa yang paling baik bagi percepatan pertunasan bibit temulawak. Penelitian ini dilakukan di Padukuhan Pusmalang, Cangkringan, Yogkarta pada bulan Agustus hingga November 2012. Penelitian yang dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 8 pelakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah perendaman dalam urin sapi konsentrasi 25%, 50%, dan 75%, air kelapa konsentrasi 25%, 50%, dan 75%, serta kontrol berupa perendaman dalam akuades dan tanpa perendaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman rimpang temulawak dalam air kelapa konsentrasi 50% dapat meningkatkan indeks vigor tanaman temulawak
Pengaruh Macam dan Kadar Kitosan Terhadap Pematangan dan Mutu Buah Sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh macam dan kadar kitosan terhadap pematangan dan mutu buah sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen) dan menentukan kadar optimum kitosan yang dapat menunda pematangan dan menjaga mutu buah sawo terbaik. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hortikultura dan Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu, Universitas Gadjah Mada pada bulan Juli sampai Desember 2012. Penelitian menggunakan rancangan factorial 2x6+1 yang disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 3 blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah macam kitosan yaitu kitosan udang dan kepiting. Faktor kedua adalah kadar kitosan terdiri dari 0,5%, 1%, 1,5%, 2%, 2,5% dan 3%. Buah sawo tanpa kitosan digunakan sebagai kontrol. Hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis varian pada tingkat kepercayaan α = 5%. Apabila ditemukan beda nyata antar perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji Duncan pada tingkat kepercayaan α = 5%, dan juga uji kontras orthogonal untuk membandingkan rerata perlakuan dengan kontrol.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitosan dapat menghambat pematangan dan memperpanjang umur simpan buah sawo 2 – 3 hari. Pengaruh kitosan udang tidak berbeda nyata dengan pengaruh kitosan kepiting. Kitosan tidak mengubah kualitas buah sawo saat matang, kecuali pada visual quality rating (VQR) yang lebih rendah daripada VQR buah sawo kontrol. Kadar kitosan optimum untuk menunda pematangan dan memperpanjang umur simpan buah sawo adalah kadar 2,6%
Pengaruh Jenis dan Kadar Air Media Simpan Terhadap Viabilitas Benih Lengkeng (Dimocarpus longan Lour.)
Benih lengkeng termasuk benih rekalsitran yang bersifat cepat kehilangan viabilitas, tidak dapat dikeringkan di bawah kadar air kritis, kadar air benih tinggi sehingga mudah berkecambah, dan tidak toleran terhadap suhu yang membekukan. Viabilitas benih lengkeng dapat dipertahankan apabila disimpan dalam kondisi lembab. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kadar air media simpan yang tepat untuk mempertahankan viabilitas benih lengkeng tetap tinggi selama penyimpanan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih dan Rumah Kaca, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada bulan April-Juni 2011. Metode yang digunakan adalah rancangan faktorial 3 x 3 + 1 yang disusun secara acak lengkap dengan 4 ulangan. Faktor pertama adalah jenis media simpan, yaitu serbuk arang kayu, arang sekam, dan serbuk gergaji, sedangkan faktor kedua adalah kadar air media simpan antara lain 30%, 40%, dan 50%, ditambah dengan perlakuan tanpa media simpan (kontrol). Penelitian dilaksanakan selama 30 hari dengan melakukan pengujian viabilitas pada awal penyimpanan dan setiap 5 hari sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan dengan ketiga media simpan dapat mempertahankan daya tumbuh benih optimal hingga 20 hari, sedangkan penyimpanan pada benih tanpa media hanya dapat bertahan selama 10 hari penyimpanan
Pertumbuhan dan Hasil Selada (Lactuca sativa L.) Hidroponik Diperkaya Fe
Zat besi (Fe) merupakan salah satu mineral yang penting bagi manusia, terutama bagi perempuan. Manusia perlu mengkonsumsi pangan dengan kandungan Fe yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap zat besi. Peningkatan kandungan Fe dapat dilakukan melaui biofortifikasi Fe secara agronomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Fe pada larutan nutrisi terhadap pertumbuhan, hasil, dan kandungan Fe pada tanaman selada (Lactuca sativa L.). Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada mulai bulan September-November 2011. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap yang disusun dalam Oversites design dengan empat perlakuan dosis Fe serta tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah Fe 1,5 ppm; Fe 3,0 ppm; Fe 4,5 ppm; dan Fe 6,0 ppm. Sumber senyawa Fe yang digunakan yaitu Fe-EDTA.Penambahan Fe pada larutan nutrisi hingga 6,0 ppm tidak menghambat pertumbuhan serta hasil pada tanaman selada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selada memiliki tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, lamanya luas daun, bobot segar akar, bobot segar tajuk, dan bobot segar total tanaman paling besar jika ditumbuhkan pada larutan nutrisi dengan Fe 6,0 ppm. Konsentrasi Fe 6,0 ppm mampu menghasilkan kandungan Fe paling tinggi yaitu sebesar 0,198 mg Fe/bobot kering daun