Berkala Arkeologi Sangkhakala
Not a member yet
    328 research outputs found

    Cover

    No full text

    Syailendrawangsa: Sang Penguasa Mataram Kuna

    No full text
    AbstractThe history of the ancient Mataram has been an intriguing discussion matter due to a seemingly endless problematic arising from the lack of data. However, increasing historical, archaeological researches, and new data findings complicate the issue. This article does not aim at providing justification over any of various perspectives proposed by any archaeologists or historians; rather, it tries to reveal and comprehend the historical matter of the ancient Mataram from one point of view. The historical approach suggests that there was only one ruling dynasty in the ancient Mataram, the Syailendrawangsa. Sanjaya was one of the descendant kings of Syailendrawangsa. The origins of the dynasty can be traced back through the Sojomerto inscription found in Batang, Central Java Province. The Syailendrawangsa was established by Dapunta Selendra, a native Indonesian. Mantyasih and Wanua Tengah III, under the instruction of Balitung, tell records about the lineage of the Syailendra dynasty or Syailendrawangsa from Sanjaya though Balitung. Some of the kings believed in Siva and others in Buddha. The inscriptions also have reports on four (4) names of the capital cities of the ancient Mataram: Poh Pitu, Mamratipura, Tamwlang, and Watugaluh; the locations which are not identified exactly. The different locations of the capital suggest the constant mobility of the kingdom centre of power. Early study predicts that the first two mentioned capitals are located in Central Java, while the latter two are in Jombang, East Java Province.AbstrakBicara tentang sejarah kerajaan Mataram Kuna selalu menarik, karena selalu akan ada permasalahan yang muncul akibat terbatasnya data. Namun semakin banyak penelitian sejarah maupun arkeologi dan semakin banyaknya temuan data baru, semakin rumit pula permasalahan yang muncul. Oleh karena itu, maksud tulisan ini tidak untuk membuktikan mana yang benar di antara berbagai pandangan para ahli tersebut, melainkan hanya ingin mengungkap dan memahami permasalahan kesejarahan kerajaan Mataram Kuna dari salah satu sudut pandang saja. Melalui pendekatan dengan metode historis, yang mengikuti salah satu pendapat bahwa hanya ada satu dinasti di kerajaan Mataram Kuna, maka dapat disimpulkan bahwa Syailendrawangsalah penguasa tunggal kerajaan Mataram Kuna. Sanjaya adalah salah satu raja keturunan Syailendrawangsa. Asal-usul dinasti ini dapat diketahui dari prasasti Sojomerto yang ditemukan di Batang Jawa Tengah. Syailendrawangsa didirikan oleh Dapunta Selendra yang merupakan orang asli Indonesia. Dari prasasti Mantyasih dan prasasti Wanua Tengah III yang dikeluarkan oleh Balitung dapat diketahui silsilah raja-raja Dinasti Syailendra atau Syailendrawangsa, yang diawali oleh Sanjaya sampai Balitung. Di antara raja-raja keturunan wangsa Syailendra itu ada yang memeluk agama Siwa dan ada yang memeluk agama Buddha. Diketahui pula adanya empat nama ibukota kerajaan Mataram Kuna, yang menunjukkan bahwa pusat kerajaan sering berpindah tempat. Keempat nama ibukota kerajaan itu adalah Poh Pitu, Mamratipura, Tamwlang, dan Watugaluh. Namun keempat pusat kerajaan itu belum dapat diidentifikasi lokasinya -- baru dapat diperkirakan -- dua nama pertama berada di wilayah Jawa Tengah dan dua nama terakhir diperkirakan di wilayah Jombang Jawa Timur

    Prasasti Padang Candi: Tinjauan Epigrafis Temuan Data Tertulis dari Situs Padang Candi, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau

    No full text
    AbstractPadang temple inscription is one of the few written records of the ancient Indian culture in Indonesia. The written record unfortunately still fails to provide a data of the period and background. This paper uses an inductive reasoning that comprises such processes of data collection, detailing, analysis, interpretation, and conclusion. This gold plate inscription containing the Buddha formula ye te mantra may relatively be from between the 9th and 10th centuries A.D. The content of the inscription suggests that the Padang temple site may be the remains of a Buddha temple complex.AbstrakPrasasti Padang Candi adalah salah satu data tertulis dari masa pengaruh kebudayaan India di Nusantara yang tidak banyak jumlahnya. Prasasti yang ditulis di atas lembaran emas ini secara relatif berasal dari abad ke-9 hingga ke-10 M, yang memuat mantra Buddha formula ye te mantra. Berdasarkan muatan prasasti ini, sisa-sisa bangunan bata di Situs Padang Candi diperkirakan adalah sisa-sisa kompleks suatu percandian yang berlatar belakang agama Buddha

    Simbol Pertanian dalam Budaya Masyarakat Karo

    No full text
    AbstractThe Tanah Karo's natural lanscape has been known such a fertile area with a climate that is perfect for agricultural activities. The ancient Karo people used to live the old way known as the megalith culture or tradition that is always related to ancestral and animism beliefs. When Islam and Christianity started to influx and flourish, the old beiefs gradually vanished. The material culture heritage, however, shows varous influences from the past. The old well-rooted concept and element that used to live in the society has left such a strong legacy to some aspects of the culture material and tradition in the present day, especially the buiding or the symbolic ornament and the traditional building element. The agricultural life in the past can be traced back through the symbols available, which then will become proposed questions in search for answers. This paper appliesmexplorative-descriptive method with inductive reasoning. The ornaments, building materials and elements available are proofs of agricultural activities in the forms of farming. The fertile soil and conducive climate provide a perfect back up to the farming. The traditional buildings for the ancestors' skulls at Tanah Karo settlements are the perfect examples of the ancient megalith.AbstrakAlam lingkungan Tanah Karo sejak dahulu memang merupakan area yang subur dengan iklim yang menunjang kegiatan pertanian. Masyarakat Karo dahulu masih menganut kepercayaan lama yang dikenal di Nusantara sebagai budaya atau tradisi megalitik yang sering dikaitkan dengan kepercayaan yang berkaitan dengan leluhur dan animisme. Seiring dengan masuknya agama Islam dan Kristen, kepercayaan ini berangsur hilang. Namun melalui budaya material yang ditinggalkan masih menunjukkan adanya pengaruh kepercayaan lama. Konsep maupun unsur budaya yang pernah ada dan mengakar pada masyarakatnya, menyebabkan sebagian bentuk budaya material maupun tradisinya masih menampakkan hubungan dengan budaya masa lalunya. Terutama berkaitan dengan bangunan atau simbol-simbol yang tercermin dalam ornamen dan elemen bangunan adatnya. Bagaimana kondisi pertanian masa lalu dilacak melalui simbol-simbol yang ada menjadi permasalahan yang ingin diungkapkan kejelasannya. Penulisan menggunakan metode eksploratif-deskriptif menggunakan alur penalaran induktif. Melalui berbagai ornamen, bahan bangunan serta elemen bangunannya menjadi petunjuk adanya kegiatan pertanian berupa persawahan dan perladangan. Hal ini didukung oleh tanah yang subur serta iklim yang menunjang kegiatan itu. Perkampungan di Tanah Karo juga masih menggambarkan adanya tradisi megalitik di masa lalu, dengan keberadaan bangunan adat sebagai tempat menyimpan tengkorak dan tulang belulang leluhur /geriten

    Emas dalam Budaya Batak

    No full text
    AbstractGolden artifacts have different varieties and decorative patterns, such as in jewellery. The presence of golden artifacts in the past is known presently from the Dutch old record in North Sumatra. At that time, the Bataknese lived an old belief of the ancestor spirits or called the megalithic tradition. The development of gold craftsmanship is seen through the golden artifacts with the typical Batak patterns influenced by the old faith as well as external decorative patterns. The proposed question is how the golden artifacts were integrated into the Bataknese culture. The study aims at collecting more knowledge of the importance of golden artifacts in Bataknese life as well as the cultural aspects reflected on those artifacts. Explorative-descriptive writing method with inductive reasoning is used to get an answer to the problem being proposed. Inductive reasoning begins at the study of data that can give a general conclusion or empirical generalization after data analysis stage process. Golden artifacts are just like pieces of art that bear a unique function in the society as well as describing such social, cultural, and religious aspects of the Bataknese in the ancient North Sumatra.AbstrakArtefak emas cukup beragam jenis dan pola hiasnya, di antaranya digunakan sebagai perhiasan. Tentang artefak emas di masa lalu diketahui melalui catatan lama ketika Belanda masuk ke wilayah Sumatera Utara. Pada masa itu etnis Batak pada umumnya masih hidup dalam kepercayaan lama yang berkaitan dengan roh nenek moyang atau dikenal dengan tradisi megalitik. Perkembangan seni kriya emas terlihat melalui artefak emas dengan pola hias khas Batak yang mendapat pengaruh religi lama, dan pola hias yang mendapat pengaruh dari luar. Permasalahannya adalah bagaimana artefak emas menjadi bagian dalam budaya masyarakat Batak ? Tulisan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan mengenai pentingnya artefak emas dalam kehidupan masyarakat Batak serta aspek-aspek kebudayaan yang tercermin melalui artefak tersebut. Untuk dapat menjawab permasalahan yang diajukan, maka metode penulisan bertipe eksploratif- deskriptif menggunakan alur penalaran induktif. Penalaran induktif berawal dari kajian terhadap data yang dapat memberikan suatu kesimpulan yang bersifat umum atau generalisasi empiris setelah melalui proses tahap analisis data. Seperti hasil karya seni lain, artefak emas mempunyai fungsi dalam kehidupan masyarakat serta menggambarkan aspek sosial, budaya, dan religi masyarakat Batak di Sumatera Utara di masa lalu

    Pemaknaan Lasara dalam Mitologi Nias

    No full text
    AbstractLasara is a mytological object being that is often symbolized in Nias material culture such as osa-osa, sarcofagus, wooden coffin, grave, lasara on village gate, traditional house ornaments, and sword handle. This comparative study-enhanced descriptive-analytical research method is aimed at finding connection between lasara, which is a part of Nias people mythology, and its interpretation through the outlying elements to obtain a complete understanding of lasara. The analysis reveals that in a society where mythology is an innate value, lasara is understood as a symbol of a ride related with religious and social aspects. Lasara is symbolized as a boat used in the migration of Nias people through the sea, as well as a spiritual ride in its religious life.AbstrakLasara merupakan makhluk mistis yang banyak diwujudkan dalam budaya materi di Nias seperti osa-osa, sarkofagus, peti jenazah kayu, bangunan kubur, lasara pada gerbang desa, ornamen rumah adat, dan hulu pedang. Untuk menjawab permasalahan mengenai pemaknaan lasara dalam pemahaman masyarakat Nias digunakan metode deskriptif analitik yang diperkuat oleh studi komparatif yang bertujuan untuk menarik benang merah antara objek yang dikenal sebagai lasara yang menjadi bagian dari mitologi masyarakat Nias dengan pemaknaannya melalui aspek-aspek yang melatarbelakanginya sehingga dapat diperoleh pemahaman yang utuh terhadap salah satu bentuk kebudayaan di daerah Nias tersebut. Dari analisis tersebut dapat terjawab bahwa dalam pemahaman masyarakatnya yang masih sangat terikat oleh mitologi, lasara dimaknai sebagai simbol yang berkaitan dengan struktur sosial serta simbol wahana terkait dengan aspek religi dan sosial. Lasara sebagai wahana dikaitkan dengan bentuk perahu yang berhubungan dengan proses migrasi orang Nias melalui jalur lautan, serta sebagai kendaraan arwah dalam kehidupan religinya

    Revitalisasi Profesi Partonun Melalui Interaksi Langsung dengan Pembeli Kain Ulos di Pematang Siantar (Studi Etnoarkeologi Pendekatan Simbiosis)

    Get PDF
    AbstractUlos is a traditional cloth that being worth now. There are three elements which related of ulos, there are weaver, distributor, and buyer. Trough the interaction happened, its time to learn about their symbiosis and offer better solution to reincrease ulos and partonun worth

    Dapur Gambir Di Kebun Lama Cina, Jejak Kegiatan Perekonomian Masa Lalu Sebagai Potensi Sumber Daya Arkeologi Pulau Lingga

    Get PDF
    AbstractOn the Lingga Island, in a location known as Kebun Lama Cina, it was found the remains of ‘Dapur Gambir’( a place for processing gambier) in the village area Kelume. It was also found ceramics fragment, the pedestals, ‘talud’ stone, and the tread and the remaining that’s colouring the site. Tracking the place with the rest of the culture that is often reported, throught the qualitative descriptive approach it has been identified the traces of past economic activity of Lingga Island, it happened when the area was an important part of the kingdom of Riau Lingga in the 18 century until yhe end of the early 10 century. As one of the objects of archeological resource potential. Its exixtance must be addressed wisely, concerning the preservation and the improvement of community welfare

    Cover

    No full text

    Kajian Arkeologi Kota Kulit Kerang Pengkalan Bharu, Perak, Malaysia

    No full text
    AbstractArchaeological sites of Pengkalan Bharu, Perak is one of the important ports in Malaysia. The port is associated with the center of the Government of New Beruas. Establishment of the port city is to anticipate the enemy like a pirate attack of Siam, Aceh, Majapahit, Selangor and Portuguese

    101

    full texts

    328

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berkala Arkeologi Sangkhakala
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇