Jurnal Keperawatan
Not a member yet
128 research outputs found
Sort by
PENGARUH PEMBERIAN TERAPI KELOMPOK SOCIAL SKILL PADA LANSIA DENGAN ISOLASI SOSIAL DI UPT PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA (PSTW) MAGETAN
Kemampuan sosialisasi akan lebih dirasakan oleh lansia yang tinggal dalam suatu tempat khusus seperti panti werdha. Ketidakmampuan bersosialisasi atau isolasi sosial dalam lingkungan yang berbeda dari kehidupan sebelumnya merupakan suatu stressor yang cukup berarti bagi lansia. Oleh karena itu pada lansia yang tinggal dalam suatu panti wredha sangat penting untuk mendapatkan intervensi keperawatan khususnya yang berkaitan dengan masalah psikososial. Penemuan masalah lansia dengan isolasi sosial di PSTW Magetan sebanyak 24 klien. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan mengidentifikasi Pengaruh Pemberian Terapi Kelompok Social skill Pada Lansia Dengan Isolasi Sosial Di UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha (PSTW) Magetan. Desain penelitian yang digunakan adalah ”Pra experimental pre-post test one group”. Sampel diambil dari seluruh populasi yaitu sebanyak 24 lansia yang memenuhi criteria inklusi. Tehnik sampling yang digunakan adalah pupposive sampling. Instrumen penelitian ini memodifikasi kuesioner dari Minnesota Social Skills Checklist.Kuesioner terdiri dari 40 pernyataan dengan rentang skor antara 40-120. Analisa data menggunakan analisis statistik Uji Paired T Test. Hasil perhitungan uji Paired t-test diperoleh bahwa rata-rata ketrampilan sosial sebelum diberikan intervensi yaitu sebesar 56,26, sedangkan rata-rata ketrampilan sosial setelah diberikan intervensi sebanyak 59,39. Analisa hasil penelitian dengan uji Paired t-test diperoleh nilai p value 0,000 < α (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari social skill training terhadap ketrampilan sosial. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan dengan terbentuknya kelompok suportif sebagai tindak lanjut dari kelompok latihan ketrampilan sosial dapat dijadikan wadah bagi lansia untuk dapat saling memberi support dan dukunga
DETERMINAN FAKTOR PEMICU TERJADINYA PERNIKAHAN DINI PADA USIA REMAJA
Pendahuluan : Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan sebelum seorang individu berusia 20 tahun. Pernikahan dini merupakan masalah klasik yang masih sering ditemukan di wilayah Indonesia baik pada masyarakat pedesaan (rural community) maupun masyarakat perkotaan (urban community). Masalah pernikahan dini juga terjadi di wilayah Kota Mojokerto. Selama kurun wkatu tahun 2019, terjadi sebanyak 102 pernikahan dini. Pernikahan dini yang terjadi berpotensi untuk menimbulkan resiko baik bagi remaja yang menikah dini, anak yang akan dilahirkan dan memiliki resiko terjadinya perceraian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor penyebab pernikahan dini pada remaja di Kota Mojokerto. Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif. Populasi pada penelitian ini sebanyak 102 wanita usia subur yang melakukan pernikahan dini di wilayah Kota Mojokerto selama kurun waktu tahun 2019. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara probability sampling dengan teknik pengambilan simple random sampling. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 81 responden. Variabel dalam penelitian ini adalah faktor penyebab pernikahan dini pada remaja. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner tertutup. Hasil : Hasil penelitian mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya pernikahan dini diantaranya adalah pengetahuan tentang pernikahan dini, ekonomi, pendidikan, dan media massa. Kesimpulan : Pernikahan dini merupakan salah satu ancaman bagi pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak untuk mengupayakan pencegahan peningkatan angka kejadian pernikahan dini sebagai upaya preventif untuk menurunkan gangguan dan resiko yang dapat terjadi akibat pernikahan din
PENGARUH SENAM KAKI TERHADAP PERUBAHAN KADAR GULA DARAH PADA LANSIA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE II DI DESA BALEREJO KABUPATEN MADIUN
Peningkatan prevalensi penyakit Diabetes Melitus tipe 2 pada negara maju maupun negara berkembang sehingga menjadi masalah kesehatan atau penyakit global pada masyarakat.Oleh karena itu Diabetes Melitus tipe 2 dapat dicegah dengan olahraga rutin, hidup sehat dan teratur. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh senam kaki terhadap perubahan kadar gula darah pada lansia penderita diabetes melitus tipe 2 di Posyandu Mawar Desa Balerejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun. Jenis penelitian ini adalah pre-eksperimental dengan pendekatan one group pre-post test. Populasi dalam penelitian ini sejumlah 30 lansia penderita Diabetes Melitus tipe 2 di Posyandu Mawar Desa Balerejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun. Sampel dalam penelitian ini adalah semua lansia yang menderita diabetes mellitus tipe 2 di Posyandu Mawar Desa Balerejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun sebanyak 30 lansia. Tehnik sampling yang digunakan adalah total sampling. Metode pengumpulan data menggunakan lembar observasi sebelum dan sesudah diberikan senam kaki. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Wilcoxon dengan α 0,05. Hasil penelitian diketahui bahwa terdapat perubahan pada kadar gula darah sebelum dan sesudah diberikan senam kaki dengan mean sebelum diberikan senam kaki adalah 182,80 mg/dl sedangkan mean sesudah diberikan senam kaki adalah 143,13 mg/dl. Hasil analisa Wilcoxon diperoleh nilai signifikansi P value = 0,000 < α = 0,05 artinya ada pengaruh senam kaki terhadap perubahan kadar gula darah penderita diabetes mellitus tipe 2 Desa Balerejo Kabupaten Madiun. Dari hasil penelitian senam kaki dapat mempengaruhi penurunan kadar gula darah, selain itu usia responden juga dapat mempengaruhi seberapa sering melakukan aktifitas fisik olahraga seperti senam setiap mingg
FAKTOR BUDAYA TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LENTENG KABUPATEN SUMENEP
Pentingnya pemberian ASI ditetapkan Pemerintah Indonesia dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 128 ayat 1. Setiap bayi berhak mendapatkan ASI eksklusif sejak dilahirkan selama enam bulan.ASI merupakan pilihan asupan nutrisi yang tepat untuk bayi. Salah satu masalah utama penyebab rendahnya penggunaan ASI di Indonesia adalah faktor sosial budaya. Perilaku pemberian ASI eksklusif tidak terlepas dari pandangan budaya yang sudah turun temurun diwariskan dalam kebudayaan yang bersangkutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peran faktor budaya terhadap pelaksanaan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Lenteng Kabupaten Sumenep.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan dalam penelitian sejumlah 15 orang yang terdiri dari 11 informan kunci yaitu ibu menyusui yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan dan merupakan orang asli Madura, informan utama yaitu bidan desa dan kader kesehatan serta informan tambahan yaitu keluarga yang tinggal serumah dengan informan kunci. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam pada informan.Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, display data, analisis isi dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan Ibu memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Masih terdapat tradisi turun menurun pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Lenteng dalam hal menyusui. Masyarakat Lenteng mempunyai pandangan bahwa bayi berhak mendapatkan ASI dari ibunya tetapi masih banyak yang memberikan makanan tambahan pada bayi sebelum usia enam bulan. Hal tersebut dikarenakan adanya budaya turun temurun yang menganggap bayi akan rewel dan tidak merasa kenyang jika tidak diberikan makanan tambahan. Makanan tambahan yang diberikan berupa pisang, lontong, dan bubur yang terbuat dari tepung maizena.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat budaya yang mendukung dan tidak mendukung dalam praktik pemberian ASI pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Lenteng. Diharapkan tenaga kesehatan dapat memberikan edukasi kepada ibu dan keluarga agar masyarakat dapat memahami peran budaya terhadap kesehata
KUALITAS HIDUP PEKERJA SEKSUAL PASCA PENUTUPAN LOKALISASI BALONGCANGKRING KOTA MOJOKERTO : STUDI KUALITATIF
Prostitusi merupakan masalah klasik di berbagai negara termasuk dalam hal ini adalah Indonesia. Berdasarkan kajian ilmiah yang banyak dilakukan oleh peneliti, praktik prostitusi memiliki pengaruh terhadap setiap kehidupan masyarakat dan para pekerja seksual di dalamnya. Untuk mengatasi dampak dari terjadinya prostitusi, Kementerian Sosial Republik Indonesia menargetkan Indonesia bebas prostitusi pada tahun 2019. Praktik prostitusi pada dasarnya terjadi karena rendahnya kualitas hidup yang dimiliki oleh masyarakat. Kualitas hidup itu sendiri memiliki tiga domain utama yang terdiri dari kesejahteraan, kebebasan dan partisipasi sosial. Ketidakmampuan individu untuk memenuhi salah satu komponen akan beresiko memicu munculnya perilaku negatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas hidup yang dimiliki pekerja seksual setelah lokalisasi dilakukan penutupan. Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan pendekatan deskriptif fenomenology. Partisipan penelitian dipilih dari pekerja seksual yang pernah berada di lokalisasi balongcangkring kota Mojokerto yang memenuhi kriteria penelitian. Dari hasil pemilihan partisipan didapatkan 16 partisipan yang bersedia untuk dilakukan interview. Instrumen penelitian disusun peneliti mengacu kepada dimensi kualitas hidup manusia. Hasil analisa data didapatkan tiga dimensi yang berkaitan dengan kualitas hidup manusia yang dianggap bermakna oleh informan dalam penelitian ini yaitu : 1) Kesejahteraan, 2) Kebebasan, dan 3) Partisipasi sosial. Informan dalam penelitian ini cenderung memiliki tingkat kesejahteraan yang negatif namun pada dimensi kesejahteraan fisik, penutupan lokalisasi memunculkan dampak yang positif pada diri informan. Informan mengaku memiliki banyak waktu yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas fisik, dan kegiatan rutin. Hal ini menjadikan kondisi kesehatan informan mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi kesehatan sebelum lokalisasi dilakukan penutupan. Penutupan lokalisasi sama artinya dengan menghilangkan peluang bagi pekerja seksual untuk bisa bekerja dan mampu mendapatkan uang dengan cepat. Hal ini juga berarti menghilangkan sesuatu hal yang menyenangkan bagi beberapa orang terutama pelanggan jasa pekerja seksual. Untuk memastikan penutupan lokalisasi sesuai dengan harapan, maka pemangku kebijakan harus menggantikan hal yang serupa untuk menggantikan praktik prostitusi dimana setiap person yang terlibat didalamnya masih tetap dapat bekerja dan menghasilkan uan
GAMBARAN PELAKSANAAN PERSONAL HYGIENE PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANG TALIWANG MATARAM
Personal Hygiene adalah salah satu faktor penting yang berperan dalam penyakit terutama pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan personal hygiene pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Karang Taliwang Mataram. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 65 orang dan besar sampel 16 orang dengan tehnik pengambilan sampel yaitu dengan tehnik purposive sampling dengan kuesioner.Dari hasil penelitian didapatkan usia 60 -74 sebanyak 10 responden (62,50%), usia 75 - 90 tahun sebanyak 6 responden (37,50%), dan Usia 90 tahun ke atas yakni sebanyak 0 responden. Berdasarkan jenis kelaminyang berjenis kelamin perempuan sebanyak 10 Responden (62,50%) dan laki-laki sebanyak 6 (37,50%). Berdasarkan agama mayoritas beragama muslim sebanyak 16 Responden (100%). Dari hasil penelitian didapatkan pelaksanaan personal hygiene pada lansia dalam kategori baik sebanyak 2 responden (12,50%), kategori cukup sebanyak 6 responden (37,50%) dan dalam kategori kurang sebanyak 8 responden (50%).Peneliti menyarankan petugas kesehatan yang berada di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Taliwang agar memberikan perhatian lebih kepada lansia yang memiliki personal hygiene masih kuran
MENURUNKAN INTENSITAS NYERI SENDI PADA LANJUT USIA MENGGUNAKAN METODE KOMPRES DINGIN
Pendahuluan : Salah satu resiko gangguan kesehatan yang dapat dialami lansia adalah terjadinya nyeri sendi. Nyeri sendi yang dialami oleh lansia dapat mengkibatkan gangguan aktivitas sehingga memaksa lansia untuk mengurangi aktivitas yang rutin dilakukan. Guna mengatasi nyeri sendi, selain dengan mengkonsumsi obat-obatan (farmakologi) juga dapat dilakukan dengan metode nonfarmakologi salah satunya dengan cold therapy. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas cold therapy terhadap intensitas nyeri sendi pada lanjut usia di Desa Gayaman Kecamatan Mojoanyar Kabupaten Mojokerto. Metode : Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan pendekatan pre post control group design. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian lanjut usia di Desa Gayaman Kecamatan Mojoanyar Kabupaten Mojokerto yang memenuhi kriteria penelitian sebanyak 52 responden. Variabel independent dalam penelitian ini adalah cold therapy dan variabel dependent dalam penelitian ini adalah intensitas nyeri sendi. Instrument pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi PAINAD. Analisa data dilakukan menggunakan uji wilcoxon dengan tingkat kesalahan yang digunakan adalah α : 0,05. Hasil : Ada perbedaan yang bermakna dari hasil pengukuran intensitas nyeri sendi (pre-test) dan intensitas nyeri sendi (post-test) pada kelompok perlakuan yang berarti cold therapy efektif untuk menurunkan intensitas nyeri sendi pada lanjut usia di Desa Gayaman Kecamatan Mojoanyar Kabupaten Mojokerto. Kesimpulan : Cold therapy merupakan metode nonfarmakologi yang dapat diaplikasikan oleh lanjut usia guna mengatasi nyeri sendi yang dialami. Selain aman, terapi ini juga dapat dilakukan secara mandiri dan sewaktu-waktu lanjut usia merasakan nyeri sendi. Hal ini secara tidak langsung akan membantu menurunkan ketergantungan lanjut usia terhadap berbagai jenis obat pereda nyeri send
PENERAPAN TEKNIK RELAKSASI PROGRESIF TERHADAP DERAJAT NYERI PERSALINAN KALA 1 FASE AKTIF
Tingginya persalinan melalui operasi caesar (SC) pada ibu bersalin menunjukkan bahwa pengetahuan dan pemahaman ibu masih rendah dalam menangani masalah nyeri selama persalinan. Rasa sakit yang timbul akan menyebabkan beberapa masalah yang berbahaya jika tidak ditangani dengan benar. Salah satu upaya untuk mengatasi rasa sakit dengan menggunakan metode non-farmakologis, yaitu teknik relaksasi progresif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi progresif terhadap derajat nyeri persalinan kala 1 fase aktif di RSI Hasanah Muhammadiyah Kota Mojokerto. Metode penelitian ini menggunakan pre-eksperimental dengan pre-test post-post design. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, dengan sampel 13 responden sesuai kriteria. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi. Variabel independen dalam penelitian ini adalah penerapan teknik relaksasi progresif, sedangkan variabel dependen adalah derajat nyeri persalinan kala 1 fase aktif. Instrumen yang digunakan adalah SOP dan tingkat nyeri diukur menggunakan VAS (Visual Anxiety Scale). Hasil penelitian sebelum diberikan intervensi teknik relaksasi progresif menunjukkan bahwa ada 7 responden (53,8%) yang mengalami nyeri berat terkontro dan setelah diberikan intervensi teknik relaksasi progresif didapatkan sebagian besar responden mengalami nyeri sedang sebanyak 7 responden (53,8%). Berdasarkan hasil uji wilcoxon signed rank test didapatkan nilai Z sebesar -3,00 dengan p value (asymp. Sig 2 tailed) sebesar 0,003 dimana p value tersebut kurang dari batas kritis penelitian 0,05 sehingga hipotesis penelitian ini diterima yang berarti penerapan teknik relaksasi progresif efektif terhadap derajat nyeri persalinan kala 1 fase aktif. Relaksasi progresif dapat menghambat transmisi impuls rasa sakit dari sumber rasa sakit yang berasal dari serviks dan korpus uterus sehingga dapat mengurangi intensitas nyeri persalinan. Dengan teknik relaksasi progresif, perifer resistensi dapat menurun dan elastisitas pembuluh darah meningkat. Otot dan sirkulasi darah akan lebih sempurna dalam pengambilan dan pemberian oksigen dalam darah sehingga akan terjadi efek vasodilatasi (memperlebar pembuluh darah
DAMPAK KECANDUAN SMARTPHONE DALAM PENURUNAN PRODUKTIVITAS BELAJAR SISWA SMP
Pendahuluan : Perkembangan smartphone menimbulkan berbagai dampak perubahan yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Smartphone tidak hanya menjadi alat komunikasi namun berkembang menjadi alat yang dapat memberikan edukasi dan hiburan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kecanduan smartphone terhadap penurunan produktivitas belajar. Metode : Penelitian ini menggunakan desain observational analytic dengan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan yaitu probability sampling dengan pengambilan simple random sampling sebanyak 53 siswa SMP. Hasil : Hasil penelitian ini menunjukan bahwa responden yang mengalami kecanduan smartphone sebesar 43,4% dan responden yang mengalami penurunan produktivitas belajar sebesar 39,6%. Ada hubungan yang signifikan antara kecanduan smartphone dengan produktifitas belajar dengan nilai odds ratio 11,429 yang berarti siswa yang mengalami kecanduan smartphone akan mengalami produktivitas belajar 11,429 kali lebih rendah dibandingkan siswa yang tidak kecanduan. Kesimpulan : Guru harus membina siswa dengan memberikan nasehat terhadap siswa. Orang tua mendidik anak dengan memberikan perhatian dan kasih sayang sehingga siswa mampu mengatasi masalah kecanduan smartphone
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG MENOPAUSE DI DESA TANAK BEAK KECAMATAN NARMADA KABUPATEN LOMBOK BARAT PROVINSI NTB
Menopause adalah masa berakhirnya siklus menstruasi yang terdiagnosa setelah 12 bulan tanpa periode menstruasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang menopause berdasarkan umur dan pendidikan. Data yang ada di Desa Tanak Beak Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat Provinsi NTB pada tahun 2020 terdapat 2.986 jumlah penduduk perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan jumlah populasi 105 ibu usia premenopause dan jumlah sampel 20 ibu usia premenopause, teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gambaran Pengetahun Ibu Tentang Menopause di Desa Tanak Beak Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat Provinsi NTB pada kategori kurang sebanyak 15 responden (75%%), baik sebanyak 4 responden (20%), dan cukup sebanyak 1 responden (5%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pengetahuan ibu usia premenopause ada dalam kategori kurang sebanyak 15 responden (75%). Diharapkan bagi perangkat desa untuk bekerja sama dengan tenaga kesehatan dalam memberikan informasi atau penyuluhan tentang kesehatan khususnya cara mengahadapi menopaus