Buletin Psikologi
Not a member yet
352 research outputs found
Sort by
MELURUSKAN KONSEP KONDISIONING OPERAN
Istilah kondisioning operan (operant Emeldah & Hastjarjo (2009) memberikan conditioning) yang dikembangkan oleh B. F. daftar istilah dari 4 buku teks introduksi Skinner merupakan salah satu konsep inti psikologi kepada 21 dosen pengampu (core concept) dalam penulisan buku teks matakuliah Psikologi Umum dari Fakultas introduksi psikologi/pengantar psikologi Psikologi di Yogyakarta dan Solo serta (Boneau, 1990; Griggs, Bujak‐Johnson, & meminta para dosen memberikan penilaian Proctor, 2004; Nairn, Ellard, Scialfa, & dari nilai 5 merupakan pertanda bahwa satu istilah adalah “sangat penting” dan Miller, 2003). Boneau (1990) menemukan menunjukkan “istilah yang harus dapat bahwa istilah kondisioning operan terma‐dijelaskan dengan benar oleh mahasiswa suk kedalam top seratus konsep dengan pengikut psikologi umum” sampai nilai 1 mendapatkan rerata nilai rating 5 yang yang berarti “tidak penting” dan menun‐berarti “sangat penting” yang dijabarkan jukkan “istilah yang terlalu tinggi bahkan sebagai pernyataan “semua sarjana psiko‐untuk mahasiswa psikologi tingkat sarja‐logi harus mampu menjelaskan dengan na”. Rahayu dkk menemukan bahwa istilah baik istilah itu”. Griggs, Bujak‐Johnson & operant conditioning (kondisioning operan) Proctor (2004), dengan mengkaji daftar dan istilah punishment (hukuman) menda‐istilah (glossary) 44 buku teks introduksi psikologi, menemukan hal yang serupa pat rerata nilai 4,27, istilah positive reinfor‐yakni istilah kondisioning operan dimuat cement mendapat rerata nilai 3,93, istilah diseluruh 44 buku teks tersebut. Buskist, omission training (pelatihan omisi) menda‐Miller, Ecott & Crithfield (1999) mengkaji pat rerata nilai 2,13. Dosen pengampu sembilan buku teks introduksi psikologi Psikologi Umum di Yogyakarta dan Solo terbitan 1995‐1997 dan meminta pengarang rupanya lebih menilai pentingnya mahasis‐buku teks tersebut untuk menilai relevan wa menjelaskan dengan benar soal hukum‐tidaknya istilah dalam bab belajar, khusus‐an daripada reinforsemen positif, bahkan pelatihan omisi. nya yang berkaitan dengan kondisioning operan
Konsep Diri dalam Budaya Jawa
Teori tentang konsep diri telah banyak dibahas oleh para ahli, beberapa diantaranya adalahteori independensi dan interpedensi, independen melawan interdepedensi, teori konsep diri Mead,konsep diri Cooley (looking – glass self), dan konsep diri Goffmann (dramaturgi). Simbol-simbolataupun ungkapan dalam kehidupan masyarakat orang Jawa dapat dijadikan sebagai konsep diri,contohnya rumangsa melu anduweni, wajib melu angkrungkebi, mulat sarira angrasa wani, sugihtanpa banda, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake.Kata kunci: budaya, indigeneous psychology, kearifan lokal, konsep dir
PENGUKURAN INGATAN
Bayangkan bahwa anda menjadi subjek penelitian dalam dua eksperimen di bawah ini. Dalam eksperimen pertama, kepada Anda disajikan dua puluh kata benda. Lima diantara kedua puluh kata-kata benda tersebut misalnya kata-kata kantor, tangan, pantai, terasi dan peniti
GROUP COUNSELING FOR ADOLESCENT
Recently there are some phenomenon about adolescent maladjusment, for instances: juvenile delinguency, student riots, drug abuse, and even killing cases (Republika, December 13, 1993). Maladjusment of adolescent happens when adolescents or teenagers fail to satisfy their needs and thus feel frustrated
Analisis Tipe Kepemimpinan dalam Film “The Last Samurai”
This paper displays an analysis of several literature reviews. It aims to understand the types of leadership depicted in the characters of the “Last Samurai” movie. The dilemma of cultural, political, economic and military transition for Japan in approaching the modern era is an exciting scenario depicted in the “The Last Samurai” movie. Having leaders compete against each other in achieving their intended goals, made it easy for the audience to analyze their type of leadership. The types of leadership from old to modern Japan t hat competes with Western countries is shown in this movie, particularly regarding its’ effectiveness and relevance. The visionary leadership is represented by Omura, an advisor who influenced the Emperor in realizing the comparative and competitive value of the Japanese people, allowing them to compete with various innovations and develop along with the challenges of the era. The "Wisdom and Charismatic" leadership type was present in Katsumoto, the Samurai leader and Emperor's teacher who wanted to maint ain the noble values of Japanese culture. Katsumoto's exemplary leadership is reflected in his extraordinary devotion, heroism, character, and his firm adherence to the command given to him as a samurai. Such traits inspire awe, respect, and devotion from a group of samurai. An overview of the Visionary leadership type, "Wisdom and Charismatic" encountered in the figures of Omura and Katsumoto. Today's challenges require each member to be innovative, creative, competitive, competent, and brave enough to tak e risk. In achieving that vision, leaders with charismatic soul are neede
PERAN LABORATORIUM DALAM MEMPELAJARI PERILAKU MANUSIA
Psikologi 1 menetapkan Wilhelm Wundt sebagai pendiri (Hilgard, 1987; Santrock, 2005). Istimewanya, kelahiran psikologi tidak ditandai oleh tanggal lahir pendiri (1832), tempat lahir pendiri atau buku yang ditulis pendiri (Grundzuge der Physiologishen Psychologie terbitan 1874) tetapi sebuah laboratorium di Leipzig (Benyamin, 2000). Hilgard (1987), sejara‐wan psikologi berkebangsaan Amerika Serikat, memberi julukan Wilhelm Wundt sebagai pendiri psikologi sebagai sebuah ilmu pengetahuan laboratorium. Wundt mengawinkan filsafat dengan fisiologi dan jadilah psikologi sebagai ilmu yang mem‐pelajari mental (mind)/kesadaran dengan memakai metode eksperimen sebagai metode fisiologi/ilmu alam, sehingga pada masa lalu istilah psikologi eksperimen dengan psikologi fisiologi dapat saling dipertukarkan (Hilgard, 1987
PERKEMBANGAN KEHIDUPAN BERAGAMA
Proses perkembangan kehidupan beragama boleh dikatakan cukup unik dibandingkan dengan perkembangan aspek-aspek dalam diri manusia yang lain. Jika divisualisasikan dalam bentuk grafik, maka spek-aspek kehidupan manusia (misalnya fisik, intelektual, sosial dsbnya) pada umumnya mengalami peningkatan pada masa kanak-kanak sampai masa remaja atau dewasa
PENTINGNYA PSIKOLOGI SPIRITUAL UNTUK PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN BERMORAL
Artikel ini menguraikan permasalahan moralitas pemimpin yang saat ini menjadi permasalahan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Amerika maupun belahan dunia yang lain. Solusi yang ditawarkan adalah pendekatan Psikologi Spiritual. Hasil analisis literatur menunjukkan bahwa aspek spiritual merupakan jawaban dari benang kusut kepemimpinan ini. Namun demikian ranah spiritual ini belum menjadi fokus pembahasan dalam disiplin psikologi. Oleh karena itu disarankan untuk mengembangkan Psikologi Spiritual, yaitu ilmu psikologi yang mengakomodasi aspek spiritual dari manusia. Artikel ini juga menawarkan sebuah roadmap dalam mengembangkan pemimpin bermoral serta ilustrasi tentang teori motivasi yang mengakomodasi ranah spiritual dalam menjelaskan fenomena perilaku manusia
MODEL PERILAKU PENGGUNAAN TIK “NR2007” PENGEMBANGAN DARI TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM)
This paper discusses and criticizes a Technology Acceptance Model which was developed by Fred D. Davis in 1986. TAM was built to predict the way people accept and adopt the technology. TAM was inspired by theory of reasoned action (TRA) formulated by Martin Fishbein & Icek Ajzen in 1975, although the model does not completely adopt the TRA model. TAM does not include Subjective Norm as a factor in predicting the use of technology. As a theory, TAM has been used by many researchers to investigate the adoption of information technology. This model has a significant contribution in predicting the use of information communication technology (ICT) in many areas. Since ICT users have various motivational backgrounds, some of them have a positive attitude toward ICT, but they do not use ICT. It seems the TAM model need to be improved by including Subjective Norms and Perceived Behavior Control as suggested by Ajzen in the theory of planned behavior (TPB) as antecedents of intention to use ICT. Since the personality background of ICT users may also influence the use of ICT, the author proposes TAM‐NR‐2007 model that include personality traits as a background factor of attitude toward the behavior and subjective norms
PEMBENTUKAN KARAKTER PADA ANAK: MODEL MEKANISME SANKSI DIRI DARI ALBERT BANDURA SEBAGAI REGULASI PERILAKU MORAL
Child rearing in family has various purposes, among of them is to build child’s character. The evidence shows that character strengths are positively related to the individual’s well‐being and happiness. Albert Bandura proposed self‐sanction mechanism model to regulate moral behavior by giving physical sanction and verbal reprimand. As child grows, the child need parental guiding to understand standards of conduct and to learn about social sanction. If child can function self‐sanction mechanism, child is expected be able to evaluate his conduct right or wrong. The functioning of behavior moral regulation is an important part in developing child’s character. The strength and weakness of model and the application of this model in Indonesian context will be discussed