Berkala Arkeologi Sangkhakala
Not a member yet
328 research outputs found
Sort by
Teknik Tatap – Landas di Sentang, Tanjung Tiram, Batubara, Sumatera Utara (Teknik Pembuatan Tembikar Tradisi Neolitik)
AbstractPottery is one of the old cultural product when people lived in prehistoric times. Humans have known and to make pottery from clay material since humans feel the need for containers for storing and cooking food. Pottery has a very important role in society life. Making pottery with a paddle anvile technique is a technique known in neolithic culture. Until now, these techniques are still used in several places in Indonesia, such as in Sentang, Tanjung Tiram, North Sumater
Bahan dan Teknik Pembuatan Fragmen Gelang Kaca Samudera Pasai
AbstractGlass bracelets from Samudera Pasai is made using simple technology with low temperature combustion level. It’s possible that glass bracelets are the goods in a mass production to be accessible by the public. During that period, glassmaking technique with better quality has been known much earlier in other parts of Nusantara. Glass bracelets are also known by the name of Chettiar
Songket Batubara pada Masyarakat Melayu Pesisir Timur Sumatera
AbstractTraditional weaver in Indonesia had been already in clasic time. Some archaeologist evidence like tera decoration/ceramics stamp, relief, inscription, and writings showed was activity for making clothes since in the past. Likewise with Batubara songket the traditional clothes for Malay people, as long of newest time, it grew up and showed from its tools maker, matter, and the design
Batu Boraspati dan Batu Kelang, Keterkaitannya dengan Kehidupan Agraris Masyarakat Pakpak
AbstractPakpak community belief that there is spirit have control their land, Beraspati ni Tano. To show their mutual respect to that, they make lizard or flying lizard ornament on their traditional house and also symbolize that with lizard or flying lizard stone statue. At the rice planting season, they run the ritual for plentiful harvest hoping
Kubur Etnis Nias di Kepulauan Batu dan Kaitannya dengan Penguburan di Pulau Nias Bagian Selatan
AbstractBatu islands are rich for archaeological potentials, relevant to the varied ethnicity. Nias ethnic, one the ethnics inhabiting Batu islands, has drawn several intriguing questions on how they used to treat the dead and what relevance the funeral ceremony rites had with those practiced in Southern Nias where Nias ethnic inhabiting Batu islands originated. This research is a direct observation survey supported by interviews whose data analysis is through library studies and comparative studies by comparing research objects found with those of Nias island and other cultures in Indonesia. Some data acquired in this research, such Nias ancient tombs in Hayo island, Tanah Masa, Sigata, Memong, Marit, and Biang, generally described how Nias ethnic inhabiting Batu islands practiced a mixed open primary and secondary funeral system using wooden coffins without burial. Such funeral system by Nias ethnic in Batu islands was found to bear similarities with that of Southern Nias. Thus, it can be concluded that generally Nias ethnic in Batu islands still practiced the same funeral tradition as the place of origin did.AbstrakPotensi arkeologis di Kepulauan Batu cukup beragam, terkait dengan keberagaman etnis yang mendiami pulau-pulau di wilayah itu. Sehubungan dengan eksistensi etnis Nias di kepulauan Batu, ada dua hal yang menarik untuk dibahas dalam tulisan ini, yaitu bagaimanakah di masa lalu etnis Nias yang mendiami gugusan Kepulauan Batu memberikan perlakuan terhadap orang yang meninggal dunia; dan apakah cara-cara yang dilakukan tersebut memiliki kesamaan dengan cara penguburan yang dikenal di bagian selatan Pulau Nias, sebagai daerah asal etnis Nias di Kepulauan Batu? Penelitian ini merupakan sebuah kegiatan survei melalui metode observasi langsung, yang didukung dengan wawancara. Dalam analisis data digunakan metode komparatif, yaitu membandingkan objek penelitian dengan yang terdapat di bagian selatan Pulau Nias, serta temuan sejenis di wilayah budaya lainnya di Indonesia. Selain itu juga digunakan studi pustaka sebagai penunjang. Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa kubur kuno etnis Nias yang terdapat di Pulau Hayo, Tanah Masa, Sigata, Memong, Marit, dan Biang, yang secara umum dapat menggambarkan bahwa di masa lalu etnis Nias yang bermukim di Kepulauan Batu menerapkan sistem penguburan campuran primer dan sekunder terbuka dengan menggunakan wadah peti dari kayu tanpa proses pengebumian. Cara tersebut ternyata juga memiliki persamaan dengan yang digunakan oleh etnis Nias di Pulau Nias bagian selatan yang diketahui sebagai daerah asal etnis Nias yang bermukim di Kepulauan Batu. Dengan demikian dapat ditarik benang merah bahwa secara umum etnis Nias di Kepulauan Batu masih menerapkan budaya penguburan yang sama dengan budaya penguburan yang dikenal di daerah asalnya
Dampak Perkembangan Jalur Transportasi Terhadap Kehidupan Masyarakat Akit di Desa Hutan Panjang, Pulau Rupat
AbstractThe results of interaction with other community made cultural changes and developments. As the results of the development in the transportation lane influenced the Akit community. Changes not only for the cultural social but also for the nature sphere
Simangambat, Candi Hindu di Sumatera Utara
AbstractSimangambat temple was reported by Schnitger, a Dutch Scholar, in 1935. At that time Simangambat was already became a brick ruins, some of sandstones were bare a very beautiful relief. In 2008 and 2009 a team from National research and development center for archaeology and Medan archaeological office tried to revealed all of things about Simangambat, its architecture, religious, art, and style
Makna Penguburan Bersama Masa Prasejarah dan Tradisinya di Sumatera Bagian Utara
AbstractLimited prehistoric archaeological data has hampered the interpretation process of a culture. Thus, comparing information in terms of cultural appropriateness, space and time is required. The discovery two of human skeletons in one burial is an example of the need for such comparison act to acquire a preliminary interpretation of the implied meaning of an archaeological discovery. The comparing method is ethnoarchaeology which involves onsite observation of the communal burial procession around Aceh Tengah Regency, namely the cultural territories of Batak Toba, Karo and Nias. The acquired interpretations of the communal burial activities in those cultural areas are what have been understand the same as the one burial chamber of Loyang Ujung Karang site. Cultural evolutions may explain the possible pioneering nature of such burial at Loyang Ujung Karang site as a secondary entombment in North Sumatra.AbstrakKeterbatasan informasi yang dihasilkan dari data arkeologi masa prasejarah menjadikan proses interpretasi sebuah kebudayaan terkendala. Untuk itu diperlukan informasi pembanding baik dalam konteks kesesuaian budaya, ruang dan waktu. Keberadaan dua kerangka manusia di dalam satu liang kubur merupakan salah satu contoh diperlukannya upaya pembanding tersebut. Hal itu akan dapat memberikan gambaran awal makna yang tersirat dari temuan arkeologis dimaksud. Metode pembanding dimaksud yakni etnoarkeologi, yaitu dengan melihat prosesi penguburan bersama di wilayah sekitar Kabupaten Aceh Tengah, yaitu di wilayah budaya Batak Toba, Karo dan wilayah budaya Nias. Makna yang terangkum didalam aktivitas penguburan bersama di ketiga wilayah budaya dimaksud, diinterpretasikan sebagai makna penguburan bersama dalam satu liang kubur di situs Loyang Ujung Karang. Mengingat adanya evolusi kebudayaan maka sangat dimungkinkan perilaku penguburan di situs Loyang Ujung Karang sebagai cikalbakal penguburan sekunder di daerah Sumatera bagian utara