Vegetalika
Not a member yet
487 research outputs found
Sort by
KARAKTERISASI DUA PULUH PADI (Oryza sativa. L.) LOKAL DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Padi (Oryza sativa L.) adalah salah satu tanaman penting karena merupakan sumber makanan pokok untuk sebagian besar manusia. Kualitas dan kuantitas hasil tanaman padi penting untuk terus ditingkatkan demi memenuhi kebutuhan pangan. Proses pemuliaan tanaman memerlukan informasi dari tetua yang akan digunakan. Karakterisasi dilakukan untuk mengetahui deskripsi atau karakter yang dimiliki oleh suatu tanaman. Informasi keragaman genetik diperlukan dalam proses pemuliaan tanaman. Informasi tentang karakter suatu tanaman sangat dibutuhkan untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki serta menghilangkan karakter yang tidak diinginkan dengan tujuan perbaikan varietas. Di Daerah Istimewa Yogyakarta banyak kultivar padi lokal yang perlu dilakukan identifikasi untuk mengetahui karakter dan potensi yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakter morfologi dua puluh kultivar padi lokal di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kultivar- kultivar tersebut diidentifikasi berdasar sifat morfologinya. Karakter yang diamati yaitu tinggi tanaman, warna telinga daun, bentuk dan warna lidah daun, warna helaian daun, warna pelepah daun, warna ruas dan buku batang, sudut batang, tinggi batang, tipe malai, keluarnya malai, cabang malai sekunder, warna kepala putik, jumlah dan berat gabah isi per malai, fertilitas gabah, kerontokan, bentuk dan warna gabah, bobot 100 butir dan bentuk dan warna beras. Data hasil pengamatan karakter morfologi dianalisis gerombol meggunakan SAS sehingga diperoleh dendogram. Berdasarkan hasil analisis, umur tanaman dapat dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama (116-120 hari) yaitu Andel hitam 1, Sentani, Cempo merah, Mariti merah, Hitam mujiono, Merah pepen, Segreng, da Andel merah. Kelompok kedua (121-130 hari) yaitu Rojolele, Mandala, Rojolele Gebyok, Jepang, Padi hitam batul da Mentik wangi. Kelompok ketiga (131-140 hari) yaitu Rojolele genjah, Ho-ing inbuh, Mutiara, Ho-ing batag biru, Sedani dan Cempo kenaga. Dari hasil analisis Bobot gabah isi per rumpun didapatkan 4 kelompok. Kelompok pertama yaitu (≤ 50 gram per rumpun) yaitu Hitam Mujiono, Mandala, Sentani, Cempo kenanga, Mariti merah, Andel Hitam 1, dan Sedani. Kelompok kedua (51-60 gram per rumpun) yaitu Merah pepen, Rojolele gebyok, Padi hitam Bantul, Andel merah, Jepang, Mentik Wangi dan Ho-ing batang biru. Kelompok ketiga (61-90 gram per rumpun) yaitu Rojolele genjah, Ho-ing inbuh, Rojolele, Segreng dan Cempo merah. Kelompok keempat (> 90 gram per rumpun) yaitu Mutiara
STABILITAS HASIL PUCUK TUJUH KLON HARAPAN TEH (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) DI KEBUN KAYULANDAK
Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang hasil pucuk tujuh klon harapan teh yang memiliki produksi tinggi di kebun Kayulandak, PT. Pagilaran. Penelitian dilakukan di kebun Kayulandak PT. Pagilaran, Kabupaten Batang, Jawa Tengah pada bulan Maret 2015. Percobaan menggunakan rancangan RAKL (Rancangan Acak Kelompok Lengkap) dengan empat ulangan (blok). Klon yang digunakan dalam penelitian adalah klon kelompok PGL yaitu PGL 04, PGL 09, PGL 10, PGL 15 dan klon kelompok yang lain yaitu TRI 2025, PS 1, GMB 07. Parameter yang diamati jumlah pucuk peko, berat pucuk peko, jumlah pucuk burung, berat pucuk burung tahun 2011, 2012, dan 2013. Data tambahan yang digunakan yaitu data curah hujan selama sepuluh tahun mulai dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2013. Data produksi teh diuji dengan menggunakan Analysis of Vaariance (ANOVA) dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf error 5%. Data juga dianalisis stabilitasnya menggunakan GGE Biplot. Klon teh yang memiliki potensi hasil berat total pucuk segar tertinggi yaitu klon PGL 04, TRI 2025, dan PGL 09, sedang klon penghasil pucuk peko yang mengindikasikan kualitas pucuk terbaik adalah klon PS 1 dan GMB 07. Klon yang mempunyai rerata hasil tinggi dan mempunyai stabilitas tinggi, serta termasuk dalam klon yang diinginkan yaitu klon PGL 04
PENGARUH TAKARAN KOMPOS BLOTONG DAN UMUR SIMPAN MATA TUNAS TUNGGAL TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TEBU (Saccharum officinarum L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kombinasi perlakuan takaran kompos blotong dan umur simpanmatatunas tunggal (budchip) terhadap pertumbuhan bibit tebu. Penelitian ini merupakan penelitian pot, dilaksanakan di Kebun Percobaan Tridharma, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada di Banguntapan, Yogyakarta pada tanggal 6 Februari hingga 1 Mei 2014. Penelitian ini merupakan rancangan percobaan faktorial 4x4, dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) 3 ulangan. Faktor pertama adalah perlakuan umur simpan budchip, yaitu 0 (kontrol); 1; 2; dan 3 hari. Faktor kedua adalah takaran kompos blotong, yaitu 0 (kontrol); 1,67; 3,33; dan 5 kg.Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tumbuh tanaman menurun seiring dengan lamanya waktu penyimpanan budchip. Persentase daya tumbuh budchip yang disimpan 0, 1, 2, dan 3 hari berturut-turut sebesar 100%, 100%, 44,44%, dan 0%. Budchip memiliki cadangan makanan yang sedikit dan jaringan terbuka yang luas pada bekas pemotongan sehingga persentase perkecambahannya cepat menurun. Tidak terdapat interaksi antara perlakuan umur simpan budchip dengan takaran kompos blotong pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah ruas batang, panjang ruas batang, dan jumlah anakan pada semua umur pengamatan. Berdasarkan hasil pengamatan tanaman korban 12 mst, terdapat interaksi antara perlakuan umur simpan budchip dengan takaran kompos blotong pada parameter berat segar tajuk dan berat kering tajuk, namun tidak terdapat interaksi pada parameter panjang akar, jumlah akar, berat segar akar, berat segar total, luas daun, berat kering akar, berat kering total, klorofil a, klorofil b, dan klorofil total. Analisis regresi pada beberapa parameter pengamatan menghasilkan persamaan linier yang berarti kenaikan takaran kompos blotong diikuti kenaikan pertumbuhan bibit tebu. Peningkatan takaran kompos blotong yang diberikan memberikan hasil yang lebih baik terhadap pertumbuhan bibit tebu. Umur simpan budchip yang menghasilkan bibit tebu dengan pertumbuhan bibit tebu terbaik adalah perlakuan penyimpanan satu hari
HUBUNGAN ANTARA KOMPONEN HASIL DAN HASIL WIJEN (Sesamum Indicum L.)
Dalam rangkaian program pemuliaan tanaman untuk meningkatkan produktivitas wijen, informasi keragaman dan hubungan antar sifat sangat penting untuk menentukan keberhasilan seleksi. Oleh karena itu, penelitian untuk mengetahui besarnya keragaman genetik pada komponen hasil dan hasil wijen, serta mengetahui komponen hasil yang berpengaruh langsung terhadap hasil wijen merupakan kajian yang sangat penting. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2012 di Padangan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan bahan tanam adalah benih tetua SBR3, SBR2, Turki DT36, F1 dan F2 hasil persilangan antara SBR3 x SBR2, SBR3 x Turki DT36, SBR2 x Turki DT36 dan resiproknya. Benih ditanam secara rapat pada petak-petak sesuai dengan galurnya. Hasil penelitian menunjukkan komponen yang memiliki keragaman besar secara berturut-turut yaitu berat biji per tanaman (68,43%), berat polong (40,532%), jumlah cabang (33,251%), jumlah polong (30,269%), tinggi tanaman (21,256%), dan jumlah ruas (15,511%). Nilai heritabilitas tinggi terdapat pada tinggi tanaman (65,52%) dan umur panen (55,00%). Nilai heritabilitas sedang terdapat pada jumlah ruas (21,91%), umur berbunga (44,68%), berat biji per tanaman (27,05%). Komponen hasil yang berkorelasi positif nyata terhadap hasil adalah tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah polong, berat polong, jumlah ruas, dan umur berbunga. Komponen hasil yang memiliki pengaruh langsung terhadap hasil adalah tinggi tanaman, jumlah polong, berat polong, umur berbunga, dan berat 1000 biji. Kelima komponen hasil tersebut dapat dijadikan indek seleksi terhadap hasil
HUBUNGAN KOMPONEN HASIL DAN HASIL TIGA BELAS KULTIVAR KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.)
Penelitian bertujuan untuk 1) untuk mencari hubungan antara hasil dan komponen hasil berbagai kultivar kedelai, 2) untuk menentukan variabel komponen hasil yang memiliki hubungan paling erat dengan hasil beberapa kultivar kedelai, dan 3) untuk mendapatkan kultivar kedelai dengan hasil yang tinggi. Penelitian lapangan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor tunggal yang diuji adalah tiga belas kultivar kedelai yaitu Anjasmoro, Kaba, Argomulyo, Mahameru, Baluran, Muria, Burangang, Sinabung, Gema, Tanggamus, Gepak Kuning, Wilis dan Ijen. Hasil penelitian menunjukkan kultivar tanggamus merupakan kultivar yang memiliki hasil terbaik jika dibandingkan dengan kedua belas kultivar yang diuji hal ini terlihat dari data statistik yang menunjukkan hasil biji per tanaman yang paling tinggi. Variabel jumlah jumlah cabang, jumlah biji dan berat 100 biji adalah komponen hasil yang memilki hubungan erat terhadap hasil kedelai
Keragaan dan Keragaman Tanaman Bunga Kertas (Zinnia elegans Jacq) Generasi M5 Hasil Irradiasi Sinar X
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan serta keragaman sifat yang dihasilkan tanaman bunga kertas (Zinnia elegans Jacq) hasil iradiasi sinar X pada generasi M5 setelah dilakukan kegiatan seleksi. Penelitian dilakukan di kebun percobaan Banguntapan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada bulan April 2010 sampai dengan bulan November 2010. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan lingkungan berupa rancangan tersarang (nested design) dengan ulangan tidak sama. Bahan tanam yang digunakan berasal dari 27 nomor tanaman bunga kertas (Zinnia elegans) open pollinated yang merupakan seleksi dari kuntum bunga tanaman terpilih generasi M4. Seleksi didasarkan pada kesamaan warna yaitu red group dan red purple group yang bunga pitanya berbentuk double dan pompom. Pada penelitian ini terjadi penurunan nilai varian pada karakter bentuk bunga double dan bentuk bunga pompom serta pada warna red group dari populasi M4 ke populasi M5. Pada semua karakter kuantitatif yang diamati tidak terdapat nilai heritabilitas yang tinggi. Terdapat kemunculan beberapa karakter fenotipik baru seperti munculnya pita bunga baru yang “bertingkat” pada kuntum bunga, adanya gradasi warna pada bunga pita, serta bentuk daun yang tidak normal.Kata kunci: Zinnia elegans Jacq, seleksi, keragaan, keragaman, generasi M5
Keragaan 29 Galur Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) Pada Kondisi Salin
Kacang tanah merupakan salah satu komoditi pangan penting di Indonesia karena pemanfaatannya sebagai bahan pangan, pakan dan bahan baku industri. Salah satu penyebab rendahnya produksi kacang tanah ialah penyusutan area penanaman akibat alih fungsi lahan. Penggunaan kultivar tahan cekaman salinitas pada lahan marginal pasir pantai merupakan usaha peningkatan produksi kacang tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cekaman salinitas terhadap keragaan dan hasil 29 galur kacang tanah serta mencari galur yang memiliki hasil tinggi dan dapat dibudidayakan di lahan salin. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan kombinasi perlakuan 29 galur kacang tanah M6 dan 4 kultivar pembanding, serta 7,00 gram/liter NaCl dan kontrol sebagai faktor cekaman salinitas dengan 5 ulangan. Hasil peneliatian menunjukkan cekaman salinitas mempengaruhi sifat agronomi dan hasil yang meliputi gaya berkecambah, panjang radikula, jumlah tanaman hidup pada 6 minggu setelah tanam, jumlah tanaman hidup saat panen, tinggi tanaman, jumlah cabang produktif, umur berbunga, umur panen, jumlah polong, jumlah polong isi, berat segar akar, berat segar tajuk, berat segar polong, berat kering tajuk, berat kering polong, dan indeks panen. Bantul 30.16 dan Kelinci 20.39 kemungkinan besar memiliki ketahanan terhadap cekaman salinitas berdasarkan nilai Indeks Ketahanan Cekaman Salinitas. Kata kunci: Kacang tanah, cekaman salinitas, Indeks Ketahanan Cekaman Salinita
Pengaruh Kadar CaCl2 Terhadap Pematangan dan Umur Simpan Buah Sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar CaCl2 terhadap pematangan dan umur simpan buah sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen) dan mendapatkan kadar CaCl2 yang terbaik dalam memperpanjang umur simpan buah sawo tanpa menurunkan mutu buahnya. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hortikultura, Universitas Gadjah Mada pada bulan Juli sampai Agustus 2014 dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Ada lima kadar CaCl2 yang digunakan, yaitu larutan CaCl2 kadar 0%, 2%, 4%, 6% dan 8%. Buah sawo direndam dalam larutan selama 60 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman buah sawo dalam air (kadar 0%) dan larutan CaCl2 berkadar 4% dan 6% dapat menghambat pematangan dan memperpanjang umur simpan buah sawo selama satu hari tanpa mengubah kualitasnya saat buah matang, kecuali visual quality rating (VQR).Kata kunci: Sawo, CaCl2, pematangan, umur simpan
Hubungan Hasil dan Komponen Hasil Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Populasi F5
Tujuan penelitian adalah mengukur nilai heritabilitas dan mengetahui keeratan hubungan antara komponen hasil dengan hasil sehingga dapat dijadikan kriteria seleksi dalam pembentukan kultivar kedelai. Keeratan hubungan dianalisis melalui penggunaan analisis korelasi dan analisis lintas. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juni 2014 di Kebun Percobaan Jambegede, Malang, di bawah Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang terdiri dari 125 perlakuan (galur) dengan 2 ulangan. Komponen hasil yang diamati meliputi tinggi tanaman, umur berbunga, umur masak, jumlah cabang, jumlah buku subur, jumlah polong isi per tanaman, jumlah polong hampa per tanaman, berat 100 biji, dan berat biji per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh karakter yang diamati memliki nilai heritabilitas yang tinggi kecuali jumlah cabang dan jumlah polong hampa. Karakter tinggi tanaman dan jumlah polong isi dapat digunakan sebagai kriteria seleksi. Kedua karakter ini memiliki nilai variabilitas, heritabilitas yang tinggi dan korelasi yang kuat serta pengaruh langsung yang tinggi terhadap berat biji per tanaman (hasil).Kata kunci : kedelai, heritabilitas, korelasi, pengaruh langsung dan tidak langsung, kriteria seleks
Evaluasi Interaksi Genotipe dan Lingkungan Enam Galur Mutan Harapan Tomat (Solanum lycopersicum L.) di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi
Interaksi genotipe dan lingkungan sangat penting dalam membuat rekomendasi tentang galur yang akan didaftarkan. Kultivar dapat dikelompokkan menjadi kelompok yang mampu beradaptasi secara luas dan kelompok yang beradaptasi sempit (spesifik). Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan galur mutan harapan tomat berdaya hasil tinggi di empat kondisi lingkungan yang berbeda. Enam galur harapan tomat yang digunakan yaitu G20-1/13/25/28/16/13/5, G20-1/13/25/26/24/11/16, G40-2/19/9/19/12/13/7, G40-3/15/23/22/13/13/6, G60-3/9/12/34/12/14/16, G60-3/15/15/1/13/6/9 dan ‘Intan’ sebagai wild type disusun dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan tiga blok sebagai ulangan. Lingkungan yang digunakan yaitu yang pertama Kalitirto periode tanam ke-1, Kalitirto periode tanam ke-2, Ngipiksari periode tanam ke-1 dan Ngipiksari periode tanam ke-2 dilaksanakan pada bulan Maret-Juli 2014. Hasil penelitian menunjukkan interaksi genotipe dan lingkungan galur mutan harapan tomat terjadi pada sifat tinggi tanaman, diameter batang, fruitset, jumlah buah per tandan, jumlah tandan buah per tanaman dan bobot buah per butir. Menurut analisis Eberhart dan Russell (1966) galur yang stabil dan mempunyai daya hasil melebihi rerata umumnya adalah galur G20-1/13/25/26/24/11/16, G40-2/19/9/19/12/13/7, G60-3/9/12/34/12/14/16 dan G60-3/15/15/1/13/6/9.Kata kunci : galur mutan, tomat, Eberhart & Russell (1966), stabilita