Buletin Psikologi
Not a member yet
352 research outputs found
Sort by
MIKEO BUKAN MBO
Strategi pengembangan sumberdaya manusia (SDM) yang tepat adalah yang mengacu pada kondisi, terutama budaya setempat (Onglatco, 1988). Menurut Ishikawa (1981) pengembangan SDM suatu bangsa dapat mengacu sepenuhnyakepada kemajuan bangsa lain, sebab pada dasarnya hal kemanusiaan itu di mana pun sama
Talent Management dalam Perspektif Organizational Change and Development
oai:journal.ugm.ac.id:article/7370Entering the global world, within which the communication boundaries among organizations are crossing geographical boundaries, crossing different cultures, and crossing different time zones, the realities of organization as always changing and developing are becoming unavoidable phenomena. Organizations willneed valid and effective strategies to survive within theses changing environments. Human capitals with their high talents are served as major determinant factor for the organizations in reaching their fullcapabilities of successes. This paper tries to offer a contextual perspective in understanding talent management as a strategic organizational intervention. It is directed to understand how human capitals should be managed strategically in order to gains their values as assets in dealing with emerging challenges of boundaryless organizations. It means that talent management does not always lead to individual development model, but it is translated into organizational efforts, i.e. organizational interventions, toincrease its capabilities in dealing with multi-facets-dynamic environmental changing and development. Within this perspective, talent management functions as a driver as well as a parameter for organizations in developing their strategies in facing the ever-changing boundaryless environments. It is a strategic effort todeal with dynamic interactions among organizations within boundaryless situation
KEPRIBADIAN DAN MEMORI
The effects of personality variable on memory has never been mentioned in almost all books of cognitive psychology. This short paper reviews some studies that found the effects of neuroticism, extraversion, anxiety or emotional instability on the ability to recall information
KEADILAN SOSIAL Suatu Tinjauan Psikologi
Keadilan menjadi syarat mutlak dalam hubungan antar manusia, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Besarnya tuntutan akan keadilan yang akhir-akhir ini mengemuka sebenarnya merupakan tuntutan normatif. Tuntutan tersebut muncul pada semua tingkatan kehidupan sosial. Apakah ini indikasi bahwa sekarang tidak ada keadilan? Bila memang demikian keadaannya, mengapa selama ini kita bisa bertahan
KONTEKS DAN KONSTRUKSI SOSIAL MENGENAI KEMATIAN ELEKTIF ( EUTHANASIA ) ∗ )
Euthanasia bukanlah topik mudah untuk didiskusikan. Salah satu sebabnya adalah banyaknya ragam definisi mengenai euthanasia. Definisi yang paling mudah adalah secara harafiah, yaitu kematian (thanatos) yang baik (eu). Kematian yang baikdi sini mungkin sesederhana pemahaman kita mengenai makna dari “meninggal dunia dengan tenang” yang sering kita dengar atau baca dalam sebuah berita lelayu. Euthanasia ternyata didefinisikan juga sebagai physician-assisted death (Doering,1994), assisted-suicide (Doerflinger, 1989), atau elective death (Hooyman and Kiyak, 1990). Jika didefinisikan sebagai physician-assisted death, euthanasia akan mencakupmasalah aborsi, kematian karena mal-praktek, dan eugenics. Penulis cenderung menggunakan istilah kematian elektif (elective death) dengan asumsi bahwa kematian seseorang didahului oleh sesuatu proses yang melibatkan banyak pilihan mengenaikonteks sosial dan konstruksi sosial kematian. Euthanasia didiskusikan di dalam suatu kerangka pikir yang mencoba memberi perhatian kepada hal-hal yang kontekstual dan interpretatif fenomena sosial suatu proses kematian dan kejadian kematia
ISU UJI ASUMSI
Isu mengenai Uji Asumsi timbul karena dalam banyak ujian skripsi maupun tesis sering ditanyakan oleh para mahasiswa maupun para pembimbing mengenai perlu tidaknya dilakukan uji asumsi sebelum suatu model analisis parametrik diterapkan. Sebaran normal, misalnya, merupakan asumsi dari hampir semua model analisisstatistik, kecuali statistik nonparametrik yang tidak dikait-kaitkan dengan bentuk sebaran (distribution free). Homogenitas variansi adalah asumsi dari semua analisis perbandingan antar kelompok (uji-t, analisis variansi, analisis kovariansi), sekali lagijuga tidak berlaku untuk statistik nonparametrik. Untuk model-model analisis korelatif terdapat agak banyak asumsi, seperti linieritas hubungan antara semua variabel bebas X dengan variabel terikat Y; nirkolinieritas hubungan antara sesama variabel bebas X; dan homosedastisitas dari sebaran variabel X. Untuk analisis kovariansi, karena merupakan gabungan dari analisis komparatif dan analisis korelatif, asumsi-asumsinya merupakan kumulasi dari analisis komparatif dan analisis korelatif: normalitas ebaran variabel terikat, homogenitas variansi antara kelompok-kelompok yang dibandingkan, linieritas antara semua variabel bebas X dengan variabel terikat Y, dan nirkolinieritas hubungan antara semua kovariabel X
MEMBANGUN KEPERCAYAAN MENUJU INDONESIA MADANI, DEMOKRATIS DAN DAMAI (Sebuah Tinjauan Psikologi Sosial) *)
Tulisan ini sesuai dengan judulnya akan membahas masalah kepercayaan (trust) sebagai bahasan pokok dengan mengaitkannya pada upaya membangun masyarakat madani, demokratis dan damai. Pembahasan masalah kepercayaan ini menjadi sangatpenting di saat Indonesia mengalami krisis multi dimensional. Tidak masuknya modal asing ke negara Indonesia adalah dikarenakan tidak adanya kepercayaan (trust) pada pemerintah Indonesia. Ketidakpercayaan pada keefektifan pemerintah Indonesiakarena masing-masing elit politik lebih memikirkan kepentingan golongannya dari pada kepentingan untuk membangun bangsa. Kurangnya dukungan masyarakat pada pemerintah dikarenakan pemerintah sebelumnya telah memberikan bukti yangmenggoyahkan kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Demikian pula halnya dengan kekerasan yang hidup dalam masyarakat yang berupa main hakim sendiri dikarenakan masyarakat sudah tidak percaya pada kemampuan aparat pemerintah di dalam menegakkan hukum
PSIKOLOGI DI AUSTRALIA
Pada tahun-tahun belakangan ini Psikologi di Indonesia tampaknya banyak berbenah diri. Berbagai perubahan dalam peraturan profesi psikologi menandai pembenahan diri tersebut. Dalam hal pendidikan tinggi Psikologi misalnya, Kolokium Psikologi X di Baturaden tanggal 11-12 April 2003 (HIMPSI, 2003b) menyetujui bahwa program pendidikan profesi seperti yang saat ini dijalankan akan segeraberubah bentuk pada dua tahun ke depan. Mulai 2004 Program Magister Psikologi Profesional, yang meliputi empat semester kuliah dan praktek setelah S1, akan menggantikan program profesi. Padahal kalau kita lihat kembali ke belakang, programprofesi sebenarnya masih relatif baru, yaitu merupakan pengejawantahan kurikulum nasional Psikologi tahun 1989 yang pelaksanaannya baru dimulai sekitar tahun 1995.Bahkan ada beberapa universitas yang baru mulai menawarkan program profesi 1-2 tahun belakangan ini (HIMPSI, 2003a)
Analisis Sosial Psikologis Perkembangan dan Penanganan Penyakit Menular
Tulisan ini mencoba untuk membahas pengaruh globalisasiterhadap penyebaran penyakit, khususnya polio, pengaruhnya terhadapkondisi sosial masyarakat dan penanggulangannya. Dalam makalah inipenulis memfokuskan telaah pada kasus wabah polio di Sukabumi. Berbagai konsep dikemukakan dalam tulisan, di antaranya adalah epidemiologi yang mulai dikembangkan dari kajian psikologi
KONTEKTUALISASI DAN (KEMUNGKINAN) KONSEKUENSINYA BAGI PSIKOLOGI
Psikologi ilmiah, yaitu disiplin ilmu psikologi sebagaimana dikembangkan dan disebarluaskan melalui penelitian dan penga‐jaran di perguruan tinggi seperti kita kenal sekarang (selanjutnya disebut psikologi), lahir di Jerman pada penghujung abad ke‐19. Selanjutnya psikologi berkembang pesat di Amerika Utara khususnya Amerika Serikat dan negara‐negara lain di Eropa yang lebih dulu mengalami industrialisasi khususnya di Eropa Barat. 1 Alhasil, paling tidak sampai dasawarsa 1980‐an perkembangan dan persebaran psikologi di tingkat global ditandai oleh ketimpangan di antara apa yang oleh Moghaddam (1987) disebut tiga dunia tempat psikologi dikembangkan dan dipraktekkan, disimak antara lain berdasarkan besarnya produksi pengetahuan psikologis yang disebarluaskan melalui penyelenggaraan pendidikan tinggi psikologi maupun lewat publikasi ilmiah berupa baik berkala maupun buku rujukan dan buku teks