Vegetalika
Not a member yet
487 research outputs found
Sort by
Kemampuan Regenerasi Kalus Empat Klon Tebu (Saccharum officinarum L.)
INTISARITebu merupakan salah satu komoditas penting pertanian karena memiliki nilai ekonomis tinggi sebagai bahan baku industri gula. Salah satu masalah yang dihadapi adalah pengadaan bibit tebu skala besar karena ketersediaan lahan sebagai kebun bibit tebu yang semakin terbatas. Budidaya jaringan tanaman menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut. Budidaya kalus dan regenerasi tanaman merupakan faktor pendukung dalam budidaya jaringan tanaman, namun terdapat permasalahan dalam penyimpanan kalus jangka panjang yaitu penurunan kemampuan regenerasi kalus setelah mengalami pindah tanam (subculture). Penelitian ini menggunakan dua tahap penelitian yaitu tahap (1) induksi kalus dengan Rancangan Acak Lengkap satu faktor yaitu klon tebu, dan (2) tahap regenerasi tunas dengan Rancangan Acak Lengkap 2 faktor perlakuan 5 ulangan. Faktor pertama yaitu 4 klon tebu (PS 862, PS 864, PS 881, VMC 86-550) dan faktor kedua yaitu frekuensi pindah tanam pada minggu ketiga, keenam, kesembilan, dan keduabelas. Eksplan yang digunakan adalah pucuk tebu yang berumur (3 – 4) bulan. Media yang digunakan pada tahap induksi kalus dan pindah tanam kalus adalah media MS + 1,5 mg/l 2,4-D, sedangkan regenerasi tunas dengan media MS + 2,0 mg/l IAA + 2,0 mg/l IBA + 2,0 mg/l kinetin. Pengamatan yang dilakukan pada tahap induksi kalus adalah kecepatan muncul kalus dan pada tahap regenerasi tunas adalah kecepatan tumbuh tunas dan jumlah tunas terbentuk. Analisis data secara statistik menggunakan uji ANOVA menunjukkan terdapat beda nyata pada perlakuan klon tebu untuk kecepatan muncul kalus. Kalus klon PS 862 memiliki kemampuan membentuk kalus paling cepat dan pada tahap regenerasi tunas, kalus klon PS 862 juga memiliki kemampuan membentuk tunas paling cepat serta jumlah tunas yang paling banyak.Kata kunci: tebu, kalus, pindah tanam, regeneras
Potensi Hasil dan Tanggapan Sembilan Klon Teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) PGL Terhadap Variasi Curah Hujan di Kebun Bagian Pagilaran
INTISARITeh merupakan tanaman yang peka terhadap variasi curah hujan. Masing-masing klon teh berkemungkinan memberikan tanggapan yang berbeda terhadap curah hujan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi hasil sembilan klon teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) PGL dan tanggapan masing-masing klon terhadap variasi curah hujan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari – Juni 2012 di blok Sanderan II unit produksi Pagilaran. Sembilan klon PGL yang diuji yaitu PGL 4, PGL 6, PGL 7, PGL 9, PGL 10, PGL 11, PGL 12, PGL 15, PGL 16, dan klon unggul TRI 2025 sebagai pembanding. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 30 perdu sebagai ulangan pada masing-masing klon. Data hasil pengamatan berupa komponen hasil dan hasil tanaman teh selama 10 kali pemetikan dianalisis dengan sidik ragam dan uji lanjut DMRT pada a = 5%. Tanggapan terhadap variasi curah hujan berupa tingkat ketahanan diketahui dengan hubungan regresi antara curah hujan bulanan terhadap hasil pucuk segar bulanan dalam kurun waktu dua tahun yang merupakan data sekunder.Dari hasil penelitian diperoleh tiga klon PGL yang memiliki hasil pucuk tinggi, yaitu PGL 6, PGL 10, dan PGL 16, dengan potensi hasil masing-masing 3,435 ton/Ha/tahun, 3,795 ton/Ha/tahun, dan 4,115 ton/Ha/tahun. Klon PGL 6 dan PGL 10 memiliki potensi hasil setara dengan TRI 2025, sementara PGL 16 lebih tinggi dibanding klon TRI 2025. Klon PGL 16 memiliki kualitas dan pertumbuhan pucuk paling baik, dengan nisbah pucuk peko dan burung lebih dari 1. Klon PGL 6, PGL 10, dan PGL 16 memiliki ketahanan tinggi terhadap variasi curah hujan karena hasil pucuk tetap stabil dengan penurunan yang kecil baik saat curah hujan rendah maupun tinggi.Kata kunci: Curah hujan, klon PGL, potensi hasil, kualitas pucu
The Effects of Slope and Frequency of Stem Cutting in the Water to the Vase Life of Cut Orchid Vanda douglas
ABSTRACT Orchid is one of the highly prospective ornamental plants. Orchid cultivation is one of the most popular ornamental cultivation. That is because the demand for orchids are relatively stable compared to other plants that tend to follow the trend or fluctuating. One form of massive utilization of orchids is the use as a cut flower. One type of orchid that mostly sold as a cut flower is Vanda douglas. Orchid’s –including Vanda douglas- advantage than other cut flowers are the vase life that tend to be longer. Nonetheless, the effort to maintain even extend the vase life of the flower is still needed. This experiment was conducted to determine the effect of cutting the flower stem with a combination of cutting slope and conditions of the stem and cutting frequency of the stem on vase life of cut orchid Vanda douglas.The experiment was conducted at the Laboratory of Horticulture, Faculty of Agriculture, Gadjah Mada University from July to September 2012. The first phase of the study used a completely randomized design with 2 factors. The first factor was cutting slope consisted of 0, 30 and 45. The second factor was cutting conditions consisted of water cut and air cut. The second phase also used completely randomized design with cutting stem frequency consisted of every day, every 2 days, every 4 days and every 6 days. Presentations of flowers bloom, wilt, fall, respiration, transpiration and visual quality rating of the cut flower were observed every day. Flower’s shrinkage, stomata and relative water content were observed at the beginning and end of the experiment.The results showed there was no interaction between the slope and condition of stem cutting on all parameters of the observations. Cutting stem with a slope of 45 caused longer vase life than the other slopes. Cutting the flower stem in the water also caused a longer vase life than cutting through the air. Flower stem that was cut at intervals of 4 days caused the longest vase life than any other time frequency. Nevertheless, the extent of vase life of cut flowers only extend a day, therefore the benefits for a florist should be reexamined. Key words : Cut orchid, cutting slope, cutting conditions, cutting frequency, vase lif
Hasil dan Mutu Enam Galur Terung (Solanum melongena L.)
INTISARI Terung (Solanum melongena L.) merupakan salah satu komoditas sayuran penting sebagai bahan pangan sebagian besar masyarakat Indonesia. Terung memiliki banyak varietas dengan berbagai bentuk dan warna khas. Tiap-tiap varietas memiliki penampilan, hasil dan produktivitas yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan terung yang mempunyai hasil, mutu dan umur simpan baik. Penelitian dilakukan di Desa Jurug, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah dan Laboratorium Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dari bulan Juni sampai Desember 2013. Bahan tanam yang digunakan dalam penelitian ini adalah enam galur terung, yaitu terung ‘Bandung’, ‘Gelatik’, ‘Hijau Lokal Malang’, ‘Putih Yogya’, ‘Ungu Kaliurang’ dan ‘Ungu Yogya’. Galur-galur ditanam pada lahan yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga ulangan sebagai blok. Setiap perlakuan diamati lima sampel tanaman pada masing-masing blok. Hasil analisis menunjukkan bahwa galur terung yang memiliki potensi hasil yang paling tinggi adalah galur ‘Bandung’, kandungan vitamin C buah tertinggi pada galur Putih Yogya, umur simpan buah terpendek galur Gelatik, sedangkan galur yang lain memiliki umur simpan yang relatif sama.Kata Kunci : mutu, hasil, terung (Solanum melongena L.
Induksi Ketahanan Kekeringan Delapan Hibrida Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dengan Silika
INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui respon delapan hibrida kelapa sawit terhadap aplikasi silika (Si) pada kondisi cekaman kekeringan, 2) menentukan dosis Si yang optimal untuk menginduksi ketahanan delapan hibrida kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan. Penelitian dilaksanakan di Dusun Bendosari, Desa Madurejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY pada bulan Mei 2013 – Februari 2014. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial, dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah hibrida kelapa sawit, terdiri dari delapan hibrida yaitu Yangambi, Avros, Langkat, PPKS 239, Simalungun, PPKS 718, PPKS 540 dan Dumpy. Faktor kedua adalah dosis aplikasi Si, terdiri dari lima aras yaitu 0,00; 2,60; 5,10; 7,70 dan 10,20 gram/bibit. Variabel yang diamati dalam penelitian meliputi kondisi lingkungan, konsentrasi Si dalam jaringan, aktivitas fisiologis serta pertumbuhan bibit. Data yang diperoleh dianalisis varian (ANOVA) pada level 5%, dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) jika terdapat beda nyata antar perlakuan. Dosis optimal Si yang mampu meningkatkan ketahanan bibit kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan ditentukan menggunakan analisis regresi. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa hibrida PPKS 239 dan Yangambi lebih tahan terhadap cekaman kekeringan jika dibandingkan dengan Avros, Langkat, Simalungun, PPKS 540, PPKS 718 dan Dumpy. Dosis optimal Si yang mampu menginduksi ketahanan bibit kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan adalah pada kisaran 5,1 -10,2 gram/bibit. Aplikasi Si pada bibit kelapa sawit mampu menginduksi ketahanannya terhadap cekaman kekeringan melalui mekanisme pengerasan, pemanjangan dan perluasan akar serta stomata yang tetap membuka lebih lebar.Kata kunci: silika, hibrida, Elaeis guineensis, cekaman kekeringa
Pengaruh Lima Macam Pupuk Organik Terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Senyawa Aktif Daun Sirsak (Annona muricata L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan lima macam pupuk organik terhadap pertumbuhan dan kandungan senyawa aktif daun sirsak (Annona muricata L.). Penelitian lapangan dilaksanakan pada bulan Juni hingga Oktober 2013 di Klaseman, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Analisis senyawa aktif kuantitatif daun sirsak dilaksanakan pada bulan Oktober hingga November 2013 di Laboratorium Chem-mix Pratama, Bantul, Yogyakarta. Penelitian menggunkan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan lima macam pupuk organik yaitu pupuk kandang kambing (P2), pupuk kandang sapi (P3), pupuk kandang ayam (P4), pupuk kascing (P5) kompos (P6) dan pupuk urea sebagai kontrol (P1) . Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk organik memberikan pengaruh yang sama baiknya dengan pupuk anorganik terhadap pertumbuhan tanaman sirsak. Pupuk organik meningkatkan kandungan senyawa aktif daun sirsak secara kuantitatif yaitu tanin dan flavonoid dengan hasil yang terbaik pada pupuk kompos.Kata kunci: daun sirsak, pupuk organik, senyawa aktif
Pengaruh Sumber Pupuk Nitrogen Terhadap Kuantitas dan Kualitas Benih Lima Kultivar Wijen (Sesamum indicum L.)
INTISARISalah satu masalah dalam pelaksanaan pertanian organik adalah terbatasnya ketersediaan benih organik. Faktor tanah merupakan salah satu penentu keberhasilan budidaya wijen, dan supaya pertumbuhan wijen sempurna dengan hasil yang tinggi, diperlukan cukup nitrogen untuk memperbaiki pertumbuhan akar, batang dan daun. Nitrogen biasanya terdapat pada pupuk organik dan anorganik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian macam sumber pupuk nitrogen (organik dan anorganik) terhadap kuantitas dan kualitas benih wijen serta mengetahui kultivar wijen yang mampu tumbuh dan berdayahasil baik pada kondisi sistem budidaya organik. Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial acak lengkap dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah lima kultivar wijen yaitu kultivar Sumberejo 1, Sumberejo 3, Lokal hitam, Lokal putih dan Purworejo. Faktor kedua adalah sumber pupuk nitrogen yaitu kontrol (tanpa penambahan pupuk organik ataupun anorganik), dengan pupuk anorganik sebesar 150 kg/ha N dan penambahan pupuk organik sebesar 8,6 ton/ha. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa pada tanah yang kandungan bahan organiknya tinggi, pemberian pupuk nitrogen (organik dan anorganik) tidak berpengaruh terhadap kuantitas benih wijen, tetapi dalam hal kualitas benih, menurunkan kadar minyak benih dan daya kecambah wijen. Kultivar wijen yang digunakan (Sumberejo 1, Sumberejo 3, Lokal Hitam, Lokal Putih, Purworejo) dapat tumbuh dengan baik tetapi belum dapat berdaya hasil seperti yang diharapkan.Kata kunci: benih wijen, nitrogen, organik, kualitas, kuantita
Pengaruh Residu Pemberian Vinasse dan Pupuk Kalium Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kangkung Darat (Ipomoea reptans Poir.)
INTISARI Penelitian ini untuk mengetahui dampak residu pemberian vinasse dan pupuk kalium yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kangkung darat. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Tridharma, Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta pada bulan Februari-Maret 2013 dengan menggunakan kangkung darat varietas Bangkok LP-1. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor, faktor pertama terdiri dari 4 aras yaitu residu pemberian vinasse inkubasi 5, 10, 15, dan 20 hari. Faktor kedua terdiri dari 3 aras yaitu tanpa pupuk K, setengah dosis anjuran pupuk K, dan pupuk K sesuai anjuran, sehingga total percobaan sebanyak 12 unit dan diulang sebanyak 3 ulangan. Data dianalisis dengan ANOVA dan DMRT pada α=0,5%. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan terbaik pada perlakuan residu pemberian vinasse inkubasi 10 hari dengan pupuk kalium 100 kg/ha (V2K1) dapat meningkatkan tinggi tanaman dan berat segar tajuk. Indeks panen tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antar perlakuan. Vinasse yang merupakan limbah organik cair dengan kondisi curah hujan yang cukup tinggi (160-399 mm/bulan) selama penelitian, kemungkinan unsur hara yang dilepas vinasse maupun kalium sudah terlindi oleh air hujan.Kata kunci: residu, inkubasi vinasse, pupuk kalium, kangkung, pertumbuhan dan hasil
Pengaruh Pemberian Garam Epsom Terhadap Hasil dan Kualitas Benih Empat Kultivar Wijen (Sesamum indicum L.) di Lahan Pasir Pantai
INTISARILuas areal pertanaman wijen di Indonesia mengalami penurunan karena digunakan untuk budidaya tanaman pangan. Keberadaan lahan pasir pantai yang belum termanfaatkan secara optimal dapat menjadi alternatif areal budidaya wijen. Salah satu kekurangan lahan pasir pantai adalah ketersediaan sulfur dan magnesium sangat rendah, padahal unsur tersebut sangat penting bagi tanaman penghasil minyak dari biji. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian garam epsom terhadap hasil dan kualitas benih wijen. Penelitian dilaksanakan di lahan pasir pantai Samas Bantul, Yogyakarta menggunakan rancangan petak terbagi dengan 4 blok sebagai ulangan. Perlakuan petak utama adalah takaran garam epsom terdiri dari 0 (kontrol); 76,92; 153,85; dan 230,77 kg/ha. Perlakuan anak petak adalah kultivar wijen yaitu Sumberrejo-1, 2, 3, dan 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh garam epsom tergantung kultivar. Penambahan pupuk garam epsom pada kultivar Sumberrejo-1 dan 2 dapat meningkatkan daya berkecambah dan indeks vigor. Penambahan pupuk garam epsom pada kultivar Sumberrejo-3 dapat meningkatkan daya hasil dan daya berkecambah. Pada kultivar Sumberrejo-1 penambahan 148,5 kg/ha garam epsom mampu menghasilkan benih dengan indeks vigor optimal.Kata kunci: garam epsom, kualitas benih, wije
The Effect of Kind of Cutting and Planting Position on Germination and Early Growth of Sugar Cane (Saccharum officinarum L.) Seedlings
ABSTRACTThis study aimed to determine the effect of kinds of cutting which planted in vertical, horizontal and diagonal position to the germination, early seedling growth. This was a field research, at field laboratorium, Tridharma, Banguntapan, Bantul, Faculty of Agriculture, Gadjah Mada University, Yogyakarta in October to December 2012.This study used a factorial experimental design 2 x 3 plus 1 control, with a Completely Randomized Design (CRD) 4 replications. The first factor was the kinds of cutting consisting of 3 levels i.e bagal, budchip and budset. The second factor was the position at planted consisting 3 levels i.e vertical, incline and horizontal with the bud facing up. The collected data were analyzed by using analysis of variance (Anova) applying level of significance at α = 5%. When significant differences among treatments were found, further analysis was carried out by applying a Least Significant Difference test (LSD) at α = 5%. The results showed that there are significant interactions between treatments of kind of cutting and planting position affect percent germination, canopy dry weight in 9 week after planting (wap), root dry weight 9 wap and growth rate in 6-9 wap. Kinds of cutting and planting positions significantly increases the plant height, leaf number, tiller number, stem diameter, fresh canopy weight of 12 wap, canopy dry weight in 12 wap, Net Assimilation Ratio (NAR) 9-12 wap, Crop Growth Rate (CGR) in 9-12 wap. Combination of budchip planted horizontal (89%) and vertical (87%) position showed the best combination germination percentage. Keywords: Kind of cutting, sugar cane, planting positio