CALYPTRA
Not a member yet
2342 research outputs found
Sort by
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN DALAM MENILAI KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN PUBLIK INDUSTRI SUB SEKTOR SEMEN DI PT. BEI
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: a) Untuk menganalisis common sizedan rasio keuangan dalam menilai kinerja keuangan laporan keuangan perusahaan public industri sub sektor semen di PT.BEI periode 2012-2015. b) Untuk menganalisis perbandingan kinerja keuangan diantara masing-masing perusahaan public industri sub sektor semen di PT.BEI dengan menggunakan analisis laporan keuangan. Analisis yang dipakai adalah analisis common size, analisis rasio keuangan dan analisis komparatif. Hasil analisis common size ditemukan bahwa selama periode tahun 2012-2015 rata-rata perusahaan memiliki nilai komposisi asset lancer lebih besar dari dalam menilai kinerja keuangan nilai asset tetap, artinya perusahaan lebih memilih untuk memiliki dana cash jika dibandingkan dengan investasi dalam bentuk bangunan gedung, tanah atau peralatan. Dari komposisi pasiva rata-rata perusahaan memilik inilai komposisi ekuitas terbesar yang nilainya lebih dari dari 50% total pasiva, artinya sumber pendanaan perusahaan sebagian besaradalah berasal dari modal kerja yang diperolehdari investor.Dari nilai Laporan Rugi Laba rata-rata perusahaan memiliki komposisi beban pokok penjualan yang tinggi, hal ini menyebabkan penurunan laba kotor usaha. Jika dilihat dari hasil perhitungan rasio keuangan dalam menilai kinerja keuangan periode tahun 2012-2015, maka hasil nilai rasio aktivitas rata-rata perusahaan memiliki nilai perputaran persediaan dan perputaran piutang yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan efektif dalam menggunakan manajemen persediaan dan manajemen piutang. Berdasarkan analisis komparatif perbandingan kinerja keuangan masing-masing perusahaan public industri sub sektor semen di PT.BEI diperoleh hasil bahwa hampir seluruh perusahaan memiliki kinerja yang baik karena memiliki nilai rasio keuangan lebih dari 100%. Urutan pertama kinerja baika dalah PT.Semen Batu Raja, Tbk kedua adalah PT.Indocement Tunggal Perkasa, Tbk, PT.Semen Indonesia menduduki urutan ke tiga perusahaan berkinerja baik dan keempat adalah PT.Holcim Indonesia, Tbk sedangkan PT.Wijaya Karya beton memiliki kinerja baik akan tetapi periode go public yang masih 2 tahun tidak bisa di masukkan dalam menilai kinerja keuangan kategori penelitian 4 tahun periode
COST‐EFFECTIVENESS ANALYSIS PEMBERIAN EDUKASI MELALUI TELE CARE (TELEPHONE) PADA PASIEN ASMA RAWAT JALAN
Asma adalah penyakit kronis ditandai dengan serangan sesak napas yang berulang, gejala dapat terjadi dalam waktu lama, salah satu upaya mengurangi frekuensi serangan asma guna mencapai keberhasilan terapi yaitu dengan meningkatkan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat. Pemberian edukasi yang tepat diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan pengobatan dan dapat memberikan hasil terapi yang maksimal. Pemberian edukasi asma secara Tele Care dapat bertujuan untuk meminimalkan serangan asma yang terjadi dengan meminimalkan penggunaan obat pengontrol asma, sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya kekambuhan, kematian serta dapat mencapai pengobatan yang optimal dengan menggunakan biaya yang seefektif mungkin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pemberian edukasi melalui pharmacy secara Tele Care terhadap pasien asmacost-effective. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian Randomizd Controlled Trial, dilakukan terhadap 60 subjek penelitian dewasa dengan usia 18-60 tahun rawat jalan di Rumah Sakit Paru Jember selama periode Februari-Juni 2016 yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Kelompok uji mendapatkan edukasi secara Tele Care. Kelompok kontrol tidak mendapatkan edukasi. Pengetahuan asma diukur dengan AsThma General Knowledge Questionaire (AGKQ), kontrol asma diukur dengan Asthma Control Test (ACT), fungsi paru diukur dengan Peak Flow Meter, Cost-Effectiveness Analysis(CEA) dihitung sebagai rasio biaya dengan outcome. Hasil dari penelitian ini, untuk nilai pengetahuan pasien asma pada kelompok uji sesudah diberikan intervensi (22,53 ± 2,83) berbeda signifikan dibandingkan kelompok kontrol (19,57 ±3,12). Nilai kontrol asma pasien asma pada kelompok uji sesudah diberikan intervensi (21,63 ± 1,73) berbeda signifikan dibandingkan kelompok kontrol (17,40 ± 2,77). Nilai fungsi paru pasien asma pada kelompok uji sesudah diberikan intervensi (290,00 ± 80,13) berbeda signifikan dibandingkan kelompok kontrol (216,33 ± 64,57). Nilai ACER fungsi paru pada kelompok uji = Rp 2.249,26; sedangkan pada kelompok kontrol = Rp 3.084,66. Nilai ACER kontrol asma pada kelompok uji = Rp 30.489,16; sedangkan pada kelompok kontrol = Rp 57.927,99. Nilai ICER fungsi paru = Rp 658,00; sedangkan nilai ICER kontrol asma = Rp 5.830,41. Kesimpulan dari penelitian ini, Pemberian edukasi secara Tele Care memberikan pengaruh terhadap peningkatkan pengetahuan asma; kontrol asma dan fungsi paru disertai biaya yang lebih mahal. 
STRATEGI PENGEMBANGAN NUSA PENIDA SEBAGAI SALAH SATU DESTINASI WISATA UNGGULAN KABUPATEN NUSA PENIDA KABUPATEN KLUNGKUNG PROVINSI BALI
Penelitian ini bertujuan untuk mencermati faktor-faktor internal dan eksternal yang dapat mendukung maupun menghambat perkembangan pariwisata Nusa Penida, sesuai dengan analsis SWOT, kemudian menentukan strategi terkait pembangunan pariwisata Nusa Penida. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan data yang digunakan berupa data sekunder dan primer. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik dan website pemerintah Kabupaten Klungkung, sedangkan data primer diperoleh dari hasil survey dan wawancara. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Nusa Penida memiliki banyak potensi yang dapat mendukung pengembangan pariwisatanya, antara lain keindahan alam, keragaman varietas biota laut, wisata religi, serta budayanya. Selain itu, kebijakan pemerintah memberikan visa gratis bagi beberapa negara, kemajuan teknologi, dan tren wisata yang cenderung berubah ke wisata alam juga menjadi faktor pendukung pengembangan pariwisata Nusa Penida. Hambatan yang ditemui dalam usaha ini adalah buruknya akses transportasi, kurangnya publikasi, dan kurang lengkapnya saran-prasarana. Selain itu, ancaman ombak pasang, bencana alam, pencemaran lingkungan dan persaingan juga menjadi faktor penghambat pengembangan pariwisata Nusa Penida. Melalui hasil temuan kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities) dan ancaman (threats), kemudian diformulasikan kedalam matriks SWOT dan ditemukan beberapa strategi, yaitu : strategi SO (strength – opportunity) dengan mengembangkan Nusa Penida sebagai Desa Wisata, meningkatkan publikasi, dan mengembangkan Kawasan Konservasi Perairan. Strategi ST (strength – threat) dengan membuat aturan pelaksanaan kegiatan di laut, dan menyeleksi rencana pembangunan yang ditawarkan investor. Strategi WO (weakness – opportunity) dengan memperbaiki sarana-prasarana, dan meningkatkan kualitas SDM. Strategi WT (weakness - threat) dengan membangun sarana pengolahan limbah dan bekerjasama dengan pihak luar dalam upaya pengembangan SDM dan pariwisata.  
MODERASI JENIS PEMBELI TERHADAP PENGARUH TAKTIK PENJUALAN PADA MANIFEST INFLUENCE PRODUK AUDIO MOBIL DI SURABAYA
Seiring dengan perkembangan zaman saat ini, pembeli dihadapkan dengan berbagai macam pilihan produk yang dapat dipilih dengan mudah. Semakin ketat dan kuatnya persaingan itu membuat para penjual harus sepandai mungkin dalam menawarkan produk atau jasa yang ada. Penjual yang menjual barang dengan karakteristik khusus diharuskan paham akan tuntutan yang diinginkan oleh pembeli sehingga nantinya dapat terus eksis dan bisnisnya dapat berumur panjang. Dalam penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lainnya, didapatkan bahwa terdapat beberapa variabel dari taktik penjualan. Variabel-variabel yang berkaitan dengan taktik penjualan tersebut antara lain pertukaran informasi, rekomendasi, ancaman, janji, rayuan, dan seruan inspiratif. Sedangkan berasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya juga mengindikasikan bahwa terdapat tiga tipe dari karakteristik pembeli yang ada saat ini. Tiga tipe karakteristik dari pembeli tersebut adalah pembeli dengan orientasi tugas, pembeli dengan orientasi pribadi, dan pembeli dengan orientasi interaksi. Dalam penelitian itu memperlihatkan bahwa pembeli dengan tipe orientasi tugas lebih cocok apabila menggunakan taktik penjualan pertukaran informasi dan rekomendasi. Pembeli dengan tipe orientasi pribadi lebih cocok menggunakan taktik penjualan ancaman, janji, atau rayuan. Sedangkan pembeli dengan orientasi interaksi lebih cocok menggunakan taktik penjualan berupa rayuan dan seruan inspiratif. Untuk membuktikan penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya, maka peneliti saat ini menggunakan topik inti audio mobil sebagai objek penelitian. Peneliti melakukan penelitian dua sisi yaitu penjual dan pembeli produk audio mobil. Penelitian yang ada dilakukan perhitungan dengan metode regresi linier berganda, dan uji MANOVA untuk mengetahui seberapa besar keterkaitan atau hubungan antar variabel taktik penjualan dengan orientasi dari pembeli. peneliti melakukan pengambilan sampel dalam bentuk kuesioner yang disebar pada masing-masing 90 responden penjual dan juga pembeli produk audio mobil. Responden yang ada ini harus saling mengenal karakteristik antara satu dengan yang lainnya. Dari hasil perhitungan yang ada didapatkan bahwa terdapat beberapa hipotesa peneliti yang sama dengan peneliti sebelumnya. Hipotesa tersebut antara lain dari segi taktik penjualan berupa ancaman terhadap pembeli dengan orientasi pribadi, rayuan terhadap pembeli dengan orientasi pribadi, rayuan terhadap orientasi interaksi, dan taktik ancaman yang digunakan oleh penjual dalam menawarkan produknya. Selain kesamaan tentunya juga terdapat sedikit perbedaan hasil hipotesa. Hasil analisis hipotesa berdasarkan perhitungan ternyata mengungkapkan bahwa taktik penjualan saja tidak cukup dalam membuat manifest influence. Terdapat hal-hal lain pula yang menyebabkan manifest influence dari pembeli sehingga dapat memutuskan membeli produk audio mobil. 
PENINGKATAN PROSES LAYANAN DENGAN PENDEKATAN LEAN SERVICE DI HOTEL TRIO INDAH 2 MALANG
Lean service pada dasarnya adalah ‘perbaikan yang berkesinambungan’ dan ‘menghilangan aktivitas non-value-add (waste)’. Pada penelitian ini, objek yang dipilih sebagai tempat penerapan lean service adalah Hotel Trio Indah 2 Malang terutama untuk divisi Front Office, Housekeeping, Restaurant, Engineering, dan Public Area. Saat ini, kondisi Hotel Trio Indah 2 Malang belum termasuk lean. Hal ini terlihat dari adanya pemborosan di beberapa divisi. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi waste hotel saat ini dengan menggunakan lean tool; merancang lean service yang sesuai untuk meningkatkan efisiensi di Hotel Trio Indah 2 Malang; dan mengimplementasikan lean service tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan pemetaan aktivitas dengan PAM untuk mengidentifikasi waste dan value dari customer. Selanjutnya dilakukan analisis penyebab waste dengan menggunakan FMEA dan 5whys untuk menghasilkan saran perbaikan. Untuk perbaikan jangka pendek, didapatkan pengurangan persentase NNVAA dan NVAA. Untuk perbaikan jangka panjang, terdapat peningkatan nilai PCE, sehingga dari usulan perbaikan yang dirancang dapat diterapkan oleh pihak hotel agar efisiensi proses pelayanannya dapat ditingkatkan
IMPLIKASI GENDER TERHADAP KARIR AKUNTANSI: STUDI KASUS PADA PT XYZ
Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan wawasan mengenai bagaimana gender berimplikasi terhadap karir akuntansi di perusahaan dengan mencari tahu bagaimana pandangan pemilik terhadap gender, faktor apa yang menyebabkan pemilik memilih akuntan tersebut untuk menduduki posisinya sekarang, bagaimana kinerja akuntan tersebut, dan apakah terdapat perbedaan kinerja antara akuntan-akuntan. Penelitian ini dilakukan dengan studi di bagian akuntansi PT XYZ. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh isu khusus feminin di mana wanita yang diasumsikan berkarakteristik feminin diremehkan dalam diskusi mengenai gender. Penelitian-penelitian yang telah ada belum menghubungkan antara gender dengan karir akuntansi di perusahaan. Penelitian ini menggunakan tiga teknik pengumpulan data, yaitu interview, observasi, dan analisis dokumen. Hasil temuan dari penelitian menunjukkan bahwa pemilik cenderung lebih menyukai gaya kepemimpinan yang maskulin dan posisi tertinggi akuntansi membutuhkan akuntan yang maskulin menyebabkan pemilik menuntut akuntan untuk menjadi maskulin, sehingga wanita dengan karakteristik maskulin memiliki jenjang karir yang lebih baik di bidang akuntansi perusahaan. Hal ini dibuktikan dengan akuntan yang menduduki posisi tertinggi di bidang akuntansi PT XYZ adalah wanita yang maskulin
PENGARUH SOCIAL MEDIA MARKETING EFFORTS TERHADAP BRAND EQUITY DAN CONSUMER RESPONSES LOUIS VUITTON DI SURABAYA
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji efek dari Social Media Marketing Efforts terhadap Brand Equity dan Consumer Responses Louis Vuitton. Data yang diambil dari 190 responden dianalisis dengan menggunakan Structural Equation Model (SEM) dengan program Statistical Package for Social Sciences (SPSS) versi 18 dan AMOS versi 22. Responden secara acak diambil dari pengguna Instagram dan Facebook yang mengikuti akun social media Louis Vuitton.Berdasarkan hasil pengujian, ditemukan bahwa Social Media Marketing Efforts memiliki pengaruh positf dan signifikan terhadap Brand Equity dan Consumer Responses serta Brand Equity memiliki pengaruh mediasi antara hubungan Social Media Marketing Efforts dan Consumer Responses. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semua hipotesis terdukung. Dampak dari hasil penelitian ini dapat membantu perusahaan selaku produsen merek Louis Vuitton menciptakan strategi untuk melakukan pemasaran melalui media sosial mereka dalam rangka meningkatkan Brand Equity dan Cosumer Responses
HUBUNGAN CORPORATE GOVERNANCE DAN EARNINGS MANAGEMENT PADA PERUSAHAAN SEKTOR PROPERTY DAN REAL ESTATE YANG TERDAFTAR DI BEI 2010-2012
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan corporate governance (board composition, board size, board meeting, board multiple directorship, komite audit independen dan frekuensi pertemuan komite audit) dan earnings management pada perusahaan sektor property dan real estate yang terdaftar di BEI periode 2010-2012. Variabel Control yang digunakan adalah leverage dan firm size. Penelitian ini menggunakan earnings management yang diproksikan dengan discretionary accruals. Model yang digunakan untuk mendeteksi adanya earnings management adalah Modified Jones. Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa hanya variabel board multiple directorship yang mempunyai hubungan positif terhadap earnings management. 
FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN DINING CHOICE MASYARAKAT SURABAYA DALAM MEMILIH RESTORAN
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan faktor-faktor yang menentukan dining choice masyarakat Surabaya dalam memilih restoran. Surabaya adalah salah satu kota yang tedapat di Jawa Timur, dalam dua tahun terakhir Kota Surabaya mengalami perkembangan bisnis industry makanan sangat pesat. Penelitian ini juga mempelajari tentang faktor-faktor yang menentukan dining choice masyarakat Surabaya dalam memilih restoran yang mencakup faktor service delivery, servicescape, product, dan technology. Penelitian ini penelitian adalah deskriptif dan menggunakan kuesioner untuk mendapatkan data primer. Jenis pengukuran yang digunakan adalah nominal. Metode pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tabulasi silang debedakan pada setiap karakteristik responden. Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa gambaran pada setiap faktor-faktor tersebut. Dari hasil penelitian didapat pula bahwa faktor product adalah faktor yang paling banyak dipilih oleh responden
PERANCANGAN BALANCED SCORECARD PERSPEKTIF LEARNING AND GROWTH UNTUK MENINGKATKAN HUMAN CAPITAL VALUE AXA MANDIRI
Abstract - Generally, entities will measure their employee performances simply using one method, which is financial perspective. That term was changed when Kaplan and Norton bring a new concept called Balanced Scorecard which measuring employees performances not only using single, but forth perspective at once. Using Balanced Scorecard, entities could maximize their strength. Before an entity applying Balanced Scorecard, they need to make plan since Balanced Scorecard are function to describe relationship between action and future entity’s plan. Moreover, the design will be built based on phase; assessment, strategy, objectives, strategy map, measurement, and initiatives. This research will focus on assessing strategic management system on AXA’S sales department using Balanced Scorecard, especially on learning and growth perspective