Buletin Psikologi
Not a member yet
352 research outputs found
Sort by
Metodologi Penelitian Psikodiagnostika
The measurements conducted in the discipline of psychology are related to the goals of pure andapplied sciences. Measurements taken for pure science is in general carried out within scientificresearches. Regarding those in the applied science, there are two methods, namely screening anddiagnosis that are commonly used in the practice of clinical measurement. This paper aims toaddress the comprehensive measurements required in the field of clinical measurement. Inparticular, it will discuss if psychometric properties only are already sufficient or they are, in fact,not needed in this field. In addition, it will also briefly describe the methodology of measuring thequality of instruments of clinical measurement
KECERDASAN EMOSI
Akhir-akhir ini muncul istilah kecerdasan emosi atau dalam bahasa Inggris emotional intelligence yang diungkapkan oleh Daniel Goleman (1995). Ia mengutip berbagai penelitian yang ternyata menemukan bahwa kecerdasan emosi mempunyai peran sangat penting untuk sukses di dunia usaha
RELIABILITAS DAN VALIDITAS AITEM
Koefisien korelasi aitem-total ini sering disalahartikan sebagai koefisien validitas aitem, padahal validitas aitem memiliki pengertian yang sama sekali berbeda. Koefisien korelasi aitem-total tidak memberikan informasi mengenai validitas aitem tetapi memberikan informasi mengenai konsistensi antara apa yang diukur oleh aitem dengan apa yang diukur oleh tes
CULTURAL FACTORS IN THE ETIOLOGY OF MENTAL DISORDER AND THEIR IMPACTS ON CLINICAL SYMTOMS AND INTERVENTION
The study on impacts of culture on mental disorder has drawn attention of researcher in the field of psychology and psychiatry. Culture has been defined in different ways by different researcher. A number of researcher has defined culture in terms of differences in ethic groups (e.g. Gossop, 1994)
KONTROVERSI PENDEKATAN KUANTITATIF VS PENDEKATAN KUALITATIIF DALAM PENELITIAN PSIKOLOGI
Psikologi sebagai ilmu tentang tingkah laku manusia merupakan sains karena pada dasarnya pengetahuan psikologi diperoleh melalui saringan metode ilmiah, bukan sekedar sekumpulan informasi dan pengalaman sporadis belaka
Efikasi Diri dan Hasil Belajar Matematika: Meta-analisis
This Study was meta-analysis of the relationship between self efficacy and mathematics learning outcome. The quantitative review includes 14 studies from 13 articles that contained a combined sample of approximately 6157. This analysis extends previous work by directly correcting error of sampling and measurements. Summary analysis provided support that self efficacy has a correlation on mathematics learning outcome. The result showed self efficacy have been identified as predictors and mathematics learning outcome
Efikasi Diri, Sistem Imbalan, dan Berbagi Pengetahuan: Meta-analisis
Sharing of knowledge constitutes the basic concept of knowledge management and important aspect of knowledge management system because knowledge is viewed as the most valuable resource. Therefore, it is necessary to analyze any factor that influences sharing of knowledge. According to the research map made by Helmi (2008), sharing of knowledge is influenced by individual’s characteristics, which is self-efficacy, and reward system at the level of organization. The results of any existing researches on both seem to be less consistent. The purpose of this research is to study the results of researches having been done by researchers in the field of organization, finding out whether self-efficacy and reward system are consistently related to each other. They will be tested using meta-analysis method. Meta-analysis study results in self-efficacy and reward system contributes to sharing of knowledge
KEWIRAUSAHAAN DI PERGURUAN TINGGI DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI
Istilah kewirausahaan (enterpreneur‐ship) sering kali dicampuradukkan dengan pengertian berwirausaha (enterpreneurial) dan wirausahawan (enterpreneur) (Helmi, 2006). Hal ini terjadi bukan saya pada masyarakat biasa juga di kalangan akade‐misi termasuk mahasiswa. Dalam beberapa kesempatan saya menguji skripsi, gejala tersebut beberapa kali terjadi. Biasanya ketika membahas pengertian kewirausa‐haan, yang dibahas adalah wirausahawan‐nya. Bahkan yang terakhir saya alami, ketika saya diminta menjadi pembicara untuk mengkaji kurikulum kewiarusahaan di program studi manajemen, sebuah Perguruan Tinggi Swasta, upaya pengem‐bangan kewirausahaan terjebak pada kegiatan berdagang lebih tepat. Sebab jika menggunakan istilah berwiarusaha, syarat kewirausahaannya tidak mencukupi
OPTIMALISASI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI MELALUI PEMBELAJARAN YANG BERBASIS PERKEMBANGAN OTAK
Masa 1 anak‐anak merupakan salah satu masa dalam rentang kehidupan manu‐sia yang pasti dilalui oleh semua manusia di dunia ini. Pada masa inilah terjadi banyak sekali proses penanaman nilai kehidupan yang pertama kali. Pada masa ini pulalah, selalu bertumpu harapan dari para orangtua yang selalu menginginkan anak‐anaknya nanti dapat menjadi sese‐orang yang berguna dan dapat sukses di masa mendatang. Maka tidak heran jika kemudian banyak orangtua yang berlom‐ba‐lomba memasukkan anaknya ke dalam sekolah yang favorit, dengan harapan dapat memberikan pendidikan yang lebih berkualitas, sehingga harapannya dapat mencetak sang anak menjadi seseorang yang pintar, cerdas, dan memiliki kepri‐badian yang baik
Menguak Belantara Autisme
Autisme 1 adalah gangguan perkem-bangan yang sangat kompleks yang sejakdahulu menjadi salah satu misteri di duniakedokteran. Autisme sebenarnya bukanbarang baru dan sudah ada sejak lama,namun belum terdiagnosis sebagai autis.Menurut cerita-cerita zaman dulu sering-kali ada anak yang dianggap ‘aneh’; anaktersebut sejak lahir sudah menunjukkangejala yang tidak biasa. Mereka menolakbila digendong, menangis kalau malamdan tidur bila siang hari. Mereka sering-kali bicara sendiri dengan bahasa yangtidak dimengerti oleh orang tuanya.Apabila dalam kondisi marah mereka bisamenggigit, mencakar, menjambak ataumenyerang. Kadangkala mereka tertawasendiri seolah-olah ada yang mengajaknyabercanda. Para orang tua pada saat itumenganggap anak ini tertukar (achangeling) dengan anak peri, sehinggatidak bisa menyesuaikan dengan kehi-dupan manusia normal (Budhiman, 2002)