Berkala Arkeologi Sangkhakala
Not a member yet
328 research outputs found
Sort by
Tipe Hunian Gua dan Ceruk Arkeologis Masa Prasejarah di Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul (Sebuah Analisis Pendahuluan)
AbstractThe prehistoric hunter and gatherers have two type of cave or rock-shelter settlement. The first one is homebase, which they stay here for a long time and gather their food from environtment natural sources. When their environment sources empty, they hunt or gather in the other natural sources. They need other cave or rock-shelter as transit-site, make energy efficiency for a good hunting strategy trap
Proses Pembuatan Megalitik Nias Sebagai Bagian Sistem Upacara Owasa ( Studi Kasus Proses Sebagai Sebuah Sistem Upacara Owasa di Situs Megalitik Orahili Fau)
AbstractThe Nias Island is known to possess many relics in the megalithic tradition, in various forms – decorative and non decorative motifs, that emerged some questions about the material of megalithic relics, how to bring the large objects, where they did, what kind of tool they used. The process of making megalithic objects is a system who finally becaming as culture until now a megalithic
Pengaruh Kebudayaan Hoabinh dan Austronesia Prasejarah di Dataran Tinggi Tanoh Gayo
Abstract'Tanoh Gayo' is a cultural area of the Gayo ethnic situated at the hghland of the Aceh province. The Tanah Gayo highland possesses an archeological site the Loyang Ujung Karang and Loyang Mendale that keep information of the ancient Hoabinh and Austronesian cultures. Such information that was acquired from an excavation has been learned through various cultural elements whose morphological and technological aspects identified through ethnoarchaeology method. The results show not only the two prehistoric cultures existence in the past but also their continued appearance in the beginning of the coming of Islam in the area.AbstrakTanoh Gayo merupakan wilayah budaya masyarakat etnis Gayo yang terletak di dataran tinggi Provinsi Aceh. Di wilayah ini terdapat situs arkeologis yaitu Loyang Ujung Karang dan Loyang Mendale yang menyimpan informasi dari budaya Hoabinh dan Austronesia prasejarah. Keberadaan informasi tersebut diketahui dari berbagai unsur budaya yang terekam dalam ekskavasi yang selanjutnya diidentifikasi morfologi dan teknologinya serta dilakukan juga metode etnoarkeologi. Hasilnya tidak hanya diketahui kedua budaya prasejarah tersebut tetapi juga diketahui adanya keberlangsungan budaya prasejarah tersebut pada masa-masa awal masuknya Islam di wilayah ini
Prasasti Sitopayan 1 & 2: Tinjauan Aspek Ekstrinsik dan Intrinsik
AbstractSitopayan 1 & 2 inscriptions that were discovered at Biaro Sitopayan complex are currently stored at North Sumatra State Museum.The review of the inscription from both intrinsic and extrinsic aspects reveals material, shape, palaeography or language (extrinsic) and content and other aspects related with Biaro Sitopayan (intrinsic). An analysis is then conducted through those primary and additional data, external/extrinsic and internal/intrinsic criticism acquisition a result of which is a conclusion.AbstrakPrasasti Sitopayan 1 dan Prasasti Sitopayan 2 merupakan prasasti yang ditemukan di Komplek Biaro Sitopayan. Kedua prasasti tersebut saat ini disimpan di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara. Banyak hal yang dapat diungkap dalam menelaah sebuah prasasti baik itu dilihat dari aspek ekstrinsik, yaitu yang berkaitan dengan bahan, bentuk, paleografi, maupun bahasanya, serta aspek intrinsik yaitu yang berkaitan dengan isi serta hal-hal lain yang berkaitan misalnya kaitannya dengan Biaro Sitopayan. Melalui data primer tersebut kemudian dilakukan analisis yang didukung dengan beberapa data penunjang lainnya serta kritik ekstern (ekstrinsik) dan kritik intern (intrinsik) lalu di dapat sebuah kesimpulan
Angklung, Perkembangannya dari Masa ke Masa
AbstractAngklung, is one of the instrument made of bamboo which’s popular in west Java, had been known since the Clasic era (around 9 to 14 century). At first, angklung was used in traditional ceremony that related with agriculture, such as:ritual to Dewi Sri. Now, angklung is as an instrument for entertaining
Kerbau dalam Tradisi Megalitik Etnis Batak di Sumatera Utara
AbstractBuffalo was an important animal for people with their megalithic tradition living until now. They have been used it, showed by discovering buffalo ornament in megalithic sites. How useful this animal have been made it as an sacred ornament or profane in some traditional houses
Visualisasi Kubur Sekunder Komunal di Pulau Samosir (Pendekatan Komunikasi Visual dalam Usaha Meningkatkan Kunjungan Wisata)
AbstractDiscussion on the visualization of secondary communal graves on Samosir intended to study the problems related to the captured messages by the public based on visual signs that are used when looking at a tourism promotion. Messages that are captured visually by the communicants (receiver of the messages) apparently can differ from the initial messages from communicator (sender of the messages). Through visual communication approaches that deliver is expected the messages can be accepted by the public in order to increase the tourist visits
Kontribusi Arkeologi Bagi Pengembangan Pulau-Pulau Kecil dan Terdepan di Sumatera Bagian Utara
AbstractAn archipelago country consisting of tens of thousands of small and big islands, Indonesia is mostly of a vast waters territory. Despite the amazing maritime potentials they are posed, the small, frontmost islands still experience difficulties in maximazing their natural riches, beauty, and mining potentials for their prosperity. Maritime policy repositioning is significant to implement to optimize those frontmost, small islands’ potentials. Such policy repositinoning shall include economy and politics sectors to optimize people’s welfare through the prioritization of our previously-abandoned maritime sector and integrate it with the land. The archaeological researches in small and frontmost islands may help describe the inhabiting of the islands by ancient people of such periods of pre-historic, classic, Islamic, or colonial. Such archaeological findings suggest the potentials of the small, frontmost islands to be used for the current Indonesian people’s prosperity when handled with care.AbstrakIndonesia sebagai negara kepulauan, terdiri atas puluhan ribu pulau, baik kecil maupun besar, dengan sebagian besar wilayahnya adalah lautan luas. Pulau-pulau kecil dan terdepan mempunyai potensi kelautan yang luar biasa, namun kekayaan hayati, keindahan alam, dan pertambangan belum dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan penghuninya. Untuk dapat mengembangkan pulau-pulau kecil dan terdepan secara optimal, perlu adanya reposisi kebijakan kelautan. Reposisi kebijakan kelautan adalah suatu kebijakan politik dan ekonomi dalam rangka pembangunan ekonomi, yang meninggalkan paradigma lama yakni menempatkan sektor kelautan sebagai marjinal, berubah menjadi arus utama dalam pembangunan ekonomi dengan tetap mengintegrasikannya dengan sektor daratan. Penelitian arkeologi di pulau-pulau kecil dan terdepan dapat memberi gambaran bahwa sebagian dari pulau-pulau itu pernah dihuni atau dimanfaatkan manusia pada masa lalu, sejak masa Prasejarah, masa Klasik, masa Islam, maupun masa Kolonial. Ini menunjukkan bahwa pulau-pulau kecil dan terdepan itu sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia masa kini, jika dikelola dengan serius. Untuk menjawab permasalahan itu digunakan metode penelitian deskriptif dengan penalaran induktif melalui penggabungan penelitian sejarah, filologi, dan arkeologi. Pengembangan berbagai potensi tinggalan arkeologis di pulau-pulau kecil dan terdepan yang merupakan hasil penelitian arkeologi merupakan kontribusi arkeologi bagi pengembangan pulau-pulau kecil dan terdepan