487 research outputs found

    Pengembangan Metode Penyaringan Klon Tebu Tahan Kering Menggunakan Metode Pengendalian Kadar Lengas

    Get PDF
    Tebu merupakan salah satu tanaman pengahasil gula yang digunakan di Indonesia. Luas areal tebu di lahan sawah beririgasi di Jawa semakin berkurang. Kini areal tebu di lahan sawah tinggal sekitar 40 %, selebihnya telah beralih ke lahan kering. Pada fase perkecambahan,  kebutuhan air tanaman rendah, kemudian mulai meningkat pada fase pertunasan dan mencapai puncaknya pada fase pemanjangan batang. Tujuan penelitian ini, akan dilihat ketahanan bibit tebu terhadap cekaman saat fase perkecambahan dan proses beradaptasinya kembali tebu saat fase pertumbuhan tunas dari kondisi tercekam. Penelitian dilakukan pada bulan Mei hingga September 2016 di Kebun Percobaan Banguntapan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Rancangan Percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor. Faktor pertama yaitu kadar lengas yang terdiri dari 4 aras yaitu 100%, 80%, 60%, dan 40%. Faktor kedua adalah klon tebu yaitu klon PS 862, PS 864, Kidang Kencana (KK), Bululawang (BL), dan VMC 76-16. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan pengaturan kadar lengas mampu mempengaruhi pertumbuhan tebu dengan menurunnya angka pertumbuhan beberapa klon ketikakadar lengas diturunkan hingga 40%. Klon KK menjadi klon yang memiliki hasil terendah dan kurang tahan terhadap perlakuan cekaman kekeringa

    Pengaruh Macam Pupuk Organik Cair dan Dosis Pupuk Anorganik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung (Zea mays L.)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mendapatkan kombinasi antara macam pupuk organik cair dengan dosis pupuk anorganik yang mampu mendukung pertumbuhan dan hasil jagung terbaik. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juli 2018 di Kebun Pusat Inovasi Agroteknogi (PIAT) UGM. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) untuk menguji lima macam pupuk organik cair serta dosis pupuk anorganik yang terdiri atas 0 %, 35 %, dan 75 % dari rekomendasi Dinas Pertanian. Kontrol merupakan dosis pupuk anorganik 100 %, yaitu urea 300 kg/ha, SP-36 100 kg/ha, dan KCl 75 kg/ha. Data pertumbuhan dan komponen hasil dianalisis varian menurut kaidah rancangan acak kelompok lengkap dilanjutkan dengan uji HSD dengan taraf kepercayaan masing-masing 95 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa macam pupuk organik cair memberikan pengaruh yang sama terhadap pertumbuhan dan hasil jagung tetapi tidak dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung. Dosis pupuk anorganik 75 dan 100 % rekomendasi nyata meningkatkan pertumbuhan tanaman sebesar 25 % dan meningkatkan produktivitas sebesar 50 % jika dibandingkan tanpa pupuk anorganik. Pupuk organik cair dapat menghemat penggunaan pupuk anorganik sebesar 25 % terhadap pertumbuhan dan hasil jagung. Pemberian dosis pupuk anorganik rekomendasi Dinas Pertanian belum mampu mengoptimalkan potensi hasil jagung

    Pengaruh Takaran Pupuk “Buzolfos” terhadap Pertumbuhan dan Hasil Dua Kultivar Cabai Merah (Capsicum dp.) di Lahan Pasir Pantai

    Get PDF
    Penelitian bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan cabai, serta mendapatkan takaran pupuk yang optimal untuk pertumbuhan dan hasil cabai merah (Capsicum sp.) kultivar hibrida dan lokal. Pupuk buzolfos merupakan campuran pupuk yang berasal dari bahan abu sekam, Azolla sp. Segar dan batuan fosfat alam. Pupuk buzolfos dengan berbagai takaran berperan sebagai pupuk NPK (nitrogen, fosfor dan kalium). Azolla menyuplai unsur nitrogen, batuan fosfat alam sebagai fosfor, serta abu sekam sebagai kalium. Penelitian dilakukan di lahan pasir Pantai Samas, Kabupaten Bantul, Yogyakarta pada bulan Juni hingga Desember tahun 2017. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah takaran pupuk buzolfos yang terdiri dari 0 ton/ha (dengan pupuk NPK anorganik), 5 ton/ha (125 gram/tanaman), 10 ton/ha (250 gram/tanaman), 15 ton/ha (375 gram/tanaman) dan 20 ton/ha (gram/tanaman). Faktor kedua adalah jenis cabai, yaitu kultivar hibrida dan kultivar lokal. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakananalisis varian, jika terdapat beda nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji HSD tukey dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antar kultivar dan takaran pupuk terhadap parameter bobot segar tajuk umur 20 minggu setelah tanam, bobot kering tajuk umur 20 minggu setelah tanam, volume akar umur 20 minggu setelah tanam, bobot segar cabai per buah, laju asimilasi bersih 10 minggu setelah tanam. Takaran pupuk 20 ton/ha me nunjukkan pertumbuhan dan hasil cabai yang optimal

    Produksi dan Kandungan Flavonoid Daun Sambung Nyawa (Gynura procumbens (Lour.) Merr.) pada Tiga Fase Agroforestri

    No full text
    Sambung nyawa (Gynura procumbens (Lour.) Merr.) merupakan salah satu tanaman obat yang telah menjadi bahan baku industri farmasi yang permintaannya akan semakin meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemanfaatan obat herbal. Penanaman di agroforestri dapat menjadi solusi atas keterbatasan lahan pertanian dan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi sambung nyawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fase perkembangan agroforestri yang paling optimal bagi produksi sambung nyawa. Penelitian dilakukan di zona Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul dan disusun dalam rancangan over site faktor tunggal dengan tiga kali ulangan. Faktor tunggal berupa fase perkembangan agroforestri yaitu fase awal, fase tengah, dan fase lanjut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fase perkembangan agroforestri yang semakin lanjut akan meningkatkan kadar klorofil dalam daun, dan menurunkan ketebalan daun sambung nyawa umur 16 mspt. Kadar flavonoid pada daun sambung nyawa yang ditanam pada agroforestri fase awal, fase tengah, dan fase lanjut berturut-turut adalah: 1,42, 1,72, dan 1,18 %b/b. Produksi sambung nyawa dapat berlangsung secara optimal pada ketiga fase agroforestri

    Pengaruh Proporsi Tanaman terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tumpangsari Kubis (Brassica oleracea Var. Capitata L.) dengan Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.)

    No full text
    Jumlah penduduk di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini mengakibatkan penurunan luas kepemilikan lahan pertanian karena permintaan lahan pemukiman yang tinggi. Selain itu, juga akan berdampak terhadap kuantitas produksi sayuran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kubis dan tomat merupakan komoditas sayuran yang memiliki nilai komersial dan prospek yang tinggi. Tumpangsari merupakan salah satu program intensifikasi pertanian untuk meningkatkan hasil dan produktivitas lahan dalam satu musim tanam. Pengaturan proporsi tanaman perlu diperhatikan karena untuk mendapatkan proporsi tanaman yang optimal, sehingga dapat meningkatkan efisien penggunaan lahan dan me­ningkat­­kan produksi kedua tanaman. Penelitian ini berjudul “Pengaruh Proporsi Tanaman terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tumpangsari Kubis (Brassica oleracea var. Capitata L.) dengan Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.)”. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan kombinasi perbandingan jumlah tanaman yang memberikan produktivitas lahan yang menguntungkan dalam sistem tumpangsari kubis dan tomat. Penelitian dilaksanakan pada Juni–September 2017 di lahan sawah di daerah Argomulyo, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan lima pelakuan dan tiga blok sebagai ulangan. Faktor yang diuji adalah perbandingan jumlah tanaman atau proporsi populasi yaitu 100% kubis; 25% kubis : 75% tomat; 50% kubis : 50% tomat; 75% kubis : 25% tomat; dan 100% tomat. Hasil penelitian menunjukkan tumpangsari dengan proporsi 75% kubis dan 25% tomat memberikan produktivitas lahan dan pendapatan ekonomi yang menguntungkan sebab nilai kesetaraan lahan lebih dari satu (NKL <1), yaitu 1,13 dan nilai ekonomi sebesar Rp 76.773.870,-.Kata kunci : kubis, tomat, tumpangsari, nisbah kesetaraan lahan, pertumbuha

    PENGARUH TAKARAN MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TEH (Camellia sinensis L.) KLON GAMBUNG 7 DI AFDELING PAGILARAN, ANDONGSILI DAN KAYULANDAK

    No full text
    Permasalahan utama yang sering terjadi pada saat pembibitan teh dengan setek adalah lambatnya pembentukan akar yang dapat menyebabkan kematian bibit. Salah satu cara dalam membantu merangsang pembentukan akar dan kalus serta proses penyerapan hara bagi tanaman adalah dengan pemberian agensia hayati Jamur Mikoriza Arbuskular (JMA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui takaran mikoriza yang paling sesuai untuk pembibitan teh klon Gambung 7 pada ketinggian tempat yang berbeda serta mengetahui pengaruh mikoriza terhadap  pertumbuhan bibit teh Gambung 7. Penelitian ini menggunakan rancangan Split-Plot dengan ketinggian sebagai plot utama terdiri dari 3 aras yaitu afdeling Pagilaran (P) dengan ketinggian 980 m dpl, afdeling Andongsili (A) dengan ketinggian 1100 m dpl, dan afdeling Kayulandak (K) dengan Ketinggian 1200 m dpl. Kemudian takaran mikoriza menempati anak petak terdiri dari 4 faktor yaitu dosis 0, 3, 6, 9 gram/polibag. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara takaran mikoriza dengan ketinggian pada variabel berat kering akar. Nilai berat kering akar tertinggi terdapat pada Afdeling Pagilaran perlakuan kontrol sebesar 1,16 gram, sedangkan hasil paling rendah terdapat pada Afdeling Andongsili perlakuan 9 gram/polibag sebesar 1,02 gram. Tinggi tempat berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit Gambung 7 dengan persentase setek hidup tertinggi pada afdeling Kayulandak sebesar 95 %, selanjutnya pada afdeling Pagilaran sebesar 79,75 %, dan afdeling Andongsili sebesar 70,50 %

    Karakter Morfologi Akar dan Hasil Padi Ratun (Oryza sativa L.) pada Perbedaan Waktu dan Tinggi Pemotongan Tunggul Sisa Panen

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu dan tinggi pemotongan tunggul sisa panen yang optimal untuk mendukung pertumbuhan akar sehingga diperoleh daya hasil padi ratun maksimal. Percobaan lapangan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap split plot 2 faktor dan 3 blok sebagai ulangan.  Percobaan lapangan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap split plot 2 faktor dan 3 blok sebagai ulangan.  Petak utama berupa waktu pemotongan tunggul, terdiri dari 3 taraf yaitu: saat panen (0 HSP), 7 hari setelah panen (7 HSP) dan 14 hari setelah panen (14 HSP). Anak petak berupa tinggi pemotongan tunggul, terdiri dari 4 taraf yaitu: 4 cm, 14 cm, 24 cm dan 34 cm. Variabel yang diamati berupa variabel morfologi akar dan hasil padi ratun. Data yang diperoleh dianalisis varians (ANOVA) dengan taraf kepercayaan 95%, dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal. Hubungan antar variabel pengamatan ditentukan dengan analisis korelasi. Hasil penelitian memberi informasi bahwa waktu pemotongan tunggul sisa panen berpengaruh terhadap diameter akar dengan waktu pemotongan terbaik 10 HSP yang menghasilkan diameter sebesar 0,89 mm, namun tidak berpengaruh nyata terhadap sifat perakaran lainnya. Pemotongan tunggul setinggi 4 cm di atas permukaan tanah menghasilkan pertumbuhan akar baru yang lebih baik dan ukuran diameter akar yang lebih besar. Padi ratun yang memiiki pertumbuhan akar yang baik dan diameter akar yang lebih besar memiliki lama fase vegetatif yang lebih panjang (44 hari) dan produktivitas gabah yang lebih tinggi (3,39 – 3,54 ton/ha)

    Hubungan Sifat Perakaran dan Ketahanan Kekeringan Lima Kultivar Kedelai (Glycine max L.)

    Get PDF
    Cekaman kekeringan merupakan salah satu faktor pembatas dalam budidaya tanaman kedelai di Indonesia. Salah satu upaya menanggulangi penurunan hasil yang disebabkan oleh kekeringan adalah dengan menggunakan kultivar kedelai yang tahan terhadap cekaman kekeringan. Penelitian dilakukan di rumah plastik di Kebun Tridharma Banguntapan, sub Laboratorium Ilmu Tanaman dan Laboratorium Ekologi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dari bulan April-Agustus 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara sifat perakaran dan toleransi cekaman kekeringan lima kultivar kedelai. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terbagi (split plot) dengan tiga ulangan. Petak utama adalah pemberian air yang terdiri dari dua aras yaitu disiram sehari sekali dan disiram tujuh hari sekali. Anak petak berupa kultivar kedelai terdiri dari kultivar Anjasmoro, Burangrang, Demas 1, Dering 1, dan Devon 1. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan analisis varian (ANOVA). Apabila terdapat beda nyata antar perlakuan, dilakukan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) Tukey dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kultivar kedelai yang paling tahan terhadap kekeringan adalah Demas 1. Kultivar kedelai yang tahan kekeringan memiliki permukaan akar yang lebih luas dibanding kultivar kedelai yang rentan kekeringan

    Pengaruh Tingkat Kemasakan terhadap Kuantitas Hasil dan Daya Simpan Benih Padi (Oryza sativa L.) Varietas Inpari Sidenuk di PP Kerja

    Get PDF
    Kebutuhan beras akan terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk. Ketersediaan benih padi di Jawa Tengah tidak mampu memenuhi kebutuhan benihnya. Ketersediaan benih padi di Indonesia mayoritas berasal dari penangkar benih. PP Kerja merupakan salah satu penangkar benih padi swasta yang ikut berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan benih padi di Jawa Tengah. Untuk memenuhi kebutuhan benih, penting dilakukan penelitian tentang panen pada berbagai tingkat kemasakan agar menghasilkan kuantitas dan kualitas hasil yang maksimum PP Kerja. Padi yang dipanen pada saat masak fisiologis akan menghasilkan daya tumbuh dan vigor yang maksimum, serta bibit tumbuh tegak dan seragam di lapangan sehingga hasil panen akan meningkat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2017 hingga Desember 2017 di persawahan PP Kerja, laboratorium teknologi benih, dan rumah kaca. Rancangan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi (split plot) dengan tingkat kemasakan sebagai faktor utama dan lama penyimpanan sebagai anak petak dengan 3 blok sebagai ulangan. Tingkat kemasakan terdiri dari empat taraf yaitu tingkat kemasakan kuning ½ malai, kuning ¾ malai, kuning seluruh malai, dan anjuran panen saat ini. Lama penyimpanan terdiri dari empat taraf yaitu 0 bulan, 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam pada level beda nyata sebesar 5%, apabila terdapat beda nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan uji HSD, untuk menentukan masak optimum tanaman padi ditentukan melalui analisis regresi dengan jenjang signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panen pada tingkat kemasakan kuning seluruh malai menghasilkan bobot gabah kering panen dan kering simpan yang paling tinggi serta daya simpan yang paling baik seperti daya berkecambah, indeks vigor, luas daun, tinggi tanaman, jumlah daun, dan indeks vigor hipotetik bibit yang maksimum

    Aplikasi Pupuk SP-36 dan Ekstrak Pelarut Fosfat untuk Meningkatkan Produksi Jagung Lokal Pulut

    Get PDF
    Impor beras setiap tahun semakin meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan diversifikasi pangan pokok yang setara beras yaitu mengembangkan produk beras jagung pulen. Tujuan  penelitian adalah meningkatkan produksi jagung pulut dan efisiensi pemupukan fosfat. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dan diulang sebanyak tiga ulangan. Faktor I adalah aplikasi ekstrak pelarut fosfat (EPF) yang bersumber dari bonggol pisang yang terdiri atas 0 dan 10 liter.ha-1. Faktor kedua adalah pemupukan SP-36 yaitu 0, 50, 100 dan 150 kg.ha-1. Analisis data menggunakan ANOVA α = 5% dan dilanjutkan uji DMRT α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi EPF dan 50 kg.ha-1 SP-36 meningkatkan panjang dan diameter tongkol, dan produksi biji kering per hektar serta efisiensi pemupukan P

    408

    full texts

    487

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Vegetalika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇