Vegetalika
Not a member yet
487 research outputs found
Sort by
Jumlah Anakan dan Rendemen Enam Klon Tebu (Saccharum officinarum L.) Asal Bibit Bagal, Mata Ruas Tunggal, dan Mata Tunas Tunggal
INTISARITebu merupakan jenis tanaman monokotil yang dibudidayakan sebagai tanaman penghasil gula. Tanaman tebu diperbanyak secara vegetatif dalam bentuk bagal, namun pada saat ini telah berkembang metode pembibitan mata ruas tunggal, dan mata tunas tunggal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah anakan dan rendemen gula yang dihasilkan oleh tebu yang berasal dari bibit bagal, mata ruas tunggal, dan mata tunas tunggal dari enam klon tebu komersial. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan faktorial 3x6 disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat ulangan. Faktor pertama adalah jenis bibit tebu yaitu bagal, mata ruas tunggal, dan mata tunas tunggal. Faktor kedua merupakan enam jenis klon tebu yang terdiri dari Bululawang, PS 864, PSJT 941, VMC, PS 881, dan Kidang Kencana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit bagal, mata ruas tunggal, dan mata tunas tunggal tidak memberikan pengaruh yang nyata pada jumlah anakan tebu pada umur 12 bulan. Interaksi antara metode pembibitan dengan klon nyata pada diameter batang, berat kering akar, kandungan pol tebu, dan rendemen tebu. Klon PS 864 yang ditanam dengan metode bibit bagal menghasilkan rendemen paling baik.Kata kunci : bibit, klon, anakan, rendeme
Keragaman Warna Gabah dan Warna Beras Varietas Lokal Padi Beras Hitam (Oryza sativa L.) yang Dibudidayakan oleh Petani Kabupaten Sleman, Bantul, dan Magelang
INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman warna gabah dan warna beras varietas lokal padi beras hitam yang dibudidayakan oleh petani di Kabupaten Sleman, Bantul, dan Magelang. Lokasi penelitian di Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Tanaman Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UGM. Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2012. Bahan yang digunakan adalah 14 sampel gabah yang dibudidayakan petani Kabupaten Sleman, Bantul dan Magelang. Alat yang digunakan terdiri dari kamera dan Chroma Meter. Analisis dilakukan dengan menguantifikasikan warna gabah dan beras dengan chroma meter kemudian dimasukkan ke dalam kategori pada Panduan Sistem Karakterisasi dan Evaluasi Tanaman Padi, lalu dihitung koefisien keragamannya (KK). Hasil penelitian menunjukkan Terdapat dua macam warna gabah yaitu coklat dan kemerahan sampai ungu muda, dengan koefisien keragaman (KK) 11,06% dan terdapat tiga macam warna beras yaitu merah, ungu bervariasi, dan ungu, dengan koefisien keragaman (KK) sebesar 23,79%.Kata kunci : warna padi beras hitam, varietas lokal, Sleman, Bantul, Magelan
Eksplorasi dan Karakterisasi Sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen) di Daerah Istimewa Yogyakarta.
INTISARISawo (Manilkara zapota (L.) van Royen) merupakan tanaman buah tropis yang berbuah sepanjang tahun dan dapat hidup di daerah kering sehingga potensial untuk dikembangkan. Berdasarkan data populasi, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu sentra sawo terbesar di Indonesia tetapi informasi keragaman dan aksesi-aksesi sawo unggul belum tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran tanaman sawo di DIY, mengetahui keragaman sawo dan mengelompokkannya berdasarkan sifat morfologi, serta menentukan pohon induk sawo yang memiliki sifat unggul sebagai calon varietas. Kegiatan eksplorasi tanaman sawo dilakukan pada bulan September–Desember 2012 di 4 kabupaten dan 1 kotamadya di DIY. Metode pengambilan data dilakukan dengan metode survey lapangan serta wawancara terhadap pemilik pohon sawo untuk memperoleh informasi tentang pohon sawo dan produksinya. Buah dari setiap aksesi diamati 9 karakter morfologi, termasuk buah sawo yang diamati di Laboratorium Hortikultura Fakultas Pertanian UGM. Berdasarkan data populasi, sebaran tanaman Sawo di DIY terdistribusi merata di setiap kabupaten dimana populasi sawo terbesar dimiliki oleh Kabupaten Sleman dan populasi terkecil dimiliki oleh Kota Yogya. Hasil analisis ragam menunjukkan kandungan vitamin C memiliki keragaman tinggi sedangkan karakter lain memiliki keragaman sedang. Hasil analisis klaster pada karakter bentuk buah menghasilkan 3 klaster yaitu klaster 1 terdiri dari 9 aksesi sawo dengan bentuk buah lonjong, klaster 2 terdiri dari 75 aksesi sawo dengan bentuk buah oval, dan klaster 3 terdiri dari 29 aksesi sawo dengan bentuk buah bulat. Aksesi terpilih berdasarkan ukuran buah, kadar gula dan penampilan yaitu berbuah lonjong: aksesi G3 dari Mantrijeron (Yogya), H1 dan H4 dari Patuk (Gunung Kidul); berbuah oval: aksesi C4 dan C5 dari Imogiri (Bantul), G5 dari Mantrijeron (Yogya); berbuah bulat: aksesi D4 dari Lendah (Kulonprogo), G6 dari Kraton (Yogya), dan J1 dari Kalasan (Sleman).Kata kunci: sawo, eksplorasi, aksesi, analisis klaster, kadar gula, vitamin C
Kajian Sifat Fisiologis Kultivar Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) dan Ketergantungannya Terhadap Mikoriza
INTISARIPenelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta mulai bulan Januari sampai Mei 2013 dengan tujuan untuk mengetahui tingkat ketergantungan kultivar kedelai (Glycine max (L.) Merr.) yang diinokulasi jamur mikoriza arbuskular (JMA) dan sifat fisiologis kultivar kedelai yang diinokulasi jamur mikoriza arbuskular (JMA). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 18x2 masing-masing 3 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam α = 5%. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah daun, indeks luas daun (ILD), kandungan klorofil daun, laju fotosintesis dan tingkat ketergantungan kultivar kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Terdapat tiga kategori tingkat ketergantungan mikoriza yaitu kategori tinggi (Kultivar Kaba, Wilis dan Baluran), kategori sedang (Kultivar Grobogan, Anjasmoro, Argomulyo, Petek, Garut, Malabar dan Seulawah) dan kategori rendah (Kultivar Burangrang, Sibayak, Tanggamus, Panderman, Ijen, Galunggung, Gepak Kuning dan Sinabung). Inokulasi mikoriza dapat meningkatkan jumlah daun, indeks luas daun (ILD), kadar klorofil dan laju fotosintesis tanaman kedelai.Kata kunci : kedelai, sifat fisiologis, ketergantungan, mikoriz
Pertumbuhan Bibit Tujuh Klon Teh (Camellia sinensis (L.) Kuntze) PGL dengan Pemberian Bahan Mengandung Hormon Tumbuh Alami
INTISARIPenelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan setek tujuh klon teh PGL dan mengetahui respon tujuh klon teh PGL terhadap aplikasi hormon tumbuh alami pada masa pembibitan. Penelitian dilaksanakan di kebun teh PT Pagilaran, Batang, Jawa Tengah dari bulan November 2012 hingga Agustus 2013. Penelitian disusun menggunakan percobaan petak belah (Split Plot Design). Hormon tumbuh alami sebagai petak utama (main plot) yaitu air kelapa, urin sapi, ekstrak kecambah dan kontrol. Klon teh sebagai anak petak (sub plot) berupa PGL 3, PGL 4, PGL 10, PGL 11, PGL 12, PGL 15, PGL 17 dan TRI 2025 sebagai klon pembandingnya. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi antara pemberian hormon tumbuh alami dengan klon teh pada hampir semua parameter pengamatan.Klon PGL 4 memiliki pertumbuhan bibit yang lebih bagus dibandingkan dengan keenam klon PGL lainnya. Pemberian hormon tumbuh alami air kelapa dengan konsentrasi 50%, ekstrak kecambah 25% dan urin sapi 50% tidak mampu meningkatkan pertumbuhan bobot kering total, tinggi tanaman dan diameter batang pada bibit setek.Kata kunci :hormon tumbuh alami, klon PGL, sete
Induksi Ketahanan Kekeringan Delapan Hibrida Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dengan Boron
INTISARIPenelitian bertujuan untuk 1) menentukan respon dan tingkat ketahanan delapan hibrida kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan dan 2) menentukan dosis boron (B) yang optimal untuk menginduksi ketahanan hibrida kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktorial dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah hibrida kelapa sawit, yang terdiri dari: Yangambi, Avros, Langkat, PPKS 239, Simalungun, PPKS 540, PPKS 718 dan Dumpy. Faktor kedua adalah dosis boric acid yang terdiri dari 5 aras yaitu: 0; 0,25; 0,5; 0,75; dan 1 g/bibit. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa variabel mikroklimat di lokasi penelitian, aktivitas fisiologis serta pertumbuhan bibit kelapa sawit. Data yang telah diperoleh selanjutnya dianalisis varian (ANOVA) pada taraf 5 %, dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT). Dosis optimal B yang mampu meningkatkan ketahanan bibit kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan ditentukan menggunakan analisis regresi. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa aplikasi boron pada bibit kelapa sawit mampu menginduksi ketahanan terhadap cekaman kekeringan melalui mekanisme pengerasan akar (aspek morfologi), mempertahankan bukaan stomata (aspek fisiologi) dan kandungan klorofil daun (aspek biokimia). Dosis optimum boric acid untuk menginduksi ketahanan hibrida kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan berkisar antara 0,5–0,75 g/bibit, pada kandungan awal B dalam media tanam sebesar 78,53 ppm. Hibrida PPKS 239, Simalungun dan Dumpy mampu menghadapi cekaman kekeringan lebih baik daripada Avros, PPKS 718, PPKS 540, Yangambi dan Langkat.Kata kunci: kelapa sawit, kekeringan, boro
Seleksi Perdu Teh (Camellia sinensis (L.) Kuntze) Hasil Persilangan Dialel untuk Sifat Berat Pucuk
INTISARIPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi berat pucuk pada perdu-perdu tanaman teh hasil persilangan dialel dan memilih individu-individu yang potensial sebagai induk perbanyakan tanaman. Pengamatan dilakukan terhadap variable berat pucuk, jumlah pucuk peko, dan berat pucuk peko dari seluruh individu pertanamanteh hasil persilangan dialel asal biji sebanyak 166 perdu. Pengamatan untuk sifat berat pucuk juga dilakukan pada pertanaman teh hasil perbanyakan vegetatif sebanyak 200 perdu untuk menentukan nilai heritabilitas dan ripitabilitas. Semua pertanaman yang diamatai telah memasuki TP (Tahun pangkas) 4. Pengamatan terhadap sifat berat pucuk dilakukan setiap 10 hari sekali dengan pemetikan medium sebanyak 10 kali petikan. Individu yang terpilih merupakan individu yang mempunyai rerata berat pucuk dari sepuluh petikan lebih besar atau sama dengan (≥) rerata seluruh individu ditambah dua kali standar deviasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 jenis cross yang diseleksi dengan kriteria rerata + 2 SD diperoleh satu jenis cross yang terbaik berdasarkan sifat berat pucuknya yaitu PSA (hasil persilangan PS 1 x SA 40) dengan jumlah perdu yang terseleksi sebanyak 3 perdu. Hasil pengamatan terhadap pucuk peko menunjukkan bahwa jenis persilangan PSA memiliki berat pucuk peko, jumlah pucuk peko, dan presentase berat pucuk peko yang tertinggi. Sedangkan hasil seleksi individual dengan kriteria rerata + 2 SD diperoleh 10 individu yang terseleksi dari 166 individu yang diseleksi. Nilai heritabilitas dan ripitabilitas yang diperoleh termasuk dalam kategori tinggi yaitu sebesar 57,4 % dan 58,9 %.Kata kunci: teh, berat pucuk, dialel, seleksi
Pengayaan Oksigen di Zona Perakaran untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Selada (Lactuca sativa L.) Secara Hidroponik
INTISARI Penelitian bertujuan untuk 1) menentukan kadar oksigen yang optimal untuk memacu pertumbuhan dan meningkatkan hasil tanaman selada dan 2) mengetahui pengaruh pengkayaan oksigen di zona perakaran terhadap serapan N, P, K, Ca, Mg dan Fe oleh tanaman selada yang ditanam secara hidroponik. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Perlakuan yang diuji adalah pemberian aerasi dengan tekanan udara tertentu pada media tumbuh, yaitu 0,012 mPa; 0,006 mPa; 0,003 mPa; dan 0 mPa. Pemberian tekanan udara dilakukan dengan menggunakan aerator. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa variabel lingkungan, pertumbuhan, hasil dan kualitas hasil tanaman selada. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis varian (ANOVA) pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji Dunnet. Konsentrasi oksigen yang optimal untuk meningkatkan pertumbuhan, hasil dan kualitas hasil tanaman selada ditentukan dengan analisis regresi. Sedangkan pola hubungan antar variabel pengamatan ditentukan dengan analisis regresi. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa pertumbuhan dan hasil tanaman selada terus mengalami peningkatan sejalan dengan kenaikan tekanan aerasi dan konsentrasi oksigen terlarut dalam media tumbuh hidroponik hingga 0,012 mPa dan 12,23 mg/l. Kemampuan tanaman selada untuk mengakumulasi N, P, K, Ca, Mg, dan Fe dalam jaringan daunnya terus mengalami peningkatan sejalan dengan bertambahnya tekanan aerasi maupun konsentrasi oksigen terlarut dalam media tumbuh hidroponik, hingga tekanan aerasi sebesar 0,012 mPa dan konsentrasi oksigen terlarut sebesar 12,23 mg/l. Pemberian tekanan aerasi sebesar 0,012 mPa dengan konsentrasi oksigen terlarut sebesar 12,23 mg/l berpotensi untuk memperpendek umur panen tanaman selada dari yang semula 28 hari menjadi 14 hari setelah pindah tanam.Kata kunci : selada, hidroponik, pengkayaan oksige
Potensi Hasil, Mutu, dan Daya Simpan Buah Enam Galur Mutan Harapan Tomat (Solanum lycopersicum L.)
INTISARI Penelitian ini merupakan penelitian jangka panjang untuk mendapatkan varietas galur murni baru. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi potensi hasil, mutu dan daya simpan enam galur mutan harapan tomat (Solanum lycopersicum L.) hasil irradiasi sinar gamma Co-60 untuk dataran rendah. Galur harapan generasi M9 dari ‘Intan’ yaitu G20 1/13/25/28/16/13 (G2), G20 1/13/25/26/24/11 (G4), G40 2/19/9/19/12/13 (G6), G40 2/15/23/22/13/13 (G7), G60 3/9/12/34/12/14 (G8), dan G60 3/15/15/1/13/6 (G9), ‘Intan’ (tetua) dan ‘Fortuna’ dimasukkan untuk perbandingan yang ditanam dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan 4 blok sebagai ulangan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kalitirto, Berbah, Sleman (KP4-UGM) dan dilanjutkan di Laboratorium Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada pada bulan Mei-September 2012. Variabel yang diamati adalah fruitset, jumlah buah per tanaman, bobot buah per tanaman, warna buah, bentuk buah, panjang buah, diameter buah, bobot buah per butir, volume buah, kandungan vitamin C, kandungan asam tertitrasi, padatan terlarut total, waktu pematangan dan umur simpan. Analisis data menggunakan anova dan uji lanjut DMRT pada α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keenam galur harapan menghasilkan jumlah buah total per tanaman dan bobot buah total per tanaman sama besar dengan ‘Intan’ namun nyata lebih besar daripada ‘Fortuna’ yaitu berkisar antara 49,85 – 73,55 buah per tanaman dan 2677,8 – 3277,6 gram per tanaman. Tingginya jumlah buah total dan bobot buah total dipengaruhi oleh fruitset keenam galur, berkisar antara 68,14 – 78,63%. Mutu G20 1/13/25/26/24/11 (G4) lebih tinggi dibandingkan ‘Fortuna’ dan ‘Intan’ dalam hal panjang buah (4,43 cm), diameter buah (5,20 cm), bobot buah per butir (74,81 gram) dan volume buah (71,37 cm3). Galur generasi M9 menghasilkan kandungan vitamin C sama dengan ‘Fortuna’ dan ‘Intan’. Galur harapan G40 2/19/9/19/12/13 (G6) menghasilkan kandungan asam tertitrasi lebih tinggi daripada ‘Fortuna’ dan ‘Intan’, sementara G60 3/9/12/34/12/14 (G8) menghasilkan padatan terlarut total nyata lebih tinggi dibandingkan ‘Intan’ dan ‘Fortuna’. Buah keenam galur harapan yang dievaluasi memiliki bentuk buah apel dengan warna buah merah cerah, merah gelap dan merah jingga. Galur harapan G20 1/13/25/28/16/13 (G2), G40 2/19/9/19/12/13 (G6), G60 3/9/12/34/12/14 (G8) dan G60 3/15/15/1/13/6 (G9) memiliki waktu pematangan sama dengan ‘Intan’ namun lebih cepat dari ‘Fortuna’. Keenam galur harapan memiliki umur simpan sama dengan ‘Intan’ namun lebih cepat dari ‘Fortuna’. Keenam galur harapan dapat diusulkan untuk dijadikan varietas galur murni baru. Kata kunci: buah tomat, dataran rendah, daya hasil, mutu, daya simpan.
Pengaruh Pemberian Jamur Mikoriza Arbuskular, Jenis Pupuk Fosfat dan Takaran Kompos Terhadap Pertumbuhan Bibit Tebu (Saccharum officinarum L.) pada Media Pasir Pantai
INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jamur mikoriza arbuskular (JMA), jenis pupuk fosfat, dan takaran kompos yang tepat terhadap pertumbuhan bibit tebu (Saccharum officinarum L.) pada media pasir pantai. Penelitian ini dilaksanakan di kebun Banguntapan milik Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta mulai bulan November 2012 sampai Maret 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) tiga faktor dengan 3 blok. Faktor pertama adalah perlakuan JMA yang terdiri dari 2 aras, yaitu kontrol tanpa pemberian JMA (M0) dan dengan pemberian JMA (M1). Faktor kedua adalah takaran kompos yang terdiri dari 2 aras, yaitu 10 ton/ha kompos (K1) dan 20 ton/ha kompos (K2). Faktor ketiga adalah jenis pupuk fosfat yang terdiri dari 2 aras, yaitu pupuk SP-36 300 kg/ha (P1) dan batuan fosfat yang setara dengan 300 kg/ha SP-36 (P2). Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varian dengan α = 5 %. Apabila perlakuan menunjukkan perbedaan yang nyata, dilanjutkan dengan uji jarak Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan α = 5 %.Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara perlakuan pemberian JMA, pupuk SP-36, dan takaran kompos 20 ton/ha merupakan kombinasi terbaik dalam menghasilkan berat segar tajuk, berat kering tajuk, dan berat kering total tanaman tebu pada umur 80 hst. Tidak terdapat interaksi antar perlakuan pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah ruas batang, panjang ruas batang, jumlah anakan, luas daun, volume akar, berat segar akar, berat segar total, dan berat kering akar. Perlakuan pemberian JMA memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan tanpa JMA pada komponen pertumbuhan tanaman tebu secara umum. Perlakuan takaran kompos 20 ton/ha memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan takaran kompos 10 ton/ha pada komponen pertumbuhan tanaman tebu secara umum.Kata kunci: JMA, tebu, pupuk fosfat, kompos, media pasir pantai