487 research outputs found

    Yield Stability and Resistance of Five Melon Genotypes (Cucumis melo L.) Cultivated On Three Altitude Areas

    No full text
    The study was conducted to determine the yield stabilities of five melon varieties tested at three altitude areas and to obtain a variety of melon whose yield and stability exceed at three altitude areas. The study examined five melon varieties, namely 'Golden Aroma', 'Ladika', King Melon, Bravo, and M19 at three altitudes, namely Jombang (lowland 52 m dpl), Jiput (mediumland 460 m dpl), and Bojong (highland 776 m dpl) using a complete randomized block design (RAKL) with four replicates (blocks). The study was conducted during the rainy season in October 2016-January 2017 (in Jombang), November 2016-February 2017 (in Jiput), and March 2017-June 2017 (in Bojong). The results showed that the varieties that had yield per hectare and genotype resistance to the environment exceeded the general average were the varieties of King Melon and Bravo, although both of them were unstable at three altitude areas. Average yield per hectare for King Melon (19.33 ton/ha) and Bravo (18.21 ton/ha) and genotype resistance to the environment for King Melon (65.42%) and Bravo (56.25%) were superior to the commercial varieties of 'Golden Aroma' and 'Ladika' and able to compete with national melon yields in 2013 (17.71 ton/ha) and 2014 (18.37 ton/ha)

    Pengaruh Jenis Pupuk Kandang dan Konsentrasi Paklobutrazol terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kacang Tanah (Arachis Hypogaea L.)

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan kombinasi jenis pupuk kandang dan konsentrasi paklobutrazol yang sesuai untuk pertumbuhan dan hasil kacang tanah sebagai upaya mensubtitusi penggunaan pupuk kimia. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Tridharma, Banguntapan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada pada bulan September-Desember 2017. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang terdiri dari 2 faktor. Jenis pupuk kandang sebagai faktor pertama yang terdiri atas 3 aras yaitu tanpa pemberian pupuk kandang, pemberian pupuk kandang sapi 10 ton/ha, pemberian pupuk kandang ayam 10 ton/ha. Sedangkan konsentrasi paklobutrazol sebagai faktor kedua yang terdiri dari 3 aras yaitu tanpa pemberian paklobutazol (konsentrasi 0 ppm), pemberian konsentrasi paklobutrazol 200 ppm, pemberian konsentrasi paklobutrazol 400 ppm. Data pengamatan yang diperoleh dilakukan pengujian asumsi menggunakan Analisis of Variance (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95% dan apabila terdapat interaksi antara kedua faktor maka dilakukan uji pengaruh sederhana LSD dengan alfa 5%. Apabila tidak terdapat interaksi antara dosis paklobutrazol dan jenis pupuk kandang maka untuk mengetahui dosis paklobutrazol yang optimal dapat dilakukan pengujian regresi polynomial kuadratik, sedangkan untuk mengetahui jenis pupuk kandang yang sesuai menggunakan LSD Fisher dengan alfa 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat adanya interaksi antara jenis pupuk kandang dan konsentrasi paklobutrazol yang digunakan terhadap variabel jumlah bunga per tanaman, bobot 100 biji dan produktivitas tanaman. Kombinasi antara jenis pupuk kandang  ayam 10 ton/ha dan konsentrasi paklobutrazol 200 ppm memberikan produktivitas tertinggi sebesar 1,37 ton/ha

    Pengaruh Ketinggian Tempat Tumbuh terhadap Hasil dan Kualitas Minyak Cengkih (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & Perry.) di Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo

    Get PDF
    Kecamatan Samigaluh terkenal sebagai sentra produksi cengkih baik berupa bunga cengkih maupun minyak cengkih di Kulon Progo. Wilayahnya terletak di daerah Pegunungan Menoreh dengan ketinggian antara 120 -1.000 m di atas permukaan laut. Menurut kearifan lokal masyarakat Samigaluh semakin tinggi suatu tempat untuk menanam cengkih akan menurunkan produksi dan kualitas bunga dan minyak cengkih. Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah mengetahui pengaruh ketinggian tempat terhadap hasil dan kualitas minyak cengkih. Penelitian dilaksanakan di kebun cengkih rakyat dusun Keceme, dusun Kayugedhe dan dusun Sumbo desa Gerbosari, dusun Sumoroto dan Nyemani desa Sidoharjo, dan dusun Taman desa Purwoharjo kecamatan Samigaluh pada bulan Mei-Agustus 2017. Percobaan ini dilakukan dengan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) nested, dengan rancangan perlakuan satu faktor dan blok berupa dusun dalam satu desa di ketinggian tersebut. Faktor yang digunakan adalah ketinggian tempat yang terdiri dari dataran rendah (700 mdpl). Parameter yang diamati berupa anasir iklim mikro, kandungan lengas tanah dan kesuburan kimia tanah, aktivitas fisiologi tanaman, dan analisis hasil serta kualitas minyak cengkih. Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan ketinggian tempat akan berpengaruh pada perbedaan iklim mikro yang ada, berupa suhu udara, suhu tanah, kelembaban udara dan kandungan lengas tanah yang nantinya akan berpengaruh pada hasil minyak cengkih dan kualitas berupa kandungan beta-Caryophyllene, sedangkan variabel kualitas lain dipengaruhi oleh kondisi kesuburan kimia di tanah, seperti eugenol dipengaruhi oleh kandungan N total dan C-organik, serta bobot jenis minyak yang dipengaruhi oleh kandungan Ca dan C-organik.

    Pengaruh Ketinggian Tempat terhadap Pertumbuhan, Hasil dan Kandungan Steviol Glikosida pada Tanaman Stevia (Stevia rebaudiana)

    Get PDF
    Ketinggian tempat merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman stevia. Percobaan ini dilakukan di Kabupaten Sleman, Yogyakarta pada bulan Juli hingga November 2017 untuk mempelajari pengaruh ketinggian tempat terhadap pertumbuhan, hasil dan kandungan steviol glikosida tanaman stevia. Tanaman stevia ditanam di tiga ketinggian tempat yang berbeda yaitu 167 meter di atas permukaan laut (mdpl), 582 mdpl dan 897 mdpl. Pengamatan dilakukan terhadap variabel lingkungan, variabel pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun, biomasa tanaman), rasio tajuk/akar, variabel hasil, dan kandungan steviol glikosida (kandungan total steviosida dan rasio rebaudiosida A/steviosida). Berdasarkan data tersebut, digunakan analisis regresi untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat terhadap variabel yang diamati. Hasil percobaan menunjukkan ketinggian tempat berkorelasi secara signifikan terhadap suhu udara yang kemudian mempengaruhi pertumbuhan (bobot segar akar dan bobot kering akar), hasil  (bobot kering daun dan tajuk) dan kandungan steviol glikosida (kandungan total steviosida dan rasio rebaudiosida A/steviosida). Pertumbuhan dan perkembangan tanaman stevia dipengaruhi oleh ketinggian tempat sehingga umur panen di dataran rendah lebih pendek dibandingkan dataran tinggi. Di ketinggian 167 mdpl, kandungan rebaudiosida A lebih tinggi dibandingkan kandugan steviosida

    Invigorasi Osmoconditioning dengan Kalsium Klorida untuk Perbaikan Mutu Fisiologis Benih Padi Hitam Lokal (Oryza sativa L.)

    Get PDF
    Umumnya hasil panen benih padi hitam lokal musim sebelumnya disimpan untuk digunakan pada pertanaman selanjutnya. Deteriorasi atau kemunduran benih pada saat penyimpanan benih merupakan proses yang pasti terjadi dan tidak dapat balik. Invigorasi osmoconditioning dengan kalsium klorida (CaCl2) diketahui mampu meningkatkan aktivitas α-amilase yang berperan dalam perkecambahan dan mendukung pertumbuhan bibit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan mutu fisiologis benih padi hitam lokal lama yang diberi perlakuan osmoconditioning kalsium klorida dengan benih hitam baru, mengetahui lama perendaman dan konsentrasi kalsium klorida yang optimal serta kombinasi perlakuan terbaik terhadap mutu fisiologis benih padi hitam lokal yang telah dilakukan penyimpanan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih dan Rumah Kaca Kebun Tridharma Banguntapan, Universitas Gadjah Mada pada bulan Maret — Mei 2018. Penelitian ini menggunaan benih yang telah disimpan 1 bulan (baru) dan 7 bulan (lama) rancangan acak lengkap (RAL) faktorial. Faktor pertama yaitu lama perendaman 6, 12, dan 24 jam. Faktor kedua konsentrasi CaCl2 (kontrol; 1,5; 3; 4,5; dan 6 %), dengan kontrol benih baru dan lama tanpa perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi CaCl2 pada kisaran 1,887-3,161 % optimal terhadap parameter bobot segar bibit, bobot kering bibit, dan meningkatkan indeks vigor hipotetik bibit pada benih padi hitam lokal lama, serta lama perendaman 12 jam dengan 1,5 % CaCl2 memberikan nilai panjang akar terbaik, sedangkan lama perendaman 12 jam dengan 3 % CaCl2 memberikan nilai terbaik pada diameter batang

    Kualitas dan Daya Simpan Benih Hasil Panen Kedelai Hitam (Glycine max (L.) Merill) yang Ditanam dengan Aplikasi Mikoriza dan Rhizobium

    Get PDF
    Budidaya kedelai hitam dengan aplikasi mikoriza dan Rhizobium dapat dijadikan alternatif dalam upaya peningkatan produksi kedelai hitam di lahan marjinal, baik untuk konsumsi maupun penggunaan benih secara umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh benih hasil panen kedelai hitam yang ditanam sebelumnya dengan aplikasi mikoriza dan Rhizobium terhadap kualitas benih selama penyimpanan, dan juga mendapatkan perlakuan yang mampu mermperpanjang umur simpan dari benih hasil panen kedelai hitam yang ditanam sebelumnya dengan aplikasi mikoriza dan Rhizobium. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih dan Rumah Kaca, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada bulan Oktober 2016 hingga Maret 2017. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan.Perlakuan yang diberikan adalah tanpa aplikasi mikoriza dan Rhizobium (kontrol), aplikasi mikoriza, aplikasi Rhizobium, dan aplikasi gabungan mikoriza dan Rhizobium. Pengujian benih dilakukan setiap bulan selama 6 bulan terhadap gaya berkecambah, indeks vigor, indeks vigor hipotetik, dan kadar air benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih yang dihasilkan dari budidaya kedelai hitam dengan aplikasi mikoriza, Rhizobium, maupun dengan gabungan mikoriza dan Rhizobium belum mampu memperbaiki kualitas fisiologi benih dibandingkan tanpa mikoriza dan Rhizobium (kontrol). Budidaya kedelai hitam dengan aplikasi mikoriza dan Rhizobium secara umum belum mampu memperbaiki atau memperpanjang umur simpan benih dibandingkan tanpa mikoriza dan Rhizobium (kontrol).

    Pendugaan Parameter Genetik beberapa Komponen Hasil Calon Galur Teh Keturunan Kedua Hasil Perbanyakan Vegetatif

    Get PDF
    Salah satu sebab rendahnya produktivitas teh nasional adalah umur perdu yang sudah tua sehingga perlu pengembangan varietas baru yang dapat dibudidayakan secara nasional. Teh unggul yang diperbanyak secara vegetatif, harus memiliki daya waris tinggi terhadap sifat yang dimilikinya. Penelitian bertujuan mengetahui nilai duga parameter genetik hasil perbanyakan vegetatif kedua (V2) beberapa klon teh pada beberapa lokasi penanaman. Penelitian dilaksanakan dibulan Juli-Desember 2017 di PT Pagilaran afdeling Sanderan, Kayulandak, dan Andongsili. Klon yang digunakan yaitu PGL10, PGL11, PGL12, dan PGL15. Penelitian menggunakan Splitplot dengan dua faktor yaitu  klon teh dan lokasi penanaman. Hasil pengamatan berupa komponen hasil 4 kali pemetikan dianalisis dengan ANOVA serta uji lanjut Scottnott dan AMMI. Hasil penelitian menunjukkan Panjang  dan Lebar Daun, Potensi Daya Hasil, Panjang Tangkai, Berat Kering Daun, Peko dan Tangkai, Berat Segar Peko, dan Jumlah Peko memiliki nilai genetik tinggi. Berat Segar Daun dan Berat Segar Tangkai memiliki nilai genetik rendah. Panjang Daun, Potensi Daya Hasil, Berat Kering Daun dan Peko cenderung memiliki pertumbuhan yang dipengaruhi lingkungan. Lebar Daun, Panjang Tangkai, Berat Kering Tangkai, Berat Segar Peko dan Jumlah Peko memiliki pertumbuhan yang tidak dipengaruhi lingkungan. Parameter genetik pada komponen hasil klon yang berinteraksi dengan lingkungan memiliki pertumbuhan paling baik pada Klon PGL10, 11 dan 12. Parameter genetik pada komponen hasil klon yang tidak berinteraksi dengan lingkungan memiliki pertumbuhan paling baik pada klon 10 dan 12. PGL11, 12, dan 10 tumbuh optimal di Kayulandak sementara PGL15, 12 dan 10 tumbuh optimal di Andongsili dan Sanderan

    Pemilihan Alternatif Pohon Buah Untuk Penghijauan Berdasar Karakteristik Tanaman Dan Kesesuaian Lahan Di Area Perkantoran Pemda Bantul, Manding, Yogyakarta

    No full text
    Pohon buah dapat digunakan sebagai alternatif penghijauan di area perkantoran untuk menambah fungsi tanaman dalam penghijauan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas dan karateristik lahan serta melakukan seleksi alternatif pohon buah untuk penghijauan berdasarkan karakteristik tanaman perkantoran dan kesesuaian lahan di area perkantoran Pemda Bantul. Penelitian ini dilakukan dengan survei lokasi existing, pengambilan sampel tanah dengan simple random sampling dilakukan agar mendapat sampel tanah yang sesuai dengan lokasi program revitalisasi dinas Lingkungan Hidup. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pohon buah yang sesuai untuk dimanfaatkan sebagai penghijauan di area Perkantoran Pemda Bantul dengan memperhatikan zona aktivitas tamu atau pengunjung perkantoran. Alternatif pohon buah pada zona penerimaan antara lain Asam Jawa (Tamarindus indica), Kepel (Stelechocarpus burahol), Duku (Lansium domesticum). Kemudian pada zona inti aktivitas direkomendasikan alternatif pohon buah Lengkeng (Euphoria longan), Sawo Duren (Chrysophyllum cainito), Jamblang (Syzygium cumini), dan Kapulasan (Nephelium mutabile). Selanjutnya pada zona fasilitas masyarakat direkomendasikan alternatif pohon buah Jambu dersono (Eugenia malaccensis), dan Duku (Lansium domesticum

    Keragaan Komponen Hasil Perdu Teh (Camellia Sinensis (L.) O. Kuntze) Hasil Perbanyakan Vegetatif Turunan Kedua

    Get PDF
    Teh merupakan salah satu komoditas utama perkebunan Indonesia. Salah satu sebab rendahnya produktivitas teh nasional adalah umur perdu yang sudah tua, sehingga perlu diremajakan melalui pengembangan varietas baru yang dapat dibudidayakan secara nasional. Teh biasanya diperbanyak secara vegetatif, namun sifat keturunannya belum tentu identik dengan induknya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keragaan perdu vegetatif turunan pertama (V1) dan vegetatif turunan kedua (V2) yang berasal dari perdu F1 yang sama, serta menduga nilai parameter genetik komponen hasil perdu V1 dan V2. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli– Desember 2017 di blok Sanderan dan Binorong, PT Pagilaran. Klon yang digunakan yaitu PGL 09, PGL 10, PGL 11, PGL 12, dan PGL 15. Penelitian menggunakan metode survei dengan 5 perdu sebagai ulangan. Data komponen hasil diamati selama 4 kali pemetikan dianalisis dengan pendekatan anova rancangan acak lengkap faktorial dengan uji lanjut scott knott. Pendugaan parameter genetik digunakan E(MS) dari anova tersebut. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara klon dengan tahap vegetatif pada lebar daun, panjang daun, panjang tangkai, jumlah peko, berat segar peko, dan berat kering peko, sehingga berdasarkan sifat tersebut dapat dikatakan bahwa klon klon yang diuji tidak stabil, sebaliknya mendasarkan sifat berat segar daun, berat kering daun, berat segar tangkai, berat kering tangkai, dan daya hasil kering bersifat cukup stabil. Sifat yang memiliki nilai heritabilitas tinggi adalah lebar daun dan bobot kering, sedangkan nilai koefisien keragaman genetik dan koefisien keragaman fenotip tinggi terdapat pada sifat berat segar peko dan berat kering peko

    Kadar Lemak Total Biji Kakao Kebun Induk Pagilaran Samigaluh Kulon Progo

    Get PDF
    Mutu biji kakao merupakan hal yang sangat penting dalam produksi kakao dan olahannya. Pengamatan mutu biji kakao sangat penting dilakukan untuk mengetahui sifat unggul kakao, termasuk di dalamnya varietas atau klon-klon baru hasil pemuliaan tanaman. Salah satu faktor penentu keberhasilan pengembangan kakao adalah dukungan ketersediaan bahan tanam unggul dan bermutu. Analisis mutu biji khususnya kadar lemak dilakukan untuk menentukan nomor-nomor aksesi yang mempunyai potensi keunggulan dan dapat digunakan sebagai sumber bahan tanam dengan sifat kadar lemak >50%. Selain kadar lemak total, sifat komponen buah yang diamati meliputi bobot buah segar, panjang buah, lebar buah, tebal kulit buah, jumlah biji perbuah, bobot basah biji per buah, dan bobot kering biji per buah. Pengamatan dilakukan terhadap 19 nomor pohon di kebun induk PT. Pagilaran Unit Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar lemak total tidak berbeda nyata, keragaman genetik kadar lemak total sangat rendah. Sifat komponen buah yang mempunyai pengaruh terhadap kadar lemak total adalah bobot basah biji per buah

    408

    full texts

    487

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Vegetalika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇