Vegetalika
Not a member yet
487 research outputs found
Sort by
Pengaruh Warna Mulsa Plastik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Terung (Solanum melongena L.) Tumpangsari dengan Kangkung Darat (Ipomoea reptans Poir.)
Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh warna mulsa plastik terhadap pertumbuhan dan hasil terung yang ditanam secara monokultur atau secara tumpangsari dengan kangkung darat, serta mengkaji kelayakan usaha taninya. Penelitian dilaksanakan di desa Banyudono, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang, Jawa Tengah mulai bulan Maret 2011 sampai bulan Oktober 2011. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan faktorial 2x4 yang disusun menurut rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 3 ulangan. Faktor pertama merupakan sistem tanam yang terdiri dari 2 (dua) macam yaitu pertanaman terung monokultur dan tumpangsari terung dengan kangkung darat. Faktor kedua merupakan warna mulsa terdiri dari 3 (tiga) macam yaitu bening, hitam dan hitam-perak. Pertanaman tanpa mulsa plastik ditambahkan sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mulsa plastik warna hitam dan hitam-perak nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil terung baik yang ditanam secara monokultur maupun tumpangsari dengan kangkung darat. Penanaman kangkung darat di antara baris tanaman terung tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan terung tetapi nyata menurunkan hasil yang dinyatakan dalam jumlah buah, bobot buah/tanaman, bobot buah/petak produksi, dan bobot buah/hektar. Mulsa plastik hitam-perak paling sesuai digunakan pada pertanaman terung monokultur sedangkan mulsa plastik hitam paling sesuai digunakan pada pertanaman tumpangsari terung dengan kangkung darat. Hasil analisis kelayakan usaha tani menyebutkan bahwa budidaya terung baik secara monokultur atau tumpangsari dengan kangkung darat menggunaan mulsa plastik layak untuk dikembangkan
Pengaruh Mulsa Organik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Kacang Hijau (Vigna radiata L. Wilczek) di Lahan Pasir Pantai Bugel, Kulon Progo
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respon tiga varietas kacang hijau terhadap agroekosistem lahan pasir, serta pengaruh pemberian mulsa organik (jerami dan sekam) terhadap pertumbuhan dan hasil dari tiga varietas kacang hijau (Vigna radiata L. Wilczek) yang ditanam di lahan pasir pantai. Penelitian ini dilakukan di daerah Bugel, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial, dengan dua faktor yakni varietas kacang hijau, terdiri dari Vima-1, Murai, dan Lokal Wonosari, dan mulsa yang terdiri dari tanpa mulsa, mulsa jerami, dan mulsa sekam dengan dosis masing-masing 5 ton/ha. Hasil penelitian menunjukkan varietas Vima-1 dan Murai memiliki respons yang lebih baik dibanding varietas Lokal Wonosari pada penanaman di lahan pasir. Kacang hijau Vima-1 dan Murai mampu merespon penggunaan mulsa organik di lahan pasir pantai, dengan selisih hasil masing-masing 0,51 ton/ha dan 0,45 ton/ha dibanding tanpa mulsa. Kacang hijau Lokal Wonosari kurang merespon penggunaan mulsa organik, dengan selisih hasil sebesar 0,12 ton/ha dibanding tanpa mulsa. Mulsa organik merupakan faktor pendukung pertumbuhan dan hasil kacang hijau. Mulsa jerami meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kacang hijau sebesar 31,25% dengan hasil 2,7 ton/ha, diikuti mulsa sekam sebesar 6,25% dengan hasil 1,7 ton/ha. Hasil kacang hijau Vima-1 pada mulsa jerami sebesar 2,4 ton/ha yang memberikan keuntungan sebanyak Rp. 10.677.500,-
Pengaruh Kadar NaCl Terhadap Hasil dan Mutu Buah Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.)
Tomat merupakan tanaman hortikultura yang bersifat moderat sensitif terhadap salinitas dengan batas toleransi 1,3-6 dS/m. Akhir-akhir ini, kualitas air irigasi mengalami penurunan karena akumulasi mineral garam dari intrusi air laut dan residu pupuk. Namun, penyiraman dengan air salin dapat meningkatkanmutu buah tomat (Yin et al., 2010). Oleh karena itu, pengaruh penyiraman larutan NaCl terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas tomat menjadi tujuan dari penelitian ini.Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap, terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah kadar penyiraman larutan NaCl, yaitu 0, 2500, 5000, dan 7500 ppm. Faktor kedua adalah varietas tomat, yaitu ‘Warani’ dan ‘Permata’. Penyiraman NaCl dilakukan sejak tanaman berbunga sampai panen, dengan interval tiga hari sekali. Respon tanaman terhadap penyiraman NaCl dievaluasi dengan mengamati pertumbuhan tanaman, komponen hasil, dan kualitas hasil tomat.Hasil penelitian menunjukka n bahwa tidak ada interaksi antara kadar NaCl dengan varietas tomat. Pertumbuhan tanaman (bobot kering akar dan kandungan klorofil), hasil, dan mutu buah tomat (padatan terlarut total) meningkat pada pemberian NaCl sebesar 2500 ppm apabila dibandingkan dengan tanaman yang tidak diberi perlakuan NaCl (kontrol), tetapi pertumbuhan tanaman menurun ketika tanaman diberi perlakuan NaCl sebesar 5000 ppm dan 7500 ppm. Kadar NaCl yang optimum untuk meningkatkan mutu buah tomat adalah sebesar 2500 ppm. Pada umumnya, ‘Warani’ dan ‘Permata’ memiliki pertumbuhan, hasil, dan mutu buah yang sama
Pengaruh Warna Plastik dan Umur Pembrongsongan Terhadap Mutu Buah Jambu Biji (Psidium guajava L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh warna plastik dan umur pembrongsongan terhadap mutu buah jambu biji (Psidium guajava L.). Penelitian dilaksanakan di PT Mekar Unggul Sari, Cileungsi, Bogor mulai Januari 2012 sampai April 2012.Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan petak terbagi yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga blok sebagai ulangan. Perlakuan utama adalah umur pembrongsongan yaitu 4 minggu setelah antesis dan 6 minggu setelah antesis, sedang anak perlakuan terdiri atas warna plastik pembrongsong yaitu biru, merah, hitam, kuning, dan bening. Satu perlakuan tanpa pembrongsongan bertindak sebagai kontrol. Pengamatan dilakukan pada warna buah, bobot segar buah, panjang buah, diameter buah, susut bobot, kelunakan buah, padatan total terlarut, pH buah, asam tertitrasi, kandungan vitamin C, dan nilai organoleptik. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam. Hasil analisis yang menunjukkan ada beda diuji dengan Duncan New’s Multiple Range Test pada α=5%.Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara umur pembrongsongan dengan warna plastik pada semua variabel yang diamati. Buah yang tidak dibrongsong (kontrol) mengalami kerontokan 100%. Plastik biru menghasilkan warna buah jambu biji yang menarik (kuning cerah), plastik merah meningkatkan bobot segar buah, sedangkan plastik bening memiliki nilai padatan total terlarut (PTT) terbaik. Waktu pembrongsongan tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh variabel mutu buah.Kata kunci: jambu biji, mutu buah, pembrongsongan, warna plastik
Pengaruh Lama Penyinaran Ultraviolet-C dan Cara Pengemasan Terhadap Mutu Buah Stroberi (Fragaria x ananassa Duchesne) Selama Penyimpanan
Penelitian bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh lama penyinaran UV-C dan cara pengemasan terhadap umur simpan dan mutu buah stroberi dan 2) menentukan lama penyinaran UV-C dan cara pengemasan yang paling optimal untuk memperpanjang umur simpan dan mutu buah stroberi. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktorial, dengan 3 blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah lama penyinaran UV-C, yaitu 0 menit, 5 menit, 10 menit, dan 15 menit. Faktor kedua adalah cara pengemasan, yaitu tanpa dikemas, vakum, dan wadah styrofoam dibungkus plastik. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa variabel kualitas buah stroberi. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis varian (ANOVA) pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT). Pola hubungan antar variabel kualitas buah ditentukan dengan analisis korelasi. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa Lama penyinaran UV-C tidak berpengaruh terhadap umur simpan buah stroberi. Kemasan vakum mampu menghambat proses pematangan buah stroberi sehingga umur simpan buah menjadi lebih panjang, walaupun tidak berbeda nyata dengan kemasan styrofoam. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut menggunakan UV-C dengan daya lampu lebih besar dari 15 watt serta durasi penyinaran yang bervariasi
Periode Kritis Kedelai Hitam (Glycine max (L.) Merill) Terhadap Gulma, Pengaruhnya pada Hasil dan Kualitas Benih Selama Penyimpanan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui periode kritis kedelai hitam terhadap gulma saat penanaman terhadap kualitas benih selama penyimpanan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih dan Rumah kaca Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan empat ulangan. Perlakuan berupa benih dari hasil tanaman kedelai hitam bebas gulma selama 2, 4, 6, 8, 10 mst, sampai panen dan benih dari hasil tanaman kedelai hitam bergulma selama 2, 4, 6, 8, 10 mst, sampai panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan periode kritis kedelai hitam terhadap gulma memberikan pengaruh terhadap hasil. Hasil dari perlakuan kedelai hitam bebas gulma lebih tinggi dibandingkan perlakuan kedelai hitam bergulma. Sedangkan perlakuan periode kritis kedelai hitam terhadap gulma tidak berpengaruh terhadap kualitas benih selama penyimpanan. Kualitas benih dapat terjaga baik sampai penyimpanan bulan ke-5
Pertumbuhan dan Hasil Sorgum Manis (Sorghum bicolor (L.) Moench) Tanam Baru dan Ratoon pada jarak Tanam Berbeda
Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan ratoon terhadap pertumbuhan dan hasil sorgum manis. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilaksanakan di kebun Tridarma Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta mulai bulan Juli 2011 sampai Februari 2012. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap Faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor yang pertama adalah jarak tanam terdiri dari 2 aras yaitu: 60 cm x 25 cm dan 70 cm x 20 cm. Faktor yang kedua yaitu sitem ratoon, terdiri dari 2 aras, yaitu: tanpa ratoon dan ratoon satu kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara perlakuan jarak tanam dengan perlakuan ratoon terhadap semua parameter pertumbuhan dan hasil dari sorgum manis, kecuali pada jumlah daun pada 12 mst. Jarak tanam 70 cm x 20 cm memberikan hasil yang lebih tinggi pada diameter batang pada umur 4 mst, dan indeks luas daun pada umur 12 mst. Sistem ratoon meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat kering akar pada umur 4 mst, berat kering tajuk umur 4 mst, bobot 1000 biji, serta memberikan hasil bioetanol 87,66 % lebih besar dan pakan 59,89 % lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan tanpa ratoon
Keanekaragaman Padi (Oryza sativa L.) Berdasar Karakteristik Botani Morfologi Dan Penanda RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA)
Keanekaragaman padi (Oryza sativa L.) tersimpan dalam koleksi plasma nutfah yang harus dilestarikan dan dievaluasi, keanekaragaman tersebut dapat dilihat berdasarkan karakter fenotipe dan genotipenya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakter botani-morfologi dan mengkaji keragaman genotipe aksesi padi koleksi Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UGM, serta mengkaji hubungan kekerabatan diantara aksesi-aksesi yang ada berdasarkan informasi karakter fenotipe dan keragaman penanda genetik. Untuk mengetahui keanekaragaman genetik padi koleksi digunakan 25 aksesi padi yang terdiri dari ras-ras lokal, material eksotik, dan kultivar terperbaiki untuk dikarakterisasi pada 15 sifat agrobotani-agromorfologinya dan genotipenya dengan menggunakan 8 primer RAPD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 15 sifat agrobotani-agromorfologi diperoleh keanekaragaman aksesi yang terlihat dari nilai CV (koefisien keanekaragaman), pada level genotipe keanekaragaman terlihat pada persentase lokus polimorfik dan nilai keragaman genetik Nei. Hasil analisis kekerabatan sifat agrobotani-agromorfologi pada jarak kurang dari dua diantara cluster centroids terbentuk kekerabatan antara ‘Sintanur’ – Mentik Susu, dan H3 – ‘IR 64’. Pengujian molekuler menunjukan pada jarak genetik 0,035 populasi terbagi menjadi 9 kelompok yang berdekatan, yaitu kelompok I (‘Anak Daro’, Lembayung Gogo), kelompok II (Mayangsari, Gadung Mlathi), kelompok III (‘Pokkali’, ‘Mentik Susu’), Kelompok IV (Ketan, H3), kelompok V (‘Lumbuk’, Andel Abang), kelompok VI (‘Sintanur’, ‘Amaroo’), kelompok VII (‘Nipponbare’, H2 Bulu), kelompok VIII (Ketan Hitam Bulu, Ketan Hitam Gundil), kelompok IX (‘Bluebonnet’, ‘IR 64’ Simpangan). Dari semua aksesi yang dilibatkan terlihat bahwa 44% adalah golongan indica, 49% golongan japonica, dan 7% adalah golongan Aromatik
Pengujian Kelayakan Penanda Genetik Mikrosatelit dan RAPD untuk Uji Keseragaman Empat Galur Tetua Hibrida Mentimun (Cucumis sativus L.)
Penggunaan penanda mikrosatelit (SSR) dan RAPD diuji coba kemungkinannya dalam pengujian keseragaman. Keseragaman dalam pola penanda SSR dan RAPD diperbandingkan dengan keseragaman karakter morfologi pada empat galur tetua mentimun (Cucumis sativus) yang masing-masing diberi kode 1002-A, 1002-B, 1007-A, dan 1007-B. Dua puluh individu dari setiap galur diamati 26 karakter morfologinya. Profil penanda RAPD dilihat terhadap 18 primer acak dan sebelas pasang primer penanda mikrosatelit.Keseragaman karakter morfologi sangat tinggi untuk keempat kelompok tetua dan hanya dua karakter yang menunjukkan keseragaman 95%. Di sisi lain, penanda-penanda mikrosatelit menunjukkan keragaman yang agak tinggi sampai sangat rendah. Dapat disimpulkan bahwa penanda mikrosatelit yang berkeragaman rendah, sehingga relevan bagi pengujian keseragaman material ini, adalah CSJCT14, CSJCT252, SSR16301, SSR20354, dan SSR23148. Pengujian menggunakan penanda RAPD menghasilkan lokus-lokus yang relevan bagi pengujian keseragaman adalah OPP14, OPP15, OPQ09, OPR19, OPS13, , dan OPT12 .Sebagai simpulan umum, tidak ada perbedaan nyata yang ditemukan antara lokus SSR yang terpilih dan karakter morfologi. Penanda SSR yang telah diverifikasi dapat digunakan untuk menguji keseragaman pada mentimun. Penanda RAPD perlu dikaji ulang penggunaannya dalam pengujian keseragaman karena menunjukkan hasil yang berbeda dengan penanda morfologi
Keragaan Lima Kultivar Cabai (Capsicum annuum L.) di Dataran Medium
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan sifat kualitatif dan menganalisis sifat kuantitatif lima kultivar cabai merah di dataran medium, mengidentifikasi sifat-sifat penting pada tanaman cabai merah yang digunakan sebagai parameter seleksi, dan mengetahui kemampuan adaptasi dan potensi produksi. Penelitian dilaksanakan di Desa Kemiri, Sigaluh, Banjarnegara, Jawa Tengah dengan ketinggian 550 m dpl pada bulan April-Oktober 2011. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan lima perlakuan kultivar cabai merah yaitu Branang, Gantari, dan Lembang-1 yang direkomendasikan untuk dataran tinggi, Kusuma dan Cipanas masih dalam tahap uji multilokasi serta tiga blok sebagai ulangan. Beda nyata antar perlakuan diuji lanjut menggunakan Duncan’s Multiple Range Test pada α=5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pigmen ungu (antosianin) pada batang dan pigmen kuning (karotenoid) pada mahkota bunga. Lima kultivar cabai merah yang diuji memiliki hasil yang berbeda di dataran medium. Kultivar Branang memiliki hasil tertinggi (6,33 ton/ha) walaupun tidak berbeda nyata dengan kultivar Gantari (6,28 ton/ha), Kusuma (5,58 ton/ha), Lembang-1 (4,97 ton/ha), dan Cipanas (4,00 ton/ha). Lima kultivar cabai dataran tinggi yang ditanam di dataran medium tanaman tumbuh lebih tinggi, diameter batang lebih kecil, ukuran daun lebih panjang, berumur genjah, dan berat buah per hektar lebih rendah. Pada penelitian ini, tipe pertumbuhan, panjang batang dikotom, diameter batang, diameter buah, dan panjang tangkai buah, berat per buah, dan berat 1000 biji dapat digunakan sebagai parameter seleksi. Dari lima kultivar cabai yang diuji, kultivar Kusuma dan Lembang-1 berpotensi untuk dikembangkan di dataran medium karena banyak disukai oleh konsumen dan produksinya cukup baik