Vegetalika
Not a member yet
487 research outputs found
Sort by
Pengaruh Takaran SP36 Terhadap Pertumbuhan, Hasil dan Kadar Karotena Bunga Cosmos sulphureus Cav. dan Tagetes erecta L. di Dataran Rendah
Dewasa ini, penggunaan zat pewarna alami untuk makanan mulai banyak digunakan. Kenikir merupakan salah satu sumber zat pewarna alami warna kuning dari tanaman karena mengandung pigmen karotenoid. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh takaran SP36 terhadap pertumbuhan, hasil dan kadar karotena dua jenis kenikir di dataran rendah ini dilaksanakan pada bulan Maret – Juli 2014 di Kebun Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (KP4), Universitas Gadjah Mada, Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta. Analisis kadar karotena dilakukan di Laboratorium Proses Separasi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi (split plot). Jenis kenikir sebagai petak utama yang digunakan adalah kenikir Lokal (V1) dan kenikir Marigold (V2). Perlakuan takaran SP36 sebagai anak petak yang terdiri dari 5 aras yaitu 0 kg/ha (P0), 75 kg/ha (P1), 150 kg/ha (P2), 225 kg/ha (P3) dan 300 kg/ha (P4) yang diulang sebanyak tiga kali. Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis varian dengan tingkat kepercayaan 95 %. Apabila perlakuan menunjukkan perbedaan pengaruh yang nyata dilanjutkan dengan uji jarak Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan tingkat kepercayaan yang sama.Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara kenikir Lokal dan takaran SP36 sebesar 150 kg/ha mampu menghasilkan pertumbuhan tanaman dan pembungaan yang terbaik yaitu berat total bunga, jumlah bunga dan periode berbunga.Interaksi antara kenikir Marigold dan takaran SP36 sebesar 150 kg/ha menghasilkan pembungaan terbaik pada waktu muncul bunga yang lebih cepat dan diameter bunga lebih besar. Kenikir Lokal menghasilkan kandungan karotena yang sama baiknya dengan kenikir Marigold.Kata Kunci :Kadar Karotena, Kenikir Lokal, Kenikir Marigold, SP36,Pembungaa
Pengaruh Takaran Pupuk Kandang dan Periode Penyiangan terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tumpangsari Lidah Buaya (Aloe chinensis B.) – Wijen (Sesamum indicum L.) di Lahan Pasir Pantai
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh takaran pupuk kandang dan periode penyiangan terhadap pertumbuhan dan hasil lidah buaya (Aloe chinensis B.) dan wijen (Sesamum indicum L.) pada pertanaman tumpangsari lidah buaya -wijen, dan mendapatkan takaran pupuk kandang dan periode penyiangan yang paling sesuai untuk pertumbuhan dan hasil tanaman yang terbaik di lahan pasir pantai. Penelitian dilaksanakan di lahan pasir pantai Keburuhan, Purworejo menggunakan rancangan petak terbagi dengan tiga blok sebagai ulangan. Takaran pupuk kandang (20, 40, 60, 80 dan 100 ton/ha) sebagai perlakuan pada petak utama dan periode penyiangan (1bulan setelah tanam, 2 bulan setelah tanam dan 3 bulan setelah tanam) sebagai perlakuan pada anak petak. Hasil penelitian menunjukan bahwa takaran pupuk kandang tidak berinteraksi dengan periode penyiangan pada semua variabel yang diamati. Peningkatan takaran pupuk kandang dari 20 ton/ ha sampai dengan 100 ton/ ha tidak meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah daun lidah buaya secara nyata, demikian juga perbedaan periode penyiangan. Pupuk kandang dengan takaran 20 ton/ ha sampai 100 ton/ ha tidak menghasilkan tinggi tanaman, jumlah daun dan berat kering akar wijen yang berbeda nyata. Pemberian pupuk kandang pada takaran 100 ton/ha menghasilkan berat kering tanaman wijen, jumlah polong, berat polong, berat biji dan hasil biji wijen per 100m2 tertinggi. Perbedaan periode penyiangan tidak menghasilkan tinggi tanaman wijen, jumlah daun, berat kering tanaman, berat kering akar, jumlah polong per tanaman, berat kering polong per tanaman, berat kering biji per polong per tanaman wijen dan hasil biji wijen per 100m2 yang berbeda nyata.Kata Kunci : Pupuk kandang, periode penyiangan, lidah buaya, wijen, lahan pasir panta
Pengaruh Macam Media dan Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Keberhasilan Cangkok Sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen) pada Musim Penghujan
Penelitian yang berjudul Pengaruh Macam Media dan Zat Pengatur Tumbuh terhadap Keberhasilan Cangkok Sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen) pada Musim Penghujan bertujuan untuk mempelajari pengaruh macam media cangkok dan zat pengatur tumbuh terhadap pertumbuhan akar dan hasil cangkokan sawo. Penelitian dilaksanakan di wilayah kelurahan Trirenggo, Kabupaten Bantul dari bulan September 2013 sampai Januari 2014. Percobaan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor yaitu macam media cangkok dan penggunaan ZPT. Perlakuan yang diterapkan yaitu pencangkokan secara konvensional menggunakan media tanah + pupuk kandang (2:1), tanpa ZPT, pencangkokan menggunakan media tanah + pupuk kandang (2:1) + ZPT, pencangkokan menggunakan media moss, tanpa ZPT, pencangkokan menggunakan media moss + ZPT. Hasil penelitian menunjukan bahwa media moss tidak berpengaruh nyata terhadap persentase keberhasilan cangkok tetapi mempercepat waktu pemotongan cangkokan yaitu 4 bulan setelah pencangkokan, sehingga dapat dihasilkan bibit lebih cepat dan penggunaan media moss + ZPT mempercepat pembentukan kalus dan meningkatkan perakaran cangkokan sawo.Kata kunci: sawo, media cangkok, Zat Pengatur Tumbuh
Pengaruh Takaran Urea Terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Steviosida Tanaman Stevia (Stevia rebaudiana Bertoni M.) pada Berbagai Umur Panen di Dataran Rendah
Percobaan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mempelajari pengaruh takaran urea terhadap pertumbuhan tanaman stevia di dataran rendah dan menentukan umur panen dan takaran urea optimum dimana stevia memiliki kandungan steviosida tertinggi di dataran rendah. Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Banguntapan, Yogyakarta mulai bulan Mei hingga Agustus 2014.Percobaan disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) 3 kali ulangan dengan 2 faktor perlakuan. Faktor pertama adalah takaran pupuk urea, yaitu 0 g/tanaman; 2,5 g/tanaman; dan 5 g/tanaman. Faktor kedua adalah variasi umur panen, yaitu 3 MSP; 6 MSP; dan 9 MSP, dimana MSP adalah Minggu Setelah Perlakuan. Data dianalisis dengan sidik ragam α = 5%. Hasil pada analisis yang memiliki beda nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) α = 5%.Hasil percobaan menunjukkan bahwa pengaruh takaran pupuk urea memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman stevia. Takaran 5 g/tanaman memberikan hasil terbaik pada tinggi tanaman, luas daun, dan bobot kering (tajuk dan akar) pada tanaman stevia. Umur panen dan takaran pupuk urea optimum tidak didapatkan, namun kombinasi perlakuan terbaik adalah 5 g/tanaman pupuk urea pada umur panen 9 MSP.Kata kunci: Stevia, urea, umur panen, steviosida, dataran renda
Pengaruh Letak Biji dalam Buah dan Tiga Macam Pupuk Organik Terhadap Daya Tumbuh dan Pertumbuhan Bibit Nangka (Artocarpus integra L)
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh letak biji dalam buah dan tiga macam pupuk terhadap daya tumbuh dan pertumbuhan bibit nangka serta menentukan atau mendapatkan letak biji dalam buah dan tiga macam pupuk organik yang terbaik. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada bulan Oktober 2013 sampai Februari 2014. Rancangan percobaan yang digunakan adalah metode 3x4 faktorial dengan tiga ulangan yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor pertama adalah letak biji dalam buah. Terdapat 3 aras yaitu (1) letak biji bagian pangkal; (2) letak biji bagian tengah; (3) letak biji bagian ujung. Faktor kedua adalah pupuk organik. Terdapat 4 aras yaitu (1) pupuk kandang sapi; (2) pupuk kandang ayam; (3) pupuk kandang kambing dan (4) tanpa pupuk kandang (kontrol). Data pengamatan dianalisis dengan varian (ANOVA) pada taraf 5 %, bila ada beda nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan Duncan multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara letak biji dalam buah dan macam pupuk kandang pada indeks vigor hipotetik, berat kering tajuk tetapi interaksi tidak terjadi pada berat kering akar. Kombinasi perlakuan dari letak biji bagian pangkal dan tanpa pupuk memberikan nilai yang tertinggi pada vigor hipotetik dan berat kering tajuk. Berat kering akar paling tinggi terdapat pada bibit yang berasal dari letak biji bagian pangkal atau bibit yang tanpa diberi pupuk kandang.Kata kunci: Nangka, letak biji, pupuk organik
Karakterisasi Morfologi dan Molekuler Jagung Berondong Stroberi dan Kuning (Zea mays L. Kelompok Everta)
Jagung berondong (Zea mays Kelompok Everta) merupakan salah satu jenis jagung yang memiliki biji kecil yang keras dan meletup ketika dipanaskan.Jagung berondong memiliki banyak warna seperti kuning (jagung berondong kuning) dan merah (jagung berondong stroberi). Jagung berondong stroberi memiliki biji berwarna merah dan tongkolnya berbentuk seperti buah stroberi, sehingga digemari sebagai hiasan karena keindahannya. Jagung berondong kuning bijinya berwarna kuning dan lebih besar daripada jagung berondong stroberi.Studi keragaman genetik tentang jagung berondong masih langka. Penelitian tentang karakterisasi morfologi dan molekuler menggunakan penanda RAPD pada jagung berondong stroberi dan kuning dapat digunakan sebagai informasi dasar dalam kegiatan awal pemuliaan tanaman jagung berondong. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan karakter morfologi pada jagung berondong stroberi dan kuning; menghitung nilai keragaman genetik berdasarkan penanda RAPD; mengetahui hubungan kekerabatan berdasarkan karakter morfologi dan molekuler; dan mencari pita spesifik yang mencirikan jagung berondong stroberi dan kuning. Penelitian ini menggunakan jagung berondong stroberi dan kuning, karakter morfologi yang diamati meliputi daun, batang, bunga, dan tongkol. Karakter molekuler menggunakan penanda RAPD dengan 5 primer terpilih, yaitu OPA 2, OPA 3, OPA 16, OPD 5, dan OPH 18. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jagung berondong stroberidan kuning memiliki deskripsi yang berbeda. Keragaman genetik pada jagung berondong stroberi sebesar 0,158 dan kuning sebesar 0,159. Berdasarkan 17 karakter morfologi dan molekuler, maka kedua jenis jagung berondong tersebut terbagi menjadi dua kelompok dengan jarak pada skala 5,5, yaitu jagung berondong stroberi dan kuning. Primer yang menghasilkan pita spesifik yang mencirikan jagung berondong stroberi, yaitu OPD 5 dengan ukuran 1500 bp, sedangkan primer yang menghasilkan pita spesifik pada jagung berondong kuning, yaitu OPA 16 dengan ukuran 300 bp. Kata kunci: jagung berondong stroberi, jagung berondong kuning, RAPD, keragama
Daya Simpan Benih Kedelai Hitam (Glycine max (L) Merrill) Hasil Tumpangsari dengan Sorgum Manis (Shorgum bicolor (L) Moench)
INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi baris antara tanaman kedelai hitam dengan sorgum manis yang ditanam secara tumpangsari terhadap kualitas benih setelah disimpan. Sehingga akan diperoleh benih dengan daya simpan yang tinggi pada kombinasi baris yang tepat. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada bulan November 2012 sampai April 2013. Penelitian dilakukan dengan pendekatan percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor dengan 4 perlakuan. Perlakuan yang diberikan adalah benih yang berasal dari pertanaman tumpangsari kedelai hitam dengan sorgum manis dengan kombinasi baris yaitu 3:1, 4:1, 6:1, dan monokultur kedelai hitam. Benih disimpan dengan berat 250 g untuk masing-masing perlakuan menggunakan plastik polietilen dan disimpan pada ruangan dengan suhu kamar (27-28 0C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas benih kedelai hitam hasil pertanaman tumpangsari memberikan pengaruh yang sama dibandingkan dengan benih kedelai hitam dari pertanaman monokultur. Kualitas benih asal pertanaman tumpangsari dan monokultur dapat terjaga baik hingga penyimpanan bulan keempat.Kata kunci: kedelai hitam, tumpangsari, monokultur, kualitas benih, penyimpanan.
Pertumbuhan dan Tanggapan Terhadap Penyakit karat (Puccinia kuehnii) Sembilan Klon Tebu (Saccharum officinarum L.) yang Diinfeksi Jamur Mikoriza Arbuskular
INTISARIJamur Mikoriza Arbuskular (JMA) berpotensi tinggi untuk meningkatkan pertumbuhan, produksi, dan ketahanan tanaman terhadap penyakit, oleh karena itu sering digunakan sebagai bahan pupuk hayati. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat infektivitas JMA pada beberapa klon tebu, tanggapan pertumbuhan klon-klon tebu, dan ketahanannya terhadap penyakit karat, sebagai modal awal program pemuliaan tanaman tebu rendah pupuk kimia. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Desember 2012 sampai dengan Juli 2013 di rumah plastik Condongcatur dan di Laboratorium Mikologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah penggunaan sembilan klon tebu terdiri dari 9 taraf yaitu klon 6219, 6202, 6239, 6525, 6535, PS92-752, BL, PS881, dan PSJK922. Faktor kedua adalah pemberian inokulasi JMA dan tanpa inokulasi JMA. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam α = 5%, apabila terdapat beda nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infektivitas sembilan klon tebu menunjukkan nilai yang tinggi yaitu di atas 70%. JMA dapat meningkatkan pertumbuhan tebu ditinjau dari parameter tinggi tanaman, jumlah anakan, kehijauan daun, berat segar, dan berat kering. Klon 6239 yang memiliki respon pertumbuhan paling baik secara umum, dengan berat kering total paling tinggi dibandingkan klon yang lain. Hasil skoring ketahanan penyakit menunjukkan klon 6202, 6219, dan BL agak tahan terhadap infeksi penyakit karat oranye, sedangkan klon 6239, 6525, 6535, PS92-752, PS881, dan PSJK922 agak rentan terhadap infeksi penyakit karat oranye. JMA mampu meningkatkan ketahanan klon tebu 6239 dari agak rentan (moderate susceptible) menjadi agak tahan (moderate resistant) terhadap infeksi penyakit karat oranye. Klon 6239 dapat digunakan dalam program pemuliaan tanaman tebu yang bersimbiosis baik dengan JMA.Kata kunci: Jamur Mikoriza Arbuskular (JMA), tebu, penyakit karat oranye
Kajian Fungsi Tanaman Lanskap di Jalur Hijau Jalan Laksda Adisucipto, Urip Sumoharjo, dan Jendral Sudirman Yogyakarta
INTISARIPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tanaman hias di jalur hijau jalan Laksda Adisucipto, Urip Sumoharjo, dan Jendral Sudirman, mengetahui fungsi dan kesesuaian sebagai tanaman lanskap dan identitas budaya Yogyakarta, serta memberikan rekomendasi pengembangan jalur hijau. Kesesuaiannya sebagai fungsi tanaman lanskap dilihat dari fungsi visual control, physical barriers, climate control, erosion control, wildlife habitats, dan aesthetic value. Kesesuaiannya sebagai identitas budaya dilihat dari pohon yang mewakili budaya lokal Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan dalam 4 tahap yaitu observasi secara visual, investigasi (identifikasi tanaman, pemetaan tanaman serta penilaian fungsi tanaman), analisis data secara deskriptif, dan rekomendasi pengembangan jalur hijau jalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 34 jenis tanaman terdiri dari 11 jenis pohon, 8 jenis perdu, 10 jenis semak, 5 jenis penutup tanah, dan 4 jenis tanaman merambat. Fungsi tanaman dalam lanskap dan fungsi tanaman dalam ruang mencapai nilai optimum pada jalur hijau yang ada di sekitar rumah sakit Bethesda. Pohon lokal sebagai identitas budaya yang didapatkan adalah pohon asam jawa (Tamarindus indica) dan pohon tanjung (Mimusoph elengi).Kata kunci : jalur hijau jalan, fungsi tanaman, identitas buday
Pengaruh Macam Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tiga Kultivar Kacang Hijau (Vigna radiata L. Wilczek) di Lahan Pasir Pantai Bugel, Kulon Progo
INTISARI Lahan pasir pantai yang terdapat di daerah Bugel merupakan gumuk-gumuk pasir. Karakteristik lahan di gumuk pasir wilayah ini adalah tanah bertekstur pasir, struktur berbutir tunggal, daya simpan lengasnya rendah, status kesuburannya rendah, evaporasi tinggi, dan tiupan angin laut kencang. Penambahan pupuk kandang diyakini dapat memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah, oleh karena itu, suatu kajian dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk kandang sapi, kambing, dan ayam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tiga kultivar kacang hijau (Vigna radiata L. Wilczek). Penelitian dilakukan di lahan pasir Pantai Bugel, Yogyakarta pada bulan September–Desember 2013. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor dengan faktor pertama yaitu jenis pupuk kandang (tanpa pupuk, pupuk kandang sapi, ayam dan kambing) dan faktor kedua yaitu tiga kultivar (Vima-1, Murai, Kenari). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis varian (Anova) dengan taraf 5 %. Apabila hasil analisis varian terdapat beda nyata maka dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan tingkat kepercayaan 5%. Untuk mengetahui keterkaitan antar parameter dalam penelitian ini digunakan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan penambahan pupuk kandang kambing mampu meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman kacang hijau. Perlakuan pemberian pupuk kandang ayam menghasilkan berat biji per hektar lebih tinggi yaitu 1,84 ton per hektar dibandingkan dengan pupuk kandang kambing, pupuk kandang sapi maupun tanpa pemupukan. Kacang hijau kultivar Kenari mampu memproduksi berat biji per hektar paling tinggi dengan berat 1,83 ton per hektar dibandingkan kultivar Vima-1 maupun Murai.Kata kunci : kacang hijau, pupuk kandang, pasir panta