Buletin Psikologi
Not a member yet
    352 research outputs found

    SEPUTAR KONTROVERSI UJI SIGNIFIKANSI HIPOTESIS NIHIL

    Get PDF
    Sejumlah pakar menyatakan bahwa psikologi, ilmu perilaku, dan ilmu sosial mengalami rintangan dan hambatan untuk maju. Salah satu kambing hitamnya adalah kebiasaan berat psikologi dan ilmu sosial dalam menggunakan uji signifikansi hipotesis nihil (Cohen, 1994). Kebiasaan yang sulit dihilangkan ini membuat psikologi seperti serangkaian kuldesak atau lorong buntu metodologis (Loftus, 1996)sehingga psikologi hanya sibuk memutar rodanya tanpa banyak kemajuan (Cohen, 1994), atau maju selambat jalannya gletser (Hunter, 1997)

    PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN DI TEMPAT KERJA

    Get PDF
    Posisi perempuan dalam kehidupan sosial ternyata belum sejajar dengan laki-laki meskipun upaya ke arah itu telah lama dan terus dilakukan. Kekuatan faktor sosial, kultural dan institusional yang menempatkan perempuan lebih rendah daripada laki-laki menjadi penyebab pokok kenyataan itu. Analisis gender selalu menemukan bahwa sebagian perempuan mengalami subordinasi, marginalisasi, dominasi, dan bahkan kekerasan. Hasil penelitian di empat propinsi menunjukkan bahwa sekitar 90 persenperempuan pernah mengalami kekerasan di wilayah publik (Wattie, 2002). Lebih lanjut disebutkan bahwa di rumah sendiri pun perempuan tidak bebas dari kekerasan

    XPRESSED EMOTION PADA KELUARGA PENDERITA GANGGUAN JIWA

    Get PDF
    Sebagian besar waktu kehidupan seseorang berada bersama dengan keluarga. Namun tidak dapat dipungkiri, tidak seluruh keluarga dapat memberikan atau menciptakan lingkungan yang mendukung. Dalam banyak kasus, keluarga bahkan berpotensi untuk menjadi sumber timbulnya tekanan psikologis. Sayangnya, penelitiantentang pengaruh keluarga terhadap munculnya gangguan jiwa mempunyai kendala, karena belum ada cara yang paling tepat untuk mengidentifikasi individu-individu yang rentan, yang kemudian memunculkan simtom gangguan jiwa. Akibatnya,penelitian yang dilakukan bersifat retrospektif, dimulai pada saat seseorang mengalami gangguan (untuk yang pertama kali atau pada saat ‘kambuh’), kemudian menelusuri perjalanan gangguan atau bersifat cross-sectional (Leff & Vaughn, 1985).Sebagai salah satu contoh, penelitian Vaughn & Leff (dalam Leff & Vaughn, 1985) yang meneliti pengaruh sikap keluarga terhadap kondisi klinis pasien skizofrenia menemukan, bahwa Expressed Emotion (EE) merupakan prediktor terbaik untukmenentukan apakah pasien akan kambuh atau tidak selama periode 9 bulan follow-up. Expressed Emotion ini ditemukan peneliti pada saat wawancara ketika pasien pertama kali masuk rumah sakit

    Sekilas Tentang Kesadaran (Consciousness)

    Get PDF
    Kesadaran telah menjadi satu topik terpenting kajian psikologi dan ilmu pengetahuan lain dewasa ini. Penelusuran dokumen lewat Proquest dengan mengetik kata consciousness akan menghasilkan 11.435 artikel, sedangkan lewat EBSCO dengan prosedur yangsama menghasilkan 14.094 artikel. Tidak salah jika Zeman (2001) menggambarkan minat terhadap kesadaran sebagai air pasang yang sedang naik dibarengi dengan gelombang publikasi, jurnal baruserta pertemuan ilmiah bertopik kesadaran. Topik kesadaran menurutnya (Zeman, 2001) telah menjadi satu tantangan intelektual lintas disiplin mulai dari neurosains, psikologi sampai filsafat. Senada dengan pendapat ini, seorang ahli lain Pawlik (1998, h. 185)menganalogikan diterimanya kesadaran sebagai konstruk psikologi yang sah seperti peristiwa renaissance. Hal ini disebabkan riset mengenai hakekat, struktur dasar serta proses kesadaran pada saat ini telah menjadi satu topik hangat bagi psikologi teoretis daneksperimen, neuropsikologi klinis dan eksperimen, neurosains, ilmu-ilmu kognitif serta filsafat

    Cooperative vs Competitive: Filosofi Keseimbangan “Yin-Yang” dalam Hubungan Interdependency

    Get PDF
    Teori ini 1 dikembangkan oleh Morton Deutsch (1949a, 1949b, 1973, 1985) danjuga diuraikan oleh David W. Johnson (Johnson & Johnson, 1989). Cooperative–Competitive merupakan salah satu teori dalam psikologi sosial yang dikemukakanoleh Morton Deutch. Ilmuan evolusi sosial mengatakan bahwa altruisme manusia dan kerjasama adalah hasil dari sejarah spesies yang unik “konflik antar kelompok dan perang” (Alexander, 1987; Buss, 1999; Campbell, 1975; Tooby & Cosmides, 1988), dapat diartikan bahwa konflik antar kelompok telah membentuk psikologi dan perilaku manusia khususnya (Vugt, Gremer, & Janssen 2007). Penelitian psikologi sosial konsisten dengan ide ini. Dalam hal ini manusia spontan membuat perbandingan “kita vs mereka” kategorisasi dan cepat mengembangkan aspek emosional dalam kelompok bahkan ketika keanggotaan didasarkan pada kriteria yang sederhana, seperti flip koin (Brewer, 1979; Ostrom & Sedikides, 1992; Tajfel & Turner, 1979). Manusia juga mudah melakukan tindakan diskriminasi terhadap anggota dari luar kelompok (Fiske, 2002) dan terlibat dalam tindakan altruistik untuk membela kelompok mereka (De Cremer & Van Vugt, 1999; Sherif , 1966)

    MENGHIDUPKAN KEMBALI PENDIDIKAN BUDI PEKERTI DAN KECERDASAN EMOSI BAGI SISWA

    Get PDF
    Masalah pendidikan tidak pernah selesai dibicarakan orang; dari awam hingga pakar punya hak untuk bicara. Dunia pendidikan cenderung menjadi gelanggang pertukaran pikiranbahkan kadang-kadang pertentangan pendapat berlarut-larut yang tidak mudah dirangkum menjadi kesepakatan umum. Lain halnya jika bicara tentang sistem pendidikan yang bertolakdari suatu sistem, maka penyelenggaraan pendidikan mestinya menerima berlakunya suatu tingkat kebakuan yang memungkinkan dilaksanakannya berbagai program, pentahapan,penglompokan dan pendekatan tertentu sesuai dengan perencanaan tertentu pula (Hasan, Kompas 28 Februari 2000)

    MENGENAL SEPINTAS PSIKOLOGI EVOLUSIONER

    Get PDF
    Sejumlah mahasiswa dan mahasiswi diminta menjawab pertanyaan berikut ini: “Idealnya, berapa banyak pasangan seksual yang ingin anda miliki sampai bulan depan, dalam waktu enam bulan mendatang, selama setahun, 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun, dan selama sepanjang hayat?”. Adaperbedaan jawaban yang diberikan oleh mahasiswa dan mahasiswi menanggapi pertanyaan di atas. Mahasiswa pria ingin memiliki lebih banyak pasangan seksual daripada yang diinginkan mahasiswi. Kecenderungan ini konsisten untuk setiap interval waktu. Misalnya, untuk waktu dua tahun mendatang, pria ingin memilikirerata delapan pasangan seksual, sementara wanita hanya ingin mempunyai satu pasangan seksual saja. Pria ingin memiliki rerata 18 pasangan seksual selama hidupnya, sementara wanita hanya menginginkan rerata 4 atau 5 pasangan seksual (Buss & Schmitt, 1993). Teori apa yang mampu menjelaskan perbedaan antara priadan wanita menyangkut jumlah pasangan seksual yang diinginkan tersebut? Psikologi evolusioner mungkin akan bisa menjawab permasalahan ini

    MODEL TEORETIK GAYA KELEKATAN, ATRIBUSI, RESPON EMOSI, DAN PERILAKU MARAH

    Get PDF
    Teori kelekatan pertama kali digunakan untuk menjelaskan hubungan antara bayi dan pengasuh utama (Bretherthon dalam Buren & Cooley, 2002). Dalam perkembangannya, teori kelekatan dari John Bolbwy yang dibangun pada 1973 digunakansebagai landasan berfikir untuk menjelaskan hubungan gaya kelekatan pada masa dewasa dan berbagai bentuk hubungan interpersonal (Helmi, 1999). Dekade 1980an, penelitian kelekatan diaplikasikan untuk menjelaskan hubungan romantis orangdewasa. Pada tahun 1987 hasil penelitian Hazan dan Shaver dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology, yaitu mengenai hubungan romantis yang dikonsepsikan sebagai proses kelekatan dengan menggunakan dasar teorikelekatan dari Bowlby. Publikasi tersebut merupakan tonggak dari perjalanan teori gaya kelekatan, yang selanjutnya peneliti-peneliti lain mengikuti langkahnya dengan memperluas topik penelitian yaitu mengkaitkan gaya kelekatan dengan berbagai macam kehidupan sosial dan interaksi sosial. Beberapa contoh penelitian tersebutadalah gaya kelekatan berkaitan dengan representasi mental dari self (Mikulincer, 1995), trust (Mikulincer, 1998), daya tarik dan interaksi sosial (Tidwell dkk., 1996), gaya penjelasan dan emosi (Collins, 1996), regulasi emosi dan penyesuaian padaremaja (Cooper dkk., 1998), social support (Collins dan Feeney, 2004), dan depresi (Simpson dkk., 2003; Simonelli, 2004). Pada umumnya hasil berbagai penelitian tersebut mendukung konsep tersebut

    Kepribadian dan Agresivitas dalam Berbagai Budaya

    Get PDF
    Agresif 1 dan perilaku kekerasan bukanlah merupakan fenomena yang baru.Agresif dan perilaku kekerasan telah terjadi sejak 25.000 tahun yang lalu antaramasyarakat Yunani, Mesir, dan Romawi. Peristiwa, seperti Holocaust, penembakansekolah Columbine, di Colorado, atau serangan teroris di World Trade Centre pada11 September 2001 yang membuat masyarakat bertanya-tanya dibalik terjadinyaperilaku kekerasan tersebut. Prevalensi perilaku agresif dan kekerasan saat inisudah cukup banyak dijadikan sebagai pemicu timbulnya masalah sosial yanglayak menjadi perhatian di seluruh dunia

    Ekspresi Emosi Marah

    Get PDF
    Manusia 1 merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, dan setiapindividu tidak lepas dari hubungan sosial dengan orang lain. Semua interaksi sosialyang dilakukan seorang individu memunculkan emosi dalam diri setiap individu.Dari emosi tersebut kemudian individu dapat menentukan sikap dan pikiransehingga mampu bertindak sesuai dengan dirinya (Lewis & Jones, 2000). Sepertiputus pacar pada remaja memunculkan emosi sedih sehingga berperilaku menarikdiri atau murung dan bahkan kaki yang tidak sengaka terinjak juga akan memun-culkan emosi marah

    320

    full texts

    352

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Psikologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇