Vegetalika
Not a member yet
487 research outputs found
Sort by
Kajian Fungsi Ruang Hijau Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis vegetasi dan fungsi ruang hijau Fakultas Pertanian (FPN) Universitas Gadjah Mada (UGM), mengetahui pendapat dan keinginan civitas akademika Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada tentang pengembangan taman kampus pertanian, dan membuat konsep pengembangan ruang hijau Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada sebagai taman kampus pertanian. Fungsi ruang hijau yang diamati adalah fungsi pendidikan, pengendali iklim mikro, identitas (Lokal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Kampus Pertanian), produksi, estetika, sosial, dan habitat satwa. Penelitan dilakukan dengan 3 tahap, yaitu observasi dan pengumpulan data (fisik dan sosial), analisis data, dan pembuatan konsep pengembangan ruang hijau Fakultas Pertanian UGM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 95 jenis tumbuhan yang terdiri dari 58 jenis pohon, 18 jenis perdu, 12 jenis semak, dan 7 jenis tanaman penutup tanah. Civitas akademika FPN UGM berpendapat bahwa fungsi ruang hijau FPN UGM sebagai pengendali iklim mikro dan habitat satwa cukup baik. Fungsi pendidikan, identitas (lokal DIY dan kampus pertanian), produksi, estetika, dan sosial di ruang hijau FPN UGM masih kurang baik dan perlu dikembangkan. Pengembangan yang perlu dilakukan berupa penataan dan penambahan elemen lanskap (vegetasi dan elemen perkerasan) yang mendukung setiap fungsi. Konsep pengembangan ruang hijau FPN UGM meliputi konsep ruang, tipe aktivitas, vegetasi dan elemen perkerasan. Konsep ruang meliputi ruang penerimaan, ruang aktivitas aktif dan pasif, dan ruang penyangga. Ruang penerimaan merupakan pintu masuk menuju area ruang hijau FPN direncanakan memiliki fasilitas parkir, papan informasi FPN, dan tempat duduk. Vegetasi yang ditanami adalah vegetasi yang berfungsi terutama sebagai pengendali iklim mikro dan identitas kampus pertanian. Ruang aktivitas direncakan memiliki fasilitas shelter, tempat duduk, meja, koneksi wifi, dan sambungan listrik. Vegetasi pada area ini dipilih yang terutama memiliki fungsi pengendali iklim mikro, habitat satwa, pendidikan, dan estetika, seperti Sengon buto (Enterolobium cyclocarpum), Sawo bludru (Chrysophyllum cainito L), Kembang merak (Caesalpinia pulcherrina), Bunga asar (Mirabilis jalapa). Ruang penyangga dipergunakan sebagai pendukung zona aktivitas dan konservasi taman agar ekosistem tetap terjaga. Vegetasi pada area ini adalah vegetasi yang memiliki fungsi utama sebagai pengendali iklim mikro, identitas, dan habitat satwa, seperti Sirsak (Annona muricata), Sawo (Manilkara zapota), Srikaya (Annona squamosa), dan Jambu darsono (Eugenia malaccensis).Kata kunci : Ruang Terbuka Hijau, Ruang Hijau, Ruang Terbuka Hijau Kampu
Keragaan Pertumbuhan dan Rendemen Lima Klon Tebu (Saccharum officinarum L.) di Ultisol, Vertisol, dan Inceptisol
Peningkatan konsumsi gula belum dapat diimbangi oleh produksi gula dalam negeri. Dalam dua dasawarsa terakhir, penanaman tebu bergeser dari lahan sawah subur ke lahan kering. Terdapat beragam jenis tanah lahan kering, namun Ultisol, Vertisol, dan Inceptisol merupakan tanah-tanah yang utama lahan kering Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keragaan pertumbuhan dan rendemen lima klon tebu di tanah Ultisol, Vertisol, dan Inceptisol. Penelitian ini menggunakan rancangan perlakuan faktorial 3×5 dalam rancangan lingkungan acak lengkap yang diulang 3 kali. Faktor pertama merupakan jenis tanah yang terdiri dari Ultisol (T1), Vertisol (T2), dan Inceptisol (T3) dan faktor keduanya merupakan 5 klon tebu yaitu klon PSJT 941 (K1), VMC 86-550 (K2), BL (K3), PS 881 (K4), PS 864 (K5). Setiap unit percobaan terdiri atas 3 pot dan tiap pot ditanami 1 tanaman tebu. Sifat yang diamati meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah ruas, jumlah anakan, berat segar akar, berat kering akar, berat batang, brix tebu, pol tebu, dan rendemen. Keragaan lima klon tebu berdasarkan tinggi tanaman, diameter batang, kandungan brix, kandungan pol, dan rendemen tergantung jenis tanah. Klon tebu yang beradaptasi luas berdasarkan hasil uji Eberhart Russel dan diperkuat dengan GGE biplot atas dasar kandungan pol adalah Bululawang. Klon tebu yang beradaptasi khusus di tanah ultisol berdasarkan hasil uji Eberhart Russel dan diperkuat dengan GGE biplot atas dasar rendemen adalah PS 881, PS 864 di Vertisol, dan VMC 86-550 di Inceptisol.Kata kunci : jenis tanah, klon tebu, adaptabilita
Karakter Morfologi dan Sitologi Tanaman Bawang Daun (Allium fistulosum L.) Hasil Induksi Kolkisina pada Generasi Vegetatif Kedua
Salah satu cara untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman bawang daun adalah dengan induksi poliploid dengan kolkisina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter morfologi dan sitologi tanaman bawang daun (Allium fistulosum L.) hasil induksi kolkisina vegetatif kedua dan mengetahui perbandingan karakter morfologi dan sitologi pada tanaman bawang daun (Allium fistulosum L.) aneuploid dengan diploid. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2012 hingga Desember 2012 di rumah kawat, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada dan di Laboratorium Ilmu Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Bahan tanam yang digunakan adalah tanaman bawang daun sejumlah 119 nomor tanaman yang terdiri dari 2 kultivar yaitu kultivar Fragrant berjumlah 76 nomor dan kultivar Lambau berjumlah 43 nomor dengan ulangan tak sama, yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap. Data dianalisis dengan analisis kontras ortogonal dengan tingkat kepercayaan 95%. Dari penelitian diperoleh 2 nomor yang memiliki jumlah kromosom 2n+1 = 17 dan terdapat 1 nomor yang memiliki jumlah kromosom 2n +2 =18. Kultivar Fragrant memiliki 1 nomor tanaman aneuploid dan 2 nomor tanaman lainnya berasal dari kultivar Lambau. Pada vegetatif kedua, tanaman bawang daun Fragrant memiliki tinggi tanaman dan diameter batang yang lebih besar daripada kultivar Lambau. Tanaman bawang aneuploid Fragrant memiliki diameter batang lebih besar, akar yang lebih pendek dibandingkan tanaman diploid Fragrant. Tanaman bawang daun Lambau aneuploid memiliki karakter morfologi yang sama dengan tanaman bawang Lambau diploid. Karakter stomata tidak dapat untuk membedakan tanaman aneuploid dan diploid.Kata kunci : Allium fistulosum L., bawang daun, kolkisina, aneuploid
Keragaman Molekuler pada Tanaman Lili Hujan (Zephyranthes spp.)
Identifikasi molekuler dengan menggunakan penanda RAPD pada tanaman lili hujan yang tumbuh di Indonesia belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, perlu dilakukan karakterisasi keragaman genetik dari tanaman lili hujan yang tumbuh di Indonesia sebagai penelitian awal untuk program pemuliaan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung keragaman genetik dari tiga jenis tanaman lili hujan dengan teknik RAPD dan menghitung jarak genetik tanaman lili hujan berdasarkan informasi keragaman penanda genetik. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni - Oktober 2014 di Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Penelitian dilakukan dengan menggunakan tanaman lili hujan yang memiliki warna bunga pink, putih, dan kuning yang diambil dari tiga lokasi berbeda untuk masing-masing warna. Setiap lokasi diambil tiga tanaman sampel untuk masing-masing warna. Penanda genetik yang digunakan adalah analisis RAPD dengan menggunakan 11 primer terpilih yaitu OPA2, OPA 9, OPA 11, OPA 16, OPA 18, OPB 10, OPB 19, OPC 5, OPC 7, OPC 10, dan OPD 5. Hasil analisis keragaman genetik dengan menggunakan 11 primer menunjukkan bahwa persentase keragaman dalam populasi lebih tinggi dibandingkan dengan keragaman antar populasi pada 27 individu tanaman lili hujan. Nilai keragaman genetik tanaman lili hujan yang berwarna kuning adalah 0,1388; tanaman lili hujan yang berwarna pink adalah 0,1291; dan tanaman lili hujan yang berwarna putih adalah 0,1231. Rentang jarak genetik pada 27 individu tanaman lili hujan berkisar antara 0,59 hingga 0,03. Jarak genetik antara tanaman berwarna pink dan putih adalah 0,3 dan jarak genetik antara tanaman berwarna kuning dengan tanaman berwarna pink dan putih adalah 0,03. Berdasarkan analisis jarak genetik dan PCoA jenis tanaman lili hujan yang berwarna kuning memiliki keragaman yang lebih tinggi dibandingkan jenis tanaman lili hujan yang berwarna pink dan putih.Kata kunci : keragaman, lili hujan, jarak genetik, RAP
Pengaruh Takaran Pupuk Kandang dan Intensitas Cahaya Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Temu Putih (Curcuma zedoaria L.).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh takaran pupuk kandang dan intensitas cahaya atau kombinasinya terhadap pertumbuhan dan hasil temu putih dan mendapatkan kombinasi yang optimal antara takaran pupuk kandang dengan intensitas cahaya bagi pertumbuhan dan hasil temu putih. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Banguntapan, Bantul, Yogyakarta pada bulan Maret sampai dengan Juli 2012. Percobaan menggunakan rancangan 4 x 3 faktorial yang diatur dalam Rncangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah intensitas cahaya yang terdiri dari 4 aras yaitu intensitas cahaya 100%, intensitas cahaya 75%, intensitas cahaya 50%, dan intensitas cahaya 25%. Faktor kedua adalah takaran pupuk kandang yang terdiri dari 3 aras yaitu tanpa pupuk kandang, 150 g/polybag, dan 300 g/polybag. Analisis data dilakukan dengan analisis varian pada tingkat kepercayaan 95%. Jika terjadi beda nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple’s Range Test (DMRT) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara perlakuan intensitas cahaya dengan takaran pupuk kandang pada tinggi tanaman temu putih. Pemberian kombinasi perlakuan dengan intensitas cahaya 25% dan takaran pupuk kandang 300 g/polybag pada pertanaman temu putih menghasilkan tinggi tanaman, berat segar tanaman, berat kering tanaman, luas daun, laju pertumbuhan tanaman, dan indeks panen paling tinggiKata kunci : Intensitas cahaya, takaran pupuk kandang, pertumbuhan dan hasil, temu puti
Evaluasi Karakter Kualitatif Cabai Hias Generasi F1 Hasil Persilangan Capsicum annuum × Capsicum frutescens
Beberapa jenis cabai dapat digunakan sebagai tanaman hias. Cabai hias secara morfologis sangat beragam dan dikagumi karena nilai keindahannya. Cabai hias tidak terbatas pada tanaman hias dalam pot. Keanekaragaman pada spesies Capsicum terdapat pada habitus tanaman, bentuk dan ukuran buah serta orientasinya. Keanekaragaman ini merupakan potensi yang sangat besar dalam pengembangan kultivar cabai hias baru. C. frutescens dan C. annuum berpotensi untuk dikembangkan sebagai cabai hias. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakter kualitatif cabai hias generasi F1 hasil persilangan Capsicum annuum × Capsicum frutescens seperti karakter habitus tanaman, orientasi bunga, warna mahkota bunga, orientasi buah, warna buah muda, dan bentuk buah. Dalam penelitian ini tanaman tetua yang digunakan adalah kultivar rawit lokal dari Karanganyar (A) (C. frutescens), ‘Red Cherry Pepper’ (RCP) (C. annuum), ‘Bolivian Rainbow’ (BR) (C. annuum), dan ‘Fish Pepper’ (FP) (C. annuum). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa persilangan A×RCP, A×BR, A×FP dan resiproknya mempunyai habitus tanaman dan orientasi bunga tegak, bentuk buah segitiga. Persilangan A×BR, A×FP dan resiproknya mempunyai mahkota bunga putih tepi ungu, orientasi buah tegak, warna buah muda ungu, sedangkan hasil persilangan A×RCP dan resiproknya mempunyai mahkota bunga putih, orientasi buah datar, warna buah muda hijau.Kata kunci : cabai hias, Capsicum annuum, Capsicum frutescens, karakter kualitati
Jenis dan Fungsi Tanaman di Jalur Hijau Jalan Affandi, Jalan Laksda Adisucipto, Jalan Babarsari, Jalan Perumnas Seturan, dan Jalan Ring Road Utara (ALABSeRi), Yogyakarta
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi vegetasi di sepanjang Jalan Affandi, Jalan Laksda Adisucipto, Jalan Babarsari, Jalan Perumnas Seturan, dan Jalan Ring Road Utara (ALABSeRi), mengkaji fungsi estetika dan peneduh penghijau jalan di sepanjang ALABSeRi, dan membuat rekomendasi penataan penghijauan jalan yang nyaman dan estetis. Penelitian ini mulai dari persiapan, pengambilan data sampai olah data dilaksanakan di sepanjang ALABSeRi pada bulan Juli - Desember 2012, dengan menggunakan metode transect line, kemudian dilanjutkan dengan metode survei. Dari identifikasi yang dilakukan, didapatkan 32 jenis tanaman yang terdiri atas 16 jenis pohon, 4 jenis perdu, dan 12 jenis semak. Berdasarkan kuisioner yang disebarkan, rasa keindahan lingkungan di sepanjang ALABSeRi memiliki rata-rata nilai 3 (biasa saja), rasa kenyamanan memiliki rata-rata nilai 2 (tidak nyaman), rasa sejuk dan panas memiliki rata-rata nilai 2 (panas), dan keteduhan lingkungan di sepanjang ALABSeRi memiliki rata-rata nilai 3 (tidak teduh). Oleh karena itu di Jalur Hijau ALABSeRi membutuhkan penataan dan pemilihan jenis tanaman supaya keindahan dan kenyamanannya meningkat.Kata kunci: ALABSeRi, identifikasi, fungsi estetika dan penedu
Pengaruh Tingkat Kerapatan Teki (Cyperus rotundus L.) Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Dua Habitus Wijen (Sesamum indicum L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kerapatan teki terhadap pertumbuhan dan hasil wijen bercabang dan tidak bercabang. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Tridharma, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada yang berlokasi di Banguntapan, Bantul dari bulan September 2013 sampai Februari 2014. Rancangan percobaan yang digunakan ialah Rancangan Acak Kelompok Lengkap faktorial. Faktor pertama tingkat kerapatan teki yang mempunyai empat aras, yaitu teki tanpa wijen, tingkat kerapatan rendah (20 umbi per 961,625 cm2), tingkat kerapatan sedang (40 umbi per 961,625 cm2), dan tingkat kerapatan tinggi (60 umbi per 961,625 cm2) sedangkan faktor kedua jenis tanaman wijen yang mempunyai tiga aras, yaitu tanaman wijen tanpa teki, tanaman wijen bercabang, dan tanaman wijen tidak bercabang. Semakin tinggi kerapatan teki semakin menghambat pertumbuhan dan meningkatkan kehilangan hasil wijen bercabang dan tidak bercabang. Teki dengan tingkat kerapatan rendah menyebabkan kehilangan hasil biji per tanaman wijen bercabang (20,50%) dan wijen tidak bercabang (51,38%). Teki dengan tingkat kerapatan sedang menyebabkan kehilangan hasil biji per tanaman wijen bercabang (32,00%) dan wijen tidak bercabang (52,17%). Teki dengan tingkat kerapatan tinggi menurunkan hasil biji per tanaman wijen bercabang (32,48%) dan tanaman wijen tidak bercabang (72,64%). Tanaman wijen tidak bercabang lebih peka terhadap kerapatan teki dibandingkan dengan tanaman wijen tidak bercabang.Kata Kunci : wijen, Cyperus rotundus L, kerapatan, kompetis
Pengaruh Takaran Vinasse dan Posisi Penanaman Mata Tunas Tunggal terhadap Pertumbuhan Bibit Tebu (Saccharum officinarum L.)
Penelitian yang berjudul Pengaruh Takaran Vinasse dan Posisi Penanaman Mata Tunas Tunggal terhadap Pertumbuhan Bibit Tebu (Saccharum officinarum L.) ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh posisi penanaman mata tunas tunggal (vertikal, miring, dan horizontal) dan aplikasi takaran vinasse yang tepat terhadap pertumbuhan tanaman tebu. Penelitian lapangan dilakukan pada bulan Mei – September 2014 di Kebun Percobaan Tridharma, Universitas Gadjah Mada, yang berlokasi di Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah posisi penanaman mata tunas tunggal yaitu vertikal, miring, dan horizontal. Faktor kedua adalah takaran vinasse yang terdiri dari 4 aras yaitu 0 (kontrol), 30.000, 60.000, dan 90.000 l/ha yang diulang sebanyak 3 kali.Hasil penelitian menunjukkan bahwa, baik perlakuan posisi penanaman mata tunas tunggal maupun perlakuan takaran vinasse tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman tebu, juga tidak diperoleh kombinasi posisi penanaman mata tunas tunggal dan takaran vinasse optimum. Kombinasi yang menunjukkan pertumbuhan akar terbaik adalah posisi penanaman mata tunas tunggal miring pada pemberian takaran vinasse 0 (T2V1), posisi penanaman mata tunas tunggal miring pada pemberian takaran vinasse 60.000 l/ha (T2V3), dan posisi penanaman mata tunas tunggal vertikal pada pemberian takaran vinasse 60.000 l/ha (T1V3). Akan tetapi, variabel pertumbuhan akar tersebut belum diikuti dengan pertumbuhan tajuk yang lebih baik.Kata kunci: vinasse, mata tunas tunggal, pertumbuhan bibit, tebu, limba
Kesesuaian Tanaman Ganyong (Canna indica L.), Suweg (Amorphophallus paeoniifolius (Dennst.) Nicolson), dan Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz) pada Agroforestri Perbukitan Menoreh
Penelitian betujuan untuk 1) mendapatkan kelas kesesuaian lahan tanaman ganyong, suweg dan ubi kayu, dan 2) mendapatkan kadar amilum yang dihasilkan oleh ganyong, suweg dan ubi kayu dalam sistem agroforestri pada beberapa zona ketinggian Pebukitan Menoreh. Penelitian dilakukan dengan metode survei berdasarkan strata ketinggian (stratified random sampling) pada tiga zona di Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, yaitu zona bawah (300-500 mdpl), tengah (500-700 mdpl), dan atas (700-900 mdpl). Pengamatan dilakukan terhadap variabel iklim mikro, karakter fisika dan kimia tanah serta kandungan amilum dalam umbi ganyong, suweg dan ubi kayu. Kelas kesesuaian lahan menurut FAO dan Sys ditentukan dengan pendekatan analisis mempautkan yaitu membandingkan syarat tumbuh tanaman dengan kualitas lahan menggunakan tabel matching. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa menurut sistem FAO, ganyong memiliki sub kelas kesesuaian lahan aktual N1mpada ketiga zona, serta sub kelas kesesuaian lahan potensial S3mdi zona bawah dan S3wm di zona tengah dan atas. Suweg memiliki sub kelas kesesuaian lahan aktual S3m pada zona bawah dan tengah, serta N1mpada zona atas. Sub kelas kesesuaian lahan potensial untuk suweg adalah S3m di zona bawah dan atas, serta S2m di zona tengah. Ubi kayu memiliki sub kelas kesesuaian lahan aktual N1mpada ketiga zona, dan sub kelas kesesuaian lahan potensial S3mdi zona bawah dan S3m di zona tengah serta atas. Urutan kesesuaian lahan menurut Sys untuk masing-masing komoditas adalah zona tengah-bawah-atas. Kadar amilum ganyong, suweg dan ubi kayu pada ketiga zona tidak berbeda nyata. Kata kunci : agroforestri, zona ketinggian dan amilu