Vegetalika
Not a member yet
487 research outputs found
Sort by
Pengaruh Salinitas Terhadap Komponen Hasil Empat Belas Kultivar Sorgum (Sorghum bicolor (L) Moench)
Sorgum merupakan salah satu tanaman penghasil karbohidrat yang dapat dijadikan bahan baku bioetanol. Pengembangan sorgum sebaiknya dilakukan di lahan marginal diantaranya lahan salin sehingga tidak meningkatkan kompetisi lahan dengan tanaman pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap komponen hasil empat belas kultivar sorgum. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Tridharma Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta menggunakan rancangan lingkungan acak lengkap dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama terdiri dari 14 kultivar sorgum yaitu UPCA-S1, Mandau, Langka Kito, UGM SS1, Durra, B-69, B-72, B-75, B-76, B-83, B-90, B-92, B-95, B-100. Faktor kedua adalah konsentrasi larutan garam meliputi kontrol (tanpa garam), 150, 300, dan 450 mM. Pemberian larutan garam dilakukan pada saat semai dan saat umur 14 hari setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian larutan garam hingga konsentrasi 450 mM tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, berat segar dan berat kering tajuk, dan ˚Brix batang saat vegetatif akhir. Pemberian larutan garam secara nyata meningkatkan ˚Brix batang sorgum saat panen
Pertumbuhan dan Hasil Benih Kedelai Hitam (Glycine max (L.) Merr) Mallika yang Ditanam Secara Tumpangsari dengan Jagung Manis (Zea mays kelompok Saccharata)
Tumpangsari dapat dijadikan solusi dalam pengadaan benih kedelai hitam bermutu tinggi dengan tidak mengurangi kebutuhan petani dalam pemenuhan pakan ternaknya. Kedelai hitam yang ditanam tumpangsari dengan jagung manis akan lebih menguntungkan petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil benih kedelai hitam yang ditanam secara tumpangsari dengan jagung manis dibandingkan monokultur, serta mengetahui kombinasi jumlah baris efektif pada tanaman kedelai hitam yang ditanam secara tumpangsari dengan jagung manis. Penelitian ini dilakukan di Desa Niron, Pandowoharjo, Sleman, DIY, dan di Laboratorium Teknologi Benih, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada mulai bulan Mei sampai dengan September 2011. Penelitian ini menggunakan rancangan RAKL dengan 6 perlakuan masing-masing 3 ulangan. Perlakuan tersebut adalah kombinasi jumlah baris kedelai hitam : jagung manis, yaitu 3:1, 4:1, 5:1, dan 6:1. Pengamatan dilakukan terhadap komponen pertumbuhan tanaman kedelai hitam, komponen hasil benih kedelai hitam, Land Equivalent Ratio (LER), kualitas benih kedelai hitam, dan komponen pertumbuhan jagung manis. Penelitian ini menunjukkan bahwa tumpangsari kedelai hitam dan jagung manis memberikan pertumbuhan dan hasil benih kedelai hitam yang sama baik dengan monokultur. Tumpangsari 6 baris kedelai hitam dengan 1 baris jagung manis dapat dianjurkan karena memberikan keuntungan paling tinggi dengan nilai LER > 1
Pengaruh Konsenterasi GA3 Terhadap Pembungaan dan Kualitas Benih Cabai Merah Keriting (Capsicum annuum L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian GA3 pada berbagai konsentrasi terhadap pembungaan, kuantitas dan kualitas benih cabai merah keriting. Selain itu juga untuk mengetahui konsentrasi GA3 yang paling tepat dalam meningkatkan pembungaan, kuantitas dan kualitas benih cabai merah keriting sehingga diharapkan dapat mengurangi kerontokan bunga dan buah. Penelitian dilakukan di lahan petani di Desa Sumberrahayu, Moyudan, Sleman, Yogyakarta dengan jenis tanah inceptisol dan di LaboratoriumTeknologi Benih, Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan perlakuan faktor tunggal yaitu konsentrasi dengan 4 aras yaitu 0 ppm (G0), 20 ppm (G1), 40 ppm (G2), dan 60 ppm (G3) dengan 3 ulangan, sehingga jumlah keseluruhan unit penelitian adalah 12 unit. Perlakuan yang digunakan adalah penggunaan larutan zat pengatur tumbuh (GA3). Langkah-langkah dalam penelitian ini terdiri dari persiapan alat dan bahan, penyiapan bibit dan perkecambahan biji. Variabel di lapangan yang diamati adalah umur berbunga, persentase bunga gugur, jumlah buah gugur, jumlah bunga, umur panen, jumlah buah jadi, jumlah biji, bobot biji, dan rendemen sedangkan di laboratorium yang diamati adalah bobot 100 biji, gaya berkecambah, indeks vigor, dan vigor hipotetik bibit. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan software SAS 9.1.3 dan jika ada beda nyata diuji lanjut dengan Duncan’s New Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% dan Polinomial Ortogonal untuk menetukan dosis optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh GA3 nyata perlakuan 20 ppm dapat mengurangi gugurnya bunga sebesar 42.69% sehingga jumlah bunga pertanaman meningkat 33.98% yang menyebabkan jumlah buah pertanaman bertambah sebesar 36.64%. Dengan demikian jumlah biji dan bobot 100 biji pun juga meningkat dengan nyata sebesar 59.18% dan 0.083%. Umur berbunga dan umur panen dengan nyata dapat diperpendek dengan pemberian GA3 40 ppm. Dosis optimal untuk variabel umur berbunga sebesar 36 ppm, persentase bunga gugur sebesar 43.36 ppm, umur panen sebesar 36.58 ppm, jumlah biji sebesar 31.56 ppm, bobot biji sebesar sebesar 30.5 ppm, dan bobot 100 biji sebesar 18.75 ppm. Pengaruh GA3 tidak nyata pada konsentrasi 20, 40, dan 60 ppm terhadap kontrol ( 0 ppm) pada variabel jumlah buah gugur, jumlah buah jadi, bobot buah pertanaman, gaya kecambah, indeks vigor, serta indeks vigor hipotetik. Dengan demikian pengaruh GA3 dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas benih cabai merah keriting
Korelasi Bobot Benih dengan Kejaguran Bibit Batang Bawah Karet (Hevea brasilliensis Muell.-Arg.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan bobot benih beberapa klon karet dengan beberapa parameter kejaguran bibit batang bawah. Tingkat kejaguran bibit batang bawah secara fenotipik dapat terlihat dari tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang, panjang akar, bobot segar dan bobot kering akar, serta bobot segar dan bobot kering tajuk. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 ulangan dan pengujian korelasi dilakukan dengan mengukur berat biji dari 5 klon karet, yaitu klon GT 1, PB 260, BPM 24, LCB 1320, dan PR 303, kemudian ditanam dan diamati parameter pertumbuhannya setiap seminggu sekali untuk data tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah daun, sedangkan data yang lain diperoleh pada pengamatan terakhir. Pengamatan data akhir menggunakan Leaf Area Meter untuk mengukur luas daun dan oven untuk mengetahui bobot kering akar dan tajuk tanaman. Data yang diperoleh dari pengamatan mingguan dan di akhir pengamatan diolah menggunakan program SAS 9.1 dan Microsoft Excel. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa benih berukuran berat pada klon GT 1, PB 260, BPM 24, dan PR 303 memiliki tingkat kejaguran lebih tinggi dibandingkan benih sedang maupun ringan, sedangkan benih berat pada klon LCB 1320 memiliki tingkat kejaguran sama seperti benih sedang maupun ringan
Kajian Teknologi Parit Berbahan Organik pada Produktivitas Tumpangsari Jagung (Zea mays L.) dengan Kacang Hijau (Vigna radiata (L.) Wilczek di Lahan Kering
Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kajian teknologi parit berbahan organik pada produktivitas tumpangsari jagung (Zea mays L.) dan kacang hijau (Vigna radiata (L.) Wilczek) di lahan kering. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilaksanakan di lahan petani, Dusun Sidowayah, Kelurahan Wareng, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mulai bulan November 2010 sampai Februari 2011.Rancangan percobaan yang digunakan untuk tanaman jagung sebagai tanaman pokok adalah rancangan petak terbagi (split plot). Faktor pertama adalah sistem parit terdiri 3 taraf yaitu tanpa parit, parit + tanpa bahan organik, dan parit + bahan organik. Faktor kedua adalah sistem tanam yang terdiri 2 taraf yaitu monokultur dan tumpangsari dengan kacang hijau. Rancangan percobaan yang digunakan untuk tanaman kacang hijau sebagai tanaman pendukung adalah rancangan acak kelompok lengkap (RCBD) yang terdiri dari 3 perlakuan yaitu tanpa parit + tanpa bahan organik, parit + tanpa bahan organik, dan parit + bahan organik. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam α = 5 %, apabila terdapat beda nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) α = 5 %.Hasil penelitian menunjukkan pada tanaman pokok terjadi interaksi antar perlakuan parit dengan sistem tanam berpengaruh nyata terhadap luas daun dan indeks luas daun umur 4; 6; 8; 12 mst, bobot 100 biji, bobot biji per plot percobaan, dan bobot biji per hektar. Parit berbahan organik meningkatkan hasil biji per hektar sebesar 31,95 % dibandingkan perlakuan tanpa parit + tanpa bahan organik. Sistem tanam tumpangsari meningkatkan hasil sebesar 6,42 %. Pada tanaman pendukung perlakuan parit berbahan organik meningkatkan hasil sebesar 35,7 % perlakuan tanpa parit + tanpa bahan organik. Nisbah setaraan lahan (NSL) pada sistem tumpangsari dengan perlakuan parit tanpa bahan organik dan sistem tumpangsari dengan perlakuan parit berbahan organik menunjukkan nilai tertinggi yaitu 1,88 dan 1,90 dibandingkan perlakuan lain
Uji daya Hasil Delapan Galur Harapan Padi Saawah (Oryza sativa L.)
Delapan galur harapan padi sawah dievaluasi dengan dua varietas padi yang umum dibudidayakan: IR-64 dan Ciherang sebagai pembanding. Percobaan menggunakan rancangan acak blok lengkap dengan tiga blok sebagai ulangan. Pengamatan dilakukan pada tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, umur berbunga dan panen, bobot 1000-butir, jumlah biji per rumpun, dan hasil. Data yang diperoleh dilakukan analisis varian dan analisis lintas untuk menentukan komponen hasil yang paling berpengaruh terhadap hasil.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedelapan galur harapan padi sawah setara dengan varietas pembanding. Hasil padi sangat tergantung pada jumlah anakan produktif
Pengaruh Interval Penyiraman Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Empat Kultivar Jagung (Zea mays L.)
Di Indonesia jagung lebih banyak ditanam di lahan kering. Namun yang sering menjadi masalah adalah cekaman kekeringan. Pengujian kultivar unggul tahan kering dilakukan untuk mengetahui kultivar yang paling tahan kekeringan serta memiliki pertumbuhan dan produktivitas yang baik pada kondisi air terbatas. Penelitian pengaruh interval penyiraman terhadap pertumbuhan dan hasil empat kultivar jagung dilaksanakan di Banguntapan pada bulan Oktober 2010 sampai Februari 2011. Perlakuan disusun dalam rancangan petak belah dengan 3 blok sebagai ulangan, terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama kultivar sebagai petak-utama: Lagaligo, Lamuru, Bima-2 Bantimurung, dan Bima-4 Bantimurung, sedang faktor kedua Interval penyiraman sebagai anak-petak: penyiraman setiap hari, 2 hari sekali, 4 hari sekali dan 8 hari sekali. Kultivar Bima-2 Bantimurung dan Bima-4 Bantimurung mempunyai pertumbuhan lebih baik yang dicirikan oleh bobot segar, bobot kering dan jumlah daun yang lebih besar, serta tanaman lebih tinggi dari kultivar Lamuru dan Lagaligo. Peningkatan interval penyiraman secara nyata menurunkan hasil tanaman jagung
Kualitas Benih Kacang Hijau (Vigna radiata (L.) R.Wilczek) pada Pertanaman Monokultur dan Tumpangsari dengan Jagung (Zea mays L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggapan pertumbuhan tanaman dan kualitas benih kacang hijau yang ditanam secara tumpangsari dengan tanaman jagung. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Banguntapan dan di Laboratorium Teknologi Benih, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, pada bulan Oktober 2011 sampai Januari 2012. Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial 2 x 4 yang disusun secara RAKL (Rancangan Acak Kelompok Lengkap). Faktor pertama yaitu varietas kacang hijau, terdiri atas varietas Walet dan varietas Vima-1 sedangkan faktor kedua yaitu sistem penanaman, terdiri atas monokultur kacang hijau, tumpangsari dengan 3 bari
Hasil dan Keragaman Genetik Tujuh Klon Teh (Camellia sinensis (L.) Kuntze) di Dua Lokasi dengan Ketinggian Berbeda
Penelitian dengan judul hasil dan keragaman genetik tujuh klon the (Camellia sinensis (L.) Kuntze) di dua lokasi dengan ketinggian berbeda bertujuan untuk mengetahui daya hasil dan keragaman genetik tujuh klon teh berdasarkan pada kuantitas pucuk yang dihasilkan di kebun Pagilaran, Batang, Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Februari sampai dengan Mei 2012. Penelitian menggunakan Rancangan Tersarang (Nested Design) dengan tujuh klon dan dua lokasi sebagai perlakuan. Klon yang digunakan adalah PGL 1, PGL 3, PGL 4, PGL 7, PGL 10, TRI 2025 dan Gambung 9 yang tersarang di kebun bagian Kayulandak (1300 m dpl) dan kebun bagian Andongsili (1100 m dpl). Variabel yang diamati adalah luas bidang petik, jumlah pucuk peko per tanaman, jumlah pucuk burung per tanaman, jumlah pucuk total per tanaman, bobot pucuk peko per tanaman, bobot pucuk burung per tanaman, bobot pucuk total per tanaman, bobot pucuk peko per plot, bobot pucuk burung per plot dan bobot pucuk total per plot.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh klon teh yang ditanam di dua lokasi dengan ketinggian tempat berbeda menunjukkan respon (bobot pucuk total per plot) yang tidak sama. Terdapat kecenderungan bobot pucuk total per plot pada kebun bagian Kayulandak lebih tinggi dibandingkan dengan kebun bagian Andongisili. Klon PGL 3, PGL 4 dan PGL 10 memiliki kecenderungan bobot pucuk total per plot lebih tinggi dibandingkan dengan klon-klon lainnya di kebun bagian Kayulandak, sedangkan di kebun bagian Andongsili kecenderungan serupa diperlihatkan oleh klon PGL 3, PGL 10 dan Gambung 9. Nilai koefisien variabilitas genetik (KVG) dan heritabilitas (H) yang tinggi diperlihatkan oleh variabel pangamatan jumlah pucuk peko per tanaman, bobot pucuk peko per tanaman dan bobot pucuk peko per plot
Pengaruh Mikoriza Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Sorgum Manis (Sorghum bicolor L. Moench) pada Tunggul Pertama dan Kedua
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mikoriza dan bahan percobaan (biji dan tunggul) terhadap pertumbuhan dan hasil sorgum manis. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilaksanakan di Kebun Percobaan Tridharma Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada yang berlokasi di Banguntapan, Bantul, Yogyakarta pada bulan Februari sampai Mei 2012. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi (split plot). Petak utama adalah bahan percobaan terdiri dari 3 taraf yaitu biji, tunggul 1, dan tunggul 2. Anak petak adalah pemberian mikoriza terdiri dari 2 taraf yaitu tanpa mikoriza dan dengan mikoriza (5 g/lubang tanam). Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam α = 5 %, dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) α = 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas biji sorgum manis yang berasal dari tunggul 2 (5,18 ton/ha) lebih rendah 38,33 % dari produktivitas sorgum manis yang berasal dari biji (8,40 ton/ha) dan lebih rendah 35,25 % dari produktivitas sorgum manis yang berasal dari tunggul 1 (8,00 ton/ha). Hasil nira tunggul 1 (539,29 l/ha) dan tunggul 2 (362,18 l/ha) lebih rendah 25,31 dan 49,84 % dari hasil nira sorgum manis yang berasal dari biji 722,07 l/ha. Pemberian mikoriza 5 g/lubang tanam memberikan hasil nira 611,51 l/ha yang meningkat 29,88 % dari tanpa pemberian mikoriza (470,84 l/ha).Kata Kunci : mikoriza, pengeprasan, sorgum manis, tunggul