487 research outputs found

    Pengaruh Pemupukan Kalium Klorida dan Natrium Silikat Terhadap Umur Pajang Bunga Potong Kembang Kertas (Zinnia elegans Jacq.)

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kombinasi dosis pupuk Kalium dan Silikat yang diberikan kepada tanaman kembang kertas (Zinnia elegans Jacq.) terhadap umur pajang bunga potong kembang kertas (Zinnia elegans Jacq.) setelah panen. Penelitian dilaksanakan di Kebun Tridharma Banguntapan, Bantul. Sedangkan analisa tanah dilakukan di Laboratorium Tanah Umum dan Kimia Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta dan Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu UGM Yogyakarta. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 2 faktor perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah jenis pupuk yaitu pupuk Si dan pupuk Kalium. Faktor kedua adalah dosis pupuk yaitu untuk pupuk Si 0 kg/Ha; 11,2 kg/Ha; 22,4 kg/Ha dan untuk pupuk Kalium 0 kg/Ha; 100 kg/Ha; 200 kg/Ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi dosis pemupukan Si dan K dapat meningkatkan diameter tangkai bunga, meningkatkan kekerasan tangkai bunga, serta memperpanjang umur pajang bunga potong kembang kertas. Pemberian dosis pupuk K 100 kg/Ha dan Si 11,2 kg/Ha menghasilkan umur pajang bunga potong kembang kertas paling lama yaitu selama 6,3 hari.Kata kunci: Silikon, Kalium, Zinnia elegans Jacq

    Pengaruh Pupuk Kalium Klorida dan Umur Penjarangan Buah Terhadap Hasil dan Mutu Salak (Salacca zalacca (Gaertn.) Voss) ‘Pondoh Super’

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan untuk mendapatkan dosis pupuk kalium klorida (KCl) dan umur penjarangan buah yang dapat memberikan hasil dan mutu salak ‘Pondoh Super’ yang tertinggi. Penelitian ini dirancang menggunakan metode Petak Terbagi yang diatur dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 3 blok sebagai ulangan. Petak utama berupa dosis KCl yang terdiri atas 10 gram/tanaman, 20 gram/tanaman, dan 30 gram/tanaman. Anak petak berupa umur penjarangan buah yang terdiri atas tanpa penjarangan buah, penjarangan pada umur 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan setelah penyerbukan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara pupuk kalium klorida dan umur penjarangan buah pada bobot buah dalam tandan dan bobot buah tanpa tandan. Hasil salak tertinggi didapatkan pada tanaman yang dipupuk 20 gram KCl tanpa penjarangan buah. Penjarangan buah menghasilkan diameter buah lebih besar dan bentuk buah lebih baik. Kecuali kandungan vitamin C, pupuk KCl dan umur penjarangan buah tidak berpengaruh nyata pada karakter fisiko-kimia buah salak. Peningkatan dosis KCl menurunkan kandungan vitain C buah.Kata Kunci : hasil, kalium klorida, mutu, salak pondoh, umur penjarangan

    Pengaruh Lama Penyinaran Ultraviolet-C dan Suhu Penyimpanan Terhadap Pematangan dan Nilai Organoleptik Buah Sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyinaran UV-C dan suhu penyimpanan terhadap pematangan dan nilai organoleptik buah sawo, serta untuk mendapatkan kombinasi perlakuan lama penyinaran UV-C dan suhu ruang simpan yang dapat menunda pematangan buah sawo tanpa menurunkan mutunya. Penelitian menggunakan 4 aras lama penyinaran UV-C yaitu tanpa penyinaran, 5 menit, 10 menit, dan 15 menit. Buah sawo yang telah disinari disimpan pada suhu kamar (27,13 – 28,11oC) dan suhu rendah (16,70 – 18,13oC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara lama penyinaran UV-C dengan suhu penyimpanan pada pematangan dan nilai organoleptik buah sawo. Penyinaran UV-C tidak menghambat pematangan. Penyimpanan pada suhu rendah menghambat pematangan  buah sawo 6 hari lebih lama  dibandingkan penyimpanan pada suhu kamar. Lama penyinaran UV-C dan suhu penyimpanan tidak  berpengaruh nyata terhadap nilai organoleptik buah sawo.Kata kunci: Sawo, UV-C, suhu penyimpanan, pematangan, nilai organoleptik

    Pengaruh Air Cucian Beras Merah dan Beras Putih Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Selada (Lactuca sativa L.)

    Get PDF
    Pertumbuhan dan perkembangan selada membutuhkan unsur hara yang biasanya berasal dari bahan kimia sintetis maupun organik. Air cucian beras atau leri dapat digunakan sebagai nutrisi tambahan bagi selada karena mengandung berbagai unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh macam dan kadar air cucian beras terhadap pertumbuhan dan hasil selada (Lactuca sativa L.). Penelitian dilakukan pada 12 Juni 2011 hingga 7 Agustus 2011 di dusun Babarsari, Kelurahan Catur Tunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Penelitian terdiri dari dua faktor yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 3 blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah macam air cucian beras yang terdiri dari air cucian beras merah dan air cucian beras putih. Faktor kedua adalah kadar air cucian beras, yaitu cucian pertama, cucian kedua dan cucian ketiga. Tanaman selada tanpa pemberian air cucian beras bertindak sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis dan kadar air cucian beras tidak memberikan pertumbuhan tajuk dan hasil yang berbeda, namun air cucian beras putih menghasilkan pertumbuhan akar yang lebih baik dibanding air cucian beras merah

    Pertumbuhan Tanaman dan Hasil Umbi Daun Dewa (Gynura procumbens Back.) pada Berbagai Intensitas Cahaya dan Pemangkasan Daun

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh intensitas cahaya dan pemangkasan daun terhadap pertumbuhan dan hasil umbi daun dewa (Gynura procumbens Back.) serta mendapatkan interaksi yang paling baik antara intensitas cahaya dan pemangkasan daun terhadap pertumbuhan dan hasil umbi daun dewa. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan milik Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, di Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, pada bulan Agustus sampai Desember 2011.Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap split plot dengan 3 ulangan sebagai blok. Perlakuan utama adalah intensitas cahaya yaitu 4 minggu tanpa naungan, 11 minggu naungan 50%; intensitas cahaya 75%; dan intensitas cahaya 50%. Anak perlakuan adalah pemangkasan daun yaitu tidak dipangkas, pemangkasan 25% daun dari total daun, dan pemangkasan 50% daun dari total daun.Tidak terdapat interaksi antara intensitas cahaya dan pemangkasan daun pada semua variabel pengamatan. Intensitas cahaya 50% secara nyata dapat meningkatkan jumlah anakan dan intensitas cahaya 75% secara nyata meningkatkan berat daun khas. Pemangkasan 25% daun meningkatkan rasio akar tajuk daun dewa. Intensitas cahaya ataupun pemangkasan daun tidak berpengaruh nyata terhadap hasil umbi daun dewa

    Gulma di Pertanaman Padi (Oryza sativa L.) Konvensional, Transisi, dan Organik

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem pertanian konvensional, transisi, dan organik terhadap perubahan komposisi dan dominansi gulma, mengetahui jenis gulma yang dapat dijadikan sebagai indikator dan membandingkan pertumbuhan gulma di lahan konvensional, transisi dan organik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2011 hingga Mei 2012 di Gabungan Kelompok Tani Permatasari, Desa Tirtosari, Sawangan, Magelang. Penelitian ini merupakan percobaan lapangan dan merupakan pecobaan perbandingan antar lokasi berrdasarkan cara budidaya yang berbeda yaitu budidaya padi secara konvensional, transisi 1, transisi 2, transisi 3, dan organik yang ditanami dengan tanaman padi (Oryza sativa L.) Menthik Wangi Susu. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 ulangan pada setiap lokasi. Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis varian dan apabila terdapat beda nyata dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 95 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat tanaman memasuki fase vegetatif awal hingga fase menguning jumlah spesies gulma, jumlah individu gulma, dan skor kerapatan gulma di lahan organik lebih banyak dan rapat dibandingkan dengan lahan konvensional, transisi 1, transisi 2, dan transisi 3. Gulma indikator di lahan konvensional yaitu jenis gulma daun lebar Ludwigia adsecendens (L.) Hara, Eriocaulon cinereum R. Br., dan Pistia stratiotes L., di lahan transisi 1, transisi 2, dan transisi 3 gulma indikatornya yaitu jenis gulma tekian spesies Eriocaulon cinereum R. Br., dan di lahan organik jenis gulma daun lebar spesies Althernanthera philoxeroides (Mart.), Ludwigia peruviana (L.), Rotala leptopetala Koehne, dan Limnocaris flava (L.) Buchenau. Pertumbuhan gulma seperti Nisbah Luas daun, luas daun, indeks luas daun, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan gulma, dan berat kering gulma di lahan organik juga lebih tinggi dibandingkan dengan lahan konvensional dan transisi

    Pengaruh Tingkat Naungan dan Dosis Pupuk Urea Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Sambiloto (Andrographis paniculata NEES.)

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh tingkat naungan dan dosis pupuk urea terhadap pertumbuhan dan hasil sambiloto (Andrographis paniculata NEES.) serta mendapatkan interaksi yang paling baik antara tingkat naungan dan dosis pupuk urea terhadap pertumbuhan dan hasil sambiloto. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan milik Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, di Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, pada bulan Maret sampai Mei 2012.Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap split plot dengan 3 ulangan sebagai blok. Perlakuan utama adalah tingkat naungan yaitu tingkat naungan 0%, tingkat naungan 25%, dan tingkat naungan 50%. Anak perlakuan adalah dosis pupuk urea yaitu dosis pupuk urea 100 kg/ha, dosis pupuk urea 200 kg/ha, dan dosis pupuk urea 300 kg/ha.Tidak terdapat interaksi antara tingkat naungan dan dosis pupuk urea pada semua variabel pengamatan. Tingkat naungan 50% secara nyata dapat meningkatkan luas daun dan nisbah luas daun. Dosis pemupukan N2 (200 kg urea/ha) tidak memberikan beda nyata pada berat segar daun, berat kering daun, berat segar batang, dan berat kering batang sambiloto. Akan tetapi, dosis pemupukan N3 (300 kg urea/ha) secara nyata meningkatkan berat segar daun, berat kering daun, berat segar batang, dan berat kering batang sambiloto dibandingkan dengan N1 (100 kg urea/ha).Kata kunci: sambiloto, tingkat naungan, dosis pupuk ure

    Pengaruh Inokulasi Mikoriza Arbuskula Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) pada Berbagai Interval Penyiraman

    Get PDF
    Pada umumnya kedelai ditanam di sawah dan tegalan (lahan kering). Kedua jenis lahan ini berpotensi mengalami keterbatasan air. Kekurangan air dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan menurunkan hasil. Aplikasi mikoriza pada tanaman merupakan salah satu upaya untuk mengatasi terhambatnya pertumbuhan karena cekaman kekeringan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh inokulasi mikoriza arbuskula terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai pada kondisi air yang terbatas. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Kebun Percobaan Fakultas Pertanian UGM, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta dari bulan Juni hingga September 2012. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap 2 faktor. Faktor pertama dengan 2 aras yaitu tanpa inokulasi mikoriza dan inokulasi mikoriza. Faktor kedua dengan 3 aras interval penyiraman yakni setiap hari, 3 hari, dan 6 hari. Inokulasi mikoriza dilakukan sebelum benih ditanam sedangkan perbedaan interval penyiraman setelah tanaman berumur 4 mst. Kadar lengas tanah diukur sebelum dan setelah penyiraman. Infeksi mikoriza pada akar diamati pada vegetatif maksimum. Pengamatan terhadap sistem perakaran dan tajuk pada 8 mst serta pengamatan komponen hasil dan hasil tanaman pada saat panen. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi antara mikoriza dengan interval penyiraman. Inokulasi mikoriza dapat meningkatkan jumlah bintil akar dan tidak mendukung pertumbuhan akar dan tajuk serta tidak meningkatkan komponen hasil dan hasil tanaman kedelai. Peningkatan interval penyiraman menjadi 6 hari menurunkan kadar lengas tanah, menghambat pertumbuhan akar dan tajuk, menurunkan bobot kering total serta komponen hasil dan hasil tanama

    Peran JMA dan Bakteri Penghasil ACC Deaminase Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah pada Cekaman Salinitas

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran JMA dan bakteri penghasil ACC deaminase terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum) pada cekaman salinitas. Uji pendahuluan dilaksanakan di rumah kaca Jurusan Budidaya Pertanian,Fakultas Pertanian pada tanggal 14 Maret sampai 19 Maret 2011. Penelitian dilaksanakan di Lendah, Kulonprogo, Yogyakarta pada bulan Juni sampai Agustus 2011.Penelitian menggunakan rancangan faktorial (2x5)+2 kontrol yang diatur dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 3 blok sebagai ulangan. Faktor Pertama yaitu kultivar bawang merah terdiri dari 2 macam, yaitu : ‘Biru’ dan ‘Tiron’; faktor kedua adalah inokulasi kondisi salin terdiri dari 5 macam yaitu tanpa inokulasi + SP36, tanpa inokulasi + Guano, inokulasi +JMA+Guano, inokulasi+bakteri+Guano, inokulasi+JMA+bakteri +Guano ; dan 2 kontrol pada kondisi non salin yaitu Kultivar ‘Biru’ tanpa inokulasi+SP36 dan Kultivar ‘Tiron’ tanpa inokulasi+SP36.Hasil Penelitian menunjukkan bakteri penghasil ACC deaminase memberikan pengaruh lebih baik bagi pertumbuhan dan hasil bawang merah seperti yang teramati pada berat kering akar, luas daun, laju pertumbuhan tanaman (LPT), berat kering total, tinggi tanaman, berat kering oven umbi, diameter umbi, indeks panen, berat segar umbi, susut bobot umbi, dan berat umbi jemur matahari. Jamur mikoriza arbuskular hanya memberikan pengaruh lebih baik pada berat kering akar tanaman namun tidak memberikan pengaruh lebih baik pada variabel pertumbuhan lain dan hasil tanaman

    Analisis Hubungan Antar Komponen Hasil dan Hasil Wijen (Sesamum indicum L.) pada Nitrogen yang Berbeda

    Get PDF
    Wijen (Sesamum indicum L.) merupakan tanaman penghasil minyak nabati, minyak makan dan bahan baku aneka industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sumber nitrogen terhadap hubungan sifat komponen hasil dan hasil wijen dan mengetahui lingkungan yang sesuai untuk merakit varietas wijen untuk pertanian organik. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2010 sampai Maret 2011 di Kebun Tridarma Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada yang terletak di Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dua faktor dengan enam ulangan. Faktor pertama yaitu nomor wijen (21 nomor wijen) dan faktor kedua yaitu media tanam terdiri dari kontrol (media pasir tanpa penambahan pupuk organik ataupun anorganik) (P0), media pasir ditambah pupuk anorganik sesuai dosis anjuran (P1), media pasir ditambah pupuk organik (P2) dan media pasir ditambah pupuk organik dan pupuk anorganik sesuai dosis anjuran (P3). Pada kondisi tanpa pupuk, karakter tinggi tanaman, volume akar, jumlah polong dan lebar polong mempengaruhi hasil biji secara nyata. Pada kondisi pupuk anorganik karakter jumlah polong, lebar biji dan berat 1000 biji mempengaruhi hasil biji secara nyata. Pada kondisi pupuk organik karakter jumlah polong, lebar biji dan berat 1000 biji mempengaruhi hasil biji secara nyata. Pada kondisi pupuk organik dan anorganik karakter berat segar akar, jumlah polong, panjang polong, lebar polong dan berat 1000 biji mempengaruhi hasil biji secara nyata. Usaha perakitan varietas wijen untuk pertanian organik dapat dilakukan pada kondisi anorganik sebagai kriteria seleksi menggunakan karakter jumlah polong dan lebar polong

    408

    full texts

    487

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Vegetalika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇