Vegetalika
Not a member yet
487 research outputs found
Sort by
Pengaruh Takaran Vinase dan Macam Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Wijen (Sesamum indicum L.) pada Tanah Pasir Pantai
INTISARI Tanah pasir pantai di daerah selatan Yogyakarta dapat dimanfaatkan untuk pertanian. Permasalahan tanah pasir dapat diatasi dengan penambahan bahan organik baik berupa padat atau cair. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh vinase dan pupuk kandang serta interaksi kedua faktor terhadap pertumbuhan dan hasil wijen. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai September 2013 di Wonocatur, Banguntapan, Bantul. Perlakuan terdiri dari dua faktor (takaran vinase dan macam pupuk kandang) dengan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) tiga ulangan. Faktor pertama terdiri dari empat takaran yaitu 0 l/ha (tanpa vinase), 50.000 l/ha, 100.000 l/ha, dan 150.000 l/ha. Faktor kedua macam pupuk terdiri dari pupuk kandang sapi, pupuk kandang ayam dan tanpa pupuk kandang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian vinase dengan takaran 150.000 l/ha dapat meningkatkan panjang akar, jumlah daun, bobot segar tajuk, jumlah polong, bobot biji dan hasil per tanaman. Pemberian takaran vinase sampai 100.000 l/ha belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil. Pupuk kandang sapi dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil wijen.Kata kunci : pupuk kandang, tanah pasir, vinase, wije
Pengaruh Takaran Pupuk Nitrogen dan Silika terhadap Pertumbuhan Awal (Saccharum officinarum L.) pada Inceptisol
INTISARIPercobaan ini dilaksanakan pada bulan April sampai Agustus 2013 pada inceptisol di Kebun Percobaan Tridarma, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh takaran pupuk silika dan takaran pupuk nitrogen terhadap pertumbuhan tebu. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah takaran urea yaitu sebagai sumber unsur nitrogen terdiri dari 0 kg/ha, 150 kg/ha, 300 kg/ha, dan 450 kg/ha. Faktor kedua adalah takaran Si-PlusHS sebagai sumber unsur silika terdiri dari 0 kg/ha, 250 kg/ha, dan 500 kg/ha. Varietas yang digunakan dalam percobaan ini adalah Bululawang yang ditanam pada media inceptisol menggunakan polibag. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, kehijauan daun, diameter batang, jumlah ruas, jumlah anakan, volume akar, panjang akar, berat segar tajuk, berat segar akar, berat segar total, berat kering tajuk, berat kering akar, berat kering total. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara nitrogen dengan silika yang diaplikasikan dan pada takaran 150 kg/ha urea dengan 250 kg/ha Si-PlusHS menunjukkan hasil yang baik pada variabel pertumbuhan tanaman yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang, jumlah ruas, panjang akar, volume akar, berat segar tajuk, berat segar akar, berat segar total, berat kering tajuk, berat kering akar, berat kering total.Kata kunci : silika, tebu, ure
Kajian Budidaya dan Produktivitas Sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen) di Dusun Pasutan, Bogoran dan Pepe, Desa Trirenggo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta
INTISARI Dusun Pasutan, Bogoran dan Pepe termasuk sentra penghasil sawo di Kabupaten Bantul. Penelitian ini mengkaji budidaya dan produktivitas sawo ketiga dusun tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai melalui wawancara, pengamatan di lapangan dan dilanjutkan dengan pengamatan di Laboratorium Hortikultura Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada dari bulan September- November 2012.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 varietas sawo yaitu sawo ‘Jawa’, sawo ‘Manila’, sawo ‘Apel’ dan sawo ‘Pelem’. Kesesuain tempat tumbuh tanaman sawo tidak diikuti oleh pengembangan teknik budidaya yang baik. Kegiatan penanaman, pemeliharaan, pemanenan, maupun penanganan pasca panen masih sederhana. Pada ketiga lokasi penelitian, belum mengoptimalkan teknik budidaya buah sawo dengan baik. Produktivitas buah sawo tertinggi ditunjukan oleh pohon ‘sawo Jawa’ yaitu 50-150 kg/pohon/ panen raya sedangkan produktivitas ketiga buah sawo yaitu sawo ‘Manila’, sawo ‘Apel’ dan sawo ‘Pelem’adalah 20-50 kg/pohon/panen raya.Kata kunci : Budidaya, dusun, produktivitas, sawo
Pengaruh Masa Inkubasi Vinasse dan Takaran Pupuk Kalium Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Cabai Merah (Capsicum Annuum L.)
INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama inkubasi vinase dan dosis pupuk kalium terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah paling baik.Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Tri Dharma Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta dari bulan Oktober 2012 hingga Februari 2013.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) 2 faktor dengan 3 blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah masa inkubasi vinase yang terdiri atas 5 aras yaitu tanpa vinase (kontrol), inkubasi vinase 5 hari, 10 hari, 15 hari, dan 20 hari. Faktor kedua adalah dosis pupuk KClyang terdiri atas 3aras yaitu tanpa KCl, dosis KCl 125 kg/ha, dan dosis KCl 250 kg/ha.Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis varian (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%. Apabila perlakuan menunjukkan perbedaan pengaruh yang nyata dilanjutkan dengan uji jarak Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) dengan tingkat kepercayaan 95%. Untuk mengetahui hubungan diantara perlakuan digunakan metode statistik korelasi. Hasil penelitian menunjukkan inkubasi vinase hingga hari ke 20 tidak meningkatkan derajat kemasaman vinase, kandungan nitrogen, phosfor, kalium dan bahan organik vinase. Pemberian vinase yang telah diinkubasi dapat meningkatkan luas daun dan bobot kering total panen dibandingkan tanpa vinase tetapi tidak meningkatkan hasil cabai merah. Pemberian pupuk KCl 125kg/ha atau 250 kg/ha tidak meningkatkan pertumbuhan dan hasil cabai merah secara signifikan dibandingkan tanpa pupuk KCl.Kata kunci : Vinasse, inkubasi, KCl, cabai mera
Pertumbuhan dan Hasil Kubis (Brassica oleraceae L.) dalam Sistem Tumpangsari dengan Bawang Daun (Allium fistulosum L.)
INTISARIPetani kubis di dataran tinggi sering mengalami gagal panen karena adanya faktor lingkungan yang tidak mendukung pertumbuhan dan hasil kubis, salah satunya adalah penyakit. Pada saat ini, penyakit utama pada kubis yang menyebabkan petani gagal panen adalah penyakit yang disebabkan oleh Plasmodiophora brassicae. Oleh karena itu, perlu dikaji sistem tanam tumpangsari kubis dengan tanaman lainnya agar petani tetap dapat memanen krop kubis.Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan serta hasil kubis yang ditumbuhkan dalam sistem tanam tumpangsari dengan bawang daun. Penelitian dilaksanakan di dataran tinggi yang berlokasi di Dusun Daru, Desa Pagergunung, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah pada bulan Agustus sampai November 2011. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktor tunggal, dengan 3 blok sebagai ulangan. Perlakuan yang diuji adalah tumpangsari kubis dan bawang daun, monokulutur kubis dan monokultur bawang daun. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa variabel lingkungan, pertumbuhan dan hasil tanaman kubis serta bawang daun. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan uji-t.Hasil penelitian memberikan informasi bahwa tumpangsari kubis dengan bawang daun lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan monokulturnya karena tumpangsari tersebut menghasilkan land equivalent ratio (LER) sebesar 2,68. Pada satu hamparan lahan yang sama dapat dipanen dua komoditas yaitu kubis dan bawang daun.Kata kunci : bawang daun, kubis, monokultur, tumpangsar
Pengaruh Macam dan Konsenterasi Bahan Organik Sumber Zat Pengatur Tumbuh Alami Terhadap Pertumbuhan Awal Tebu (Saccharum officinarum L.)
INTISARI Penelitian bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh macam dan konsentrasi bahan organik sumber zat pengatur tumbuh alami terhadap pertumbuhan awal tebu dan 2) menentukan konsentrasi optimum setiap bahan organik bagi pertumbuhan awal tebu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2012 – April 2013 di Kebun Tridharma Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Banguntapan, Bantul, D. I. Yogyakarta.Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) satu faktor dengan 5 blok sebagai ulangan. Faktor yang diuji adalah macam bahan organik sumber zat pengatur tumbuh alami, yaitu air kelapa muda 25, 50, dan 75 %; urin sapi perah 25, 50, dan 75 %; serta ekstrak kecambah kacang hijau 25, 50, dan 75 %. Sebagai pembanding digunakan bibit tebu yang tidak mendapatkan aplikasi bahan organik sumber zat pengatur tumbuh alami. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa anasir iklim mikro di sekitar tempat penelitian serta variabel pertumbuhan tanaman. Data hasil penelitian selanjutnya dianalisis varian (ANOVA) pada taraf 5 %, dan dilanjutkan dengan uji Dunnet apabila hasil analisis varian menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuanHasil penelitian memberikan informasi bahwa perlakuan air kelapa muda 25 % mampu meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, bobot segar akar, bobot segar tajuk, bobot segar total, bobot kering akar, bobot kering tajuk, bobot kering total, volume akar, dan luas daun tebu jika dibandingkan dengan kontrol (tanpa bahan organik). Perlakuan urin sapi perah 50 dan 75 % serta ekstrak kecambah kacang hijau 25, 50, dan 75 % memberikan hasil yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan tanpa bahan organik pada semua variabel pertumbuhan tebu. Hasil analisis regresi memberikan informasi bahwa konsentrasi air kelapa muda yang optimum bagi pertumbuhan awal tebu adalah 38,70 %, sedangkan pada urin sapi perah sebesar 34,44 %.Kata kunci: tebu, air kelapa, urin sapi, ekstrak kecambah kacang hijau, ZP
Tanggapan Tujuh Klon Tebu (Saccharum officinarum L.) Terhadap Serangan Uret Lepidiota stigma Fabricius
INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tanggapan ketahanan tujuh klon tebu terhadap serangan uret Lepidiota stigma dalam mendukung pengembangan tebu berdaya hasil tinggi. Penelitian ini menggunakan RAL dengan satu faktor yaitu tujuh klon tebu. Uret L. stigma yang diinfestasikan yaitu instar kedua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan uret L. stigma berpengaruh nyata pada pertumbuhan dan ada beda nyata pada variabel jumlah daun, jumlah anakan, berat segar akar, berat segar total, berat kering akar, berat kering total, luas permukaan akar, dan volume akar akibat serangan uret L. stigma. Pertumbuhan tujuh klon tebu pada masing-masing variabel memberikan hasil yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil uji DMRT 5% menunjukkan bahwa klon PS-862 termasuk klon yang toleran terhadap serangan uret L. stigma, sedangkan klon BZ-121 termasuk klon yang peka terhadap serangan uret L. stigma. Kata kunci : tebu, ketahanan, uret Lepidiota stigm
Karakterisasi Ubikayu Lokal (Manihot utilissima L.) Gunung Kidul
INTISARIPenelitian karakterisasi ubikayu (Manihot utilissima L.)lokal Gunung Kidul memiliki tujuan untuk dokumentasi dan karakterisasi beberapa karakter kuantitatif serta karakter kualitatif yang digunakan sebagai penciri dari suatu klon serta mengetahui potensi produksinya dibandingkan dengan beberapa klon unggul nasional. Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Badan Penyuluhan Pertanian Siraman II, Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul.Penelitian ini dilaksanakan pada November 2010 hingga September 2011.Data diambil dari karakter-karakter kuantitatif maupun karakter kualitatif yang muncul pada saat 3 bulan setelah tanam (bst), 6 bst, 9 bst dan saat panen (11 bst). Hasil penelitian menunjukkan karakter klon ubikayu lokal Gunung Kidul dapat dibedakan berdasarkan 10 karakter morfologi yaitu, warna daun muda, warna tangkai daun, kondisi pembungaan, warna kulit batang lapisan eksterior, warna kulit batang lapisan korteks, warna kulit umbi lapisan eksternal, kebiasaan percabangan, bentuk tajuk, kadar pati dan kadar HCN. Klon ubikayu lokal yang diujikan memiliki keragaman tinggi, sehingga perlu dikoleksi dan dilestarikan sebagai sumber keragaman genetik.Kata kunci: karakterisasi, kuantitatif, kualitatif, klon loka
Analisis Keragaman Genetik Enam Varietas Pummelo (Citrus maxima (Burm.) Merr.) untuk Ketahanan Terhadap Huanglongbing Menggunakan Penanda RAPD
Enam kultivar Pummelo : Raja, Ratu, Pangkajahe Merah, Pangkajahe Putih, Nambangan, dan Magetan di inokulasi dengan Candidatus L. asiaticus untuk mengetahui keragaman tanggapan ketahanan terhadap Huanglongbing. Keragaman dinilai berdasarkan intensitas penyakit, konformasi molekuler Candidatus L. asiaticus pada jaringan tanaman, dan keragaman molekuler pummel dengan analisis RAPD. Pangkahjahe Putih dinilai resisten terhadap HLB karena memiliki intensitas penyakit 0% dan hasil negatif dalam konformasi molekul Candidatus L. asiaticus. Hasil analisis RAPD diperoleh bahwa 865 bp merupakan fragmen yang dapat dikaitkan dengan kerentanan terhadap HLB
Pematahan Dormansi Umbi Bawang Merah (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum) dengan Perendaman Dalam Ethepon
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lama dormansi, konsentrasi dan frekuensi perendaman ethepon yang tepat untuk mempercepat pematahan dormansi serta pengaruh perendaman ethepon terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah “Tiron”. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih dan Rumah Kaca Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada bulan Oktober 2010 sampai dengan Februari 2011. Rancangan yang digunakan adalah rancangan faktorial 4x3+1 dengan 2 faktor dan disusun menurut Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu konsentrasi ethepon yang terdiri atas 4 aras, yaitu (akuades) 0 ppm, 2000 ppm, 3000 ppm, dan 4000 ppm. Faktor kedua yaitu frekuensi perendaman ethepon yang terdiri atas 3 aras, yaitu sekali, dua kali, dan tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan periode dormansi umbi bawang merah “Tiron” berlangsung selama 41 hari. Perlakuan perendaman baik dengan akuades (0 ppm) maupun dengan ethepon konsentrasi 2000-4000 ppm tidak dapat mematahkan dormansi umbi bawang merah “Tiron”. Perendaman ethepon dengan konsentrasi 4000 ppm menghambat pertumbuhan tunas umbi setelah ditanam. Perendaman ethepon dengan frekuensi lebih dari 1 kali (2-3 kali) memperpanjang masa dormansi umbi bawang merah