Muslim Heritage
Not a member yet
201 research outputs found
Sort by
KEGIATAN FILANTROPI DI MASA PANDEMI PERAN SATGAS NU DALAM MENANGGULANGI DAMPAK COVID-19 DI INDONESIA
AbstractThis article aims to examine philanthropic activities in the pandemic era by looking at the role of the NU Task Force in dealing with the impact of Covid-19 in Indonesia. This research uses field research with descriptive-qualitative-analytical analysis techniques. The results showed that as an Islamic philanthropic movement in the pandemic era, the NU Covid-19 Task Force carried out the following activities: (1) Education and outreach to the public about the urgency of philanthropic attitudes in achieving happiness in the hereafter through socialization through educational videos about preventing Covid-19. (2) Collecting donations by involving volunteers, NU internal institutions and external institutions engaged in philanthropy through professional and proportional investment in dealing with Covid-19. (3) Expanding the use of philanthropic funds by distributing and utilizing them in the form of providing consumptive and productive assistance to communities affected by Covid-19. (4) Supervision of the NU Covid-19 Task Force through supervision from PBNU involving WHO and other institutions. This collaboration with various parties is carried out so that this philanthropic movement becomes a massive joint movement through synergies with related parties in the fight against Covid-19. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengkaji kegiatan filantropi di era pandemi dengan melihat peran Satgas NU dalam menaggulangi dampak Covid-19 di Indonesia.Penelitian ini mengunakan riset lapangan (field research) dengan teknik analisis deskriptif-kualitatif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagai sebuah gerakan filantropi Islam di era Pademi, Satgas Covid-19 NU melakukan kegiatan: (1) Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang urgensi sikap filantropi dalam meraih kebahagiaan hidup dunia akhirat melalui sosialisasi lewat video edukasi tentang pencegahan Covid-19. (2) Pengumpulan donasi dengan cara melibatkan relawan, lembaga internal NU dan lembaga eksternal yang bergerak di bidang filantropi melalui penanaman kerja secara professional dan proporsional dalam penaggulangan Covid-19. (3) Memperluas pemanfaatan dana filantropi dengan pendistribusian dan pendayagunaan dalam bentuk pemberian bantuan konsumtif dan produktif kepada masyarakat terdampak Covid-19. (4) Pengawasan Satgas Covid-19 NU melalui pengawasan dari PBNU yang melibatkan WHO dan lembaga lain. Kerjasama dengan berbagai pihak ini dilakukan agar gerakan filantropi ini menjadi gerakan bersama yang bersifat massif melalui sinergi dengan pihak terkait dalam penaggulangan Covid-19
TEACHINGS OF THE MASYARAKAT TANPA RIBA IN THE LIGHT OF THE SOCIOLOGY OF KNOWLEDGE
AbstractThe purpose of this study is to explore the attitude background of the Society Without Usury (herein after written MTR). The MTR rejects the existence of interest and banks. MTR is a community committed to developing a business without usury, without debt, and without contracts that are not under sharia. One form of this commitment is that MTR members refuse to pay bank debts and interest. Meanwhile, the banks believe that the customer should pay the debt and interest according to the contract. This research is qualitative. Data were obtained through in-depth interviews, observations, and documentation. Key informants are administrators and members of the MTR. Based on the results of the study, it can be concluded that the MTR community has three qualification meanings in the sociology of knowledge, namely objective meaning, which can be seen from community understanding and community beliefs regarding usury, especially bank interest. The behavior of MTR residents is formed due to external factors, namely the stimulus from the family environment that has previously joined the MTR community. The expressive meaning of the MTR community is the meaning impregnated by every MTR citizen who is integrated with the behavior of avoiding usury and doing other teachings, such as improving the creed, improving relations with the social environment, still seeking knowledge, especially the science of good peace, and others. Meanwhile, the documentary meaning is a material activity manifested in religious practices and rituals. AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mendalami latar belakang sikap kelompok Masyarakat Tanpa Riba (selanjutnya ditulis MTR) yang menolak keberadaan bunga dan bank. MTR adalah sebuah komunitas yang mempunyai komitmen mengembangkan bisnis tanpa riba, tanpa utang, tanpa akad-akad yang tidak sesuai syariah. Salah satu bentuk komitmen tersebut adalah anggota MTR menolak untuk membayar hutang bank beserta bunganya. Sedangkan pihak bank berpandangan bahwa nasabah memiliki kewajiban untuk membayar hutang beserta bunganya sesuai kesepakatan kontrak di awal. Penelitian ini bersifat kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan kunci adalah pengurus dan anggota MTR. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa komunitas MTR memiliki tiga makna kualifikasi dalam sosiologi pengetahuan, yakni makna objektif yang dapat dilihat dari pemahaman komunitas dan keyakinan komunitas mengenai riba terutama bunga bank. Perilaku warga MTR terbentuk karena faktor eksternal, yakni stimulus dari lingkungan keluarga yang sudah terlebih dahulu bergabung dengan komunitas MTR. Makna ekspresif dari komunita MTR adalah makna yang diresapi oleh setiap warga MTR yang terintegrasi dalam perilaku menghindari riba dan melakukan ajaran lainnya, seperti memperbaiki akidah, memperbaiki hubungan dengan lingkungan sosial, tetap mencari ilmu terutama ilmu bermuamalah yang baik, dan lain-lainnya. Sementara, makna dokumenter, yakni sebagai kegiatan material yang terwujud dalam bentuk praktik agama dan ritualnya
KEABSAHAN UANG ELEKTRONIK (E-MONEY) PERSPEKTIF QAWA’ID FIQHIYAH: SEBUAH TINJAUAN EMPIRIS TERHADAP KRITIK UANG ELEKTRONIK
AbstractThe emergence of transaction media such as electronic money provides many benefits for the public in transacting. However, in the law of its use, electronic money reaps a lot of controversy between whether it is legal or not according to Islamic law. This paper aims to review the validity of electronic money based on fiqh principles. The method used is descriptive qualitative through a literature survey. The results of this study indicate that electronic money is generally legal based on fiqh rules. The many benefits provided by electronic money make it easier for people to make transactions so that it provides benefits for its users. Nevertheless, there are several aspects that must be considered so that in the application of electronic money so as not to run away from the principles and rules of fiqh that have been set. Several principles that must be applied in transactions using electronic money are to avoid maysir and in its use it does not encourage isyraf and is not used to make transactions for illegitimate objects. AbstrakKemunculan media transaksi seperti uang elektronik memberikan banyak manfaat bagi masyarakat dalam bertransaksi.Namun dalam hukum penggunaannya, uang elektronik menuai banyak kontroversi antara sah atau tidaknya menurut hukum Islam.Penelitian ini bertujuan untuk meninjau ulang keabsahan uang elektronik berdasarkan kaidah-kaidah fikih. Metode yang digunakan ialah kualitatif deskriptif melalui survey literature. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa uang elektronik secara umum hukumnya boleh berdasarkan kaidah-kaidah fikih. Banyaknya manfaat yang diberikan oleh uang elektronik menjadikan masyarakat lebih mudah dalam melakukan transaksi sehingga memberikan kemashlahatan bagi penggunanya. Meskipun demikian terdapat beberapa aspek yang tetap harus diperhatikan agar dalam penerapannya uang elektronik agar tidak lari dari prinsip-prinsip maupun kaidah-kaidah fikih yang telah ditetapkan. Beberapa prinsip yang harus diditerapkan dalam transaksi menggunakan uang elektronik yaitu terhindar dari maysir serta dalam penggunaannya tidak mendorong isyraf dan tidak digunakan untuk melakukan transaksi objek yang hara
GERAKAN IDEOLOGI ISLAM TRANSNASIONAL DI INDONESIA DALAM FILM JKDN KARYA NICKO PANDAWA
AbstractThe screening of JKDN (Jejak Khilafah di Nusantara) movie directed by Nicko Pandawa left a general problem about the caliphate and its relation to the development of Islam in Indonesia or the archipelago. As mentioned in the movie, the caliphate is an institution that houses Muslims around the world, including the archipelago. It also plays an important role in the rapid growth of Islam. However, many people still doubt the truth of the film. They even accuse the existence of propaganda of a transnational Islamic ideology, which will impact the national Islamic image. This study aimed to dissect the contents of JKDN movie episode I and II, then connected the history of the development of Islam with the transnational Islamic ideological movement in Indonesia contained in the movie's narrative. The method used was history, which included source collection, verification, interpretation, writing process, sociolinguistic approach, document (movie) study, and strengthened by the theory of Islamic fundamentalism movement initiated by Ernest Gellner. This study sought to discuss the process of Islamization in Indonesia as one of the historical events re-expressed through the movie and then the theory of identity construction. The result of Della Porta and Diani’s ideas produced several important findings related to the transnational Islamic ideological movement described in this study. This included the communication between the Islamic Sultanates in the archipelago and the Islamic Caliphate, the spirit of unity that arose between the two and a high dedication to upholding Islamic law. AbstrakPenayangan film JKDN (Jejak Khilafah di Nusantara) yang disutradarai oleh Nicko Pandawa, menyisakan persoalan umum tentang khilafah dan kaitannya dengan perkembangan Islam di Indonesia atau nusantara, dalam film disebutkan bahwa khilafah merupakan sebuah institusi yang menaungi kaum muslimin di seluruh dunia, termasuk nusantara, dan berperan penting terhadap pesatnya laju pertumbuhan Islam, akan tetapi masih banyak yang meragukan kebenaran dari film tersebut, bahkan sebagian menuding adanya propaganda dari salah satu paham Islam transnasional, yang nantinya berdampak pada citra Islam nasional. Penelitian ini bertujuan membedah ulang isi film JKDN episode I dan II, kemudian menghubungkan antara sejarah perkembangan Islam dengan gerakan ideologi Islam transnasional di Indonesia yang terdapat dalam narasi film tersebut. Metode yang digunakan adalah sejarah, yang meliputi pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi, hingga proses penulisan, ditambah pendekatan sosiolinguistik dan studi dokumen (film), serta diperkuat dengan teori gerakan fundamentalisme Islam yang digagas oleh Ernest Gellner, penelitian ini berusaha mendiskusikan tentang proses islamisasi di Indonesia sebagai salah satu peristiwa sejarah yang diungkap kembali melalui film, selanjutnya teori konstruksi identitas, hasil buah pikiran dari Della Porta dan Diani, menghasilkan beberapa temuan penting terkait gerakan ideologi Islam transnasional yang coba diuraikan dalam penelitian ini, di antaranya jalinan komunikasi antara kesultanan-kesultanan Islam di nusantara dengan Khilafah Islamiyah, kemudian semangat persatuan yang timbul antara keduanya, serta dedikasi yang tinggi untuk menegakkan syariat Islam.
FACTORS AFFECTING GENERATIONAL MILLENNIALS' DESIRE TO SPEND MONEY ON WAQF
AbstractWaqf is currently in the limelight for its contribution to social activities. Waqf offers a great deal of potential, especially given the current urgency to assist in financing education. Laziswaf is one of the initiatives aimed at promoting the sustainability of education. From here, the author observes students who drop out of school due to a lack of funds, whereas the establishment of a cashWaqf institution at a tertiary institution aims to assist students who lack funds in order for them to continue their studies. As a result, the goal of this study is to investigate the effects of religiosity, knowledge, and financial attitudes on students in educational institutions that have Waqf institutions in East Java. In this study, qualitative and quantitative methodologies were employed. This study used SEM with LISREL software version 8.70. The SEM technique is considered the best analytical strategy to examine multiple effects between independent and dependent variables simultaneously. 425 respondents made up the sample for this study. As a result of the study, the factors of knowledge and religion have less of an impact than the factor of financial attitude, which has a greater impact. Thus, this indicates that student waqf interest is less influenced by H1-knowledge and H2-spiritual understanding and, on the other hand, is more influenced by H3-financial attitudes than by H1 and H2. In a way, a student's desire to spend their money on charity can be inferred mostly from their financial outlook. AbstrakWakaf saat ini menjadi pusat perhatian karena kontribusinya dalam kegiatan sosial. Wakaf menawarkan banyak potensi, terutama mengingat urgensinya saat ini untuk membantu pembiayaan pendidikan. LAZISWAF merupakan salah satu inisiatif yang bertujuan untuk mendorong keberlanjutan pendidikan. Dari sinilah penulis melihat kasus siswa yang putus sekolah karena tidak memiliki dana, sedangkan pendirian lembaga wakaf tunai di perguruan tinggi bertujuan untuk membantu kasus siswa yang kekurangan dana agar dapat melanjutkan studinya. Maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengkaji bagaimana pengaruh religiusitas, pengetahuan, dan sikap keuangan terhadap niat wakaf santri pada lembaga pendidikan yang memiliki lembaga wakaf di Jawa Timur. Dalam penelitian ini, metodologi kualitatif dan kuantitatif digunakan. Penelitian ini menggunakan SEM dengan software LISREL versi 8.70. Teknik SEM dianggap sebagai strategi analitik terbaik untuk menguji beberapa efek antara variabel independen dan dependen secara bersamaan. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 425 responden. Penelitian ini menunjukkan bahwa sikap finansial lebih mempunyai pengaruh yang besar dibandingkan dengan faktor religiusitas dan pengetahuan. Dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa minat wakaf siswa kurang dipengaruhi oleh H1-pengetahuan dan H2-pemahaman spiritual dan sebaliknya lebih dipengaruhi oleh H3-sikap keuangan dibandingkan H1 dan H2. Di satu sisi, keinginan siswa untuk membelanjakan uang mereka untuk amal sebagian besar dapat disimpulkan dari pandangan keuangan mereka
KOMUNIKASI PEMASARAN TERPADU DALAM PENINGKATAN POTENSIPASAR RAKYAT DI KOTA MADIUN
AbstractThe Srijaya People's Market in Madiun City is a traditional market that is currently still operating in the midst of the onslaught of the modern and digital era. This study aims to analyze what the potential of Srijaya Market is, how the integrated marketing strategy has been carried out by market managers in increasing the potential and impact of this strategy. This research is a field research using a descriptive qualitative methodological approach. The findings of this study reveal that in the analysis of the micro and macro environment of marketing, Srijaya Market has economic potential on Sundays. This is evidenced by the hecticity of traders and special visitors on Sundays which is reinforced by other potentials such as a strategic geographical location, easy road access and the number of varied traders. The integrated marketing communication strategy is carried out through advertising methods by placing posters and billboards, sales promotion through a prize coupon program and public relations through Market Operations and Return to People's Market events. This strategy has an impact on the economy of traders, the economy of the community and local government revenues. The direct impact occurred in increasing sales so that many traders wanted to sell, as well as increasing brand awareness of the existence of Srijaya Market. Srijaya Market is busy with many visitors on Sundays. has the potential to become a tourist market destination in Madiun City. AbstrakPasar Rakyat Srijaya Kota Madiun merupakan pasar tradisional yang saat ini masih beroperasi di tengah perkembangan gempuran era modernitas dan digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apa saja potensi yang dimiliki oleh Pasar Srijaya, bagaimana strategi pemasaran terpadu yang telah dilakukan oleh pengelola pasar dalam meningkatkan potensi serta dampak dari strategi tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan metodologi kualitatif deskriptif.Hasil temuan dari penelitian ini mengungkap bahwa dalam analisis lingkungan mikro dan makro pemasaran, Pasar Srijaya memiliki ekonomi yang potensial pada Hari Minggu.Hal tersebut dibuktikan dengan ramainya pedagang dan pengunjung khusus pada hari Minggu yang diperkuat dengan potensi lainnya seperti letak geografis yang strategis, akses jalan yang mudah serta banyaknya pedagang yang bervariasi.Strategi komunikasi pemasaran terpadu dilakukan melalui metode periklanan dengan memasang poster dan billboard, promosi penjualan melalui program kupon berhadiah serta hubungan masyarakat melalui eventOperasi Pasar dan Gerakan Kembali ke Pasar Rakyat.Strategi tersebut memberikan dampak terhadap ekonomi pedagang, ekonomi masyarakat dan pendapatan pemerintah daerah.Dampak secara langsung terjadi pada peningkatan penjualan sehingga banyak pedagang yang ingin berjualan, serta meningkatnya brand awareness terhadap keberadaan Pasar Srijaya. Ramainya Pasar Srijaya dengan banyaknya pengunjung pada hari Minggu, berpotensi menjadi destinasi pasar wisata di Kota Madiun
ALTRUISME GURU DALAM PERSPEKTIF ISLAM
AbstractTeacher Altruism in an Islamic Perspective. Altruism as an active attitude of a person to help others has a significant social impact, in Islam altruism is better known in its terms which is one of the basic attitudes of a Muslim, especially for teachers who are central figures in the education of future generations to become the better person should be one with altruism. This study aims to reveal the similarities and differences between altruism and itsar, and altruistic attitudes of teachers. The method in this study is a literature review, the source of the data is taken from literature and journals related to the research topic. The results of this study are altruism and itsar have similarities in the meaning of both which refer to individual actions that want good for others without getting reciprocity, along with indicators in the form of; attitude of giving, cooperation, donation, helping, honest, and generous, while the difference lies in the spiritual aspect in Itsar’s indicators, so that makes itsar more perfect than altruism. Mu'tsir teachers in Islam are teachers who prioritize the interests of students compared to the teacher himself, making indicators of altruism as the basis of their competence, by adding spiritual competence contained in itsar as a manifestation of faith and charity as a Muslim, and as an accountability answer before Allah SWT. AbstrakAltruisme Guru Dalam Perspektif Islam.Altruisme sebagai sikap aktif seseorang untuk membantu orang lain memiliki dampak sosial yang signifikan, dalam islam altruismelebih dikenal dalam term itsar yang merupakan salah satu sikap dasar seorang muslim, terlebih bagi Guru yang merupakan tokoh sentral dalam pendidikan generasi mendatang untuk menjadi pribadi yang lebih baik haruslah merupakan seorang dengan sikap altruisme. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan persamaan dan perbedaan antara altruisme dan itsar, dan sikap-sikap altruisme guru. Metode dalam penelitian ini merupakan kajian pustaka, sumber datanya diambil dari literatur dan jurnal yang terkait dengan topik penelitian. Hasil penelitian ini adalah altruisme dan itsar memiliki persamaan dalam pengertian keduanya yang merujuk pada tindakan individu yang menghendaki kebaikan bagi orang lain tanpa mendapatkan timbal balik, berikut indikatornya yang berupa; sikap memberi, kerjasama, donasi, menolong, jujur, dan dermawan, sedangkan perbedaannya terletak pada keberadaan aspek spiritual dalam indikator yang dimiliki term Itsar, sehingga cakupan itsar bisa menjadi lebih sempurna dari altruisme. Guru yang mu’tsir dalam Islam merupakan guru yang lebih mengutamakan kepentingan peserta didik dibandingkan dengan diri guru itu sendiri, menjadikan indikator altruisme sebagai dasar kompetensi yang dimilikinya, dengan menambahkan kompetensi spiritual yang terdapat pada itsar sebagai perwujudan iman dan amalnya sebagai muslim, dan sebagai pertanggung jawabannya dihadapan Allah SWT
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEKERJA PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU (PKWT) PERSPEKTIF HAM DALAM ISLAM ABDULLAHI AHMED AN-NA’IM
AbstractThe legal protection for PKWT workers is apprehensive, even to the point where a new policy was issued through Law Number 11 of 2020 on Job Creation and its implementing regulations. Legal protection of basic human rights is crucial as is the case in the thought of human rights in Islam Abdullahi Ahmed an-Na'im. The purpose of this study is to find out in-depth how the legal protection for PKWT workers is in the Job Creation Act and the implementing rules from the perspective of human rights fiqh according to Abdullahi Ahmed an-Na'im. This research is normative legal research with a statute approach and conceptual approach. The data in this study are secondary in the form of primary, secondary, and tertiary legal materials. The results of this study indicate that the Job Creation Act and its implementing regulations have not fully provided legal protection for PKWT workers, especially in terms of PKWT based on the completion of a certain job and the elimination of legal consequences if the PKWT is made unwritten. The provisions in Abdullahi Ahmad an-Na'im's human rights in Islam concept do not reflect the spirit of reciprocity and do not fulfill the right to life and freedom, so the values of sharia humanism as when they were revealed in Mecca have not been embodied in the policy of PKWT workers in the new regulation. AbstrakPerlindungan hukum bagi pekerja PKWT terbilang memprihatinkan, bahkan sampai pada lahirnya kebijakan baru melalui Undang-Undang Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan aturan pelaksananya. Perlindungan hukum terhadap hak-hak dasar manusia adalah hal yang krusial seperti halnya dalam pemikiran HAM dalam Islam Abdullahi Ahmed an-Na’im. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui secara mendalam bagaimana perlindungan hukum terhadap pekerja PKWT dalam Undang-Undang Cipta Kerja dan aturan pelaksananya perspektif HAM dalam Islam menurut Abdullahi Ahmed an-Na’im. Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Data dalam penelitian ini berasal dari data sekunder yaitu bahan hukum primer, sekunder, dan tertier. Hasil penelitian ini menujukan bahwa Undang-Undang Cipta Kerja dan aturan pelaksananya belum sepenuhnya memberikan perlindungan hukum terhadap pekerja PKWT terutama dalam ketentuan PKWT berdasarkan selesainya suatu pekerjaan tertentu dan penghapusan konsekuensi hukum apabila PKWT dibuat secara tidak tertulis. Ketentuan tersebut dalam konsep HAM dalam Islam Abdullahi Ahmed an-Na’im justru belum mencerminkan spirit resiprositas dan tidak memenuhi hak untuk hidup dan bebas, sehingga nilai-nilai humanisme syariah seperti saat diturunkan di Makkah belum terjewantahkan dalam kebijakan pekerja PKWT pada regulasi baru tersebut
OPTIMALISASI PENGELOLAAN ASET WAKAF DI KECAMATAN PONOROGO
AbstractNadzir is an important element in the wakalah waqf process. Waqfs wishing to donate their assets as waqf must choose a nadzir as the recipient of the assets as well as a trusted party to manage it. Nadzir is divided into three types, namely: foundations, legal entities, and individuals. Given the importance of the existence of the nadzir in the waqf procession, an appropriate strategy is needed to maintain the existence of waqf assets so that they are always beneficial to the waqif, as well as to the people. Therefore, this article aims to reveal the implementation of the nadzir strategy in optimizing waqf assets in the Ponorogo District area. The research method used in writing this research article is a multi-site qualitative research method, which was conducted in three different mosques, namely: 1. As-Salam Sunan Muria Bangunsari Ponorogo Mosque which is a representation of waqf assets managed by individuals. 2. K.H. Mosque Ahmad Dahlan Nologaten Ponorogo which is a representation of waqf assets managed by the Muhammadiyah organization. 3. Nadhlatul Ulama Sultan Agung Bangunsari Ponorogo Mosque which represents waqf assets managed by the Nadhlatul Ulama organization. Data collection techniques were carried out through interviews, participant observation, and documentation. The results of the study show that efforts to optimize the management of waqf assets are carried out by each nadzir by applying the blue ocean strategy management model based on the environmental characteristics of the organizational culture. ABSTRAKNadzir merupakan elemen yang penting dalam proses wakalah wakaf. Wakif yang hendak mewakafkan harta kekayaannya diharuskan untuk memilih nadzir sebagai penerima harta tersebut sekaligus sebagai pihak yang diamanati untuk mengelolanya . Nadzir dibedakan ke dalam tiga jenis yaitu: yayasan, badan hukum, dan perorangan. Mengingat pentingnya eksistensi nadzir dalam prosesi wakaf maka dibutuhkan strategi yang tepat untuk menjaga eksistensi harta wakaf tersebut agar selalu bermanfaat bagi wakif, serta bagi umat. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengungkap implementasi strategi nadzir dalam mengoptimalkan aset wakaf di kecamatan Ponorogo. Metode penelitian yang digunakan dalam menulis artikel penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif berjenis multisitus, yang dilakukan di tiga masjid yang berbeda yaitu: 1. Masjid As-Salam Sunan Muria Bangunsari Ponorogo yang merupakan representasi dari aset wakaf yang dikelola oleh perorangan. 2. Masjid K. H. Ahmad Dahlan Nologaten Ponorogo yang merupakan repesentasi dari aset wakaf yang dikelola oleh organisasi Muhammadiyah. 3. Masjid Nadhlatul Ulama Sultan Agung Bangunsari Ponorogo yang merupakan representasi dari aset wakaf yang dikelola oleh organisasi Nadhlatul Ulama . Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara, observasi patisipan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya optimalisasi pengelolaan harta wakaf yang dilakukan oleh masing-masing nadzir dengan cara menerapkan model manajemen strategi blue ocean strategy berbasis karakteristik lingkungan budaya organisasi
INCLUSIVE-PLURALISTIC ISLAMIC RELIGIOUS EDUCATION MODEL AS AN ALTERNATIVE TO INVESTING THE VALUES OF RELIGIOUS MODERATION
AbstractThis research departs from Islamic Religious Education which is felt to be incomplete in teaching the values of diversity to students so that it can cause students to live in intolerant nuances. This research seeks to provide an overview of an inclusive and pluralist Model of Islamic religious education as an alternative to realizing religious moderation. The research approach used in this study is a Systematic Literature Review with data collection carried out by analyzing or reviewing relevant research writings and articles. The data analysis technique used by researchers is a descriptive synthesis analysis technique (narrative). The result of this study inclusive-pluralistic Islamic religious education is an educational model that is constructed using an understanding and foundation of differences that include sunnatullah, showing the spirit of tolerance, religion, and pluralism, to produce educational outputs that have humanist, democratic, tolerant, pluralist behavior so that the character of students is formed by religious and national values. The pluralist inclusive Islamic religious education model can be seen in terms of the curriculum which includes material that reflects the vision of appreciation and peace towards other religions. These methods allow freedom of thought, and evaluation that is open to all stakeholders, not just students. Then also educators are touched by the discourse of religious thought and the struggle of thought on issues surrounding pluralism, interfaith dialogue, and tolerance. And finally, students are seen as individuals with the potential to have social care and critical thinking skills. AbstrakPenelitian ini berangkat dari Pendidikan Agama Islam yang dirasa kurang lengkap dalam mengajarkan nilai-nilai kebhinnekaan kepada peserta didik, sehingga dapat menyebabkan peserta didik hidup dalam nuansa intoleran. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran tentang Model pendidikan agama Islam yang inklusif dan pluralis sebagai alternatif mewujudkan moderasi beragama. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Systematic Literature Review dengan pengumpulan data dilakukan dengan menganalisis atau menelaah tulisan dan artikel penelitian yang relevan. Teknik analisis data yang digunakan peneliti adalah teknik analisis deskriptif sintesis (naratif). Hasil penelitian ini pendidikan agama Islam inklusif-pluralis merupakan model pendidikan yang dibangun dengan menggunakan pemahaman dan landasan perbedaan yang meliputi sunnatullah, menunjukkan semangat toleransi, beragama dan pluralisme, sehingga menghasilkan output pendidikan yang humanis, demokratis., toleran, pluralis sehingga terbentuk karakter peserta didik yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan kebangsaan. Model pendidikan agama Islam inklusif pluralis dapat dilihat dari segi kurikulum yang memuat materi yang mencerminkan visi penghargaan dan perdamaian terhadap agama lain, metode yang memungkinkan kebebasan berpikir, evaluasi yang terbuka untuk semua pemangku kepentingan, tidak hanya peserta didik. Kemudian para pendidik juga tersentuh wacana pemikiran keagamaan dan pergumulan pemikiran tentang isu-isu seputar pluralisme, dialog antaragama, dan toleransi. Dan terakhir, siswa dipandang sebagai individu yang berpotensi memiliki kepedulian sosial dan kemampuan berpikir kritis