Vegetalika
Not a member yet
487 research outputs found
Sort by
PENGARUH BAHAN ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI (Oryza sativa L.) TERCEKAM SALINITAS
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh macam bahan organik berupa pupuk kandang ayam dan pupuk hijau azolla dalam mengurangi dampak cekaman salinitas pada tanaman padi. Rancangan perlakuan yang digunakan pada penelitian ini yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) Faktorial. Penelitian ini dilakukan dengan mengaplikasikan jenis bahan organik berbeda pada beberapa tingkat salinitas. Perlakuan jenis bahan organik terdiri dari tiga aras yakni tanpa bahan organik (B0), penggunaan pupuk kandang ayam (B1), dan penggunaan pupuk hijau azolla (B2), sedangkan perlakuan tingkat salinitas terdiri dari empat aras yaitu EC <0,4 dS/m atau kontrol (S0), 2,5 dS/m (S1), 5 dS/m (S2) dan 7,5 dS/m (S3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan pertumbuhan dan hasil secara nyata pada tanaman padi varietas IR-64 yang tercekam salinitas dimulai dari tingkat salinitas 2,5 dS/m pada parameter pertumbuhan luas daun, bobot segar tajuk, bobot kering tajuk, bobot kering akar, bobot kering total tanaman. Sementara pada parameter hasil terjadi penurunan pada panjang malai, bobot malai, jumlah gabah per malai, bobot 100 butir gabah bernas dan bobot gabah kering giling total per rumpun. Pupuk kandang ayam menghasilkan tinggi tanaman tertinggi, sedangkan pupuk hijau azolla memberikan hasil tertinggi pada bobot segar tajuk, bobot segar akar, bobot kering akar, jumlah anakan, bobot kering total tanaman dan jumlah malai.
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Krisan (Dendranthema sp.) varietas Bakardi Putih dan Lolipop Ungu yang Mendapat Perlakuan Lama Penyinaran Tambahan
Krisan merupakan tanaman hari pendek. Jika tanaman ini mendapatkan panjang malam lebih dari periode kritis maka fase vegetatif tidak berlangsung lama. Untuk mempertahankan fase vegetatif tanaman krisan maka perlu dilakukan penambahan lama penyinaran di malam hari. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh lama penyinaran terhadap pertumbuhan, hasil dan kualitas varietas krisan yang berbeda serta mempelajari lama penyinaran tambahan optimal untuk menyerempakkan umur panen varietas krisan yang berbeda. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2017 hingga Maret 2018 bertempat di lahan pertanaman krisan dan rumah plastik milik Asosiasi Tanaman Hias Bunga dan Daun Potong (ASTHABUNDA) Jalan Kaliurang km 21, Panggeran, Hargoninangun, Pakem, Sleman, DIY. Penelitian menggunakan Rancangan Faktorial 2 x 5, tata letak Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor 1 adalah lama penyinaran tambahan dengan 5 aras yaitu 0 hspt (tanpa penyinaran), 10 hari, 20 hari, 30 hari dan 40 hari. Faktor 2 adalah varietas yaitu Bakardi Putih dan Lolipop Ungu. Hasil penelitian menunjukkan penyinaran tambahan 20 hari pada varietas Bakardi Putih dan 30 hari Lolipop Ungu menghasilkan bunga krisan yang telah memenuhi grade A SNI. Peningkatan lama penyinaran tambahan sampai dengan 40 ari dapat meningkatkan pertumbuhan, hasil dan kualitas varietas Bakardi Putih lebih baik dibandingkan varietas Lolipop Ungu. Penyinaran tambahan 20 hari pada varietas Bakardi Putih dan 30 hari varietas Lolipop Ungu belum dapat menyerempakkan umur panen kedua varietas. Pada penyinaran 20 hari, umur panen varietas Bakardi Putih 86 hari dan 30 hari varietas Lolipop Ungu 106 hari. Kata kunci : Bakardi, lama penyinaran, krisan, Lolipo
Pengaruh Aplikasi Tiga Jenis Arang dan Klon terhadap Pertumbuhan Vegetatif Dan Serapan Unsur Silika (Si) Tebu (Saccharum Officinarum L.) PT. Perkebunan Nusantara X Jengkol Kediri
Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan salah satu komoditas utama di Indonesia yang merupakan tanaman yang menghasilkan gula. Produksi gula nasional mengalami penurunan karena produktivitas tanaman tebu yang rendah. Pemberian bahan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi tanah baik fisika, kimia maupun biologi disebut amandemen (ameliorasi). Bahan alam yang dapat digunakan untuk mengatasi defisiensi hara dan meningkatkan efisiensi pemupukan yaitu dengan pemberian arang. Tanaman tebu sangat membutuhkan unsur Si dalam pertumbuhannya. Salah satu bahan organik yang mengandung Si tinggi yaitu arang. Kandungan Si dari berbagai sumber berbeda-beda, Si pada arang sekam padi merupakan yang tertinggi. Selain faktor pemupukan, faktor klon yang sesuai dengan lahan juga sangat penting untuk meningkatkan produksi tebu. klon merupakan suatu langkah yang ditempuh untuk memberbaiki sifat suatu tanaman baik dari segi kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi antara jenis arang dengan klon yang memiliki hasil pertumbuhan dan serapan hara paling baik. Penelitain dilakukan di lahan PT. Perkebunan Nusantara X Jengkol Kediri menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor. Faktor pertama yaitu jenis arang dan yang kedua yaitu jenis klon tebu. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2017-Februari 2018. Kombinasi perlakuan arang sekam padi dan klon tebu Bululawang mampu meningkatkan hasil pertumbuhan vegetatif tanaman tebu. Tebu klon Bululawang yang diaplikasikan dengan arang sekam padi mampu memperbaiki pertumbuhan vegetatif dan tebu Klon PS 882 yang diaplikasikan dengan arang kayu mampu meningkatkan serapan unsur Silika (Si). Arang sekam padi mampu meningkatkan diameter batang dan kandungan Si jaringan batang pada umur 140 hspt
Pengaruh Cekaman Kekeringan Terhadap Hasil dan Komponen Hasil Lima Kultivar Kedelai (Glycine max L.)
Penelitian dilakukan di rumah plastik di Kebun Tridharma Banguntapan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dari bulan April-Juli 2018. Rancangan lingkungan yang dipakai adalah petak terbagi (split plot) faktorial 5x2 dengan tiga ulangan. Petak utama adalah pengairan yang terdiri dari dua aras yaitu disiram sehari sekali dan disiram tujuh hari sekali. Anak petak adalah kultivar kedelai yaitu kultivar Demas 1, Devon 1, Dering 1, Anjasmoro dan Burangrang. Analisis data menggunakan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) Tukey. Penentuan kultivar tahan kekeringan menggunakan indeks ketahanan kekeringan yaitu Indeks Toleransi Cekaman (ITC). Cekaman kekeringan menyebabkan hampir semua variabel komponen hasil mengalami penurunan seperti jumlah polong, jumlah biji per polong, dan bobot total biji dengan rerata masing-masing penurunan sebesar 39%, 2,73%, dan 52%. Berdasarkan indeks toleransi cekaman diperoleh informasi bahwa kultivar Demas 1 lebih tahan terhadap cekaman kekeringan dibandingkan dengan kultivar Devon 1, Dering 1, Burangrang dan kultivar Anjasmoro
Serapan Hara N, P, K dan Hasil Biji Kedelai (Glycine max L. Merrill) pada Pemberian Bokashi Pelepah Pisang pada Tanah Pasir Pantai
The ability of several soybean varieties to absorb nutrient nitrogen, phosphorus and potassium (NPK) may be different in the new growing environment in coastal sands which are treated with bokashi made from banana stem. The aim of this study was to determine the NPK nutrient uptake and the responses of several soybean varieties to the level of banana stem bokashi application in coastal sand fields and to determine the optimum dose based on the yield of soybean seeds. The research was a field experiment conducted for 4 months from January until April 2017. Pot experiments in the field have been done in Samas coastal sands, Srigading Village, Sanden Sub-district, Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta. The factorial experiment (4x12) was repeated 3 times, arranged in a complete randomized block design (RCBD). The first factor was dose banana stem bokashi including 0, 20, 40, and 60 t.ha-1; was tested on 12 soybean cultivars namely Anjasmoro, Argomulyo, Burangrang, Demas 1, Dena 1, Devon 1, Gamasugen 1, Gema, Gepak Ijo, Grobogan, Kaba, and Slamet. The observational data were analyzed by the variant analysis of the error rate of 5% and if significantly different was followed by DMRT 5% error level. The results showed that bokashi made from the banana stem can be used as a soil enhancer for coastal sandy soil, as well as providing nutrients for the growth of soybean plants. Nutrient uptake of N, P, K, plant dry weight, and seed yields of Anjasmoro varieties, Argomulyo, Demas 1, Devon 1, Gepak Ijo, Kaba and Slamet increased with the application of banana stem bokashi at doses of 20 and 40 t.ha-1, and decreases at bokashi doses reaching 60 t.ha-1. The optimum dose of bokashi made from banana stem doses equals 35.80 t.ha-1 with a maximum seed yield of 22.24 g.pot-1
Effects of Stem Cutting Time and Height on Yield Components and Yield of Rice Ratun System (Oryza sativa L.)
Ratun is the ability of the rice plant to regenerate new tillers after harvest, so it can be increased rice productivity. The aim of this research was to compare the yield components and yield between rice ratun with the parent rice, to analyze influence of stem cutting time and height on yield components and yield of rice ratun system and also to determine optimum cutting time and height for the yield components and yield of rice ratun. This research was heald in Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) of Gadjah Mada University, Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta on March to June 2017. The experiment used split-plot design with cutting time as the main plot and cutting height as sub plot with 3 blocks as replication. The cutting time consisted of 3 levels i.e. at harvest time, 7 days after harvest time, and 14 days after harvest time. Meanwhile, cutting height consisted of 4 levels i.e. 3 cm, 13 cm, 23 cm, and 33 cm above the ground.The research showed that the yield components and yield of rice ratun lower than the parent rice. Cutting time at harvest time, 7, 14 days after harvest time with the cutting height close to the ground increase yield component and yield of rice ratun but delay the generative phase. The highest yield components and yield of rice ratun achieved at harvest time cutting time with cutting height 3 cm above the ground
Evaluasi Tipe Pemanfaatan Lahan Pertanian dalam Upaya Mitigasi Kerusakan Lahan Di Desa Giritirta, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara
Tanaman sayur-sayuran dan bunga-bungaan banyak dihasilkan di tanah andisol dan alfisol dengan elevasi berkisar antara 350-1500 m di atas permukaan laut (dpl). Kentang di Indonesia merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomis cukup menjanjikan, sehingga petani berlomba-lomba untuk menanam tanaman tersebut. Lahan pegunungan yang sudah dimanfaatkan menjadi lahan pertanian perlu dilakukan evaluasi tipe pemanfaatan lahan guna mengetahui potensi produksi dan dampak kerusakan lahan yang timbul. Penelitian ini dilakukan di desa Giritirta, kecamatan Pejawaran, kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah yang dilaksanakan pada bulan Juli 2017 - November 2017. Metode yang digunakan adalah penelitian survei terhadap kualitas lahan dengan pengamatan langsung di lapangan, dan mengumpulkan data-data dari instansi terkait, serta survei terhadap respon petani yang dilakukan dengan wawancara. Data primer yang diambil adalah data yang diperoleh secara langsung dari objek penelitian melalui kegiatan observasi, wawancara dan/atau kuisioner, sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada. Pemanfaatan lahan pertanian di lokasi penelitian berupa budidaya tanaman semusim dengan komoditas utama kentang (Solanum tuberosum L.) dengan teknik penanaman searah lereng serta minim tindakan konservasi lahan. Tingkat bahaya erosi tergolong dalam klas sangat berat di semua satuan lahan yang menyebabkan potensi kerusakan lahan tinggi dalam kurun waktu yang singkat. Cara mitigasi kerusakan lahan yang cocok untuk dilaksanakan yaitu dengan penanaman kopi arabika dan teh pada kelerengan curam (26%-40%) serta tanaman kina pada kelerengan sangat curam (>40%). Perbaikan lahan yang dilakukan dengan pembuatan dan perbaikan teras, penanaman strip rumput, serta pembuatan rora
Pengaruh Aplikasi Silika terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi (Oryza sativa L.) pada Kondisi Salin
Salinitas merupakan salah satu faktor abiotik yang membatasi pertumbuhan dan produktivitas tanaman di seluruh dunia. Penyerapan Si oleh tanaman diketahui mampu mengurangi cekaman salinitas melalui perbaikan pada pertumbuhan dan hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi serta pengaruh penambahan silika terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi tercekam salinitas. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada pada bulan Juni-September 2017. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 2 faktor dan 3 blok yang dijadikan sebagai ulangan. Faktor pertama yaitu tingkat cekaman salinitas akibat penambahan NaCl (N) yang terdiri atas tiga level yaitu air non salin (<0,4 dS/m), 4 dS/m, dan 8 dS/m. Faktor kedua adalah konsentrasi SiO2 (S) yang terdiri dari 0 mM, 1 mM, 2 mM, dan 3 mM. Hasil menunjukkan bahwa pada kondisi tanpa pemberian silika, tanaman padi tidak mampu bertahan terhadap cekaman salinitas dilihat dari penurunan gabah kering giling yang terjadi, sedangkan pada penambahan silika konsentrasi 1-2 mM menyebabkan tanaman mempertahankan hasil hingga salinitas 8 dS/m
Pengaruh Takaran Mikoriza terhadap Pertumbuhan Bibit Teh (Camellia sinensis) Klon Gambung 7 di Afdeling Pagilaran, Andongsili dan Kayulandak
Permasalahan utama yang sering terjadi pada saat pembibitan teh dengan setek adalah lambatnya pembentukan akar yang dapat menyebabkan kematian bibit. Salah satu cara dalam membantu merangsang pembentukan akar dan kalus serta proses penyerapan hara bagi tanaman adalah dengan pemberian agensia hayati Jamur Mikoriza Arbuskular (JMA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan bibit teh Gambung 7 dan takaran mikoriza yang tepat pada ketinggian tempat yang berbeda. Penelitian ini menggunakan rancangan Split-Plot dengan ketinggian sebagai plot utama terdiri dari 3 aras yaitu afdeling Pagilaran (P) dengan ketinggian 980 m dpl, afdeling Andongsili (A) dengan ketinggian 1100 m dpl, dan afdeling Kayulandak (K) dengan Ketinggian 1200 m dpl. Kemudian takaran mikoriza menempati anak petak terdiri dari 4 faktor yaitu dosis 0, 3, 6, 9 gram/polibag. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara takaran mikoriza dengan ketinggian pada variabel berat kering akar. Nilai berat kering akar tertinggi terdapat pada Afdeling Pagilaran perlakuan kontrol sebesar 1,16 gram, sedangkan hasil paling rendah terdapat pada Afdeling Andongsili perlakuan 9 gram/polibag sebesar 1,02 gram. Tinggi tempat berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit Gambung 7 dengan persentase setek hidup tertinggi pada afdeling Kayulandak sebesar 95 %, selanjutnya pada afdeling Pagilaran sebesar 79,75 %, dan afdeling Andongsili sebesar 70,50 %
Pengaruh Pemberian Pupuk Kompos Jerami Padi terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi (Oryza sativa L.) pada Kondisi Salin
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan takaran kompos jerami padi yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil padi pada kondisi salin. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kawat, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada bulan September 2017 sampai dengan Januari 2018. Penelitian ini disusun secara Randomized Complete Block Design (RCBD) dengan tiga blok sebagai ulangan yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah pemberian larutan NaCl dengan dosis 0,2 dS/m, 5 dS/m dan 10 dS/m. Faktor ke dua yaitu pemberian kompos jerami padi dengan 4 aras: 0%, 5%, 15% dan 25%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa takaran kompos jerami padi 15% dianggap mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi pada kondisi salin dan non salin. Meningkatnya pertumbuhan tanaman dapat dilihat dari variabel tinggi tanaman, jumlah anakan per rumpun, bobot segar tajuk dan bobot kering tajuk saat panen dan bobot kering tanaman saat panen. Sementara pada komponen hasil dapat dilihat pada jumlah malai per rumpun, jumlah gabah per rumpun, bobot malai per rumpun dan bobot gabah total per rumpun