Vegetalika
Not a member yet
487 research outputs found
Sort by
Identifikasi Propagul Gulma pada Berbagai Jenis Tanah Sawah
Gulma yang tumbuh ke permukaan tanah berasal dari simpanan biji gulma di dalam tanah. Terdapat banyak propagul gulma yang tersimpan di dalam tanah sawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi propagul gulma pada berbagai jenis tanah sawah. Penelitian dilakukan sejak Februari hingga Mei 2019 di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas PGRI Yogyakarta. Percobaan disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dan diulang tiga kali. Faktor pertama adalah jenis tanah sawah terdiri atas empat macam, yaitu: tanah pasir pantai, vulkanik, latosol, dan regosol. Faktor kedua adalah kedalaman tanah terdiri atas enam aras, yaitu: 0-5, >5-10, >10-15, > 15-20, >20-25, dan >25-30 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah jenis gulma tertinggi pada tanah regosol, kemudian menurun pada tanah pasir pantai dan terendah pada tanah vulkanik dan latosol. Jumlah propagul gulma tertinggi terdapat pada tanah regosol di kedalaman >10-15 cm. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan nyata jumlah propagul gulma antar jenis tanah maupun antar kedalaman tanah sawah. Kami menyarankan bahwa untuk pengendalian gulma agar berhasil maksimal, maka perlu disesuaikan dengan jenis tanah sawah untuk budidaya padi
Karakterisasi Beberapa Aksesi Serai Wangi (Cymbopogon nardus L.) Asal Cianjur
Serai wangi (Cymbopogon nardus L.) merupakan tanaman aromatik yang kaya akan kandungan senyawa kimia penting terutama sitronela. Minyak atsiri dari tanaman serai wangi sering digunakan sebagai bahan baku utama berbagai industri. Perakitan varietas-varietas unggul serai wangi masih sangat diperlukan dalam rangka upaya peningkatan produksi serai wangi nasional. Pemanfaatan aksesi-aksesi dari sentra produksi serai wangi seperti Cianjur diharapkan dapat mendukung program pemuliaan serai wangi secara efektif dan efisien. Informasi genetik dari aksesi-aksesi lokal dapat diketahui melalui kegiatan karakterisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter morfologi kualitatif dan kuantitatif beberapa aksesi serai wangi hasil eksplorasi dari daerah Cianjur, Jawa Barat. Materi genetik yang digunakan pada penelitian ini adalah 10 aksesi Cianjur (SC1, SC2, SC3, SC4, SC5, SC6, SC7, SC8, SC9, dan SC10). Karakter yang diamati berupa karakter kuantitatif dan kualitatif. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa aksesi SC1 merupakan aksesi terbaik dari Cianjur yang memiliki keunggulan pada semua karakter kuantitatif yang diamati terutama karakter panjang daun, tinggi batang, diameter batang, dan aroma daun yang tajam. Sekitar 75% karakter kuantitatif serai wangi Cianjur menunjukkan hasil korelasi antar karakter yang positif. Aksesi-aksesi dari Cianjur memiliki ciri-ciri yang sama yaitu batang berwarna VG 84B, pangkal daun berbentuk cekung, dan permukaan daun berwarna GGN 138C. Aksesi SC1 dan SC5 memiliki hubungan kekerabatan yang jauh dan berpotensi dikembangkan sebagai tetua persilangan
Pengembangan Formula dan Pembuatan Controlled Release Fertilizer (CRF) untuk Bawang Merah
Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Data produksi bawang merah di Indonesia menunjukkan bahwa produktivitas hasil bawang merah tersebut masih dapat ditingkatkan. Pemupukan merupakan salah satu alternatif solusi untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Efisiensi pemupukan harus ditingkatkan mengingat rendahnya efisiensi penggunaan pupuk buatan yang disebabkan oleh banyak faktor, antara lain karena kehilangan bahan aktif (nutrient) melalui proses degradasi mikrobial, volatilisasi ataupun tercuci oleh aliran permukaan. Salah satu solusi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk adalah CRF. Controlled Release Fertilizer (CRF) merupakan jenis pupuk dengan mekanisme pelepasan unsur hara secara berkala mendekati pola penyerapan oleh tanaman sehingga unsur hara yang terkandung dalam pupuk tidak terbawa oleh air. CRF yang dikembangkan merupakan formula pupuk lengkap untuk bawang merah yang meliputi makro nutrient (N, P, K), makro sekunder (Sulfur, Magnesium, Kalsium), serta mikro nutrient (Zinc, Cuprum, dan Asam humat). Berdasarkan rekomendasi badan litbang dan peraturan-peraturan terkait formula pupuk untuk bawang merah, dihasilkan 2 buah formula yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman bawang merah. Dihasilkan 2 buah prototype pupuk untuk tanaman bawang merah (NPK CRF 14-7-9-6-4-2 dan NPK CRF 16-7-10-6-2). Kedua pupuk tersebut di coating dengan menggunakan asam humat, dari hasil coating dengan menggunakan asam humat, nilai crushing strength dari granul pupuk meningkat 1,5x lipat dibandingkan sebelum di coating. Selain sifat asam humat yang dapat menghambat pelepasan N, peningkatan crushing strength juga dapat memperlambat proses degradasi granul pupuk
Keragaman Genetik 50 Aksesi Plasma Nutfah Kacang Hijau (Vigna radiata L.) Berdasarkan Marka SSR
Kacang hijau (Vigna radiata L) merupakan tanaman tropis yang merupakan tanaman kacang-kacangan terbanyak ketiga setelah kacang kedelai dan kacang tanah. Kehadiran kacang hijau penting sebagai penyangga pangan di Indonesia dan tercermin dari laju peningkatan produksi yang sangat pesat sehingga menjadi tantangan dalam pemuliaan tanaman.Tersedianya sumber keragaman genetik menjadi prasyarat dalam keberhasilan program pemuliaan. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menganalisis keragaman genetika lima puluh aksesi kacang hijau dengan menggunakan marka Simple Sequence Repeats (SSR). Pola pita hasil Polymerase Chain Reaction (PCR) diberi skor sebagai data biner. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak GelAnalyzer, NTSYS, dan PowerMarker. Hasil keragaman genetik kacang hijau berdasarkan 10 marka SSR menunjukkan polimorfisme dan variasi genetik 50 aksesi kacang hijau. Marka polimorfik tersebut dapat mendeteksi 155 alel dengan kisaran 11–20 alel per lokus dengan rerata 15,5 alel per marka. Rerata nilai diversitas gen yang dihasilkan adalah 0,92 dan rerata nilai frekuensi alel utama yang dihasilkan adalah 0,13%. Nilai PIC yang diperoleh berkisar antara 0,88 dan 0,92 dengan rerata 0,90. Kesepuluh marka SSR yang digunakan memiliki nilai PIC >0,7 dan merupakan marka yang informatif sehingga potensial untuk analisis keragaman genetik plasma nutfah kacang hijau maupun untuk seleksi berbantu marka. Berdasarkan hasil analisis klaster, 50 aksesi plasma nutfah kacang hijau mengelompok menjadi dua kelompok utama pada koefisien kemiripan genetika 0,83 pada tanaman kacang hijau tersebut. Keragaman genetik ini penting untuk membantu preservasi maupun pemuliaan kacang hijau di Indonesia
Respon Pemberian Konsentrasi Gula dan Paclobutrazol Pada Pengumbian Kentang Secara In Vitro
Peningkatan produktivitas kentang masih mengalami beberapa kendala yang disebabkan karena benih yang tidak bersertifikat dan jumlah ketersediaan benih yang terbatas. Salah satu alternatif terbaik guna mengatasi permasalahan tersebut adalah memproduksi benih melalui umbi mikro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, UPT Pengembangan Benih Hortikultura Sidomulyo Batu yang terletak pada ketinggian 1100 mdpl. Waktu yang dibutuhkan adalah 4 bulan, dimulai sejak Oktober 2021 sampai Januari 2022. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh tunggal pemberian konsentrasi gula dan konsentrasi paclobutrazol dan mengetahui pengaruh interaksi pemberian konsentrasi gula dan konsentrasi paclobutrazol pada media pengumbian kentang melalui teknik kultur in vitro. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Faktor pertama adalah konsentrasi gula 30 g/l, 60 g/l, 80 g/l, 100 g/l, dan faktor kedua adalah konsentrasi paclobutrazol 0 mg/l, 0,2 mg/l, 0,4 mg/l, 0,7 mg/l, 1 mg/l. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor tunggal konsentrasi gula 60 g/l memberikan hasil optimum pada parameter persentase tumbuh umbi, waktu muncul umbi mikro, jumlah umbi mikro dan bobot umbi mikro. konsentrasi paclobutrazol 0,2 mg/l mampu memberikan hasil optimum pada parameter persentase tumbuh umbi, waktu muncul umbi mikro, jumlah umbi mikro dan bobot umbi mikro. Interaksi pemberian konsentrasi gula 30 g/l dan konsentrasi paclobutrazol 0 mg/l mampu meningkatkan parameter pengamatan tinggi tanaman, konsentrasi gula 100 g/l dan paclobutrazol 0,7 mg/l memberikan hasil optimum pada jumlah daun, perlakuan konsentrasi gula 100 g/l dan paclobutrazol 0,2 mg/l memberikan hasil optimum pada parameter jumlah tunas, dan perlakuan konsentrasi gula 60 g/l dan paclobutrazol 0,2 mg/l mampu memberikan hasil optimum pada parameter jumlah akar.
Karakterisasi Delapan Galur Harapan Sorgum Manis (Sorghum bicolor L. Moench.)
Karakterisasi delapan galur harapan sorgum manis (Sorghum bicolor L. Moench.) hasil pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Serealia dilaksanakan pada Februari hingga Juni 2018 di Kebun Percobaan Tridharma Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai keragaman karakter morfologi dan agronomi delapan galur harapan sorgum manis, serta memperkirakan kemiripan karakter antar galurnya. Perlakuan yang diberikan berupa galur sorgum manis, yaitu SRM 11-2, SRM 42-3, SRM 47-1, SRM 48-1, SRM 51-2, SRM 52-3, SRM 70-1, dan SRM 71-2, dibandingkan dengan dua varietas yaitu Numbu dan Super 1. Percobaan disusun dengan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. Tanaman ditanam dengan jarak 75 x 20 cm pada petak percobaan berukuran 3 x 5 meter. Diamati sebanyak sepuluh tanaman perpetak sebagai sampel. Data kuantitatif dianalisis variansnya menggunakan uji anova dan diuji lanjut dengan uji HSD Tukey pada taraf 5%. Dari percobaan yang dilakukan, menunjukkan adanya keragaman karakter morfologi pada delapan galur harapan sorgum manis yang meliputi karakter warna hipokotil, warna biji, bentuk malai, kepadatan malai, tinggi tanaman, umur berbunga 50%, dan umur panen. Nilai heritabilitas karakter agronomi berkategori ‘sedang’ untuk diameter batang (0,41) dan kadar gula nira (0,36), dan berkategori ‘tinggi’ untuk karakter tinggi tanaman (0,94), umur berbunga 50% (0,67), dan umur panen (0,78). Berdasarkan analisis kemiripan, delapan galur harapan sorgum manis terbagi dalam lima kelompok besar berdasarkan kemiripan karakter di antara galur-galur
Analisis Kekerabatan dan Keragaman Dua Puluh Lima Tanaman Sri Rejeki (Aglaonema sp) Berdasarkan Karakter Morfologi
Dalam program perakitan varietas tanaman aglaonema unggul memerlukan beberapa informasi dasar sebagai bahan penentu arah pemuliaan tanaman. Melalui penelitian ini dilakukan karakterisasi berdasarkan morfologi tanaman aglaonema untuk mengetahui karakteristik dari masing-masing tanaman dan mempelajari hubungan kekerabatan genetik antar tanaman aglaonema. Bahan penelitian yaitu 25 tanaman aglaonema antara lain : Pride of Sumatra, Ruby Super Pink, Ruby Kura, Suksom Jaipong, Asri, Nancy,Shinta, Legacy, Tiara, Legacy Putih, Tiara Putih, Kochin Brown, Sexy Pink, Ayu Green, Anjamani, Sartika, Charlie Brown, Snowwhite, Donacarmen, Big Leaf, Krisna Golden, Bidadari, Siam Aurora, Queen of Siam, dan Kanza. Hasil dari karakterisasi morfologi menghasilkan dendrogram dengan koefisien kemiripan sebesar 0,82 terbagi menjadi 2 klaster dan berdasarkan analisis komponen utama (PCA) tanaman aglaonema dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam kombinasi warna tunggal, kombinasi dua warna dan kombinasi tiga warna
Respon Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Main Nursery pada Kondisi Cekaman Kekeringan dengan Pemberian Plant Growth Promoting Rhizobacteria dan MikorizaVesikula Arbuskula
Cekaman Kekeringan pada bibit kelapa sawit berpengaruh pada pertumbuhan tanaman mulai dari pertumbuhan tanaman terhambat, abnormal hingga tanaman mengalami kematian. Proses peningkatan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dapat dilakukan dengan melalui penambahan biostimulan. PGPR (Plant Growth PromotingRhizobacteria) dan MVA (Mikoriza Vesikula Arbuskula) merupakan biostimulan yang penting dalam perkebunan kelapa sawit. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh PGPR dan MVA terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di main nursery pada kondisi cekaman kekeringan. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah mikroorganisme yang terdiri dari 1) kontrol atau tanpa mikroorganisme 2) MVA dan 3) PGPR. Faktor kedua adalah penyiraman yang meliputi penyiraman 1 hari sekali dan penyiraman 7 hari sekali, setiap perlakuan masing-masing 5 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan mikroorganisme dan penyiraman tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit. Meskipun demikian penyiraman setiap hari dengan inokulasi MVA mampu meningkatkan volume akar